Trending Topics

.

.
Showing posts with label Poetries. Show all posts
Showing posts with label Poetries. Show all posts

Thursday, May 08, 2014

Menari dalam Imaji


Waktu mengikutiku tanpa bicara
Seribu langkah tak bersuara
Musim berganti musim tak berjarak
Hingga menara ini sudah terlalu tinggi untuk dapat kutinggal pergi

Di cermin aku melihat sorot cahaya
Penuh tanya juga titik, berpadu tanpa nada
Aku tenggelam di dalamnya
Terlarut, tanpa bisa pergi
Terjebak, tanpa bisa lari

Dunia di belakangku semu ketika aku tak ingin tahu
Semuanya terpusat pada satu
Sorot cahaya di pelupuk senja
Kadang aku bertanya, mengapa tak lantas aku menoleh dan pergi
Ketika kudengar suara memanggil, nyanyian mendayu mengundang

Batas telah mengabur
Aku tersesat, tanpa ingin mengerti sebuah kisah
Menutup buku, menjedanya sebelum sampai pada akhir
Menghentikan detik dalam dunia di sorot cahaya
Entah berapa lama atau selamanya
Bahkan ketika suara memanggil, nyanyian mendayu mengundang
Tak henti datang dan pergi

Hendak tapi tak hendak
Aku mengering, menghampa dalam solo tari di imaji
Menanti arti akan keberadaanmu

06MEI14

Tuesday, November 26, 2013

Sakura

Di tengah keremangan kota aku menapak berdiri
Kau datang, dengan kunang-kunang dalam genggamanmu
Menghapus segala ragu untuk melangkah lebih jauh bersamamu
Membunuh waktu, menikmati tiap detik berlalu dengan suka tanpa duka
Musim panas yang indah kala kita bertemu
Membuka lembar dalam kisah baru

Kini matahari tak lagi menyapa tiap kali aku merindu
Langit biru telah mengelabu
Bersamanya, perubahan lain kian gencar mendera
Aku tak gentar, aku bersamamu
Masih dengan cahaya ajaib kunang-kunang dalam genggamanmu
Musim panas masih lekat di hatiku meski dingin udara menyapu

Hingga tiba, tak dalam gulita, tapi hatiku kehilangan cahaya
Kau berkisah tentang sakura-mu di musim semi lalu
Yang kau tinggalkan dengan luka padamu
Yang direnggut jauh oleh mimpi mimpi
Yang kau rindu kembali

Cahaya itu masih miliknya, aku hanya beruntung pernah sesekali melihatnya
kurasa...

Kini aku tak bisa berkata
Apakah kota remang atau penuh cahaya
Semua batang lilin nampak seperti kunang-kunang
Meski tanpa keajaiban darimu

Aku kembali didekap ragu
Hatiku tak henti menggali lubang tanda tanya
Ketika kau kembali ke sisi masih dengan cahaya
Salahkah inderaku?

Sakit menghujam bukan untuk kali kesatu
Aku ingat bagaimana perasaanku pernah serapuh sayap kupu-kupu

Yang kupunya di waktu lalu hanya pelangi ditengah hujan
Indah, menawan, tanpa pernah bisa kuraih
Hingga ia berganti lembayung sore, aku hanya bisa terpaku
Dalam keraguan, dalam keremangan di tengah kota
Sampai kau tiba

Dan sayap ini kembali berwarna...



Yuanita WP-26/11/13

Thursday, October 03, 2013

Jangan Bangunkan Aku Sampai Pagi

Aku tak melihatmu lagi
Kupikir enyah sudah segala
Ternyata kau ada, sedikit menjauh tapi masih bisa kuterka
Eksistensimu masih bisa kuhirup lega

Emosi bermain di panggung hitam putih
Aku tak mengerti manusia
Bagaimana mereka dihidupkan, hidup, dan dibuat pergi darinya jauh-jauh
Sebagaimana aku tak mengerti akar
dari bunga yang kini tumbuh di pekarangan kalbuku

Kau tak pernah menyiramnya, aku tahu
Tapi disanalah oksigenmu menyinambungkan hidupnya lagi dan lagi
Candu atau mati
Seperti itulah korelasi mereka bermula dan berakhir

Sampai pagi,
Sampai tingkap menyisir cahaya mentari
Kau bermain dalam teater mimpi-mimpiku
Aku ingin menikmatinya hingga usai, maka jangan bangunkan aku

Wangi pun itu, elok pun itu, jangan bangunkan aku
Karena mimpi ini hanya sekumpulan camar yang migrasi di sore hari
Bukan balon-balon gas dengan tali

Jangan bangunkan aku sampai pagi.







30/s’13

Saturday, September 14, 2013

Dari Sudut Gelap


Aku tak mengenal bahasa bulan,
Sekalipun ia sampaikan jawab atas tanyaku:
“Sedang berputarkan dunia dalam benakmu?”
“Karenakah ia hal yang sama denganku?”

Aku yakin,
seribu waktu dalam sedetik aku meyakini poros-poros yang berkiblat pada rotasimu
Ketika malam menawan seribu bintang dalam kelamnya
Aku menawan seribu keraguan, menelannya dalam kekosongan
Menepis dan menggantikannya oleh kerelaan
Seberkas cahaya untuk hatimu di jauh dalam sana

Sore tadi, sebelum segalanya lekas sekali berakhir,
Ironi menggema di lorong kota
Aku bersamamu, diterpa sejuta kebahagiaan untukku
Tapi seketika aku menangkap pandangan kita bertemu di titik yang sama
Segalanya segera runtuh
BUKAN apa-apa

Seribu maaf kalau Kau mau
Aku tak bisa berhenti menjadi amatir
Aku tak bisa sembuh dari naif
Aku hanya aku
yang tanpa sedikitpun sentrisme,
Berharap…

Tentang bulan yang menyaksikan bagaimana semuanya berlalu sudah,
kecuali yang dihatiku, memoriku, kepingan nafas dalam indah penggalan kisahku

Aku berdoa untukmu
Berbahagialah apapun yang Kau hadapi
Beruntunglah mendapatiku di sini, di sisi yang selalu luput dari pandanganmu
tersenyum untuk setiap kebahagiaanmu
tersenyum untuk setiap lukaku olehmu

Aku bahagia, aku bertahan.




14/s’13

Saturday, December 29, 2012

Harmonika Biru

fresh poetry, created just some minutes ago~ #so?


Detik-detik lekas berlalu bagai hangusan jerami
Ketika itu: Kau dan Aku
Kini sudah tidak ada lagi
Hanya elegi, ketika kau tak sedikitpun bersimpati

Harmonika biru terbaring dingin diterpa cahaya bulan
Biru dan dingin, mati, ketika ia tiada tengah berbunyi
Namun seketika ia akan kembali bernyawa
Ketika satu tarikan napas saja terhembus padanya

Andai aku mendapatimu harmonika biru
Dalam elegi usang yang semu
Dongeng epik yang menutur lewat lisanmu kala itu
Membeku sedingin harmonika biru

Pantaskah?
Pantaskah yang mati kembali?
Pantaskah dari dingin menguar lagi hangat-hangat semu?
Pantaskah biru sirna dalam merah dan gelora?

Ketika dongengmu mengalun, harmonika biru bermain dengan nadanya
Indah yang tersembunyi dalam lengking-lengking berani
Cantik yang membunuh dalam sunyi jeda-jeda
Tarikan napas terakhir yang berpadu dalam lagu
Hingga dingin dan membiru

Dansa dan musik adalah satu,
Dongengmu dan harmonika biru adalah padu
Ketika tak lagi kudapati keduanya, biarlah aku turut membeku
Mati entah suri atau abadi
Aku rela terbaring dalam peti asalkan kudapati dirimu disisi

Biar dingin ini membekukan hati sekali lagi, membawa biru kemana-mana
Warna yang punya kisah menyembunyi
Bukan dalam lubuk atau liang hati
Melainkan disana, di tempat jauh entah dimana


what do you think?
-Yuanita WP-

Wednesday, May 30, 2012

After the Last



Hati tak berkata lagi mata kian berkaca
Sesungguhnya, turut serta oleh kereta,
Apa maksudnya?

Sembunyikan sepi dalam nyala dadanya
Kobaran semangat hanya tinggal asa yang padam
Kala temaram menyinar sebongkah pusara
Terhujam dalam kelam nan legam
Tanpa ujar, tanpa suara

Aku terpaku dalam sunyi,
Masih berusaha menelisik makna kisah ini
Adakah amanat, atau petuah klasik bak dongeng malam hari
Tak tahu, selagi aku hanya fikirkan ini sendiri

Malam ini benderang tanpa unggun,
Pergi atau belum segala gundah, asa yang padam itu telah lenyap sepenuhnya
Tak ada sisa dimuka, hanya saja bekasnya dalam dada tak akan hilang selamanya
Sebelum keping raga ini juga serta

Misteri ialah kisah berisikan tanya tak tersahut
Tak tentu hitam, tak tentu kelabu
Namun, segala sahutan itu bisa kita dapati pada diri
Tanpa harus mengoarkan kesana kemari
Meski perlahan, itu pasti

Tak perlu bersusah mengukir nama dalam sejarah sebenarnya,
Karena kita punya sejarah kita sendiri sendiri
Yang mengukir nama kita tanpa diminta
Suatu ketika, sepi menyergap, lenyap
namun kita akan tetap temukan diri kita senyap
Dalam hati…


***


Pukul tiga pagi, ya.. sekitar segitulah kami akhirnya sampai pada tempat yang dituju. Malam itu langitnya betul cerah, sayang terlewat oleh saya sekelebat panorama Jogja dari atas ketika di jalan tadi. Lampu warna warni yang semarak bertebaran di sebidang tanah yang begitu luasnya itu, tersembunyi di balik tetebingan curam. Sayang sekali, padahal dua tahun lebih sudah saya rindukan itu. Tak hanya soal sekantung kristal warna-warni yang tumpah di bawah sana, namun juga sekantung lainnya, kristal bersinar perak yang sepertinya masa jenisnya terlalu rendah untuk tidak mengabaikan grafitasi, karena nyatanya mereka terbang, membuang jauh-jauh tetapan eksak yang membatasi angan, lalu seenaknya membentuk berbagai formasi di kanvas dongker seluas mata memandang diatas sana. Hal yang hanya tiba pada saat tertentu di wilayah tempat tinggal saya yang udaranya pekat polusi. Namun beribu sayang, suasana yang melingkupi rumah tempat ibu saya kembali dari rantaunya tersebut terlingkupi atmosfer yang kurang dapat disebut demikian. Segalanya sendu selama beberapa bulan terakhir.

Hari itu, Selasa, selepas memulai dini jam sekolah saya tepat pada pukul enam pagi, kami mengambil jam latihan Tari Saman untuk pementasan di hari Sabtunya, semata bukan hal yang mudah bagi seorang berlenggang kaku macam saya. Begitu rampung, berganti pakaian, bahkan sebelum sempat istirahat, guru Kimia sudah datang. Melanjutkan penderitaan bagi seorang eksak haters seperti saya sebelum secara sempurna berhasil segalanya dinetralisir jam istirahat. Bolos les di hari Sabtunya membuat separuh-separuh saya buta materi, beruntunglah Gurnya kali ini beliau, yang bisa memasukkan konsep kedalam otak saya yang aglutinin Eksak ini tanpa perlu menggumpal, mengkristal, atau menjejal sesak tak berguna. Jam eksak tanpa kantuk adalah hal yang amat jarang ditemui pada diri saya, terutama dalam atmosfer kelas nan sunyi yang seratus persen mendukung. Jika tak takut telak tertusuk sindiran guru atau ter-skak teguran, mungkin sekian persen dari kami sudah merebahkan kepala dan menyerahkan diri pada alam mimpi sejak tadi.

Pengelihatan saya bukan rusak, mungkin, tapi jarak yang terlalu jauh karena saya duduk di belakang mendorong niatan saya untuk berhenti menyuap bekal sembunyi-sembunyi dan hijrah ke tempat yang lebih layak untuk memandang ke monitor super canggih warisan dari masa ke masa bernamakan papan tulis itu. Begitu dapat tempat layak, saya pun mendudukan diri dengan nyaman. Sembari dengan setengah hati berusaha menikmati materi. Bertanya pada rekan satu perguruan les dengan saya soal materi kemarin lusa, dan mencernanya. Dalam tenang yang tak nyaman, suara ketukan pintu memecah lamunan. Seorang satpam sekolah kami, datang dengan secarik kertas dalam genggamnya, menemui guru kimia kami lalu membisikan sesuatu padanya. Entah kenapa firasat saya yang tak pernah lurus menembus nyata tiba-tiba tepat detik itu juga. Yang dipanggil, tak lain adalah saya sendiri.
Seketika batin saya tertohok tak percaya, dan ingatan akan kisah tragis nan klise yang jadi favorit dibawakan oleh Pak Parman, Pak Nisan dan kawan kawan semasa SMP, setiap ada acara renungan seketika menguasa pada fikiran saya.

“Di jam pelajaran, tiba-tiba satpam mengetuk pintu, meminta izin kepada guru di kelas untuk memulangkan kalian. Kalian di jemput oleh tukang ojek, di bawa ke rumah dengan alasan yang belum dijelaskan. Lalu di sepanjang jalan dekat rumah, kalian menemukan bendera kuning tersemat disana-sini. Dan sesampainya di rumah, orang tua kalian telah tiada.”

Klise memang, tapi bagaimanapun itulah kisah paling mengerikan bagi hanya individu-individu macam kami. Para murid yang tengah berjuang disekolah, untuk kelak mendapatkan senyum bangga dari orang tuanya, yang menanti sambut ramah mereka setibanya dirumah, yang menunggu tepukan bangga mereka pada setiap prestasi yang diraih, yang tak punya motivasi apapun lagi selain mereka, kedua sosok paling penting sepanjang masa, terkadang melebihi apapun lainnya.

Kawan lama saya sendiri, pernah mengalaminya. Dan beberapa hari yang lalu ia tulis pengalaman menyakitkan tersebut dalam sebuah post di blognya yang kebetulan saya baca. Antara dalam batin dan lisan saya tak henti bertanya, “se klise inikah takdir saya? Berhenti sampai sini? Lalu siapa lagi yang harus saya kukuhkan sebagai motivasi?”

Tapi diluar saya berusaha tenang, meski sejujurnya ketika itu benar panik luar biasa. Sampai kotak bekal yang tadi secara curang saya suap sembunyi-sembunyi pun hampir tak terbawa. Seperangkat buku kimia yang semula ada di pangkuan, tak saya masukkan ke dalam tas, cukup saya lipat semestinya, dan saya bawa. Koridor nan sepi menaungi pembicaraan singkat saya dengan si pak satpam tadi. Beliau yang bergelagat persis seperti dalam cerita guru semasa SMP saya tadi semakin menggali dalam liang curiga saya terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Hingga konfirmasi seorang saudara jauh yang menjemput saya melegakan dahaga akan kejelasan takdir yang sedang berlangsung ini. Bukan orang tua saya memang, tapi beliau, ayah dari ibu saya sendiri yang meninggal dunia.

Di sepanjang jalan, saya merasakan perasaan yang bercampur aduk. Antara lega, sekaligus mencelos. Bagaimanapun, beliau bukan orang asing, Mbah saya sendiri. Dan meresapi apa yang kira-kira dirasakan ibu saya, membuat ketakutan itu kembali, membuat perasaan kehilangan itu menyelami jiwa saya kian dalam.

Sesampainya dirumah, tetangga, kerabat, banyak yang berkumpul. Mengelilingi ibuku yang tersedu sambil sesekali menenangkan. Namun apa daya, yaah.. jika sudah histeris beliau sulit dihentikan. Kehilangan sesuatu saja bukan prahara mudah, bagaimana dengan seseorang? Seseorang yang jelas merupakan perantara dari banyak hal yang Tuhan berikan padamu hingga kau menjadi dirimu yang seberuntung saat ini. Orang yang bagaimanapun, menghabiskan lebih dari setengah hidupnya yang kini tak lagi bersisa untuk berjuang demi kesinambungan nafasmu, ibumu, dan saudara-saudaramu. Jikalau bisa, tak ada seorangpun yang mungkin menghendaki perpisahan dengan orang yang disayangi, namun sebagaimana adanya, dunia ini tetap hitam putih. Segala hal yang berlawanan berdampingan dan saling melengkapi, menidak sempurnakan kesempurnaan dan menyempurnakan ketidak sempurnaan, dimana setiap ada hidup, pasti ada mati. Membuat sebuah kata meraja, menyamarkan setiap batas terang antara hitam dan putih, relatif.

Muram tak lagi dapat ditutupi baik di wajah beliau, maupun ayah saya dan semua orang yang ketika itu ada disana. Perjalanan sekian mil hanya ditembus dalam beberapa waktu, memetik segala resiko demi sampai cepat, hanya untuk mengecap sekilas atmosfer almarhum yang masih tersemat disana. Hanya demi mendedikasikan diri kepadanya untuk yang terakhir kalinya. Meskipun nyatanya yang berhasil kami temui sesampainya disana hanya tinggal urukan tanah basah bertabur mawar dimana pusaranya tertancap tegak.

Begitu turun dari mobil, tepat di halaman rumah, saya melihatnya. Bukan apa-apa. Sesuatu yang hanya lumrahnya terdapat di rumah seseorang yang baru meninggal. Seperangkat keranda. Bukankah itu yang dikatakan kendaraan terakhir kita? Sesuatu yang disatu sisi bak momok, atau bahkan malaikat yang mengingatkan kita untuk kembali, segera membasuh diri dari dosa yang kian pekat di tubuh ini. Tapi bagaimanapun, keranda itu bagi saya tetap momok. Dimana bukan hanya saat kembali kepada Tuhan, tapi lebih kepada sebuah upaya pemisahan, perenggutan seseorang dari sisi kita yang kemudian, setelah pergi diantar kendaraan itu, tak akan pernah kembali untuk yang kedua kali. Tidakpun untuk hanya melongok sesekali, karena tak akan pernah ada tiket lintas alam, setiap orang hanya punya satu. Aku sendiri berfikir, mungkin beberapa tahun yang lalu, ketika sosok kecil ibuku masih berlarian di sekitar rumah ini, benda hijau itu adalah kendaraan yang paling ia takuti untuk sampai di halamannya. Kendaraan yang seberapapun ia takuti tetap akan sampai disana pada waktunya.

Ah, nyatanya waktu tetap berjalan. Saya sendiri, sayangnya masih belum bisa menarik benang merah yang pasti dari persepsi saya sendiri. Selain tentunya, mendapati bahwa apa yang orang biasa katakan tentang hal ini memang benar adanya. Kematian, sesuatu yang pada dasarnya tak memiliki sebuah warna pasti, tapi kebanyakan menafsirkannya suram meskipun nyatanya tak tentu juga dia suram. Kematian, entah itu baik atau buruk, menyenangkan atau tidak, ambilah sesuatu yang anda yakini soal itu dari persepsi anda sendiri, tapi yang berhasil saya simpulkan sejauh ini, bukan soal baik atau buruknya, bagaimanapun kematian tetap soal perpisahan. Sesuatu yang pada dasarnya tak saya suka meski harus tetap ada.

Untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi, alam yang lebih hakiki, sama halnya dengan kenaikan level pada sebuah permainan, harus ada sesuatu yang dtundukkan. Dan soal kematian, apa yang sepatutnya ditundukkan adalah ego, ego bahwa semua yang berjalan di dunia ini tak bisa hanya berorientasi pada aturan kita. Juga ego soal apapun dan siapapun yang ada di dunia ini bukanlah milik kita, dan kita akan diharuskan meninggalkannya pada waktu yang telah ditentukan. Nyatanya, Tuhan telah mengatur segalanya, dan kita hanya memainkan peran dalam naskah indahnya. Seketika Tuhan katakan peran kita telah usai, maka turunlah dari panggung. Jika ingin turun dari panggung dengan terhormat, mainkanlah peranmu dengan sebaik yang kau bisa, maka setiap orang akan mengenangmu. Perpisahan secara konkrit memang tak dapat dipungkiri namun soal batin yang menyatu, itu akan menjadi lebih dari sekedar kenangan.

Soal peristiwa yang saya saksikan ini, saya fikir kematian adalah hal yang pasti. Tak ada undo tak ada tawar-menawar lagi. Dan bagi kita yang masih tersisa di level dunia ini hidup tetap bergulir cepat dan kejam seperti biasanya, tak perduli siapa yang hilang dari keseharian kita. Mereka yang telah pergi hanya akan jadi bagian dari kisah yang terkenang. Tapi, ya.. kita tahu pasti bahwa adanya tetap akan kekal di hati, hingga nantinya hati itu yang melebur sendiri ketika waktunya sampai.








In A part of Life,
Yuanita WP



2012

Saturday, May 19, 2012

16th Waltz

Pernah di suatu ketika
Aku menerka
akankah segera tiba luka, juga neraka
atau hanya dangkalku salah menerka
jikalau nyatanya kau bawakan aku penawar segala duka



Oh, sial. Ini enambelas, angka enam. Angka yang entah kenapa aku rasa memiliki hubungan yang cukup erat dengan diriku sendiri. Enambelas yang kukira harusnya istimewa seperti apa yang pernah aku utarakan sebelumnya, tapi ternyata tak ubahnya dengan yang lainnya, bahkan sedikit lebih sepi. Entahlah.. harusnya aku memang tak terlalu mengharap, tapi selalu saja ada sesuatu yang memacu hatiku untuk tak pernah urung berharap ketika aku mengingat soal hari ini, tanggal ini. Dan aku tak bisa mendakwa dirinya karena aku memang tak mengenali sedikitpun tanda, ia lolos tanpa sisa, kabur tanpa cela.

Bulan Mei, bulan yang rasanya amat sangat lama sekali datangnya kala aku menunggunya di Januari. Baru kemarin seingatku, kita semua merayakan tahun baru, atau kami, yaah acara ramai itu. haha..
Tapi beberapa minggu lalu, bulan itu lantas begitu saja meniban dimensi waktu yang kupijaki. Membuat mau tak mau aku dan segalanya berorientasi pada periode 31 hari yang baru, yang memiliki satu hari peringatan, tak istimewa sih, hanya soal diriku tetapi yaah..

Mei, 20th 2012

yang seharusnya jadi peringatan ke enambelas tahunnya aku menghirup oksigen bumi.

Sebenarnya, tak ada yang salah. Toh tanggal itu samasekali tak dihapuskan dari kalender dan masih tertera dengan sangat jelas disana, ttapi.. lihatlah apa yang aku punya saat ini, 7 jam menjelang detik itu tiba.

1. Keluargaku yang sibuk sendiri dengan urusannya masing-masing
2. Laptop, modem, buku gambar -sedikit hiburan-
3. Tanpa event khusus
4. Kucing-kucingku yang tidur pulas
5. Televisi yang bicara sendiri
6. Tenggorokan yang kering
7. Tugas yang belum selesai
8. Jadwal Ulangan Harian Matematika, praktek tari saman
9. PR FISIKA DAN KIMIA

SHIT!

Jadi apa istimewanya? Ah rasanya aku ingin menyembunyikan tanggal besok dari kalender, dan memunculkannya ketika segalanya istimewa. Mungkin aku egois, aku tahu aku bukan lagi anak TK yang pada lumrahnya meminta pesta ulang tahun yang meriah pada orang tuanya. Lagipula siapa pula yang meminta pesta? cukup beri aku sesuatu yang bisa mencirikan bahwa besok adalah hari yang berbeda dari biasanya itu saja. Mau menyuruh kucingku menyanyi untukku, atau apa terserah.

Tapi itu bodoh namanya, menyembunyikan tanggal besok dari kalender adalah hal terbodoh yang pernah kudengar dari fikiranku sendiri. Manabisa? Lagipula, bagaimanapun aku tak setuju soal hal sepi ini, tanggal dua puluh Mei besok akan tetap tiba pada waktunya, atau akan lebih cepat ketika aku tetap berfikiran bodoh macam ini. 

Tahun ini berbeda, karena ini adalah kali pertamanya aku merasa tua. Seperti halnya di akun fb-ku, ketika aku berkenalan dengan seorang Otaku, yah mereka yang berhobi sama denganku seputar anime dan manga, aku tanya usia mereka, rata-rata tiga belas, empat belas, oh man, aku terlalu tua. Selain itu usia ini adalah usia yang menaungi tahun keduaku di SMA, hanya tinggal menghabiskan tahun ini, lalu menunggu sampai beberapa bulan didepannya maka aku akan lulus. Itu berarti ini satu-satunya kesempatanku untuk bersenang-senang tapi apa nyatanya? Dilihat dari sudut pandang manapun kondisiku sama, merana karena tak bisa bersua dengan IPS dan sedang dalam kondisi kehilangan feel pada first love#plakk
Oke, baik yang pertama ataupun yang kedua, itu samasekali tak ada bedanya, sama sama mengenaskan. yah.. sama sama benar-benar menjauhkan diriku sejauh-jauhnya dari kemungkinan bahagia.

Padahal, aku benar-benar bersyukur masih diberikan Tuhan kesempatan untuk hidup sampai detik ini, menggaje, berkarya dan menikmati dunia. Aku juga amat sangat bersyukur karena di tahun keramat ini, 2012, langit masih cerah, angin masih sejuk, Jakarta masih macet, dan Indonesia masih damai dengan kerusuhan-kerusuhan kecil disana-sini yang tak pernah menyepi*apanyayangdamai?!* Setaidaknya kita tak dijajah lagi man!


Suatu ketika, kau jemput aku dengan kencana
lagi sore menyambut senja
musik waltz mengalun
kala kita berkeliling memandang seputaran istana
malam menjelang, rembulan datang
musik waltz kian tegas menyuarakan eksistensinya
dibawah sorot malu cahaya bulan
aku melihat wajahmu
maka terhapus segala lukaku
menguaplah kecewaku




Aah.. Andai kata bulan menyinar konsisten,
namun tidak
Ia pergi dan selepasnya pun tak lagi kudapati dirimu
sekedar bayangkah ini? sebatas imajinasikah ini?
Angin yang berhembus tak cukup memberiku arti
makna dari kisah yang tak terkuak disini




Esok hari, bulan berganti matahari
menyilaukan bagimu yang hanya muncul dalam kelam di malam hari
aku tak minta, hanya bicaralah
ujarkan beberapa untai kata
demi menegaskan makna
sebuah makna.






membeku, biru, dalam alunan musik waltz
meremas kian erat yang dingin
melumat kian kuat yang lemah

Sunday, May 13, 2012

means

Over, is that only a word?

no, its also a mark to make everything stop,
a symbol of the separating of two kind of things that being one before
a sign that require you to lost something without looking for it again forever
something make and don't let you to feel any regret

over means...
there's nothing else to explain
it's all are just stuck on here
and we have to forget everything
because it's not allowed again to carry this path any longer

0ver means much, too much until it make me hard to breath
over means good, good to looking for anything better
over means above, the too-far-above

or if you can't as long as you've try it

just say over, think, and you'll find the best way, when your level is just low.



I know it's must be over, but I love to take more. More about you, more about my ego. Keep silent over there. Keep silent and let me play with my own craziness, if in your mind never written at least a word of me!


Is this an ultimatum?


Saturday, April 21, 2012

Sang Pendiri Singgasana



 Buaian angin di negeri nan asri
Menyembunyi kisah kelam disana sini

Dan salah satunya berlakonkan kami

Berlatarkan suatu waktu sebelum saat ini


Kala itu kelam meraja, kelabu menguasa

Tak ada setitikpun bias cahaya

Bagi kami yang terpatri mutlak dalam sangkar emas sarat ironi

Bagi kami yang tak punya daya mereguk manisnya mimpi


Bagai tetangkalan kembang di pekarangan

Kami tumbuh, mekar, lalu menyerbakkan wangi

Namun suatu ketika, dalam waktu dekat yang pasti

Raga-raga kami hanya akan ditukas
Dirangkai, dibeli, lalu dibiarkan layu dan mati
Hingga habis sudah kisah kami
Tanpa tilas yang dapat ditelusuri


Namun datangnya dirimu mengubah gores semu takdir kami

Meluruskan lengkung-lengkung tak beruntung di telapak tangan kami

Mengeluarkan kami dari kekabutan asap dapur pagi hari

Membawa kami mengenal arti lebih dalam diri kami


Kau bukan turunan surgawi

Tapi jelas kau bawa pergi gelap dari sisi hidup kami

Kau dengan sekian besar asamu, wujudkan angan kami



Kini adanya, berpuluh tahun setelah masamu

Harum perjuanganmu yang mengabadi dalam kisah masih tereguk oleh kami

Masih menyeruak di seluruh penjuru negeri ini



Dan harus kukatakan,

Kini bukan hanya berhembus angin yang penuh tipu dan menyembunyi

Melainkan kini, disini, aku rasakan wangi namamu yang dihembuskannya
Sepanjang masa di bumi,
Selama belum runtuh singgasana ini

Singgasana yang kau bangun untuk kami

Untuk setarakan harga hidup kami

(21/4/12)




Yoooaa~
Apa kabar semuanyaa?~
Kali ini, tentu anda sekalian sudah dapat mengendus(?) maksud saya mengepos puisi tadi di momen ini. Oke, izinkan saya sedikit mengingatkan dulu, siapa tahu bukan, anda lupa tiba-tiba. Hari ini hari Sabtu tepat bertanggalkan 21 April, ada yang ingat ini hari apa?




Eh, Sabtu?
iya, iya… tadi sudah saya bilang jika sekarang memang hari Sabtu. Selain itulah, ini momen penting lhoo~




Iya?
Sehari setelah peringatan hari lahir Adolf Hitler?
Aaah, oke, satu petunjuk lagi, ini tak lain adalah tentang Negeri kita sendiri, Bangsa kita sendiri. Bukan bangsa Indo Jerman, ras Arya, atau Nazi.



Ah, iya?
Lupa?

Oh, ayolaah…





Ini..
HARI KARTINI!, sekali lagi, HARI KARTINI~
Sudah ingat kan? ^^


Oke, saya terlalu berlebihan. Anda semua mungkin kurang lebihnya tau, ingat, bahkan memperingati dengan sangat antusias momen ini. Tak mungkin kan, salah satu lagu wajib nasional terpopuler yang sering kita lantunkan semasa SD kita lupa begitu saja. Tak mungkin juga bahkan jika kita sebagai bagian dari bangsa ini, sebagai penyusun ruas-ruas rusuk negara ini, tak mengenal sesosok Hero yang satu ini. Yap, terutama saya disini sebagai seorang perempuan, saya menyatakan teramat kagum pada tekad, kegigihan, dan ide yang luar biasa hebat dari seorang Kartini yang bahkan hingga kini, berpuluh tahun sudah sejak perjuangannya yang lalu, masih bisa kita reguk bersama manisnya.

Modernisasi itu pantas dikaitkan betul dengan isu emansipasi saya kira. Sebagaimana arus modernisasi yang menderas sekarang ini, saya pikir itupun terjadi karena emansipasi kaum perempuan kini bukan lagi hal yang semahal dulu. Di negara maju, angka kelahiran cenderung lebih rendah dibanding angka kematian, begitu kata contoh dari piramida tua angka pertumbuhan penduduk dalam Geografi. Dan kenapa itu terjadi, tak lain adalah karena adanya emansipasi tadi. Perempuan dengan bebas bisa memiliki pekerjaan, dan meraih hak yang sama dengan kaum lelaki dalam dunia kerja. Tak lagi seperti dulu, perempuan yang bekerja tak lagi diasumsikan menjadi hal yang tabu, kini dunia kami meluas, melapang, dunia kami bukan lagi hanya sebatas lingkup dapur selebar dua kali tiga meter yang dipenuhi sesak oleh kepulan asap.

Ngomong-ngomong soal emansipasi, sejak tadi saya hanya mengoceh semaunya tanpa membahas dulu definisi dari variable yang kita bahas disini. Oke, emansipasi. Jadi apa itu emansipasi? Sebuah harga prestisius yang diperjuangkan segitu ngototnya oleh Kartini. Itu benar, tapi hanya merupakan penyeketsaan pengertian dari garis luar, bukan dalam konteks yang mendalam. Saya tak sempat membuka kamus, jadi saya kemukakan saja apa yang ada di fikiran saya, ya? Menurut saya emansipasi itu adalah hal yang bukan meninggikan derajat kaum wanita, melainkan menyetarakannya dengan kaum pria. Setara disini juga bukan berarti sejajar, karena emansipasi sendiri tak akan mengantarkan kaum wanita untuk menggenggam tampuk kekuasaan dunia, atau setidaknya berdiri melampaui kaum pria. Melainkan duduk dalam singgasananya sendiri, yang penuh kebebasan, juga tanggung jawab dan rasa hormat sebagai mahluk indah yang pada tempatnya memang dikagumi dan dilindungi. Agak rumit memang, tapi saya harap anda sekalian mengerti.
Dulu, apa yang bangsa kita tahu soal emansipasi? Jangankan kita yang masih akrab dengan kebudyaan yang sarat unsur primitifisme, di Barat pun emansipasi sangat minim. Sebagaimana seorang Lady darah biru di kerajaan-kerajaan Eropa yang tetap harus jadi sepenurut merpati didepan Lord-nya. Atau, hukum penguburan hidup-hidup bayi perempuan yang lahir di masa Jahiliah di jazirah Arab. Pada masa-masa itu, perempuan seakan tak ada harganya, bung. Mungkin mereka memang belum tahu jikalau yang cenderung menerunkan kecerdasan pada anak itu gen ibu, atau dari mana lelaki-lelaki bengis yang mengubur hidup-hidup bayi-bayi perempuan itu lahir? Menetas dari sebongkah batu? Kan juga tidak mungkin. Emansipasi baru mulai disoroti dan dihargai semenjak zaman perang. Ada yang ingat Jeanne de`Arc? Oh, iya… pahlawan Prancis itu lho ketika melawan Inggris. Dia juga merupakan salah satu simbol emansipasi. Lalu tokoh-tokoh perang dunia dua, pilot-pilot Nazi juga banyak yang perempuan.

Intinya bung, emansipasi itu mahal dan luar biasa hebat. Berbicara soal ambisi, kami para perempuan tak akan pernah kenal ambisi tanpa adanya emansipasi. Dan seabad lalu, R.A Kartini menghadiahkannya secara khusus untuk kami. Kini, emansipasi itu menodong bayaran dari kami. Uangkah? Bukan. Atau gengsi sebuah nama? Bukan juga lah. Melainkan apa? Sebuah tanggung jawab. Ini quotes dari film Spiderman, tepatnya yang dibilang Paman Ben ke Peter, “Seiring dengan kekuatan besar, akan datang pula tanggung jawab besar.”

Emansipasi itu bak kekuatan besar buat kami. Dengan emansipasi, kami bisa menjadi apa saja yang kami mau, menjajal dunia mana saja yang ingin kami tapaki, dan mencoba medan apa saja yang ingin kami jajaki. Dan seiring dengan kedatangannya, tanggung jawab besar juga hadir dalam diri kami, menunggu untuk kami bayarkan segera. Bukan dengan hal yang bersifat materil melainkan sebuah jaminan, jaminan bagi generasi selanjutnya untuk terus dapat menghirup udara emansipasi  yang segar ini. Jaminan bahwa dengan ini, kami akan memanfaatkannya sebisa kami, mengisi posisi-posisi yang sepantasnya kami isi, dan melakukan yang terbaik karena apa yang kami jalani detik ini, perjuangan ini, adalah apa yang di waktu lalu hanya berupa mimpi.


Much Thanks to “Sang Pendiri Singgasana”





R.A. Kartini
***
(21.4.1879-17.9.1904)

Tuesday, March 27, 2012

Still Keep Staring at Your Back

Ekhm.. mulai produktif..
semoga~

hey hey.. ternyata saat berjalan menuju rumah, cukup banyak juga inspirasi yang menghampiri, setelah kemarin aku juga dapatkan inspirasiku dari sana.
Mengenai, em.. setitik ketidak tepatan yang dapat membelokkan kenyataan serumit apapun.

Sudah semenjak aku merintis berdirinya blog ini. Aku berfikiran begitu setelah membaca post banyak orang dalam blog mereka, ternyata tak jarang juga anak laki-laki yang tak segan membicarakan tentang kehidupan pribadi mereka, terutama soal, ekhm.. love story mereka. hohoho.. dalam otak naifku, aku membayangkan akan menyenangkan membaca catatan begitu milikmu. Dan kini bayangan yang hanya sekedar bayangan itu akhirnya terkabul, aku membaca catatan tentang kisahmu yang sejak dulu selalu ingin kuketahui, tapi setelahnya, aku rasa aku sedikit menyesal. Pengetahuanku mengenai hal itulah yang membawaku mengabaikan tugas merangkum tentang fungsi Partai Politik dan menulis hal ini. Mengabadikan satu lagi goresan yang kau torehkan padaku dengan mata terpejam.

Kukira, aku sudah tak punya, aku sudah tak punya kisah apapun lagi untuk kugundahkan. Kukira romansaku yang kuharap bisa tumbuh layak, berdaun lebat, serta berbunga itu telah mati sempurna, tapi ternyata tidak. Aku masih bisa melihatmu, mendengarmu, dan merasakan sakit terhadapmu, sekalipun bagiku yang sekarat ini meregang hidup mungkin akan jauh lebih baik adanya. Mirisnya, tangkal-tangkal haus ini masih bermimpi akan sebulir tetes air darimu, dan mereka terus meronta diluar kendaliku. Meski sudah berapa kalipun kuyakinkan jika hal ini, sia-sia sebagaimana adanya.

Aku tak mampu untuk singgah ke lain tempat, jangkarku sudah terlanjur tertanam pada dangkalanmu, dan akan butuh waktu sangat lama dan usaha ekstra bagiku. Dan ini sudah menginjak tahun yang keempat, hebat kan? Aku bisa bertahan disini dengan segala rasa sakit dan ketidak pastian ini selama hampir 4 tahun. Bahkan setelah semua kenyataan miris yang kutahu, aku masih tak bisa mengelak darimu.

Aku tak pernah berharap untuk akhirnya terjebak disini, tapi takdirlah yang membawaku kesini, menuntunku lalu meninggalkanku sendiri tanpa membuka penutup mataku. Membiarkanku terpejam sambil terus mengharap akan akhir yang bahagia, tanpa pernah menyadari jika angin yang berhembus pun sebenarnya hanya ingin menggerogoti tubuhku, membuatku akhirnya hanya secara sia-sia menghancurkan hati dan ragaku demi dirimu.

Hey, tapi.. takdir ternyata tak hanya kejam padaku, karena kau pun merasakannya bukan?  Jujur, aku agaknya prihatin. Bukan terhadap nasibmu padanya yang sama buruknya dengan nasibku terhadapmu, melainkan pada kenyataan diantara kita. Seperti apa yang kutuangkan dalam puisiku, nyatanya selama ini aku tak pernah melihat wajahmu bahkan, senyummu yang aku lihat hanya bayangan, proyeksi dari kegilaanku yang sudah terlalu, yang memantul pada siluetmu di tempat yang jauh sana, padahal sesungguhnya, yang kulihat hanya dan selalu hanya punggungmu.

Kau menggundah soal gadismu, terterka olehku, kau begitu mengharap soalnya. Sekedar kegilaan yang dapat kumengerti karena sempat hinggap padaku juga. Kau merangkai skenario di waktu mendatang untuk dapat kalian bintangi berdua, kkau.. yah, mencintainya. Ahh.. stop!

oke aku akan tetap melanjutkan ini.

Tapi adapun skenariomu itu tak tentu berjalan sesuai kehendakmu bukan? Masih ada Tuhan, sang penentu takdir yang akan setujui itu atau tidak. Dan nyatanya, semua manis yang kau bayangkan tak serta merta akan berasa manis juga. Keep strong lah!
Jadi, ada hal lain yang lebih penting yang ingin kukatakan dari sekedar mengucap 'keep strong' padamu, aku ingin menyimpulkannya, menyimpulkan segala macam ocehanku malam ini.

Takdir, ada kalanya bisa ditebak dengan prediksi-hanya bila beruntung tentunya-. Tapi itu hanya sebatas keberuntungan, toh nyatanya tak ada yang mampu menebaknya karena itu rahasia yang hanya dipegang Tuhan. Aku, atau mungkin kita semua bahkan, seringkali mengharap soal takdir, membicarakannya pada Tuhan, dan adakalanya benar-benar terjadi-itu namanya berdoa lalu dikabulkan-. Namun, tak melulu takdir yang terbaik adalah yang kita harapkan, ada kalanya ada yang lebih baik dan itu yang Tuhan berikan.

Sebagaimanapun baiknya, sesuatu yang tak sesuai dengan yang kita harapkan terkadang sedikit banyak mengecewakan. Dan aku merasakannya soal ini, meskipun aku tak sampai memaki takdirku sendiri. Jika kita berbicara soal lomba panahan, meleset setitik saja bisa kalah kan? Juga sama halnya dengan seorang sniper, sejitu apapun dia menembak, semematikan apapun peluru dari revlovernya, ia tetap akan salah jika tak tahu yang mana musuhnya. Dalam hubungan yang sukses, kita butuh dua pecahan yang berrelief sama, yang bisa disatukan tanpa menyisakan setitikpun cela. Dan soal kita, kita punya celah yang fatal.

Kau mungkin begitu mengaguminya, mengagungkannya, dan berharap padanya. Juga tak mudah menyerah soal menjaga perasaanmu terhadapnya meski ia tak meresponnya. Sedang aku, aku sempat menggilaimu, aku sempat hanya merotasikan 1/2 hidupku untuk berfikir tentangmu, aku buat banyak puisi untukmu, aku menabung kata-kata indah jika sekiranya suatu ketika aku punya kesempatan berbicara denganmu, dan aku.. aku menata skenarioku yang sangat kuharap bisa kumainkan denganmu suatu saat nanti. Dan yang terakhir, aku,

Aku telah dengan dungunya konsisten terhadap perasaan ini selama hampir 4 tahun..


Andai takdir yang kita punya tak memiliki cela. Aku dan kau, yaah.. apa lagi yang kurang dari kita. Mmaksudku, kita bisa saja, menggunakan waktu yang kita gunakan untuk menggundah ini untuk hal yang lebih berguna, tanpa harus sama sama tersakiti. Jika saja, yaa.. yang kulihat bukan punggungmu dan kau bukan melihat punggungnya, melainkan aku. Aku yang ini, yang kali ini dengan pengecutnya lagi-lagi hanya berdiri disini dan merintih pada dinding kamar di sisiku. Karena atas segala yang terjadi di masa lalu, bagaimanapun aku pernah meninggikanmu, mengagumimu, dan lebih dari sekedar menyukaimu, aku merasa bukan siapa-siapa. Hanya sekedar bocah tengil dari masa lampau yang terpelongo-pelongo tak mengenali dirimu yang sekarang. Yang akhirnya terpesona, terhipnotis oleh apa yang pernah kita lalui bersama, dan hilang kesadaran tentang begitu banyak hal yang ternyata,

Tak lagi sama..



dan menyisakan onggokan hatiku yang penuh luka


Ah, tapi aku tak menyesal. Ini lebih baik dibanding aku tak pernah merasakannya barang sekali. Meski sulit, meski untuk dapat menerima jika ternyata semua yang kuharap memang sudah terlanjur karam aku butuh meyakinkan diriku berkali-kali, meski ini sangat melenceng jauh dari yang kuharapkan, seharusnya aku tahu. Seharusnya aku sudah bisa menerima ini sejak awal. Bahwa apa yang kurasakan terhadapmu hanya sesuatu yang sunyi, yang bisu, yang tak berarti apa-apa bagimu, sesadis apapun kisah ini menyiksaku.

Aku hanya berharap Tuhan tak biarkan tubuhku melebur disini sehingga cepat akan mengangkatku dari sini. Setidaknya aku ingin merasakan kuncup-kuncup layu ini mekar sekali lagi, aku benar-benar merindukannya.


Entah itu padamu atau siapa..




Yuanita WP, 2012


Saturday, March 24, 2012

Under a Goldy Sunset

Lama tak berpuisi~
yaah, hidupku akhir akhir ini cukup normal, tak ada yang terlalu spesial dan mengena untuk diabadikan dalam beberapa bait puisi, itulah mengapa aku tak terlalu produktif belakangan ini, beberapa post justru teronggok begitu saja, berdebu dan dikerubungi semut, andai inspirasi dan semangat menulis bisa datang sesuai dengan hendakku..

Oh, no.
jika semua berjalan sesuai kehendakku, hidupku akan jauh lebih datar dari ini, dan asal kau tahu, aku tak terlalu suka.


Di bawah Matahari Senja yang Keemasan

Di sana kita duduk berpaling, memaku diri pada persepsi sendiri
Di tepian sabana, bertolak punggungan kita memandang mala
menelaah makna, mendalami hati
dalam keegoisan sendiri

Hikayat turunan dari nirwana, berlembar membuka
merebah asa dalam ketiadaan murka, hanya ada emosi tanpa kata
luapan tanpa hara, kisah tanpa perantara
kasihku menelaah tanpa suara, membawaku terlarut dalam maya

Aku terdustai mala
nyatanya dunia diam, tapi aku terjatuh jua
senja oranye di dua mata, berlainan warna di pasang lainnya
seperti halnya berpunggungan kita, persepsi kita melayang sendiri pada jalannya
terbawa hati  melambung tinggi, teryata

sakit yang kita dapati, sayang..

adakah kau sudi terima
jika luka ini kupersembahkan untukmu jua?
sementara padamu telah menganga , sesabit luka olehnya
adakah, adakah?

Ah senja.. kala ritme yang rancak memelan..
senja, kala segala mulai berputar dalam angan
kala berupa-rupa warna tertuang dalam kanvas bulan
laras memadu..

Wahai kau pengagum senja,
Adakah nanti sekali, di suatu masa
Kita tak lagi sama meluka?
Adakah nanti sekali, di suatu masa
Kita tak lagi menyendu pada mega?
Adakah nanti sekali, di suatu masa
Kita tak lagi berpunggungan di tepi sabana?

Adakah nanti sekali, di suatu masa
Aku bisa melihatmu tak lagi terpaku pada arah yang menyakiti mu
Adakah nanti sekali, di suatu masa
Kita berbagi pandang laras padu cahaya cantik ini berdua, dengan senyum tanpa luka
bersisian lagi bertautan penuh asa

Tak ada.

Masih menyendu, rasanya selalu..
Kurasa kuakan sampanan hidupku cukup memberiku tahu
Tak ada makna guna dari menanti bulan yang merindu bintang
karena selamanya, dua persepsi berbeda kutub tak akan pernah melaras padu
Dan objek yang selama ini kupindai hanya punggungmu

punggungmu yang tersirami cahaya keemasan matahari senja
yang menyilaukanku pada maya
yang membawaku pada mala/





-Yuanita WP, 2012-

Saturday, December 31, 2011

Bonne Année

seconds has too much to count
I continue my steps that feels so hard
everything here is too valuable to leave
but, I got to go

my dream waiting for in the shining edge
when here feels so dark
I can see anything
but, I got to go

time goes by like the wind blowing above the sea
fast as the beating of my heart when I see you
can't stop until its end like burning forest
and now, it force me to go

You are sitting alone on the bench
when Winter breeze playing on the air
I always want to sit on you're side
but there's no more time

So glad hear you singing for me
Why the time don't stop now
I always wanna hear this, along my life
but I just have time to say to you
I got to leave this way

Don't cry, don't cry although it's impossible for me to come back
you're here never go anywhere
in the bottom of my heart
where we can dancing in the melody troughout the time
where there's no 'stop' or 'die'
because just not now
every single inch of our beautiful memorries would never die
it will life with our love
although the time say no
although the number of years changing




"heureuse nouvelle année 2012"
   In a hope of a beautiful new year night with you,
   Yuanita WP

Wednesday, October 19, 2011

Tentang Sayapku

Aku membisik semu dalam jemu                               
Betapa mujur seorang bak diriku ada ditengah kalian
Hujan masih menderai menerjang di luar
Kala kita sembunyi di dalam, berlindung dalam ironi

Waktu bergulir tak akan berubah lamanya
Dan hanya tinggal sedikit sampai kita harus benar benar melepas usaha
Selama ini bukan kita diam saja
Kita punya tekad, menyala-nyala bagai rumpun kering padi yang disulut api
Tapi apalah nyalanya kala hujan diluar tak kunjung reda

Kemarin gerimis saja,
Kita lalu berlarian di stasiun
Meniup sari-sari dandelion basah meski tahu tak akan terbang mereka itu
Melukis senja yang menyala-nyala
Menanti bulan sambil menggoda setitik terang di ufuk barat sana
Hingga langit kembali mendung ketika belum sempat kita lihat matahari yang hendak pergi

Bukan soal kalian bisa membawaku terbang
Lebih dari itu, aku beruntung karena kalian yang jaga tekad di hatiku agar tak padam
Kalian yang yakinkan aku
Jika memang tak ada hari cerah untuk kita
Kita bisa bawa itu kemari
Dan kalian pula yang buatku berani
Menerjang hujan deras diluar
Berlarian di peron mengejar laju kereta
Hingga suatu ketika aku berhasil sudah gapai ekornya

Hatiku damai kala kulihat kalian melambai tangan untukku
Angin yang berhembus membisik kata “Selamat berhasil”
Dan kulihat setitik terang disana
Kala mulai kurasakan angin sejuk menerpa
Bukan lagi kelembapan putus asa

Kini akan kuteruskan sendiri
Jalan setapak yang telah kalian tunjuki
Janji saja, jika suatu saat nanti kita akan kembali jumpa
Melepas dahaga akan rindu yang tak terukur
Kala kita telah tapaki dunia baru
Dunia yang akan datang dimana kita tak lagi kejar kereta di peron
Melainkan kereta itu yang antar kita
Untuk kembali,
Mengenang masa sulit yang berhasil sudah kita lewati

Rose dan Ilalang

Angin malam menderu
Jawab tanyaku,
Namun beribu sayang, tak ada yang bisa bantu terjemahkannya untukku
Tidakpun kau yang hanya terpaku

Aku diam bukan mati
Bukan pula menyerah tanpa bukti
Tapi aku lelah, lelah..
Dan bukan salahku jika terhapus sudah segala angan tentangmu
Segala rencana indahku yang bertahun sudah kusimpan disini
Di hatiku yang tak tersentuh

Bayangkan, bayangkan!
Ketika memoar-memoar lalu menguar disini
Serpihan-serpihannya menawan malam
Menerjangku, membunuhku dalam kelam

Lewat tingkap rapuh kulihat itu,
-padang ilalang yang menari-
Angin berhembus kencang padanya
Melenggokkannya kesana kemari
Dari celah tipis diantaranya
Mengintip daku pada cahaya
Terbakar hampa..

Wahai tangkal mawar angkuh yang berdiri di taman sana,
Mawarku yang kucinta..
Lihatlah kemari
Bawa serta inderamu dan rasakan soal diri ini
Kadang, meski damai nampak dari tepi
Di lubuknya aku merana begini
 Aku rumpun ilalang yang diterpa sepi
Angin kemarau yang mengajakku menari
Sambil membakar hati
Hingga nanti habis sudah kisah dan kau tak pernah mengerti
Mengenai mengapa gerombolan kapas-kapas putih menerpamu setiap senja
Kuberitahu,
Itu apa yang kukirim padamu
Sebentuk tulus mengenai apa yang tertanam di hatiku
Cintaku..
Yang tepaut jauh meski jelas kulihat dirimu