Trending Topics

.

.
Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Saturday, January 04, 2014

2013 and It's Wind of Change

Tahun 2014 yang bakal jadi tahun politik ini yang dibilang banyak orang lebih sebagai tahun perubahan, tapi buat saya pribadi, no, tahun perubahan itu ya tahun lalu, yang baru berakhir beberapa hari yang lalu, 2013 yang sekarang telah turun takhta dan bersila penuh wibawa di deretan panjang sejarah hidup saya.

Kenapa Wind of Change? yeaa~ gegara bokap minta di downloadin lagu-lagu love songs 70's 80's 90's sebagai oleh-oleh ketika saya pulang nanti berhubung dikosan ada wifi dan download jadi surga sekali, saya otomatis jadi turut mendengarkan lagu-lagu tersebut. Favorit saya, Bon Jovi, Aerosmith, beberapa dari Richard Marx, dan tentunya Scorpions. Sumpah, asik lagunya, metal tapi mellow gitu liriknya, dan salah satu yang jadi most played saya adalah Wind Of Change. Cocok kan, sama tema tulisan kali ini?

Well, harus mulai dari mana? entahlah. Kerjakan saja dan biarkan ia mengalir, maka kau akan menemukan kejutan-kejutan tak terduga~ Itu yang kerap jadi motto hidup saya. Jadi langsung aja dari yang pertama muncul di benak saya,


Change of Fate

Saya gak amor fati sebenernya. Saya mengusahakan nasib saya di waktu kedepan untuk menjadi lebih baik dari yang baik yang sekarang. Tapi apa boleh buat kalau memang mendung harus ditiupkan oleh angin keatas kepala saya. Dalam situasi seperti ini, saya jadi kerap merasa kalo gak semua yang buruk itu benar-benar buruk. Beberapa kejadian di hari-hari belakangan juga menegaskan hal yang sama, seolah-olah Tuhan memberikan capslock untuk saya lihat di kasus-kasus semacam ini bahwasanya, pelajaran atas mereka adalah hal yang sangat teramat penting bagi kehidupan saya.

Posting blog saya sampai Mei-Juni, isinya hanya kegundah-gulanaan, keluh kesah, dan doa-doa pasrah. Meen, siapa juga yang tak akan seperti ini jikalau anda sekalian bukan lah amfibi, melainkan hanya hewan darat dan kalian direndam di air untuk 2 tahun lamanya. Saya bertahan susah payah, berpegang ke segala macam akar dan rerantingan yang bisa saya raih dan terseok-seok parah. Dari penyesuaian awal terhadap program IPA yang gak pernah berhasil sampai akhir, sampai semester sebulan yang aduhaaai~. Semua itu, apabila diingat-ingat lagi, membuat saya amat mensyukuri hari hari saya sekarang.

27 Mei 2013, nasib saya berubah total. Ibarat Avatar yang baru tahu jati dirinya, atau malah Prince Zuko yang kehilangan kemampuan fire bending-nya. Saya membuka sebuah web berlogo mirip pepsi dan menemukan nama saya ditulis dalam layout serba hijau di sebuah persegi panjang, disana terdapat pula sebuah informasi membahagiakan bahwa saya diterima sebagai mahasiswa prodi Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada lewat jalur paling kere, paling gak modal, paling enak, paling gampang, dan paling cuma-cuma, jalur SNMPTN.

Seketika air mata saya ngucur bro, bak tengah menyantap penyetan ayam terong cabe sepuluh di Pak Kubis. Peristiwa yang kalo direkam dan disetel ulang pasti sangat lucu tersebut disaksikan langsung oleh seisi rumah, emak, bapak, adek, menok, jujul, kucil item dan almarhumah kucil putih. Emak saya yang biasanya kaga ada romantis-romantisnya terus meluk saya, dan bilang "Wis, hebat kamu yu. Kata ibu juga apa kan, keterima!". Terus bokap cerita kalo pakde saya dulu pernah bilangin, "ngasih makan anak istri itu yang jujur, nanti berkah." dan kata bokap, pas momen itu, makna dari kalimat pakde saya itu kerasa banget. Haa, ini salah satu momen terbahagia saya, salah satu yang membuat 2013 luar biasa.

UN saya memang hanchyur. Matematika 5, 5; Fisika 4; Kimia 6,75; Bahasa Indonesia 8,8; Bahasa Inggris 8,8; Biologi 8. Tapi itu hasil sendiri broh~ Dan buat seorang yang gak pernah niat masuk IPA, gak pernah menikmati tiap detik di pelajaran eksakta, pernah punya track record berantem sama guru Fisika gegara gak ngerjain PR dan ngotot, dan seorang IPS sejati#bhuah seperti saya, saya justru bangga terhadap angka-angka itu. Itu hasil saya, tilas perjuangan saya atas penyiksaan selama ini, dan itu justru manis tjoy~

Paruh pertama tahun ini saya lalui dengan penuh tekanan. UN, UAS, TRY OUT, NILAI JELEK, GAK LULUS, GAK KETERIMA UNIV NEGERI, PEMULIAAN TANAMAN#kagainimah, hal seperti itu selalu menjadi mimpi buruk yang merenggut ketenangan tidur dalam setiap malam-malam saya. Belajar sampe malem, begadang, les sampe ngantuk-ngantuk dan pusing, semuanya semakin berat setiap harinya. Terlebih ketika semuanya disudahi oleh UN, beban mental yang lebih berat menggondeli. PENGUMUMAN. Dari pengumuman UN, pengumuman SNMPTN, dan lain lainnya. Terlebih lagi, orang yang kelewat awesome ini cuma daftar lewat SNMPTN tanpa punya cadangan lain ataupun ngambil kelas bimbel. Kelewat pede? nggak juga. Saya cuma demen ngulur ulur waktu dan tanpa sadar, belum satupun buku latihan SBM yang saya beli sampai saya beli pulsa modem buat buka web SNMPTN jam 5 sore hari itu.

Setelah jam 5 sore itu, hidup saya berubah, nasib saya berbalik. Mendung seketika menjadi cerah berpelangi. Bayangkan, seorang bebal eksak seperti saya, jikalau harus mengambil jalur tes, mungkin kecil sekali kemungkinan diterimanya. Tapi dengan tanpa mengorbankan apapun lagi, saya sudah resmi diterima di Universitas kerakyatan pertama di Indonesia. Mungkin Tuhan menghitung jerih payah saya selama ini sudah cukup untuk menerima hadiahnya.

5 weekdays dalam seminggu saya yang tadinya hanya berisi penantian akan pelajaran sejarah yang akhirnya justru sering diganti Bahasa Sunda kini penuh berisikan mata kuliah-mata kuliah yang ketika sekolah jadi mata pelajaran favorit saya. Matkul semester 1 cuma 6, Pengantar Sejarah Indonesia, Pengantar Ilmu Sejarah, Dasar Dasar Ilmu Budaya, PAI, B. Inggris dan B. Belanda. No more Physics, Biology, Chemist, EVEN MATH! Subhanallah~ Dan orang-orang yang saya temui disini pun ajaib. Mereka adalah orang-orang yang selama ini saya anggap langka, tapi justru saya temui sekian banyak, 30 lebih kepala dalam satu kelas. Obrolan yang mereka singgung berat luar biasa, pengetahuan mereka membuat saya terkadang jadi lawan bicara yang tidak sebanding, tapi karenanyalah saya puas. Saya tak memasuki dunia yang salah lagi, ini benar-benar ranah yang saya impikan. Kini saya semakin menikmati segalanya, semakin mensyukuri segalanya. Karena jujur, atmosfer kelas ini salah satu yang paling nyaman yang pernah saya rasakan.


Change of Surroundings

Saya seorang anak rumahan yang buat ke warnet pun kadang males, tapi disini saya sudah travelling ke beberapa tempat jauh seorang diri. Perasaan jauh dari orang tua kayaknya yang bikin saya sadar saya gak bisa bermanja-manja ataupun menggantungkan diri pada siapapun lagi. Kalo saya sendiri gak gerak, ya gak akan gerak. Dorongan semacam itu yang membuat saya pada masa independen yang masih awal ini sudah melakukan beberapa perubahan pada diri saya sendiri. Tercatat, saya trip angkatan ke Semarang-kota lama yang saya impikan untuk kunjungi selama sekian lama-, lalu trip seorang diri ke Salatiga, dan yang terakhir ke Wonosari. Rasanya agak aneh. Apalagi ketika menyinggahi tempat-tempat yang masih saya ingat bahwa saya pernah menyinggahinya beberapa kali sebelumnya, dengan sosok yang samasekali berbeda dengan sosok ini, bersama orang tua saya.

Habitat yang baru ini juga menuntut saya untuk luar biasa berubah dari kebiasaan lama. Saya mengurus diri sendiri, tanpa ada yang mengomplain kalo-kalo saya hanya mandi sehari sekali. Cucian, setrikaan, kamar yang berantakan, semuanya dikendalikan hanya oleh tangan dan kesadaran saya akan kebutuhan untuk sehat, rapi, bersih, dan kepedulian terhadap diri sendiri. Birokrasi bagi emak saya untuk tahu keadaan yang super duper kacau dan mengomeli saya karenanya amat panjang dan tak terjangkau, karenanya, saya benar-benar lepas dari kontrol. Tapi justru ini yang membuat saya akhirnya sadar kalo jarang nyapu itu nanti banyak semut, kalo jarang bersih-bersih kamar bakal ada serangga aneh aneh yang menginterupsi ketenangan, kalo jarang mandi nanti gatel-gatel, kalo jarang nyuci bajunya abis. Sehingga mau tak mau, kebutuhan akan hal-hal esensi yang sekarang saya urus sendiri tersebut yang membuat saya meski harus menahan diri untuk egois, meski harus berlelah lelah ria, tetap harus melakukannya.

Bicara soal makan, ada beberapa karma yang saya dapatkan. Hal pertama adalah toge. Coba tanya emak saya, pasti beliau bilang saya ini benci toge. Dan ya, memang demikian. Toge itu dibumbui apapun, dimasak selama apapun dengan metode apapun tetep susah diresapi oleh bumbu, terlalu konservatif, jadi dia hanya akan menjadi toge, bahkan dalam bala-bala sekalipun. Tapi disini seketika tuah itu berbalik pada saya. You know? Sampe risoles pun isinya toge, padahal itu favorit saya. Soto, tahu gimbal, semuanya ada togenya, bahkan ketoprak yang bumbunya terenak yang pernah saya coba disini, komponen sayuran berupa toge dan irisan kubisnya lebih banyak daripada ketupatnya. Karma yang kedua adalah mie instan. Di rumah, terlebih semenjak ada warung, saya hobi banget makan mie instan. Yang saya cari itu bukan praktisnya, tapi sensasi si mie instan itu sendiri, terutama kalo lagi ujan ujan, kayaknya klop banget gitu. Makanya, meskipun nyokap udah masak, saya sering diomelin gara gara tetep kekeh bikin mie. Dan sekarang? Ah, kaga ada masakan tjoy, mau nggak mau ya bikin mi, sampe pas ujan-ujan yang dulu saya bilang klop itupun, kayaknya ogah banget bikin mie. Udah mblenger -_-. The last is kertas nasi. Pas dirumah, kertas nasi itu barang unik, makan diatas kertas nasi adalah perihal langka yang gak dateng setiap hari berhubung nyokap saya termasuk yang rajin masak. Tak jarang saya beli kertas nasi hanya untuk alas makan dengan alasan sensasi. Sekarang? tong sampah depan kamar isinya buntelan kertas nasi, setiap kali makan hampir-hampir selalu pake kertas nasi kalo nggak minimal sehari sekali. Bagaimana bisa begini saya pun tak mengerti~

Soal habitat di kampus juga lain. Anak kelas saya yang waktu SMA isinya anak rajin dan anak pinter semua, sekarang jadi warna-warni, tapi setelah semakin mendalami karakter kelompok baru ini, saya semakin banyak menguak misteri dan sadar bahwa tempat saya memang disini. Jadi gini, di FIB itu ada beberapa jurusan kan, dan kalo anda seorang awam FIB, ditebak-tebak dari penampilannya, insyaallah anda tahu berasal dari mana anak-anak FIB tersebut. Misalnya kalo anak Arkeo berdampingan dengan anak SasPran, itu bakal beda, begitupun dengan jurusan lain. Anak antro itu menurut saya dandanannya paling eksentrik dari yang lain, kalo anak korea biasa gitu~, kalo anak jepang, well, yang tampang rada otaku, biarpun berkerudung tetep pake atribut kotak-kotak, vest atau cardigan panjang, dan boots, anak Sabar (sastra asia barat) bukan stereo sih, tapi umumnya emang kaya anak rismaci di SMAN, pake rok, kerudung syar'i, ya pokoknya gayanya santun dan gak macem macem sih meski ini hanya umumnya, lain lagi anak arkeo, mereka juga meski rada mirip dandanannya sama anak antro atau sejarah, tetep beda. Kalo anak sejarah itu ya, gimana ya? Cewenya gak terlalu feminim yang pasti, beberapa orang punya trade mark, dan memang seperti itu. Seketika saja anda mencoba mengupgrade penampilan dengan menyetipekannya dengan jurusan lain, anda akan merasa terlepas dari bagian. Dan itu hanya secuil cerita dari ranah fashion, kalo melangkah lebih jauh ke gaya obrolan, pola pikir dan lain sebagainya pasti tulisan ini malah jadi buku.

Habitat yang terakhir saya bahas disini adalah Jogja. Siapa yang gak kenal Jogja? Nah kalo Cikarang? Haha. Itulah kenapa, sekarang saya tinggal di kota yang samasekali berbeda sama Cikarang. Kota ini, dibilang kota seni juga iya, grafiti dan pelukis pinggir jalan dimana-mana, kesenian mendapat tempat di hati penduduknya, event gak perlu ditunggu jangankan sekali sebulan, hampir tiap hari selalu ada. Mau itu teater, karawitan, puisi, rupa, keroncong, sampe orkestra semuanya ada. Toko buku? Buanyak, dari gramedia yang mahal sampe yang formatnya loakan kaya di Senen. Tempat shopping pun gak hanya mall, tempat wisata dimana mana. Ya, kurang lebihnya, apa yang nggak ada di Cikarang yang saya inginkan itu ada disini. Tapi bukan lantas tempat ini jadi perfect, soal kuliner saya tetep kangen berat sama Cikarang, terutama tempat-tempat nostalgic yang nggak akan tergantikan disana tempat keping-keping memori saya berhamburan.


Change of Bakathings

Posting blog beberapa bulan terakhir ini mulai berwarna serupa yang dulu. Kenapa? Entahlah, semua terjadi begitu saya. Tiba-tiba saja saya dihadapkan pada kesempatan kedua, tapi hal tersebut tak ubahnya penyadaran terhadap ketiadaan apa-apa lagi terhadapnya. Rasanya menyesakkan bro. Kami berjalan berdua di tengah keramaian yang semarak, lampu-lampu yang kemerlingan, romantisme yang sederhana sekaligus memikat, kau bersikap demikian baik, demikian manis, tapi semua itu hanya berupa hantaman-hantaman keras ketika sampai menyentuh permukaan hatiku yang terlanjur mendingin. Empat tahunan itu nggak singkat ya, bisa buat dua kali lulus program akselerasi, begitupun dengan lulus dari kelelahan untuk menahan dan menunggu. Sekarang kesempatan bertebaran, pertemuan-pertemuan terjadi begitu saja, saya tak lagi mengalami kekhawatiran tinggi, ketakutan, atau luapan perasaan aneh yang saking dahsyatnya membuat saya seolah tak kuat menghadapi segala situasinya lagi. Luapan macam apapun itu sudah tidak terasa lagi, samasekali. Maka mari cukupkan sampai disini. Kalalupun dirimu pernah mengetahuinya, dan menganggapnya angin lalu karena tak memiliki hendak dan kuasa untuk memastikannya lebih jauh, saya akui itu benar adanya, tapi maaf perasaan ini sudah kadung menyerah tanpa diminta, maaf bukan hanya untukmu, tapi juga untuk harapan-harapanku yang kadung lepas tanpa pernah menyentuh ambang perwujudan.

Lalu ada orang lain muncul, seorang baru yang ternyata bukan apa-apa. Ia berkata tapi saya tak berminat mendengarnya. Saya tak bermaksud menghilangkannya dari kisah hidup saya. Bagaimanapun ia pernah menghadirkan masalah dalam tahun ini bagi saya. Tapi kali ini semuanya tak bertilas untuk saya. Masalah itu tak akan menjadi masalah lebih jauh lagi. Ia hanya seorang yang membuat saya mengetahui beberapa jenis perasaan, otoritas, bagaimana sebuah kewajaran, dan titik dimana saya memutuskan untuk berhenti dan berjalan ke arah lain.

Dan yang ketiga, hal ketiga yang saya pelajari di akhir-akhir tahun ini dari seorang shipwright yang saya kenal dari hobi yang sama. Saya juga masih belum mengerti sepenuhnya soal apa yang ada diantara kami, yang jelas saya menaruh setitik kekaguman padanya. Ia orang yang samasekali berbeda dari yang pertama, dan saya pun tak pernah menyangka akan pernah mengenal orang sepertinya. Tapi ia menghadirkan alur yang persis sama dengan yang pertama, meski untuk kali ini, entah karena positivisme saya saja atau apa, saya tak hanya bermain sendiri. Sekali waktu kami bersenang-senang bersama, dan perasaan saya bersemi karenanya, seketika kami bicara soal hal-hal aneh, melakukan hobi dan bekerja bersama sampai larut malam, dan waktu-waktu itu hanya mengalir begitu saja. Satu-dua kali kami direndung masalah, saling terdiam dan semuanya nampak seketika berbeda, kenyamanan di tempat-tempat biasa tak lagi terperi dalam perasaan hanya karenanya. Satu kali saya dibuatnya kecewa, entah ini semacam pisau bermata dua atau apa, tapi kalau kau mau jujur perlahan-lahan dan memberikanku kesempatan yang sama juga, saya juga ingin jujur soal segalanya. Sejujurnya saya tak ingin menyesal di kali kedua, cukup karena saya sudah menemukan, dan jangan katakan ini hanya kekeliruan. Karena tiap kali ada kesempatan yang membuatku entah bagaimana caranya menyadari sebuah tanda, aku berdoa itu benar adanya, dan sesuatu yang cerah di depan sana pun benar adanya.

2012 saya samasekali tak terlibat dalam masalah semacam ini, tapi dalam tahun ini, semuanya menyerang bertubi-tubi. Seolah akselerasi kedua, saya dipaksa mempelajari hal semacam ini dalam waktu yang sangat cepat. Entahlah soal semuanya mungkin ini karena di tahun ini saya resmi 17 tahun haha#dor, dan lagi, meski saya meninggalkan, tak peduli, dan menaruh harapan di yang terakhir, saya hanya ingin menikmati segalanya di hari-hari saya sebaik mungkin.


Change of Paradigm

Saya terdaftar sebagai peserta ujian akhir semester satu jurusan sejarah UGM yang sedang berlangsung, tapi salah besar kalo kalian menyangka sejarah yang dipelajari dan diujikan minggu-minggu ini cuma soal hapalan. Dalam mata kuliah substansional semacam Pengantar Ilmu Sejarah yang materinya dari 1200-2008 sekalipun, kami bukan diminta menghapal, tapi mengerti konsep. Manusiawinya, sulit untuk mengingat tanggal dari semua peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu tersebut secara rinci kecuali anda terlahir dengan kemampuan khusus, oleh karenanya kami diminta untuk mengerti konsep waktu. Kronologisasi dan Periodisasi adalah yang utama. Bahwa setelah peristiwa A ada peristiwa B karena peristiwa A membawa dampak A' yang menyebabkan peristiwa B dan selanjutnya memancing terjadinya pemberontakan B' di daerah C karena daerah C merupakan bekas kekuasaan B". Jadi sejarah itu berkesinambungan dan karenanyalah saling berkaitan. Membaca buku pun bukan hanya mendapatkan informasi di permukaan, tapi juga di dalam, dengan membaca yang tersirat. Bayangkan! Bahkan lama-lama pekerjaan sejarawan semakin mirip detektif.

Kami nantinya berurusan dengan dokumen rahasia, menulis yang belum ditulis, perspektif baru dari sejarah yang selama ini disetir oleh rezim tertentu. Kami membaca tulisan kuno sesuai spesialisasi, meneliti pola pemikiran dan zeitgeist setiap zaman. Kami membaca foto, meneliti keabsahannya dari gaya bangunan dan pakaian yang ada di sana, plang-plang toko dan plat-plat nomor kendaraan. Kami menggunakan surat kabar lama, iklan-iklan awal abad 20 yang diksinya menggelitik, dan menyimpulkan golongan masyarakat apa yang berperan didalamnya. Kami mengecek autentisitas dari sebuah surat dengan melihat gaya tulisannya, capnya, trademarknya, bahkan jenis kertasnya. Kami dibiasakan peka terhadap film, bagaimana bedanya antara film dokumenter dan reka kejadian yang terlihat sama tuanya. Bahkan mengetahui usia, apa yang pernah terjadi di desa tersebut dalam kurun waktu tertentu di sebuah desa hanya dari kompleks pemakaman.

Satu semester ini benar-benar sudah mulai meracuni pola pikir saya, tapi ini menyenangkan dan semoga saja kedepannya semakin menyenangkan.

Tahun 2013 ini kemudian ditutup dengan sebuah perhelatan akbar di sebuah desa di Sleman yang sunyi. Sederhana sih, cuma masak bareng dan nonton tipi, tapi hey, semenjak ngekos nonton tipi itu hal mewah ya~. Meski diawali oleh kemeranaan, akhirnya awesome kok, persis seperti pola 2013 itu sendiri. Yang terpenting yang saya pelajari dari 2013 itu optimisme, akan ada suatu tempat dimana anda akan merasa benar-benar nyaman, dan meski butuh perjuangan besar untuk itu, semua akan indah pada waktunya~~ :3



Bubay 2013, Adieu~ terimakasih atas segalanya!
DIRIMU LUAR BIASA, AWESOME AS ME~ :* #JEDDAR
Kau pintu gerbang termegah yang mengajariku artinya berjuang dan mendapatkan kemenangan. 


MAY 2014 BE AS GREAT AS THIS OR EVEN MORE!~~HAPPY NEW YEAR THROUGH INTERNET EXPLORER~~

#halah pake chrome juga lu

Thursday, January 17, 2013

HETALIA SEASON 5: BE PREPARED!!!

Lama tak mendengar apdet dari Himaruya, dikira Hetalia bakal mati suri. Eeh, tapi ternyata beliau kemudian datang dengan sebuah kejutan besar, proyek baru yang bakalan rilis dalam hitungan hari dari sekarang

"January 28th 2013, 21:00"
*Mimpi apa lu nad, nad?! -_-*

HETALIA SEASON 5 WILL COME TRUE!!!



Dan sungguh-sungguh kabar baik buat para Hetafan, Hetalia season 5 hadir dengan banyak keistimewaan baru, diantaranya tentu soundtrack baru yang judulnya Mawaru Chikyuu Rondo dan grafis yang tampil dengan kejutan besar; SEMAKIN BAGUS!

oke, buat kalian yang penasaran dengan trailernya, ini dia...

France-nya lebih ganteng lho#bhuagghh

dan ini Soundtracknya yang nggak kalah koplak sama Marukaitte Chikyuu ataupun Hattafutte Parade~



Sekali lagi, mewakili Hetafan di seluruh dunia, I have to say so much thanks to Hidekazu Himaruya to bring out Hetalia Season 5 out from our dream. Thank you very much, and yeah, WE'LL BE PREPARED!!!

stop to
Keep Calm
and


BE PREPARED
for
HETALIA SEASON 5

Wednesday, January 02, 2013

Review of 5 cm per Second: Love, Something Beautifully Disasterable



Saya akui saya cengeng, terhitung saya masih nangis tersedu-sedu di kesempatan menonton Titanic saya yang ke tiga kalinya, waktu ke Ambarawa kemaren saya nangis gara-gara museumnya tutup sepanjang jalan Ambarawa-Banyubiru, dan terakhir kalinya saya nangis di tahun 2012 adalah tanggal 31 kemaren, selepas nonton sebuah anime buah rampasan dari teman saya; 5cm per Second. Dan rasanya kadar kecengengan sebesar ini agak konyol untuk seorang berusia 16 tahun~

Awalnya saya sangsi soal anime ini, berhubung sebagian teman saya beranggapan tak terlalu positif terhadapnya. Ada yang bilang nggak seru lah, gagal bikin nangis lah, dan kecewa sama promosian orang yang katanya seru. Tapi saya belum akan percaya sebelum membuktikannya dengan mata saya, lagipula selera saya agak berbeda, siapa tahu ini justru harta karun buat saya, oasis ditengah gersang yang merasuki liburan saya. Dan ternyata bingo! Saya benar…!#prokprokprok.

Pertama, mungkin saya akan review dulu

Aduh, sejujurnya sulit untuk mulai review. Saya bingung harus mulai dari mana dulu. Padahal sebentar lagi masuk sekolah dan saya harus lebih efisien dalam menggunakan waktu liburan#plakk*apahubungannya?!* Baiklah, karena saya paling terkesan sama ceritanya, akan saya review yang satu itu terlebih dahulu.

1. Story

Sebagai seorang penikmat kisah-kisah romens, saya sangat mengagumi apa yang Makoto Shinkai persembahkan untuk para penggemarnya. Bisa jadi, dalam waktu dekat (setelah saya nonton Hoshi no Koe mungkin) beliau ini akan saya daulat jadi animator favorit saya. Sebelum nonton ini, saya nggak terlalu menggubris soal LDR (Long Distance Relationship). Selain soal pengetahuan saya yang minim soal hal tersebut, dan ketiadaan pengalaman yang demikian, mungkin juga karena saya belum pernah mencermati kisah soal LDR yang sekeren ini. Jadi kurang lebih saya sebelumnya tidak pernah mengerti LDR secara esensi, dan anime ini menerangkannya dengan baik, lengkap dengan makna-makna implisit lain di dalam sebuah LDR.

Anime ini cukup singkat dan memaksa saya untuk re-watch beberapa kali lagi karena belum puas. Durasinya hanya sekitar satu jam dan memaparkan tiga sub-judul, yakni:

  • Oukashou (Tohno Takaki's PoV)
  • Cosmonaut (Sumida Akane's PoV)
  • 5 cm per Second (Tohno Takaki's PoV)
Yang ketiganya memaparkan kisah seorang Tohno Takaki dan perjalanan cintanya. Sejak di sekolah dasar ia mengenal sosok Akari Shinohara, yang oleh takdir dipertemukan dengannya dan waktu kemudian menggiring mereka untuk menjalani hari demi hari bersama, menikmati pertemanan yang kemudian berhujung lebih dari itu; cinta pertama. Sekilas perasaan kita akan dipropagandai di segmen pertama ini bahwa cinta pertama mereka memang serius dan dalam. Sampai bertahan tanpa goyah untuk beberapa tahun meski terpaut untuk jarak cukup jauh. Hingga akhirnya jarak dan waktu juga yang menghancurkan mereka, menjauhkan mereka lebih dari sekedar secara konkrit, dan menghapus apa yang pernah ada perlahan, sampai sisanya tinggal kurang dari standarisasi terkecil sebuah eksistensi.

Kisah ini terus berlanjut dan di segmen kedua dipaparkan bagaimana untuk sebuah akhir yang belum jelas pun, untuk sebuah taruhan yang tak berpeluang pun, untuk sebuah ujung yang belum tentu mulus pun, banyak yang harus berkorban dan dikorbankan. Dalam hal ini, Sumida Akane orangnya. Kisah di segmen kedua ini dinaratori oleh seorang 'korban' dan akibatnya adalah sebuah penuturan yang dramatis, kadang agak egois, dan kental dengan pesimisasi. Segmen ini juga yang memancing emosi saya untuk bergelut lebih sengit, dan of course, cukup terenyuh.

Di segmen ketiga yang panjangnya tak seberapa dibanding yang pertama dan yang kedua, cerita ini akan resmi diakhiri dengan akhir yang menyayat hati. Persisnya silakan anda tonton sendiri, yang jelas, sedikit bocoran;

dua yang berdiri diantara sekat ruang dan waktu tak akan mampu berbuat banyak.


2. Graphic

Satu kata; Menawan.

Dan memang begitulah kenyataannya. Berkali-kali saya berpikir soal satu kata yang bisa mendeskripsikan ini dengan baik, dan nyatanya cukup sulit. Awalnya saya pikir 'keren', tapi kesannya kurang mendalam. Sedangkan 'menakjubkan' itu kurang sentimentil dan terlalu mengelukan. 'Cantik' tak cukup mewakili pluralisme keindahan yang tertuang didalamnya, dan akhirnya saya putuskan bahwa 'menawan' adalah kata yang tepat.

Saya memang sangat terkesan dengan ceritanya, tapi grafisnyalah yang membuat caya pertama kali jatuh cinta. Penggambaran stasiun (yang jadi mayoritas setting di anime ini) yang detail, langit yang penuh warna dan transparan, salju yang gemerlapan, dan pelukisan pemandangan kota yang 'jujur' yang mengingatkan saya pada Pixiv, menjadikan daya tarik awal nomer satu. Sekalinya jika jalan cerita anime ini tidak saya sukai pun saya mungkin akan tertarik untuk menontonnya karena kemenawanan ini. Akhir-akhir ini tak banyak anime yang bisa membuat saya jatuh cinta hanya dengan sekali tonton, anime yang saya gilai akhir-akhir ini masih Hetalia Axis Power, dan mari kita bandingkan seberapa berbedanya mereka berdua. Baik dari segi cerita maupun grafis. Yang satunya serius dan yang satunya tidak samasekali. Yang satunya sentimentil, dan yang satunya kritis. Namun apa daya, saya suka mereka berdua.

Anime yang pertama kali bikin saya nangis itu Honey Bee Hutch, dan ini yang kedua, prestasi sekali bukan? 5 cm per second memang adalah kombinasi yang luar biasa antara grafis dan cerita. Pembuatnya tahu betul bahwa untuk menyempurnakan cerita yang melibatkan emosi ini perlu latar yang mendukung, dan beliau berhasil mewujudkannya. Meski yang saya kecewa dari grafisnya justru soal penggambaran tokohnya. Tokohnya digambarkan dengan amat sederhana, baik dari segi fisik maupun penampilannya, dan kalau melihat latarnya yang sedemikian elok, ada kalanya saya pikir ini agak jomplang.


3. Soundtrack

Mau dikata apa, di saat pemutaran soundtrack sebagai ending inilah puncaknya saya nangis. "One More Time, One More Chance" yang didaulat jadi soundtrack memang sanggup mengangkat-banting emosi penontonnya. Lirik lagunya sangat mengena dan super duper match sama cerita animenya. Nadanya sederhana, tapi cukup mewujudkan koalisi yang pas dengan liriknya sehingga lagu ini bisa tersaji penuh, seimbang, tanpa ada yang dominan maupun resesif. Lagu ini nyatanya saya putar berulang kali, dan setiap memutarnya dada saya sesak lagi. Saya memang bukan seorang korban LDR, tapi sebagaimana film Titanic bisa membuat saya mendalami karakter Rose dan lantas nangis saat menontonnya, lagu ini juga sukses membuat saya semakin tersedot masuk ke cerita.

4. Efek

Efek dari nonton 5 cm per second adalah nangis. Yap, disertai dengan pergolakan batin dan kesengsaraan pikiran sejenak. Saya mendadak terhipnotis untuk merasakan rasanya ada di posisi Takaki dan itu cukup memilukan. Selain itu ada beberapa yang berhasil saya simpulkan.


Dari tontonan berdurasi satu jam itu, saya mempelajari hal baru lagi.


Bahwasanya memang seduktif yang biasa dijuluki cinta itu memiliki berjuta persepsi, definisi tanpa tepi, dan sungguh jauh dari konkritisasi dan konsistensi. Di saat tertentu ia bisa melambungkan, amat sangat tinggi, membuat kau merasa seolah pada posisi ternyaman yang akan selalu stagnan. Pada detik itu kau hanya akan dipenuhi mimpi dan bayangan-bayangan indah yang bisa saja hanya semu. Tak ada satupun hal yang menyedihkan karena luka-luka kecil pun malah akan jadi pemanis. Lalu setelahnya, saat kau sudah terlanjur candu ia akan berubah menuntut ketika kau tak mampu melakukan apapun, hingga perlahan menjahuh tanpa disadari dan yang tinggal hanya sisa-sisa harapan dan buaian kenangan yang sulit untuk terganti, membuat sedikitpun kita tak bisa melarikan diri, terperangkap dalam keadaan yang mengenaskan. Seperti menggapai oksigen dalam kehampaan, dan segalanya yang sedianya indah pun akan berubah menyakitkan.

Semua orang punya kecenderungan untuk jatuh cinta dan mencintai, terhadap siapapun yang hatinya pilih. Dan itu bukan hal yang salah. Jika ada yang bilang itu anugerah, maka dia benar. Tapi yang tak bilang demikian juga tak salah. Sudah kubilang bukan bahwasanya ia memang terlalu fleksibel untuk diterjemahkan? Tapi ketika satu yang terdalam telah membawamu masuk ke dunia yang baru, ia akan menarikmu kesana selamanya, membuatmu untuk memutuskan dalam satu detik saja; kau akan siap untuk bahagia atau tidak siap samasekali dan terpuruk selamanya. Yang terbiasa untuk hidup di tengah kerajaan langit yang megah tentu tak cukup bisa menikmati hidupnya di padang rumput hijau luas yang amat sederhana, dan begitulah cinta mempermainkan hidup seseorang. Jalan tengah yang kerap dipilih yakni melupa, mengingkari suara hati sendiri dan lebih memilih untuk terus berjalan. Hidup harus terus berlanjut, dan luka adalah cinderamata. Kadangkala ada yang harus mengalah, dan kali ini ia adalah cinta. Berlari maju, lambat dan mati rasa, entah untuk kali ini saja atau selamanya, tetapi berharap ini hanya sementara dan secepatnya akan ada cinta lain yang hadir untuknya.

Hal lain yang saya pelajari dari anime ini juga soal jarak.


Jarak dan waktu, demikian mereka akan menyatukan kekuatan untuk memisahkan, dan itu tak terelakkan. Nyatanya tembok penghalang yang mereka bangun masih yang terkuat hingga saat ini, tak ada manusia biasa yang mampu melampauinya. Jarak yang dekat, dan kontinuitas berbagai bentuk kontak akan menghasilkan keakraban. Keakraban akan memicu kepercayaan, lalu ia akan membawa konsistensi kemudian. Terus dan terus begitu sampai datang yang namanya kesetiaan. Jika ia dipupuk terus menerus, ia akan tumbuh menjadi pohon yang berbunga paling indah.

Namun adakalanya dua raga yang jiwanya tetap bertaut itu terpisah, namun jiwa tak akan tinggal jauh dari pemiliknya dalam waktu lama. Segera, dengan terpautnya jarak dan termakannya waktu oleh takdir yang kejam, mereka akan saling melepas lalu kembali membawa kesepian kepada pemiliknya. Kesepian yang tak bisa diobati hanya dengan surat atau foto, karena sesungguhnya kesepian itu adalah kesadaran bahwa jarak semu yang telah terpaut memang terlampau jauh, sangat diluar jangkauan dan tak tertempuh. Diiringi dengan berbagai aspek tadi yang memudar satu persatu sampai hilang sepenuhnya. Ia, madu manis yang pernah kau reguk itu hanya akan meninggalkan satu, kenangan yang membuat lubang besar di hatimu, memeras air matamu, dan menyesakkan dadamu, dengan amat sangat.

Omong kosong jika ada yang bicara dapat bertahan dari propaganda licik jarak dan waktu. 

Omong kosong.

***
"Kemarin aku bermimpi. Sebuah impian yang terjadi di waktu yang lalu. Dalam mimpi itu kita masih belum berusia 13 tahun. Kita berada di daerah luas yang tertutup salju, lampu-lampu rumah menyebar di kejauhan, pemandangan yang memesona. Kita berjalan di karpet salju tebal, tapi tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Dan seperti itu, "Suatu hari, kita akan melihat bersama bunga Sakura mekar lagi". Kita berdua, tanpa ada keraguan sedikitpun. Itu yang kita pikir."

"Aku selalu mencari pecahan dirimu di suatu tempat. Di toko selama perjalanan, di sudut berita di koran, meskipun aku tahu kau tak akan ada di sana. Jika hidup kita bisa diulang, aku akan berada di sisimu setiap waktu. Aku tidak akan meminta apapun, tidak ada yang berarti kecuali dirimu."(One More Time, One More Chance)

***




sekali lagi,

dua yang berdiri diantara sekat ruang dan waktu tak akan mampu berbuat banyak.

Monday, December 31, 2012

The Time Voyager: Living Through 2012


Tanggal 31, bulan Desember. Agak sedih dan bahagia saya mendapatinya. Banyak hal yang terjadi di tahun yang menaungi pergantian usia saya dari yang ke 15 jadi yang ke 16 ini. Banyak sekali bahkan, dan oleh karena itu, sebagai tilas terakhir tahun ini, saya akan mencoba untuk mendokumentasikannya.


Year of Thinking

Tahun ini, saya resmi jadi The Thinker yang terduduk tanpa busana, menunduk, sambil menopang dagu#gakgitujugakali. Kenapa? Karena baru pada tahun ini saya merasakan perubahan ini pada diri saya, entah bagaimana awalnya saya jadi terlalu memikirkan setiap hal, lalu kemudian saya tarik garis besarnya dan saya sambung dengan kerangka teori kehidupan yang belum terselesaikan hingga saat ini. Saya rasa, setiap kejadian atau peristiwa yang saya alami memang memiliki pola yang kadang kala serupa dalam skala yang lebih besar, oleh karenanya sungguh tidak rugi menyimpulkannya sebagai sebuah teori dan menerapkannya di kasus serupa yang selanjutnya. Jika berminat, boleh ikuti saran saya.

Satu lagi yang membuat saya menjadi The Thinker, yakni masalah yang tak henti menggoda saya tahun ini. Di awal tahun ada kabar baik bagi mayoritas orang tapi bencana buat saya; Yep, MASUK PROGRAM IPA lantaran keseluruhan dari isi kelas saya memang dijuruskan kesana dan bukan ke PROGRAM IPS, hanya karena status “penghuni kelas akselerasi” yang menaungi kami dan saya tak punya kuasa untuk menentangnya, samasekali. Sekarang kalian coba bandingkan program IPS dan IPA, perbedaan apa saja yang menaungi keduanya? BUANYAK? Ya. Saya yang terbiasa berpikir dengan otak kanan, membaca, mencari referensi dari berbagai sumber, membayangkan, mengurut kronik suatu peristiwa, berorasi dalam debat, presentasi setelah melakukan studi kasus, dan mempelajari bidang yang luas kini dipaksa untuk memprioritaskan apa yang selama ini hanya meraih suara minoritas dalam pengambilan suara hati saya. Rasanya? Haah, di awal jelas saya sakit hati, tapi saya lantas mencoba untuk menghadapi kenyataan bahwa raga saya memang terduduk di kursi di salah satu kelas program IPA, bahwa identitas saya memang terdaftar sebagai seorang penghuni program neraka ini.
Masalah kedua: nilai terjun bebas. Dari tiga besar saya meluncur hingga ke peringkat 6, hebat? Of, course, gue gituloh(?). Ohohoho, tapi itu tak sepenuhnya terdengar buruk juga kok, seorang IPS sejati meraih peringkat 6 di kelas IPA, soswit kan? Nilai geografi, ekonomi, dan sosiologi saya yang notabene jauh-jauh lebih bagus dibanding nilai eksak saya yang super minim dan nyrempet KKM melayang jauh-jauh, mengapung tinggi-tingggi, lepas dari rengkuhan saya dan tergantikan oleh intensifitas pelajaran-pelajaran eksak yang tak menghasilkan progress apa-apa.

Masalah selanjutnya: ketika singa podium menjelma menjadi kerbau. Mungkin semua penghuni kelas hapal, kalo saya tukang nyari ribut pas presentasi, terutama bila masalahnya berkaitan dengan mata pelajaran yaah, semacam PKn atau Sejarah. Menurut saya dua mata pelajaran yang sedianya merupakan prioritas di kelas IPS tersebut memang memiliki banyak percabangan, bukan seperti eksak yang hanya terdiri dari satu garis lurus, dan percabangan itu sangat menarik untuk dikorek lebih dalam, ditelusuri lebih jauh karena akan begitu banyak segi persepsi yang akan muncul, dan disitulah perdebatan akan tercetus, dan kuncinya hanya berbicara dengan meyakinkan dengan dibekali sedikit referensi, maka anda akan jadi pemenangnya. Tapi di kelas saya sekarang bukan PKn atau Sejarah yang menjadi prioritas, samasekali bukan karena justru para eksak yang menempati posisi itu. Sedang dalam eksak, saya tak tahu apa-apa. Kemampuan hitung-hitungan saya nol besar. Otak saya tetap diperas meski samasekali tak menghasilkan susu, dan akhirnya? Ungkapan ‘puyeng’ saat menghadapi masalah itu bukan sekedar definisi verbal dari keengganan untuk melanjutkan usaha lebih jauh, melainkan memang stagnanisasi progress dan ujung pangkal kesediaan. Saat berada dalam situasi semacam itu kepala saya memang pusing, tanpa rekayasa atau campur tangan penyakit, tapi murni karena ‘tekanan’. Lagipula saya tak habis pikir dengan sistemnya, integral, differensial, vektor, biloks, redoks, tetapan gas ideal dan lain sebagainya —saya tak begitu tahu lah persisnya— dipelajari dalam satu kurun waktu yang sama dan bukan hanya dalam standarisasi level dasar, tapi sudah cukup —bahkan ‘sangat’ bagi orang seperti saya—sulit. Apa kelak dalam kehidupan kami di waktu mendatang, rumus-rumus itu memang aplikatif? Saya rasa tidak, bukan begitu? Satu atau dua bulan setelah mempelajarinya saja sudah lupa, bagaimana dengan tahunan? Kelak kala itu berguna pun kita mau tak mau harus mempelajarinya lagi bukan? Jadi apa gunanya selain mengagungkan mesin-mesin hitung handal dan memberikan mereka peluang raksasa untuk mendulang emas sebanyak-banyaknya. Oke, ini keberuntungan kalian karena berada pada ladang yang tepat, man!

Masalah lagi: Masa depan. Oh, yeah! Ini anugerah atau masalah sebenarnya? Puji syukur, saya masih diberi usia hingga di tahun yang ke enambelas setelah kelahiran saya ini. Dan itu berarti tantangan yang lebih tinggi standarnya akan saya temui berkenaan dengan progress yang mestinya memang mengimbangi semakin tua-nya saya juga. Tantangan untuk usia ini saya akui memang banyak sekali, salah satunya bertahan di Laut Kaspia padahal sedianya kau adalah penghuni air tawar, dan menentukan masa depan, tentunya. Secepat mungkin setelah periode yang ditentukan ini habis saya akan segera pergi jauh dari Laut Kaspia dan menuju entah mana, danau dengan air tawar paling segar di dunia. Masalahnya saya tak tahu persisnya dimana danau itu, saya hanya tahu jika ia adalah sebuah danau air tawar, dan saya harus menentukan pilihan saya, lalu kemudian berusaha untuk mencapainya hanya dalam empat sampai enam bulanan waktu yang tersisa.


Dari Fashion Designer ke Sejarawan

Siapa bilang pola pikir saya tak bertransformasi? Jelas-jelas sangat. HahaDulu, pas SMP cita-cita saya ya mau jadi fashion designer. Cita-cita yang sungguh dipandang sebelah mata, bahkan oleh orang tua saya. Memang saya suka Fashion Design, tapi setelah saya pikir pikir, fashion design itu bukan hanya soal mendesain pakaian, tapi juga punya banyak faktor pendukung. Contohnya bisnis dan hidup highclass, bergaul dengan para model dan rekan-rekan fashion designer kawakan, juga selebriti. Saya juga gak begitu suka dengan dunia bisnis. Apa saya bisa? Itu yang saya pertanyakan. Lagipula, jika saat kuliah saya mengambil jurusan fashion design, itu berarti saya hannya akan mengedepankan aspek keterampilan tanpa aspek kognitif yang cukup ditekankan. Jika sudah begitu, mau dikemanakan jiwa IPS saya?

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengikuti kata orang tua saya yakni mengesampingkan fashion design untuk ditekuni nantinya sebagai sambilan. Lagipula dalam fashion design yang terpenting kan kreativitas, asalkan saya tak berhenti mengasahnya itu nggak akan tumpul ‘kan? Lagipula yang tak kalah penting juga soal selera, dan saya rasa selera saya nggak akan berubah. Fashion design bukan fashion producing yang mengikuti trend, tapi tugas FD sendiri adalah untuk menciptakan trend. Jadi saya rasa ini bukan masalah besar. Mungkin suatu saat saya bisa tetap menekuni profesi saya sambil mengasuh butik dirumah.

Saya memang menuruti saran beliau berdua untuk mengesampingkan soal fashion design, tapi saya nggak setuju dengan saran beliau buat jadi guru bahasa Inggris dan kemudian jadi PNS. Saya udah mati rasa sama PNS, kesannya udah nggak sebaik dulu di mata saya. Lagipula saya nggak mau bekerja dengan menekuni bidang yang sama, terus menerus begitu sampai tua. Sedangkan itu yang ada di bayangan saya kalau memang saya jadi PNS guru bahasa Inggris. Akhirnya saya lebih memilih untuk bersama yang sejak dulu setia pada saya, apalagi kalau bukan Sejarah.

Pilihan pertama universitas saya jatuhkan pada FIB, jurusan Ilmu Sejarah—bukan Pendidikan Sejarah, lho—, meski universitasnya masih bingung, mau UI atau UGM. Kenapa saat teman-teman yang lain berjuang mati-matian buat masuk jurusan favorit semacam Kedokteran, Gizi, Akutansi, Psikologi, Hubungan Internasional, dan lain lain, saya malah memilih jurusan dengan passing grade rendah semacam Sejarah? hahaha, jawabannya tentu bukan karena saya menghindari persaingan. Persaingan sih boleh aja, lagipula saya juga suka ditantang selama itu dalam bidang yang saya tekuni. Habis mau bagaimana lagi kalau memang bidang saya itu bidang yang minor. Sekalinya jurusan Ilmu Sejarah menduduki urutan satu peminat terbanyak pun saya mungkin akan tetap ambil. Habis bagaimana, saya sudah betulan cinta sama Sejarah.

Sejak jauh jauh hari saya sudah banyak baca soal jurusan Sejarah, tentunya juga soal lulusannya yang susah dapet kerja. Tapi saya memilih sejarah karena memang saya suka sejarah, mungkin mereka yang sulit dapet kerja adalah mereka yang setengah hati sama bidang kuliahnya. Untuk kedepannya, bismillahirrahman nirrahim aja, semoga saya diberi kemudahan. Yang jelas, kecintaan, cita-cita, yang dibarengi dengan usaha nggak akan berbuah jelek ‘kan?


Eropa Masih Menggoda

Kuliah di luar negeri? Banget, masih menjadi impian saya banget. Tak mesti jurusan Fashion Design juga kan, untuk kuliah di luar negeri? Meski sampai sekarang pun para calon-calon Fashion Designer di Pearsons, La Salle masih keren dimata saya. Ini bukan berarti saya melupakan impian saya untuk jadi fashion designer yang kadung sudah saya umbar kemana-mana lo, dudes. Buat kalian yang merasa sudah menerima pernyataan kesediaan saya buat merancangkan wedding dress kalian, kawan-kawan lama saya yang baik hati, silakan tagih sesukanya. Insyaallah kalau hanya mendesain-kan saya selalu siap sedia :D

Saya memilih Sejarah karena saya ingin mendalami bidang keilmuannya. Saya kira, seorang akademisi bisa melakukan banyak hal, bukan begitu? Tapi seni tetap nafas saya. Dan sekarang, impian saya adalah untuk jadi seorang sejarawan, impian yang sama konyolnya dengan jadi fashion designer, sama-sama kerap dipandang sebelah mata. Sejarawan di Indonesia mau makan apa? Entah makan apa, yang jelas banyak yang perlu dilakukan oleh seorang sejarawan untuk Indonesia. Saya melihat identitas bangsa yang mulai pudar oleh warna-warna asing, dan ingatan bangsa yang tersingkir dari generasi penerus. Ini misi saya, saya ingin membawa kisah-kisah masa lalu itu terangkai dalam untaian yang indah kehadapan mereka. Sehingga negara kita akan tetap menjadi sebuah negara, bukan sekedar jasad tak bernyawa.

Lulus dari fakultas Ilmu Sejarah nanti, saya berharap bisa jadi dosen atau bekerja di sebuah lembaga riset sambil menulis buku. Saya ingin terus belajar, dan berpetualang tentunya. S2 di Universitas Leiden, Nederlands? Mengambil spesialisasi Kolonialisme Barat di Asia Tenggara? *Amin* dan... mungkin saja 'kan? Yang penting saya harus terus berusaha. Haah… agaknya saya jadi tak sabar kalau demikian…

Eropa masih menjadi benua biru impian saya. Kemanapun saya akan dengan senang hati, ke Prancis, Italia, Spanyol, Nederland, Austria, Jerman, Belgia, Andorra, Monaco, Polandia, Hongaria, kemanapun! Disana banyak hal yang tak ada harganya disini diperlakukan bak rempah-rempah di masa Rennaisans, contohnya seni dan sejarah absolutely. Bangunan-bangunan tua yang disini dibiarkan teronggok runtuh sendiri-sendiri, disana dirawat betul, dijadikan gedung pemerintahan bahkan hotel, membuat dari luarnya pun kota terlihat sangat klasik. Seniman-seniman jalanan juga hidup sejahtera karena pemerintah dan masyarakatnya sama-sama menaruh apresiasi yang tinggi terhadap mereka. Museum menjadi tempat yang ramai dan prioritas kunjungan wisata. Saya pikir, kapan Indonesia bisa jadi demikan?


Year of Traveling

Terhitung sembilan kali saya mengadakan perjalanan ‘berat’ tahun ini. Padahal biasanya saya dan keluarga termasuk yang jarang bepergian. Tahun ini dibuka dengan perjalanan ke Salatiga setelah dua tahun saya nggak kesana, dan selepasnya saya menulis post saya yang judulnya ‘Rolade’. Sekitar bulan Februari, saya dan teman-teman sekelas berkunjung ke Ciwidey. Menghabiskan tiga hari dua malam di pinggir Situ Patenggang dan mampir sejenak ke Kawah Putih. Awal bulan Mei, meninggalnya Mbah Kakung saya membuat sekeluarga besar terpukul, saya juga sempat menulis ‘After the Last’ waktu itu. Dan perjalanan menuju Jogja kala itu ditempuh dengan sangat cepat, maklum semua orang sedang kalut. Setelah itu, langsung ke Lebaran. Seperti di tahun-tahun sebelumnya saya mengunjungi dua kota besar di dua provinsi yang bertetangga, Yogyakarta dan Semarang, atau tepatnya Gunung Kidul dan Salatiga. Tapi karena tahun sebelumnya keluarga saya tidak pulang kampung, momen ini jadi saat berkumpulnya kami dengan keluarga besar lagi setelah dua tahun. Lanjut ke awal September, saya yang situasinya sedang berada dalam sebuah kerumunan yang terdiri dari sepuluh orang, pergi ke Asia Anime Festival di lokasi PRJ tanpa pengawasan orang tua. Itu pertama kalinya saya menempuh perjalanan sejauh itu tanpa orang tua. Tapi sebulan kemudian saya —kembali lagi dengan kawan-kawan—memecahkan rekor sebelumnya. Kami ber-26 mengadakan trip mandiri ke Bogor untuk menghadiri kuliah sehari bersama FMIPA IPB, sebelumnya kami menginap di rumah salah seorang teman yang berbaik hati memberi tumpangan akomodasi bagi kami. Sebulan setelah itu, kami mendatangi rumah yang sama—Rumah Gian— untuk tamasya akhir tahun. Sebenarnya, ini kunjungan universitas—UNPAD dan UI— sih, tapi disambung dengan wisata ke Kebun Raya Cibodas, jadi apa bedanya? ;D Dan tahun traveling ini ditutup dengan sempurna oleh perjalanan kembali ke Salatiga—untuk yang ketiga kalinya sepanjang tahun ini—untuk memeriahkan acara Saparan yang tak sempat kami ikuti hingga akhir tahun lalu. Kerennya, wisata yang terakhir ini juga dilengkapi dengan wisata sejarah ke daerah tetangganya Salatiga yakni Ambarawa. Secara, ambisi terpendam saya banget ini! Acara diawali dengan kunjungan ke Museum Palagan, lalu dilanjut ke Museum impian saya, Museum Kereta Api Ambarawa, tapi sayangnya lagi ada perbaikan dan TUTUP. SHIT BANGET TAU GAK?! Saya nangis disono, maksa masuk sampe di priwitin security, bodo amat, lagian mengecewakan banget. Hello harusnya mas security, lu tau kalo gua dateng jauh dari antah berantah. Lu tau gak CIKARANG? Gak tau kan? Itu jauh! Antah berantah! Dan gua dateng kesini untuk memuaskan dahaga KEPO gua atas Museum ini dengan mengorbankan banyak hal—termasuk uang lebaran yang aturan gua buat beli hape—! Mas Security, gua mau naik Lori, gua mau masuk-masuk ke dalem liat barang barang jadul didalam sana! Mau liat telepon, telegraph, ruang tunggu, semuanya! Mau liat lokasi syutingnya SOEGIJA! Tega lu! TWEEGA BWANGET SUMPAAHH!!!#ekhem, cukup.


Mengundurkan Diri Jadi Otaku

Otaku itu hampir gila? Yap. Dan saya demikian? Yap. Otaku itu suka sama suatu hal sampe berlebihan? Betul. Dan saya demikian? Nggak salah lagi. Otaku itu kerjaannya kalo gak main game, gambar, nonton anime, ya baca manga? Pinter! Dan saya demikian? Nggak salah juga. Tapi Otaku itu update soal anime dan manga baru, beli barang-barang anime banyak, nguras duit demi hobi, rajin download, rajin ke acara Jejepangan, cosplayer hunter atau cosplayer, dan menggilai Jepang luar dalam? Emang, kan? Dan saya? Nggak. Itulah alasannya mungkin saya bakal mengundurkan diri jadi otaku, otaku dalam definisi yang marak selama ini sih. Kalo sebagai seorang penyuka anime-anime yang sedianya saya memang suka, fangirlingan terhadap chara-chara favo saya, dan jadi Author di FFN, SAYA NGGAK AKAN PERNAH BERHENTI! XD Tapi mungkin sekarang saya lebih otaku sama hal-hal jadul~ wkwkkwk


A Loner

Tiga tahun kisah itu berlangsung, dan tahun ini ia resmi berlalu tanpa tilas. Padahal saya betulan seneng waktu hubungan saya dan orang itu mengalami cukup banyak progress di awal tahun ini. Eeh, ternyata memang betulan sudah terlambat. Dan malam ini kembang api akan berhamburan di langit di atas atap rumah saya tepat seperti tahun lalu, waktu…#ahsudahlah. Sekarang saya kesepian. Banget wkwk. Perasaan terhadap orang itu yang menaungi hari-hari saya selama tiga tahunan itu sudah kadung lelah harus terus menerus berdiri tanpa tunjangan. Memang sih, salah saya yang tak pernah mengambil tindakan apa-apa, haha, habisnya mau bagaimana? Saya tak akan bisa soal itu, tidak akan bisa. Sekalinya saya tak pernah suka pun kepada beliau#wwkk masa beliau?!— dia tetap bukan orang sembarangan buat saya, bukan sekedar teman, dan mungkin lebih baik memang terus begitu. Adieu, Premier!
Tak apa meski saya kesepian, sangat kesepian karenanya. Sejujurnya, saya ingin memiliki perasaan itu lagi, entah terhadap siapa. Yang jelas perasaan semacam itu, betul-betul pendongkrak semangat hidup. Hidup saya rasanya jadi agak berbeda ketika saya sudah terbiasa hidup dengan perasaan itu dan sekarang tidak lagi.


Kiamat Tidak Jadi

Yah, kalian semua tahu, tidak perlu ada penjelasan soal ini. Yang jelas keping CD 2012 sekarang dijual 1000 enam buah. wkwkkw...


Bagaimanapun, semuanya sudah berlalu. Dan adalah sebuah tugas bagi saya untuk mempersiapkan yang belum berlalu. Tahun 2012 sudah menyajikan perjalanan waktu yang sedemikian seru kepada saya, oleh karenanya saya ucapkan banyak terimakasih! Selamat jalan, dan tenanglah disana, kau akan jadi sejarah selepas ini, jadi selamat ya, 2012~

Untuk tahun 2013 saya mengucapkan selamat datang, semoga ini jadi tahun keberuntungan saya, meski konkritnya saya tahu ini tahun yang akan sangat banyak menuntut perjuangan dari saya.Tapi ini tahun terakhir saya di kelas IPA kan? Aahaaa~ senangnya~ dan selepas ini saya akan sepenuhnya berkecimpung di satu dunia, di danau air tawar yang segar tadi, sepenuhnya, tanpa eksak, tanpa IPA! YEAHH! KESESEEESESESE~

Dan di tahun 2013, saya juga menantikan HETALIA SEASON 5! CEPAT DATANG YAA~
Semoga tahun ini Indonesia juga jadi cara official*amin*

Semoga saya bisa diterima di jurusan Ilmu Sejarah diantara dua universitas itu, semoga hidup saya berjalan dengan lancar dan menyenangkan, semoga saya, kedua orangtua saya, adik saya, dan semua orang yang saya sayangi diberi kesehatan dan panjang umur, semoga dalam segala hal saya diberikan kelancaran, semoga saya bisa jadi individu yang semakin baik, semoga saya semakin produktif dalam berkarya, semoga akan ada ‘harapan baru’, dan semoga doa saya ini terkabul, amiiinn…


Selamat jalan dan selamat datang!



Tuesday, December 04, 2012

Soegija; Sejarah dan Kemanusiaan, bukan Propaganda Katolik






“Kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul, dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya. Semua merupakan satu keluarga besar.”

Beberapa minggu yang lalu, saya menghabiskan sore di rumah teman untuk membuat gambar yang di hari berikutnya akan kami serahkan sebagai seserahan simbolis kepada pihak sebuah universitas yang kebetulan kami lawati. Tapi beruntung, saya segera pulang tak lama setelah adzan maghrib kala itu, karena sesampainya dirumah saya mendapati banyak hal menyenangkan; sepotong rainbow cake  dan film berbau perjuangan rakyat Indonesia semasa kolonialisme. Apa lagi yang lebih sempurna dari ini?

Oke, saya akui, saya bukan seorang movie freak yang siap sedia mengantri di loket bioskop untuk menikmati setiap film terhangat yang baru rilis. Kebanyakan film layar lebar yang saya tonton malah baru sampai di hadapan saya begitu sudah turun kelas dan tayang di televisi. Bukan seorang apresiator yang baik? Ya, maaf kalau begitu. Tapi di kepala saya film bioskop terlanjur identik dengan mereka yang mainstream dan lumrah jadi tontonan manusia seusia saya, ringan-ringan saja, temanya umum, dan saya jujur tidak suka yang semacam itu. Saya lebih seperti semacam seorang pengagum jarak jauh, yang tetap mengapresiasi penuh karya berkualitas anak bangsa meski tanpa berkontribusi apa-apa#plakk. Setidaknya, menulis review semacam ini, salah satu yang bisa dilakukan oleh hanya seorang saya untuk mendukung kemajuan industri film Indonesia. Kita bisa mempersembahkan yang berkualitas, saya percaya itu.

Kembali kepada film perjuangan dan sepotong rainbow cake tadi. Waktu itu awal November, dekat-dekat dengan hari pahlawan, dan mungkin karena itu juga sebuah stasiun televisi nasional menayangkan film tentang seorang pahlawan nasional. Pahlawan nasional itu adalah Monsigneur Albertus Soegijapranata, SJ, seorang uskup pribumi pertama di Hindia Belanda, yang kisahnya diabadikan dalam sebuah film drama epik sejarah Indonesia berjudul “Soegija”.
Atas dasar pengalaman luar biasa yang saya dapat minggu malam itu, saya ingin berbagi sedikit review pada anda sekalian. Sekiranya anda memang belum menonton, atau sedang mencari hal yang bisa membuat anda kuasa menikmati pelajaran sejarah yang hafalannya seabrek dan membelit otak anda, saya merekomendasikan film ini.
***

Sekilas Soegija

Film ini disutradarai oleh seorang sutradara senior—Garin Nugroho—, yang sebelumnya sudah sukses menyutradarai diantaranya Dua Gerbong Satu, Daun di Atas Bantal, dan Cinta dalam Sepotong Roti. Di tangan seorang sutradara kawakan, tentu film yang tayang perdana di Bioskop tanggal 7 Juni 2012 ini sudah diprediksi bakal menjadi sebuah mahakarya yang sukses. Tak tanggung-tanggung biaya oprasional pewujudan film ini pun disinyalir mencapai 1,2 milyar rupiah. Tapi melihat kembali bagaimana apiknya film ini dikemas, biaya sejumlah itu memang dinilai cukup wajar.

Film ini melibatkan berbagai lapisan masyrakat dengan mengambil pemain dari berbagai latar belakang budaya yang beragam. Tak tanggung-tanggung casting pemainnya pun dilakukan langsung di Belanda demi mendapatkan figur-figur yang sesuai untuk memainkan peran sebagai tokoh-tokoh dalam film ini. Film “Soegija” diproduksi dengan format film perjuangan yang menggunakan teknologi modern sehingga sangat nyaman untuk dinikmati, diangkat dari catatan harian seorang Mgr. Soegijapranata SJ, dan mengambil latar Perang Kemerdekaan Indonesia hingga era RIS (Republik Indonesia Serikat) sekitar tahun 1940-1949. Film ini juga menampilkan tokoh-tokoh nasional Indonesia lain seperti Soekarno, Fatmawati, Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sri Paku Alam VIII, Jend. Soedirman, Soeharto, dll. untuk dapat menggambarkan pengalaman nyata seorang Soegija. Film ini banyak menampilkan tokoh-tokoh nyata yang dalam praktiknya difiksikan baik dari pihak Indonesia, Belanda, maupun Jepang—militer maupun sipil— dalam peristiwa-peristiwa keseharian yang direkonstruksi dengan cukup detil.


Sudut Pandang Albertus Soegijapranata sebagai Bingkai Cerita

Film ini berjudulkan nama, tapi bukan sebuah film biografi. Begitulah memang adanya, dan apa boleh dikata, kejeniusan seorang Garin Nugroho-lah yang ada dibalik semua ini. Film ini bukan menerangkan mengenai riwayat kehidupan seorang Romo Soegija tapi lebih kepada bagaimana kisahnya membingkai begitu banyak dan beragam kisah-kisah kecil lain di sekitarnya dengan kapasitasnya sebagai seorang pemuka agama, sekaligus penjujung tinggi misi kemanusiaan yang waktu itu sedang terombang-ambing penuh ketidak pastian.



Mulai dari kisah Lingling (Andrea Reva), yang merupakan seorang gadis kecil etnis Tionghoa Semarang yang ibunya menjadi korban kekejaman Jepang. Bagian kisah ini sedikit memroyeksikan pandangan kita kepada istilah fujinkau, perempuan-perempuan—kebanyakan dari etnis Tionghoa— yang diculik lalu dipekerjakan paksa sebagai pemenuh kebutuhan biologis serdadu-serdadu Jepang yang kerap kali diperlakukan diluar batas kemanusiaan. Beruntunglah kisah ini berakhir melegakan —dengan sedikit suntikan nilai Katolik— Lingling dipertemukan kembali dengan ibunya selepas berdoa untuk itu bersama Mariyem.



Lalu ada juga kisah dua orang pemuda Belanda, yakni Robert (Wouter Zweers) dan Hendrick (Wouter Braaf)—yang membuat seorang teman saya tergila-gila pada film ini, dan jujur sebenarnya saya juga#bah— yang karakternya luar biasa berlawanan. Robert adalah seorang yang ambisius, keras dan bagaimana, ya? Pokoknya abstak lah, hampir setengah physco begitu. Ia selalu berambisi menjadi seorang penakluk dan mesin perang yang hebat namun akhirnya tersentuh setelah menemukan bayi tak berdosa yang mengingatkannya untuk kembali pulang, membuatnya rindu pada ibunya, membuat setidaknya sisi manusiawinya kembali.



Lain halnya dengan Hendrick, seorang dokumentator yang menemukan cintanya ditengah perang. Cinta yang tak kuasa ia miliki juga —karena perang— kepada seorang gadis pribumi, Mariyem (Anissa Hertami). Mariyem sendiri adalah seorang translator yang kerap membaca puisi-puisi buatan serdadu-serdadu Belanda di sebuah usaha percetakan milik kerabatnya yang kerap kali melecehkan martbat perempuan pribumi. Salah satu hal yang akhirnya membuatnya semakin membenci penjajah namun tak bisa ia pungkiri cintanya nyatanya berlabuh pada salah satu dari mereka, meski sebenarnya sosok Hendrick samasekali tak seperti mereka. Wajar saja Mariyem luluh karena sesungguhnya Hendrick adalah sosok soft hearted, 180 derajat berlawanan dengan Robert. Mereka berdua hanya sama-sama terjebak dalam perang, itu saja. Mereka samasekali tak mengharapkan ini, terutama karena inilah, kisah cinta mereka tak bisa saling memiliki. 



Andaikata saya yang menyutradarai film ini*bah* mungkin saya akan lebih menyoroti kisah ini sebagai kacamata sejarahnya. Ya, jadinya mungkin akan lebih seperti Titanic atau Pearl Harbor, romansa di tengah perang begitu hahaha… berhubung saya memang seorang yang lebih menganut aliran yang sentimentil semacam itu. Karena buat saya, dengan begitu kita akan dapat meresapi cerita tanpa perlu berusaha, bahkan tanpa perlu diminta, cara tahu yang jauh lebih nyaman untuk dinikmati.



Kisah yang tak bisa di pisahkan dari film ini jugalah tentang Pak Besut dan microphone-nya. Narasi sejarah yang beliau sampaikan yang sebenarnya merupakan skenario sebuah siaran radio sesungguhnya merupakan sebuah narasi sejarah yang amat menggelora. Mungkin kalau beliau mengisi narasi pengantar pelajaran sejarah di sekolah, tak ada yang bakal mengantuk jadinya. Benar-benar representatif terhadap siaran radio perjuangan yang sebenarnya yang memang dimaksudkan untuk membakar semangat juang gerilyawan-gerilyawan kita.

Selain Pak Besut dan microphone-nya ada juga Soegito dan orkestra mininya yang mengetuk hati seorang Nobuzuki (Suzuki) dengan Bengawan Solo-nya. Juga cerita tentang anak-anak yang terpaksa tumbuh dalam perang, yang justru membawa kesegaran dan tawa kedalam film ini dengan tingkah mereka yang memaksa saya tertawa sampai keluar air mata. Apalagi adegan yang ini; "Prajurit itu kudu iso moco, tusuk A!" wkwk... koplak sumpah!


Bukan Bentuk Kristenisasi

Benar memang kalau beranggapan bahwa film ini diproyeksikan kedalam latar yang berbau Katolik. Dari ceritanya saja, mengisahkan kehidupan di sekitar gereja dengan bingkai cerita berupa kronik seorang Uskup pribumi. Mayoritas tokohnya pun berlandaskan iman yang sama, namun unsur Katolik yang anda temukan dalam film ini tidaklah sekeras espektasi anda ketika melihat teaser-nya tanpa suara yang banyak menampilkan setting-setting altar sekitaran Gereja.

Film ini sebagaimana yang dipaparkan oleh sebuah ungkapan seorang Mgr. Soegijapranata sendiri yang membukanya, adalah mengenai kemanusiaan. Film ini juga tak bermain dengan emosi. Ini bukan semata film yang menyoroti sebuah kisah sebagai kacamata sejarah semacam Titanic yang beraliran Romantis-Sentimental. Kisah semacam Titanic sangat melibatkan emosi karena kita disuguhkan sebuah cerita dimana kita akan sangat mendalami karakter tokoh utamanya. Sedang dalam “Soegija” kita tak diperkenankan mendalami karakter tokoh manapun. Kita hanya sekedar dikenalkan, diperbolehkan untuk sedikit mencicipi tanpa bisa terlampau jauh menikmati. Namun dari sanalah, film ini justru menuntut pengertian kita sendiri untuk mendalami nilai kemanusiaan secara murni.

Kurang lebih, karena itulah saya tidak setuju jika film ini dianggap sebagai Kristenisasi. Karena saya sempat dengar desas-desus film ini hendak di boykot karena mengandung unsur Kristenisasi. Pertama, Kristen, atau Katolik dalam hal ini, adalah salah satu agama yang diakui secara resmi di negara kita. Toh tidak sepantasnya jika film ini harus menuai protes hanya karena mengatasnamakan kaum minoritas. Yang kedua film ini jelas hanya ‘bernuansa’ bukan ‘bernafaskan’ Kristen. Kreator dan orang-orang yang terlibat didalamnya pun banyak yang merupakan budayawan, orang-orang yang umumnya memandang dunia dari sudut pandang mereka yang idealis, bukan mendukung atau bahkan berkiblatkan pada sebuah norma atau ajaran tertentu. Dari pada soal agama, film ini menurut saya lebih mengisahkan segi budaya. Bagaimana dengan anda? Segera simpulkan setelah anda menontonnya.

“Soegija” adalah sebuah kisah yang sudah baik sebagaimana adanya. Sudut pandang yang ditampilkan disini adalah yang menjadi unggulannya. Bagaimana seorang Uskup yang notabene adalah seorang pemuka Agama yang mayoritas dianut justru oleh golongan penjajah ini menghadapi peliknya suasana peperangan. Suasana yang mengharuskan dirinya menjadi teladan, sekaligus jajaran orang-orang yang semestinya pertama berkorban. Suasana yang menempatkannya dalam posisi yang sulit ketika dalam waktu yang sama dia harus membela hak umatnya sekaligus menolong mereka yang membutuhkan pertolongan, tanpa memandang mereka dari sudut manapun sebagaimana yang ia katakan bahwasanya ‘Kemanusiaan adalah Satu’.

***

Penasaran karena ocehan yang saya sampaikan diatas terlalu konyol dan berputar-putar? Tontonlah sendiri hohoho~

sebenarnya saya berniat menampilkan teasernya disini, tapi sayangnya belum bisa karena suatu masalah teknis. Tapi pemaparan saya diatas sudah cukup gamblang tentunya untuk ukuran sebuah review yang tak dilengkapi teaser~

Mungkin di lain kesempatan akan saya lengkapi.

Oh, iya! Adegan favorit saya yang tertayang disini adalah ketika Hendrick ke Hotel Asia dan dia nyanyi Als de Orchideeën Bloien bareng ibu-ibu resepsionis hotel yang nyanyi versi bahasa Indonesianya (Bunga Anggrek) dan ngiringin nyanyiannya Hendrick pakek Kentrung. HUAAHHHH XDD



Dan seperti biasa, sebuah soundtack untuk menutup sebuah review. Kali ini saya berikan salah satu yang sangat spesial untuk anda, cukup romantis kalau menurut saya.


Als de Orchideeën Bloien

Bunga Anggrek

Als de orchideeën bloeien
Denk ik steeds terug aan jou
Dan denk ik aan de zoete tijden
Hoe ik zoveel van je hou
Als de orchideeën bloeien
Ween ik vaak van liefdesmart
Want ik kan niet bij je wezen
g’lijk weleer, mijn lieve schat
Maar nu ben je van een ander
Voorbij is de romantiek
Kom toch terug bij mij weder
Jou vergeten kan ik niet
Als de orchideeën bloeien
dan denk ik terug aan jou
Denk toen aan die zoete tijden
toen je zei: Ik hou van jou

Artinya kurang lebih mengisahkan tentang perpisahan karena cinta yang tak bisa memiliki. Seorang gadis yang merana ditinggal kembali pria yang dicintainya ke negeri asalnya ktika perang usai. Lagu ini klop banget sama ceritanya Hendrick dan Mariyem, terlebih dari sudut pandang seorang awam perfilman seperti saya yang berusaha menikmati cerita ditengah segala keterbatasan kepekaan yang saya punya. Meskipun romansa dalam film ini hanya sekedar selentingan, tetap inilah yang membuat saya jatuh cinta.