Trending Topics

.

.
Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Friday, August 08, 2014

Berbisnis, Bertaruh dengan Waktu


Njirr lama banget ya~ sejak terakhir kali saya menyapa blog ini. Puasa Ramadhan saya juga puasa nulis, kecuali barang nulis status mungkin hhoho#dor padahal kan gitu, akhir-akhir ini sangat banyak isu yang seksi dari mulai pemilu pertama saya *yaterus?*, kemelut di Palestine yang menurut saya menyandera logika, ISIS coy, event-event pribadi semisal lebaran yang sepi di Cikarang, ngotu dan nyenen, dan masih banyak yang lainnya. Tapi saya justru baru punya greget nulis sekarang, dan samasekali bukan karena yang hot-hot diatas, tapi biasa, masalah yang mengorek nurani, meski kadang tak berarti apa-apa bagi sekalian banyak orang.

Kemarin saya ke pasar sama ibu saya. Setelah beberapa hari hampir seminggu jadi sepi bak kota terpapar radiasi yang ditinggalkan penghuninya, cikarang mulai mereguk cairan nyawanya kembali. Lepas dari pintu rel kereta api pasar lama yang untek-untekan rame gila, kami mulai menjajaki pecinannya cikarang di sekitar kelenteng Liem Thay Soe Kong. Dari sana, tujuan kami ke Multi Media, sebuah stationary store alias toko ATK dan buku paling senior se-cikarang buat nyari kado temennya adek saya dan buku gambar A3 buat tugas dia bikin peta. Saya ngapain ikutan? Niatnya pengen beli cat air berhubung lama nggak maen cat, tapi pas sampe sana, niat saya urung. Nggak tahu kenapa. Mungkin dukunnya MulMed kurang manjur makanya saya gak jadi beli. Tapi sebenernya ya, uang lebaran saya udah nonsense banget, kemaren abis banyak buat ngebolang Jekardah. Belom lagi saya masih punya beberapa buku yang belom selesai dibaca. Sketch book pun masih menyisakan beberapa lembar kosong dengan seperangkat pensil dan penghapus yang masih sangat layak digunakan. Jadilah, pikiran soal mundur selangkah daripada maju menjadi serakah, ingin meraup semuanya, selagi milik masih cukup dan belum bisa betul kita nikmati semaksimal yang ia bisa membuat saya mengelus saku, lima puluh ribu, selamat.

Pulang dari sana, kami harus kembali melalui rel kereta yang berkondisi masih sangat sama seperti tadi. Antrian teruntai panjang sampai di depan apotek yang saya lupa namanya, sangat dekat dengan mulut jalan tempatnya bersentuhan dengan jalan utama Gatot Subroto. Dari sana, sepeda motor kami dipaksa setia mengantri oleh kebutuhan akan keselamatan dan sedikit-sedikit kepatuhan pada norma jalanan. Di suasana lebaran seperti ini, meski perekonomian belum sepenuhnya massif, lalu lalang kendaraan bermotor dengan penumpang-penumpang berbaju baru yang warnanya masih mentereng sama atau bahkan lebih ramai dari hari biasa. Lain uang, penduduk negara ini masih tak sematerialistis yang kita kira, tumpah ruah kendaraan ini rata-rata dalam penuntasan misi silaturrahmi lebaran.

Selagi mengantri untuk terbukanya pintu palang lintasan kereta, pandangan saya berpatroli. Barisan toko-toko di kompleks pasar lama masih sama seperti dulu, kecuali mungkin soal kusam dan kesan usia yang tak bisa ditutupi. Komoditi yang dijejer di etalase berdebu mereka pun masih sama, meski beberapa saya tak tahu karena memang belum bangun dari libur panjangnya. Kebanyakan toko disini dikelola oleh orang-orang Tionghoa, inilah mengapa kawasan ini disebut-sebut pecinan. Tapi warga pendatang tua ini sudah merupakan warna udara yang turut berhembus bersama sekalian angin di kota ini tanpa bisa terpisahkan. Jika para engkoh dan enci ini di anulir keberadaannya, mungkin isi pasar cuma anak jalanan, sopir angkot, preman-preman, dan sedikit saja pedagang yang tersisa. Tapi bukan eksistensi mereka yang saya ingin bahas disini sekarang, melainkan pekerjaan mereka, bongkah-bongkah toko tua yang mereka kelola.

Saya kira, di tulisan yang lain saya pernah bercerita, juga soal sepenggal kisah di Pasar Lama. Purbasari, sejaman saya SD, di sini ada sebuah toko buku pelajaran, dan alat tulis yang cukup besar. Salah satu buku yang pernah saya beli disana adalah RPUL, terbitan tahun 2005, tepat ketika saya kelas 3 SD. Dulu saya tak begitu suka pergi ke tempat itu. Sebagai anak kecil yang sehari-hari hampir menghabiskan mayoritas waktunya menonton televisi, saya termakan komersialisasi. Konsep modern terpateri dan jauh lebih menarik hati dibanding pasar yang ramai, terkesan kumuh, dan jauh dari rasa nyaman. Saya tak tahu menahu soal uang. Karenanyalah saya tak peduli soal harga miring yang jadi motivasi utama orang tua saya mengajak saya kesana. Multi Media yang dua lantai dan berpendingin ruangan ketika itu jauh lebih menarik.

Sekarang saya tak tahu kelanjutan Purbasari yang pada masanya amat ramai. Multi Media sendiri, setelah SGC berdiri, pembangunan di Cikarang semakin menggeliat, toko-toko semacam itu semakin menjamur, mulai kehilangan pamor dan elegansinya. Kemarin saya kesana, barang-barangnya tak lagi selengkap dulu. Eksteriornya masih khas 2000an dan tak pernah diperbaharui. Di etalase paling depan, dekat meja kasir, saya melihat beberapa unit kamus elektrik bahasa Inggris yang dipajang berdebu. Dulu, kelas satu SMP, ketika saya membeli salah satu dari yang mungkin masih dipajang hingga saat ini, kamus elektrik adalah salah satu komoditi mewah yang jadi jago di toko ini. Dipajang di etalase utama berdampingan dengan pulpen-pulpen mahal di dalam kotak beludru. Sekarang, ketika website penerjemah telah bertaburan, internet telah mendekap erat nadi-nadi kehidupan, siapa yang masih mencari kamus-kamus ini?

Di sisi kiri jalan, saya lihat sebuah toko sudah buka. Bingkai folding dornya warnanya pudar, tapi masih jelas kalau itu hijau tua. Di bagian atas toko tertulis nama toko dan keterangan bahwa ini adalah toko tani dan menyediakan macam-macam bibit dan pupuk. Di dalamnya ada dua etalase panjang yang berisi kemasan-kemasan biji-bijian, jeligen-jeligen, botol-botol, dan beberapa alat semprot hama digantung di salah satu sisinya. Di sisi lain, di dinding belakang yang bersisian dengan pintu ke ruangan lain, tersemat sebuah kalender jadul yang gambarnya model seksi. Saya pikir, kalau pemandangan semacam ini hadir di tahun 90’an atau paling tidak sampai awal 2000’an tentu sangat wajar, tapi kalau sekarang?

Dulu, di sisi kiri dan belakang rumah saya, beberapa bidang tanah luas yang sekarang jadi perumahan, terhampar kebun-kebun warga yang ditanami aneka sayuran. Alat semprot hama semacam itu masih sangat sering saya temui, demikianpun dengan jeligen pupuk yang asing dan berbagai macam bibit dalam botol yang dijejer rapi di jendela rumah tetangga saya, menunggu giliran untuk disemai. Sekarang perumahan yang ada tak perlu semprotan hama, bibit-bibit itu hanya didiamkan berdebu. Dalam hati saya bertanya-tanya, siapa yang menjadi pelanggan toko ini sekarang? Bagaimana mungkin bisnis ini bisa bertahan? Rasa macam apa yang ada bagi mereka ketika megingat masa-masa keemasan bisnis mereka?

Bisnis, sejak lama menjadi sebuah kata penuh horror bagi saya. Meski banyak acara TV yang mengangkatnya sebagai konsep dan berusaha memasyarakatkannya akhir-akhir ini, pandangan saya masih belum berubah. Kalau memang dekat dengan kata sukses, bisnis memang menggiurkan, tapi rasanya kata gagal dan rugi berada beberapa jarak lebih dekat. Rugi yang saya maksud bukan cuma dari segi modal, tapi rugi hatinya itu loh. Saya nggak jauh-jauh amat kok dari dunia bisnis, kakek-nenek saya petani yang nyambi dagang, ibu saya juga dagang, dan dari kecil saya udah kenal sama dunia semacam ini, tapi tetep, bisnis itu makan ati. Hal-hal yang jauh lebih saya sukai daripada bisnis itu sendiri, semacam toleransi, kekeluargaan dan idealisme katanya amat jauh dari bisnis. Bisnis yang baik itu memang yang jujur, tapi disiplin, dan saya nggak bisa hidup dengan cara seperti itu. Dalam bisnis kita mau tak mau dikuasai dua hantu besar, pasar dan modal.

Sejauh ini, sejauh tulisan ini tertunda beberapa hari, sejauh saya banyak merenungi hal lain atau bahkan hal ini lebih jauh lagi, saya masih belum menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini. Apakah bisnis harus selalu berubah dari waktu ke waktu? Haruskah terus bergelut dengan inovasi dan bereksperimen, selagi bertarung dengan waktu, keterbatasan modal dan selera pasar? Atau putus asa, melepas lapak warisan keluarga untuk menjadi pesuruh di lapak orang tanpa pusing-pusing sampai kita sadar kita telah jadi budak asing? Haruskah toko tani berubah jadi toko matrial? Pertanyaan ini justru beranak lebih banyak lagi.

Toko tani tadi masih berdiri mungkin karena sebuah alasan. Entah itu seorang nenek tua yang tak rela toko itu ditutup setidaknya sampai dia mati, entah seorang bapak paruh baya punya keprihatinan soal kebun milik para langganannya yang alih fungsi jadi lahan perumahan, atau entah apa, saya tak tahu. Yang jelas entah si toko tani, entah si Purbasari, entah Multi Media, entah satu toko lagi semacam multi media yang kini telah berubah jadi restoran bebek, bahkan kamus-kamus elektrik yang berdebu, rasanya adalah korban dari gerak roda ini. Pihak-pihak yang kalah, pihak-pihak yang karena sekian banyak alasan tak mampu mengikuti pola-pola dalam rimba kapitalis yang tak berhati.

Lama-lama soal arah dunia ini, ketika orang-orang dari humanis bergeser ke arah kapitalis, manusia hanya akan kembali ke arah putaran yang sama. Sama tidak beradabnya, sebagaimana orang-orang yang mereka sebut demikian sejak ratusan tahun lalu. Mungkin orang-orang didalam rimba, yang resisten dengan adatnya, yang bijak terhadap lingkungan dan kehidupan, akan patut membalik segalanya, menyebut mereka yang hidup dalam rimba pasar, di tengah pohon-pohon menara beton dan kanopi asap tebal, di tengah jalaran modal berdaun lembaran dolar, liar tanpa adab, sebagaimana mereka disebut oleh moyang-moyang orang-orang itu, dahulu.


Yuanita Wahyu Pratiwi, 8 Agustus 2014.

Wednesday, June 25, 2014

Semua Tak Sama

Yoman, saya punya blog baru, jadi kesempatan apdet dibagi dua deh, makanya blog ini sebulan terakhir gak ada pembaharuan sama sekali. Ya sori, bukannya maksud untuk meninggalkan salah satu, hanya saja, yang onoh, yang masih sepi itu, blog yang insyaallah serius, beda sama yang ini. Kalo mau main boleh, ayo ke Historia Rasa~ #kok malah promo lu

Selamat buat semuanya, terutama mahasiswa FIB UGM yang udah masuk ke hari-hari terakhir ujian dan siap-siap menjelang liburan. Buat kelas saya, besok terakhir: Sejarah Indonesia sampai abad ke 16. Yang kemaren-kemaren campur aduk. Entahlah IP bakal naik atau turun, tapi bertahan pun saya amat bersyukur. Biasa lah yang namanya ujian, "vini vidi vici" artinya jadi "datang, kerjakan, lupakan", spesial versi saya ada tambahan: "plus Hadapi Kenyataan" wkwk

Sebenernya saya bukan mau cerita tentang ujian sih. Tapi justru soal rumah, pulang, dan *lagi-lagi* homesick, atau lebih tepatnya, saya teringat akan sesuatu yang "ba-dum-tss' banget. Kata orang punya daya ingat yang cukup baik dan sifat setia itu baik lah, idaman lah, haha, tapi gak juga lho. Terutama ketika kedua hal tadi, si daya ingat baik dan setia itu konteksnya jadi konservatif dan susah move on #dor. Yagak? :3

Jadi gini, sehari sebelum headset samsung ori saya, alias ari-arinya si kintjlong *baca: hape saya* hilang, saya  yang tak memiliki televisi di kosan ini seperti biasa kembali ke rutinitas orang puluhan tahun lalu ketika tv hanya ada di bale desa yakni mendengarkan radio. Setel random, akhirnya saya nemu yang enak, lagu Indonesia sih, tapi kok asik. Pas saya denger denger lagi, kayaknya familiar. Dan ternyata saya bahkan bisa ngikutin nyanyi. Ketika itu saya sadar, ini salah satu lagunya Padi yang suka saya denger pas TK dari walkman-nya om saya. Berhubung si penyiar gak nyebutin judulnya, saya cuma bisa nginget-nginget lirik, dan akhirnya dapet sepenggal kalimat;

"semua tak sama, tak pernah sama, apa yang..."

googling deh.

dapet tuh, dari album yang judulnya Sesuatu Yang Tertunda, judul lagunya gak jauh dari sepenggal kalimat tadi, Semua Tak Sama.


Step berikutnya tentu adalah dunlut, dan bukan hanya lagu itu, tapi juga lagu lain dalam album yang sama. Bahkan sampai Kasih Tak Sampai yang liriknya cukup legend: "tetaplah menjadi bintang di langit, agar cinta kita tetap abadi. Biarlah sinarmu datang, menyinari alam ini, agar menjadi saksi cinta kita, berdua..."

Seperti biasa, saya yang hobi banget nostalgia ini langsung terbawa suasana. Seketika bayangan yang hadir adalah rumah saya di Cikarang sana, ketika di depannya masih ada sebuah pohon asem besar dan dinding rumah saya masih batu bata. Di celah dinding batu-bata itu Om saya yang waktu itu masih nganggur, lagi muter-muter Jababeka ngelamar kerjaan dan gak punya uang tapi tetep cannot stop smoking, nyelipin rokok yang udah habis setengah batang buat nanti lagi. Njirr miris yak~ nih orang kalo saya ceritain lagi soal ini pasti ketawa.

Waktu itu jaman masih susah lah pokoknya. Rumah masih batu-bata, bokap kerja masih naik sepeda, saya dianter sekolah juga naik sepeda, om saya masih nganggur, dan ya pokoknya gitu lah. Tapi ini asyiknya jadi anak pertama sebenernya. Anak kedua apalagi ketiga gak akan tau sejarah perjuangan keluarga. Waktu adek saya lahir, kita kemana-mana udah ada motor dan rumah udah rapi. Tapi demikianpun, meski orang kebanyakan berpikir kalo hidup yang seperti itu lebih enak, dengan tau perjuangan orang tua merintis apa yang kami miliki sekarang dan memperjuangkan keberlangsungan kehidupan keluarga itu bukan something yang worthless lho. Adek saya nggak ngalamin tradisi sepedaan hari minggu pagi. Dulu waktu saya masih kecil, dan masih muat ditaro di boncengan sepeda khusus bocil yang ada di depan itu, tiap minggu pagi, kami bertiga ke pasar naik sepeda. Saya di boncengan depan sepeda bokap, dan nyokap naik sepeda yang ada keranjangnya sendiri. Berangkatnya pagi habis subuh, terus sampe pasar pas lagi rame-ramenya, beli sayuran dengan harga yang cukup wow daripada di tukang sayur. Yang paling berkesan, nyokap naro oncom di japitan boncengan sepeda belakangnya hehe. Kalo buat saya pribadi, pasar is just a little thing, tapi perjalanannya, pas kita lewat jalan yang kanan kirinya sawah, anginnya gede, terus ngobrol dan nyanyi-nyanyi sepanjang jalan sama mereka, itu yang langka, keren banget, dan gak bisa terulang kecuali saya berganti posisi *IYKWIM* haha~

Pas adek saya lahir, keadaan keluarga yang lebih baik itu entah bagaimana bikin kita punya kesibukan lebih. Tapi ya, iya sih saya udah sekolah, dan semua orang jadi gak se-selo dulu lagi. Rekreasi semacam ke pasar di minggu pagi itu pun nggak ada lagi, tergantikan sama tiap minggu berkunjung ke rumah saudara, atau rekreasi-rekreasi lain yang meskipun lebih jauh, lebih mudah, dan terdengar lebih keren, buat saya pribadi tetep gak punya sesuatu yang saya dapatkan di minggu pagi itu.

Sesuai lagu itu, lagu yang ternyata sudah sangat lawas itu bilang "semua tak sama" meskipun konteks yang dimaksud mungkin berbeda, atmosfer yang berada di sekeliling saya ketika lagu itu launching dan saya denger dari walkman Om saya dan saat ini ketika saya diingatkan kembali oleh radio, download, lalu denger di WMP laptop saya, tak sama. Sejarah juga menegaskan kalau peristiwa gak mungkin terulang. Kalaupun ia berulang, itu hanya berupa polanya, kalaupun ia direkonstruksi, tetep gak bisa persis, dan gak pernah ada kejadian yang sama persis terjadi untuk kedua kalinya baik disengaja maupun tidak.

Oh kok kampret banget ya, udah tau saya orangnya susah mup on gini, belajarnya sejarah lagi, punya kasus susah mup on yang akut lagi, ah entahlah. Kayaknya saya entah ini curse atau berkah, punya ikatan yang luar biasa sama masa lalu. Lusa insyaallah saya balik ke rumah. Balik ke Cikarang, ke kota satelit yang bedagulan tapi herannya ketika saya berada jauh darinya, tetep aja jadi romantis rasanya. Semoga aja puasa hari minggu jadi saya masih bisa minum es siang-siang setidaknya sehari disana nanti, dan tentunya menikmati nyorok :3

Mari pulang, mari bersukacita menyambut puasa. Bulan yang buat saya pribadi diluar berkahnya yang luar biasa bagi umat muslim, luar biasa romantis. Iklan sirup, acara sahur, asinan, risol dan sambel kacang, kerupuk mie, teraweh, buka bersama, ah itu semua romantis kan? Bakalan ada banyak acara, ketemu banyak orang yang kita udah lama gak ketemu, dan banyak hal spesial lainnya.

Oya, maafin ya kalo saya banyak salah~

Tuesday, March 04, 2014

Wirausaha, Such a Nightmare

Menjelang tahun ajaran baru dan bakal adanya 'korban-korban' baru yang nyasar ke jurusan saya, kami, angkatan baru yang sebentar lagi akan menjadi 'kakak' ini mulai melakukan berbagai persiapan untuk menyambut mereka. Ya, wajar lah, mahasiswa baru gitu kan, yang memasuki sebuah mega instansi harus melalui beberapa lapis orientasi sebelum memasuki ranah perkuliahan yang sebenarnya. Pertama opkors, ospek universitas-atau di univ kami dikenal dengan PPSMB PALAPA-, yang kedua ospek fakultas yang kalo di FIB, tahun lalu bertajuk Bratasena 2013. Tapi kalian, para new comer *kaya lu udah kawak aja wan~* gak usah khawatir sama ospek yang mengerikan. Ospek universitas pada umumnya itu asik kok, aman dan samasekali gak mengerikan, hanya sedikit merepotkan#ups. Cuman ospek fakultas emang kadang kadang nyeleneh dikit, ya, kalo ditanya serem apa nggak sih tergantung jurusannya. Kalo jurusan kalian macam teknik, kehutanan, ya pokoknya yang membutuhkan ketahanan fisik dan mental yang cukup sih ya siap siap aja. Tapi kalo kalian di fakultas-fakultas nyante macam psikologi atau ilmu budaya sih yaaa, asik asik aja, nyante. Meski demikian, belumlah pada tempatnya jika kalian sudah menghela napas lega sesudah ospek fakultas. Meski hanya di jurusan-jurusan tertentu, masih tetap ada ospek JURUSAN. Dan kalo kalian nyante nyante sepanjang ospek-ospek lain kemaren, bersiap-siaplah disini.

Oleh sebab akan diadakannya acara maha dahsyat tersebut, angkatan kami, 2013, lagi getol-getolnya mengumpulkan dana. Untuk urusan ini, kami dikoordinir oleh seorang Era Tazkiyah yang sebenarnya sulit dipercaya, tapi mental wirausahanya lumayan. Nah, itu dia yang mau saya bahas, bukan soal ospek, bukan soal Era, tapi soal wirausaha. Sesuatu yang entah kenapa buat saya such a nightmare.




Susahnya Cari Uang

Semenjak sistem barter kalah oleh sistem baru yang memperkenalkan alat tukar sebagai media transaksi ekonomi, uang mulai merangkak naik dan bercokol di tahta luar biasa tinggi jauh diatas mahkota para penguasa. Kalo dirunut, dan kalo keberadaan manusia purba itu benar sebagaimana apa yang saya pelajari di sekolah selama ini, transaksi demi pemenuhan kebutuhan atau kegiatan saling memenuhi kebutuhan ada sejak manusia bertambah banyak pada era food producing. Sebelumnya, di era food gathering, makanan di dunia surplus tanpa harus dikelola karena jumlah manusianya memang masih sangat sedikit. Tapi karena manusia jugalah makhluk hidup yang memiliki kecenderungan untuk bereproduksi, jadilah jumlah mereka berlipat ganda. Semenjak itu, alam seperti berubah menjadi pelit, kebutuhan mereka sudah tak bisa lagi secara penuh ditanggungkan kepada alam. Dengan kapasitas otak yang entah seberapa persennya manusia saat ini ketika itu, mereka akhirnya menemukan sebuah terobosan baru yakni food producing. Dalam era ini, mereka hidup dalam kelompok yang lebih besar, mengelola lahan dan menanaminya dengan tumbuh-tumbuhan yang biasa mereka konsumsi. Dari sini, saya rasa mulai muncul keangkuhan manusia. Di era sebelumnya, manusia sepenuhnya bergantung pada alam, jadi mereka mendewakan mereka dan memiliki rasa syukur yang tinggi terhadapnya, tapi di era ini, manusia merasa mereka sudah bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Dari sini juga berbagai kreativitas dan inovasi berkembang. Makanan yang dikonsumsi semakin beraneka ragam. Satu kelompok manusia tidak memakan hal yang sama dengan kelompok lainnya, akibatnya ada kecenderungan untuk mencoba milik yang lain. Setelah saling mencoba, terciptalah kerjasama diantara mereka. Semacam simbiosis yang saling membutuhkan. Akibatnya berkembanglah barter, dan begitu seterusnya sampai alat tukar yang bentuk paling mutakhirnya adalah uang-entah itu kartal atau giral- ditemukan.

Dulu, jasa ditukar dengan barang. Barang yang populer dijadikan alat tukar adalah garam. Di Eropa, garam dikenal sebagai 'emas putih' yang artinya hampir sama berharganya dengan emas. Buktinya kata 'gaji' dalam bahasa Inggris adalah 'salary' yang asalnya dari kata 'salarium' yang dalam bahasa latin artinya garam. Kita, para penduduk tropis yang tengah bersantai dibawah sinar matahari hangat sambil membaca tulisan ini mungkin malah tertawa, menertawai betapa anehnya selera orang-orang kelas atas bangsa Eropa yang menyetarakan bumbu-bumbu dapur dengan emas. Tapi begitulah kenyataan yang terjadi. Eropa dan kita, dataran tropis yang kaya ini berada di belahan bumi yang berbeda. Mereka yang dingin dan kita yang hangat, mereka yang catur musim, dan kita yang dwi musim saja. Mereka yang pemikir dan kita yang katanya, apa, lumbung? hahaha~

Oke, cukup lah. Kenapa sih saya jadi ngelantur ke sejarah uang gini. Tapi itulah, melalui proses yang demikian panjang itulah, raja dari segala raja bernama uang ditemukan. Awal penciptaannya memang ditujukan untuk 'mempermudah' tapi begitu fungsi-fungsi sekunder dari uang dipopulerkan oleh para materialistis, uang mulai memunculkan wajah aslinya yang mengerikan. Dari sesepele alat tukar ia bertranformasi jadi alat penyimpan kekayaan, penciri status sosial, dan sebagainya. Akibatnya uang seperti membagi-bagi masyarakat kedalam kelas yang nyata. Ketika penggunaan uang semakin luas, segala hal seperti bisa dibeli oleh uang. Hedonisme menjadi gaya hidup yang diimpikan semua orang dan seketika itu pula uang berubah menjadi 'magic spell' yang bisa mengabulkan apapun. Disinilah drama tentang uang dimulai di sebuah panggung sandiwara raksasa bernama dunia. Kalau para humanis berpikir yang dicari manusia dalam kehidupannya adalah kebahagiaan, orang-orang sekarang, yang katanya 'realistis' menggantikan kebahagiaan dengan uang, karena kebahagiaan sekalipun, bahkan kesehatan, dan kesejahteraan bisa dengan mudah dibeli dengan uang. 

Akibatnya segala regulasi diberlakukan mengenai uang. Uang bukan lagi kulit kerang atau daun kering seperti di masa-masa jahiliyah dahulu kala. Uang sekarang adalah sebenda berharga yang dijadikan tujuan mayoritas orang untuk dikejar. Jika tercetus sebuah pertanyaan, 'Apa yang dicari oleh orang yang bekerja?', jawaban yang paling mainstream adalah uang. Karena di era kapitalisme ini uang semakin kuat kekuasaannya. Meski diantaranya pun masih ada kelompok kelompok humanis yang tak berpikiran demikian.

Ketika lulus SMA kemarin, banyak teman seangkatan yang memutuskan untuk kerja. Alasannya jelas uang. Katanya, untuk melanjutkan kuliah tak ada biaya, meski pada kenyataannya sudah banyak sekali regulasi yang melonggarkan sektor tersebut. Sebenarnya alasan utamanya adalah motivasi. Kalau memang motivasi mereka sudah untuk kerja dan bukan untuk sekolah lagi, dipaksakan pun tak ada gunanya, begitu pula sebaliknya. Saya, seorang lulusan SMA yang belum pernah sekalipun mengecap rasanya mencari uang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan. Entah kenapa, kalau bicara soal uang, saya tak punya ide. Saya melanjutkan pendidikan untuk belajar, untuk mendalami lagi apa yang saya sukai, bukan untuk menambah kualitas diri demi mendapatkan pekerjaan baik di waktu kedepan, dan jujur, karena belum merasa siap terjun ke kehidupan yang sebenarnya. Banyak dari teman-teman saya yang hidup dengan pola yang begitu sistematis. Bagi perempuan, lulus sekolah cukup bekerja sebentar, tak usah terlalu serius, lalu menikah dan beranak pinak. Selanjutnya tinggal menjadi ibu rumah tangga sebagai mana mestinya, menua, sembari bergantung pada suami sepenuhnya. Yang laki laki pun tak jauh beda, lulus lalu bekerja, mestinya serius karena kedepannya akan menanggung nafkah dari banyak kepala. Tak ada yang salah sih sebenarnya, tapi entah kenapa, rasanya hal tersebut buat saya terlalu mengerikan. Sejauh ini saya lebih suka merasa aman duduk di balik meja dengan pikiran kemana-mana, mengamati dari kejauhan bagaimana 'kehidupan' berlangsung dan berteori soal mereka. 

Selama ini saya tutup mata soal uang. Saya hidup dari nafkah orang tua saya, seratus persen sampai sekarang. Bagi banyak orang, hal seperti ini memalukan. Tenaga saya sudah cukup untuk menghasilkan uang, tapi saya justru masih hanya berpangku tangan. Jujur, I have no idea about this. Mata saya tertutup sampai masalah danus ini menghampiri. Kami, 30an orang, berusaha mengumpulkan dana 10an juta untuk acara tersebut di sekitar bulan September dan rasanya sulit. Tiap hari kami harus memutar otak bagaimana modal yang ada dikembangkan agar bisa mencapai target pada waktunya. Hasil kami tak pernah banyak. Tiap ribu-ribu kami kumpulkan hari demi hari, dari penjualan-penjualan sepele yang ternyata cukup berat jika dilakukan. Cari uang itu susah, itu yang sekarang saya pikirkan. Ayah saya, bisa mencukupi kebutuhan kami dengan gaji yang nominalnya sudah dibangun oleh karir kerjanya yang sangat panjang. Di awal? Gaji itu tak ada apa-apanya.

Sekarang, saya kuliah dan setelah lulus nanti saya belum kepikiran akan bekerja apa. Tujuan saya selama ini, saya ingin serius belajar agar selepas ini ada yang menghargai keseriusan saya dan bersedia membiayai saya belajar lagi sampai saya bisa mumpuni untuk menghasilkan sesuatu yang cukup berharga. Tapi apa akan semudah itu? Selama ini saya tak pernah berpikir ia akan sesulit apa. Saya selalu berpikir bahwa yang harus saya tembus adalah target yang dekat. Kalau saya selalu bisa maksimal, pasti hasil akhir yang saya dapatkan pun bisa maksimal. Selalu seperti itu, tanpa berpikir soal uang. Samasekali tanpa pikiran soal uang.

Uang shit. Saya tak pernah bermimpi jadi kaya. Mungkin saya termasuk humanis yang lebih cinta menjadi bahagia daripada kaya. Uang itu buat saya, semacam tak memiliki jiwa. Ia hanya energi abstrak yang ikut menjadi motor penggerak dunia, bukan seperti kebahagiaan yang lebih seperti sebuah jiwa. Tapi saya juga tak bisa memungkiri bahwa sekecil apapun kebutuhan hidup di dunia ini selalu hanya bisa diwujudkan dengan uang. Meskipun begitu, tetap saja, bekerja dengan pola monoton dan dikendalikan oleh uang adalah mimpi buruk buat masa depan saya. Sungguh, mau dikata naif pun, saya lebih ingin bahagia.


Wirausaha: MAKAN ATI!

Indonesia itu negara berkembang yang dikuasai sama modal asing. Kenapa? Karena wirausahanya kurang menggeliat. Karena warganya lebih suka main aman jadi kuli dibanding menanggung resiko atas kerugian dengan buka usaha sendiri meskipun kalo sukses hasilnya menjanjikan. Ya kayak saya ini. Aah, lama-lama saya semakin mirip figur general orang Indonesia jaman sekarang. 

Abisnya kenapa coba? Ya itu. Wirausaha itu bukan hal asing buat saya. Saya memang nggak pernah secara benar-benar individu terjun langsung ke dunia mencari uang, tapi dikit dikit saya berkali-kali ngerasain wirausaha itu gimana. Dan buat saya gak asik, gak cocok banget, makan ati, tjoy~ Saya gak habis pikir sama seorang wirausahawan partai kecil yang benar-benar bisa menikmati apa yang dia kerjakan, mungkin ini yang namanya bakat dagang, tapi kalo buat saya, sejak kecil pun saya gak pernah siap sama beginian. Masalahnya urusannya jadi sentimentil kalo sama saya. Main perasaan, makan ati.

Keluarga saya bukan keluarga kaya, dulu waktu saya masih kecil, keadaan kami gak sebaik sekarang. Bokap saya adalah pencari nafkah tunggal, dan gaji beliau ketika itu ngepres banget buat sekedar biaya hidup kami. Oleh karena itu, nyokap coba-coba usaha. Waktu saya SD, nyokap sempet jualan kacang bawang. Serius, kacang bawang nyokap dibuat dengan totalitas, mengutamakan rasa, dan banyak diminati, tapi tetep aja usaha itu gak bertahan. Kalo kalian tanya saya, saya tahu gimana cara buat kacang bawang yang enak. Masalahnya, kalo buat dagang kan otomatis buatnya jadi sering, di kali pertama, kedua, boleh jadi rasanya standar, tapi semakin sering, kami berimprovisasi, denger resep dari kanan kiri, dicoba-coba, dan dipertahankan rasa terenak yang pernah kami dapatkan. Pertama, kacang yang masih ada kulit arinya lebih renyah daripada kacang kupasan. Jadi meskipun kami hanya pengusaha mikro, kami tetep ngupas kulit kacang secara manual. You know? Itu kacang sebaskom gede, direbus, didiemin sampe dingin, terus dipelecetin satu satu sampe kelar, copot copot deh jempol, tapi demi rasa kami tetap melakukannya tjoy~ 

Pemasaran juga jadi masalah selanjutnya. Yang paling penting disini adalah relasi. Karena mode penjualannya adalah dititipin, semakin banyak kita punya kenalan warung, semakin bagus. Dan karena kita orang Indonesia, lagi-lagi, kenalan warung itu gak berarti kita cuma kenal, terus bisa nitip ya, tapi ya paling nggak entah berapa ribu belanja disitu. Hal tersebut ya dimaksudkan untuk menjaga hubungan, karena sesama pengusaha pantasnya saling menguntungkan. Masalah penting lainnya adalah jangka waktu. Seenak apapun dagangan lu, kalo lu cuma jual satu jenis dalam jangka waktu yang lama tanpa inovasi apapun, orang pasti pada bosen. Disinilah nyeseknya.

Yang namanya wirausaha, terutama kuliner, itu pasti ada golden age-nya. Di masa-masa awal, biasanya orang pada penasaran, terus nyoba, terus kalo suka ya jadi langganan, tapi semua berubah di masa-masa bosan. Pengusaha kecil kecilan yang gak terbekali kiat-kiat usaha berguguran disini. Boro-boro mikir inovasi, mental pasti udah mendem duluan. Anda tahu? Kalo strategi pemasarannya adalah dititipin ke warung, berarti barang yang gak laku bakal balik lagi ke kita. Dan itulah bagian yang paling nggak nguatin buat saya yang sangat mellow ini. Seenak apapun kacang bawang bikinan nyokap, saya mblenger, saya muak sama kacang bawang pada masa-masa itu. Di awal, saya selalu minta sisain, tapi udah belakangan nggak lagi. Dan lo tau, rasanya makan kacang yang 'kembali'? Kadang dengan ekspresi yang sulit dijelaskan nyokap jembreng-jembreng kacang itu. Dan saya memilih untuk memakannya dan bilang 'masih enak kok bu'. Haah pahit bro~ bukan soal kacangnya yang udah agak lama, tapi soal bagaimana usaha kami. PAIT BANGET.

Saya gak cuma jadi penonton, ketika itu saya turut berpartisipasi nitipin kacang bawang di sekolah. Untung Bu Yayat, ibu kantin yang saya titipin itu baik banget tjoy. Beliau kalo ada sisa ngomongnya alus banget sama saya. Tapi nyokap pernah ngadepin yang jauh lebih hardcore. Ada yang menggerutu 'habis sama anak saya, bu', bahkan ada yang minta gak usah dititipin lagi aja. Saya juga sering bantuin naro kacang di warung-warung, dan saya liat gimana ekspresi gak enak beberapa oknum tukang warung waktu ngasih uangnya ke saya. Dan ya, pokoknya gitu lah. Wirausaha itu berat banget cobaannya. 

Sekarang kacang mahal, kacang bawang ketengan 500an atau bahkan 1000an sekalipun udah gak masanya di warung-warung. Tapi pelanggan setia ada yang masih suka mesen kacang bawang toplesan kalo lebaran. Ya kalo lagi dapet hasil banyak sebenernya seneng banget, tapi ya itu, sedihnya lebih banyak kalo menurut saya. Selain dari pada kacang, nyokap juga pernah jualan lauk mateng. Dan untuk kasus ini cobaannya beda. Tiap hari nyokap harus kepasar, bangun jam 2-3 pagi buat masak, selain itu sayurnya juga di anter langsung ke pelanggan dengan sepeda~. Mungkin nyokap ketika itu harus nyepeda 4-5 km bolak balik. Setiap dagang, ada yang abis ada juga yang nggak, dan lauk yang kami sekeluarga makan pasti ya dagangan itu. Enaknya gitu sih, jadi gak ada yang basi. Yang paling baru, kami ngewarung kecil-kecilan di rumah. Jangan sangka ini gak ada cobaannya juga. Memang andaikata dibandingkan sama jualan lauk mateng dan jualan kacang bawang, ngewarung ini jauh lebih baik. Tapi you know, orang ngutang yang kabur itu bikin nyesek juga, apalagi kalo inget untung dari setiap item yang disediakan di warung kecil itu cuma seper sekian persen aja. 

Di tengah perjuangan sengit ortu saya itu, dari TK saya banyak sekolah di sekolah favorit yang sesuai dengan kualitas memungut uang spp lebih tinggi dari sekolah lain. Tapi ortu saya lebih dari support soal itu. Mereka pokoknya jor-joran banget kalo buat pendidikan, baik saya maupun adek saya sekarang. Tapi sejauh ini, saya bersyukur punya orang tua kaya mereka dan termotivasi banget sama kerja keras mereka sih jadinya. Saya cuma bisa berdoa, suatu saat, saya bisa bikin mereka lebih banga lagi. Saya gak bakal bisa bales jasa mereka tapi saya pengen mereka puas dan merasa sudah memilih jalan paling benar buat membesarkan saya dengan cara yang seperti ini. Cuma itu...

Tuh kan, yakan, wirausaha itu sucks! Hal ini juga yang bikin saya mundur dari cita-cita mau jadi fashion designer. Ya secara, profesi tersebut membutuhkan relasi, komunikasi, dan mental pengusaha juga selain daripada kreatifitas dan kesukaan terhadap fashion yang jadi satu-satunya modal yang saya punya. Saya rasa jadi akademisi lebih cocok buat saya. Ini bukan berarti saya menentang wirausaha lho~ Saya support banget kalo wirausaha di Indonesia berkembang. Tapi sepertinya bukan untuk saya. Ya, manusia kan dilahirkan dengan bakat yang berbeda-beda, jadi kalo ini nggak fit di saya, mungkin di anda pas kan? Gitu aja sih post saya kali ini yang cukup penuh dengan emosi ini.

Bagi seorang anak nggak tahu diri yang sampe sekarang masih nodong emak bapak, yang saya bisa lakukan cuma menggunakan amanah berupa nafkah dari bapak ibu dengan sebijak-bijaknya yang saya bisa. Saya belom becus cari uang sendiri bu, pak. Insyaallah kalo ada jalan ke profesi sambilan yang sekiranya cocok dan nggak terlalu memberatkan saya baik secara psikis maupun fisik saya mau kok. Tapi kalopun nggak, ya doain aja saya bisa sekolah bener, belajar maksimal, biar bisa meraih hasil maksimal pula buat ngejar beasiswa. Amin~

Sekedar saling mengingatkan sesama perantau, buat kalian yang udah bisa cari uang sendiri saya kagum, saya support. Teruskan! Kalian orang hebat! Buat yang sama halnya dengan saya, mari belajar bijaksana. Yang dikasih ke kita itu amanat, ibarat galah buat nyengget mangga di pohon yang tinggi. Kalo itu buat nyengget mangga, ya dipake jangan buat yang lain. Ayo belajar bertanggung jawab, kalo bisa justru kreatif gimana bisa kita pake galah itu buat mencapai mangga yang paling tinggi, yang paling manis. Cari uang itu susah, makanya buat mengeluarkannya harusnya ada alasan yang cukup kuat juga.



Yuanita Wahyu Pratiwi,
tumben lagi nggenah pikirannya~


Monday, March 03, 2014

I NEED TO WRITE SOMETHING

Well, ini saat saat yang sangat genting buat anak kelas 3 SMA. Bagaimana tidak? Dalam rentan waktu tiga tahun yang didurasikan penuh untuk mengenyam pendidikan, tempaan pendewasaan mental bertumpuk hanya pada satu periode waktu di beberapa bulan terakhir. Sejak masa orientasi, sampai ujian semester yang kelima, peringatan untuk itu hanya berupa himbauan, preventif yang luar biasa samar, angin yang berhembus sambil lalu, tapi frekuensinya langsung naik seribu kali lipat di saat-saat terakhir ini. Belajar hanya soal menghapal, bercengkrama dengan alat tulis di meja belajar, mengotak atik rumus, mendengarkan ceramah guru dan sebagainya. Semua berulang bak pola, evaluasi hanya dilakukan untuk skala waktu yang pendek, dan kebanyakan hanya dari sisi akademik saja. Sedangkan masuk triwulan akhir 12 tahun karir pendidikan ini, yang ditagih evaluasinya bukan hanya akademis, tapi juga kesiapan mental, dan tentunya tanda tanya besar yang di awal kerap jadi angin lalu, dipikir sambil melaju, dan tanpa sadar garis finish sudah terlihat tapi ia masih kelabu; tujuan. Beberapa pendidik menyadari ini, menyadari kalau sistem adalah aturan maha kaku maha baku, dan tugas mereka sebagai makhluk yang berasa dan berindera adalah menafsirkannya kedalam bahasa manusia, mengalirkannya sebagai ritme hidup untuk para siswa bingung yang jadi tanggung jawabnya. Tapi kelabunya gelap sekali, warna putihnya masih jauh dari sekedar takaran yang seimbang dengan yang hitam.

Apa yang dulu saya pikirkan di saat saat seperti ini? Bohong kalau saya tak dihujam berbagai hantaman. Rasanya sekolah adalah tidur panjang, dan besok juga saya akan terbangun, menghadapi sesosok monster mengerikan bernama kenyataan. Universitas negeri adalah satu-satunya gerbang yang tak terlarang bagi saya untuk bisa terus melaju dalam ranah keilmuan. Subsidi pemerintah amat berharga buat warga menengah macam kami, maka tak ada ampunan atau opsi kedua berselam di institusi swasta. Sedangkan keadaan saya? Oh luar biasa. Saya minim persiapan. Teman-teman banyak yang telah mengambil kelas tambahan di luar sekolah demi meraih kursi emas yang ditargetkan. Berbagai jalur dilewati, berbagai latihan ujian dijalani demi meraih harga yang telah ditetapkan sejak awal. Tapi saya tidak. Salah jurusan di SMA membuat saya buta arah. Satu yang saya tahu, cukup sudah saya bersakit-sakit disini, di universitas, saya tak akan mengambil arah yang serupa dengan yang ini, hanya itu. Selepasnya pikiran saya benar benar kosong.

Oke soal pilihan, bisa dipikir dan direnungkan setiap sebelum tidur, tapi soal kesiapan? Saya juga nol besar. UN, kompetensi terdasar yang harus dilalui setiap kepala yang mau lolos dari pancungan predikat 'tidak lulus' pun harus saya perjuangkan mati-matian. Sementara untuk tes jurusan-jurusan yang saya minati, saya juga tak punya bekal. Saya berada di jurusan yang tidak mempelajari apa yang saya minati? Bimbel pun rasanya terlalu menguras biaya, apalagi harus ada back-up dana cukup bagi keluarga kami yang akan memodali saya kuliah. Semuanya seperti palu godam yang menghantam kepala saya setiap 30 detik sekali, tapi bukannya berlarut-larut stress dan jatuh gila, saya memilih untuk memikirkannya dengan cara lain. Bukannya belajar lebih keras, saya justru menutup rapat mata dan telinga saya dan menetapkan target pendek saja. Target utamanya, saya harus keluar dari jurusan kelam ini, dan target terdekatnya adalah lulus UN. Akhirnya saya ikut teman saya yang memanggil guru privat ke rumahnya dan belajar 3 hari dalam seminggu sepulang sekolah. Rasanya lelah bukan main, bahkan di hari libur pun, buku latihan UN dan soal-soal fotokopian dari sang guru tetap jadi santapan. Bukan karena saya ingin mengejar nilai. Usaha sekeras itu hanya untuk mengejar kata lulus yang saya butuhkan untuk keluar. Selama ini saya tak pernah belajar dengan gembira di kelas, oleh karenanya banyak kompetensi yang saya tinggalkan. Maka untuk periode ini saja saya berkeras hati, saya memaksimalkan semuanya selagi saya masih bisa, sampai batas-batas terpahit pun saya sentuh, hanya untuk lulus. Dan akhirnya, target tersebut saya dapatkan. Saya lulus, meski dengan nilai yang pas-pasan, saya tetap lulus, dengan usaha saya.

Ironisnya di saat-saat krusial tersebut, saya juga harus menentukan masa depan dengan memilih. Belum lagi pilihan yang dibatasi, bagaimana meyakinkan orang-orang sekitar, dan rasanya diremehkan. Ketika saya datang ke BK, dan bilang kalau saya minat di Sejarah yang passing gradenya rendah, mereka mensupport saya. Yang saya rasakan ketika itu, seolah menemukan penopang ditengah badai yang menghembus kejam ke arah saya, tapi hal yang sama tidak diterima oleh orang-orang yang memilih Pendidikan Dokter atau jurusan lain dengan passing grade tinggi. Bagaimanapun mutu sekolah adalah yang nomer satu, semakin banyak siswa yang diterima di SNMPTN, semakin baik nama sekolah. Semua orang bergerak dengan motivasi masing-masing. Memang sih, siswa juga akan kecewa jikalau tidak diterima, tapi motivasi berbanding lurus dengan tekad dan usaha. Mereka yang berani memilih, tentunya berani berkorban untuk pilihannya, dan sebagai konseling yang baik seharusnya mereka percaya itu.

Beberapa minggu kemudian, saya datang ke BK lagi. Kali ini air mata sampai turut campur tangan akibat emosi yang tak bisa ditahan dan tingkat kecengengan saya yang tinggi. Masalahnya tembok impian yang sudah saya bangun diatas penopang yang mereka berikan, mereka runtuhkan oleh sebuah steatment yang katanya dikeluarkan oleh beberapa universitas kalau mereka tidak memperkenankan acara pindah jurusan. Dan seketika itu juga, bendungannya pecah. Saya nggak tahu lagi yang harus saya perbuat, di rumah saya mencari info sebanyak-banyaknya di internet, untuk sekedar menemukan argumentasi yang bisa membantah mereka. Dan pada akhirnya, meski tak cukup kuat saya dapatkan argumentasi semacam itu, saya tetap nekat, mempertaruhkan seluruh modal kesempatan paling emas yang saya punya untuk sebuah harga yang saya inginkan.

Belum lagi problem dengan orang tua. Saya bersyukur saya punya orang tua yang seperti mereka. Tapi bukan berarti semuanya tanpa ganjalan. Miris juga jika mendengar kisah teman-teman yang berbelok sangat jauh dan malah 'gagal' karena tuntutan orang tuanya. Meskipun begitu, jika komunikasi dalam sebuah keluarga berjalan dengan baik, orang tua adalah pribadi yang sangat mengerti kita. Mungkin adakalanya komunikasi kita dengan mereka tidak seintens dulu, tapi mereka tetap orang yang mengenal kita paling baik dibandingkan siapapun. Saran orang tua adalah yang paling dicari ketika kita tak tahu harus kemana. Tapi lain halnya dengan memaksakan. Ada kalanya orang tua memang menganggap kita belum bisa bertanggung jawab. Orang tua kerap memilihkan jalan karena khawatir kita salah jalan. Mereka itu lebih kaya pengalaman, mereka sudah belajar dari banyak kegagalan, dan tak ingin kita merasakan hal semacam itu. Oleh karenanya, yang dipilihkan orang tua kerap kali adalah 'jalan aman'. Berlawanan dengan itu, bocah minim pengalaman seusia kita justru memiliki keinginan kuat terhadap hal-hal yang diminati. Sering kali hal-hal tersebut adalah hal-hal baru yang mengundang banyak kekhawatiran para orang tua. Begitupun dengan orang tua saya.

Ayah saya, adalah orang yang mengajari saya menjahit pertama kali, tapi ketika dulu saya pernah ingin menjadi desainer, beliau nggak berkomentar sama sekali. Ayah saya juga yang menularkan kecintaan luar biasanya pada sejarah, tapi ketika saya memutuskan untuk masuk sejarah, ia sempat kecewa. Waktu saya masih berkeinginan menjadi desainer di masa-masa SMP dulu, saya disarankan untuk menjadi guru bahasa Inggris. Dan saya menolak itu. Sering kali diskusi yang diawali dengan gurauan-gurauan berakhir kolot. Tapi sungguh, meski saya kenal guru-guru hebat, saya ingin bisa lebih jauh dari itu. Pikiran saya ketika itu, dunia ini bukan hanya untuk ditonton dari balik meja, tapi untuk dijelajahi dengan sebenar-benarnya. Seiring dengan waktu, saya mulai menemukan potongan baru dari puzzle kehidupan saya, kelas satu SMA, saya sempat berkeinginan mejadi diplomat atau profesi lain yang semacam tukang bicara internasional lah, dan ke HI lah tujuan saya yang selanjutnya berlabuh. Tapi semuanya berubah lagi ketika saya masuk ke jurusan IPA. Saya mulai memiliki sudut pandang lain. Orang-orang di jurusan ini, jelas memiliki pandangan yang jauh bersebrangan dengan saya. Saya sempat mengira bahwa orang-orang di jurusan sebelah lah yang berpandangan seperti ini, tapi nyatanya tidak. Saya mulai melihat segala hal menjadi sangat sentimentil, dunia ini dipenuhi abstraksi yang gila dan tak bisa diterka dengan sekedar konverensi ilmuwan atau penelitian bersama. Hal-hal berbau humaniora terdengar ajaib dan menggelitik. Kita bisa melihat sisi biasa dengan aneh, begitu pula sebaliknya. Selain itu, entah mengapa, saya tak suka hidup di tempat terang yang disoroti banyak orang, hidup di tempat aneh yang orang lain tak betah berlama-lama di dalamnya justru yang kerap kali saya minati, dan disinilah akhirnya saya, menemukan satu lagi keanehan yang nampak seperti sudah terpola dengan rapi pada diri saya sendiri. Saya, berbelok ke sejarah. Bidang keilmuan ajaib yang menurut saya penuh dengan perasaan.

Meski beberapa orang kecewa, beberapa kali saya tersinggung, dan beberapa-beberapa lain yang juga cukup menyakitkan, saya sudah melupakan rasa pahit semacam itu dan sekarang saya bahagia. Lebih bahagianya lagi, ada banyak orang yang ternyata seperti saya. Tertarik dengan hal yang sama, memiliki latar belakang dan kisah yang mirip, dan kini terkumpulkan menjadi satu di sebuah komunitas akademik resmi, Ilmu Sejarah FIB UGM, angkatan 2013. Saya menikmati buku-buku yang saya baca disini, kuliah para dosen yang seru, dan teman-teman yang 'sejalan'.

Seorang guru saya sempat bilang di hari setelah saya diterima SNMPTN, "Yuan, harus diambil ya, bersyukur." Bukannya bilang selamat, beliau malah bilang begitu. Saya nggak tahu apa yang ada dipikiran beliau ketika itu. Mungkin jurusan ini dikira sebagai tempat pelarian saya, dan ternyata saya keterima, kenyataan yang penuh kejutan dan sepele, mungkin begitu. Dan karena saya main main, mudah buat saya meninggalkan ini dan hancurlah reputasi sekolah di universitas saya sekarang. Padahal ini pilihan serius yang saya sangat syukuri. Kalau beliau nggak bilang apa-apa, mungkin saya bakal lebih berkenan. Haahhh~ Orang tua saya juga sempat menuduh saya menghindari persaingan, ya dalam bahasa yang lebih halus sih. Tapi saya akhirnya bisa menjelaskan sampai mereka menerima alasan saya. Meski saya yakin mereka masih sedikit kecewa. Masih, kali ini masih dalam tahap saya menjelaskan kalau mereka nggak akan kecewa.

Di saat-saat genting menjelang pengumuman UN, SNMPTN, dan lainnya, saya lebih memilih untuk menutup rapat mata dan telinga seperti kata saya tadi. Dan saya rasa itu yang terbaik. Saya menyerahkan semuanya kepada Tuhan, karena usaha saya hanya bisa sampai disini, sambil meyakini dalam hati kalau saya akan mendapatkan apa yang terbaik bagi saya dan beberapa saat kedepannya, satu bulanan lagi setelah saat itu, saya akan baik baik saja, berbahagia dengan dunia baru saya, entah seperti apapun mereka.





SEMANGAT BUAT ANGKATAN 2014!
kalian sudah berjuang selama ini, tinggal sedikit lagi~

sebagai hiburan, ini video yang suasananya cocok XD




Saturday, August 17, 2013

Restorasi, A Hetalia Fanfiction

A Hetalia Fanfiction, for all Nether-Nesia lovers
Khusus dipersembahkan untuk Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 68

  
Restorasi situs bersejarah bukan hanya soal mencari tambang devisa baru, tapi juga bagaimana ia akan mengisahkan kembali kenangannya pada generasi anyar bangsanya, mengenalkan pada mereka jati diri mereka yang sesungguhnya. Baginya pribadi, restorasi juga berarti menjajaki kembali masa lalu secara nyata. Ia akan membuat rencana yang membuatnya mengingat lagi kenangannya —entah yang pahit maupun yang manis— bersama orang-orang yang pernah hadir mengisi ruang kosong di sudut hatinya. Tempat ia meluangkan sedikit keegoisan untuk dirinya sendiri, tempat ia mengungsi ketika ia menolak kenyataan bahwa diantara jutaan manusia lainnya, dirinyalah personifikasi negara yang ditinggalinya.


Meckino Sara Proudly Present 
RESTORASI


Kota, tak jauh dari lapangan BEOS dan hanya beberapa langkah dari halaman mantan gedung Stadhuis, sekaligus lima belas menit jalan kaki dari Sunda Kelapa, Menara Syah Bandar, dan mantan Gudang VOC yang bertetangga. Kota, bukan dalam arti harfiah, melainkan nama dari sebuah tempat yang memang lumrah disebutkan demikian bagi sebuah regional di Jakarta Barat, yang berbatasan dengan laut dan Jakarta Utara, yang dulunya bernamakan Batavia, permata di Timur Hindia, di mana detik ini bisa kita dapati seseorang termangu dan larut dalam sejuta kebingungan di otak sederhananya, menatap pantulan tak elok dirinya di Kali Besar yang sudah menghitam airnya. Yah, memang benar pepatah jangan berkaca di air yang keruh karena hasilnya memang jelek. Tapi, siapa yang peduli? Orang bingung mana yang peduli dengan bagaimana air keruh atau orang yang melihat ke air keruh itu menilai tentang penampilannya? Termasuk juga gadis ini sepertinya.

Sebenarnya hidupnya sedang tenang-tenang saja, bak selokan padat tanpa arus di sekitar tempat tinggalnya. Hanya diam, semakin penuh, semakin bau, dan semakin menghitam setiap harinya. Tapi itu semua berubah ketika sekelompok orang datang, mengangkat sampah-sampah yang menyumbat otaknya dan membuat mereka bekerja kembali, membawa kasus genting yang pernah terproses disana datang lagi dan menyapa, memberinya kerja berat setelah sekian lama tak memungsi pada mestinya. Kejadian itu terjadi pada gadis malang ini seminggu yang lalu, bermula ketika Pak Pos mengetuk pintunya di pagi hari saat gadis ini sedang menyantap seporsi nasi uduk sarapannya. Tanpa ia jeda, gadis muda yang telah lihai menyambi pekerjaannya ketika menyantap makanan itu membuka amplop dari si Pak Pos tadi dan mengetahui dalam beberapa detik setelahnya bahwa yang ada disana adalah undangan dari sebuah komunitas pencinta sejarah untuk berwisata sejarah bersama mereka ke teritori kedua ‘adik’nya—Malaysia dan Singapura—. ‘Sudahlah, daripada aku hanya diam saja di sini’, pikirnya mengiyakan.

Tanpa Indonesia pernah kira, perjalanan wisata sejarah gagasan dari salah satu komunitas mandiri yang tak begitu memiliki pengaruh itu mengoleh-olehinya beban besar sekembalinya dari sana. Bukan karena seorang perempuan menor mirip dirinya mencegat rombongannya dan memaksanya berkelahi ketika mereka sedang di Penang, bukan juga karena kepesatan perkembangan teknologi Singapura. Ia tahu ia selalu kalah dibanding mereka mengenai teknologi, tapi ia mulai bisa menerimanya dan tak hanya mengejarnya dengan hanya berlandaskan dendam dan nafsu untuk bersaing demi gengsi. Ia hafal rakyatnya tak bisa serta merta ia mobilisasi kearah sana. Bukan itu semua penyebabnya  karena gadis yang pada kenyataannya merupakan personifikasi dari Indonesia—negeri Zamrud Khatulistiwa yang kini meredup kemilaunya— ini sudah cukup dewasa untuk menyikapi hal semacam itu. Kecuali ketika ada sudut lain pada soal yang tengah diujikan kepadanya yang tak tertangkap sorot tajam obsidiannya, sudut yang luput yang kemudian dihadapkan kembali padanya, soal yang mudah tapi ia kacaukan dengan tak menyentuhnya, soal yang membuatnya kecolongan, ketinggalan satu langkah lebih jauh lagi dari kedua adiknya yang menor dan gadget mania itu.

Menyusuri History Trail di kawasan pecinan di Singapura membuat mata ketiganya terbuka, membuat akhirnya perasaannya yang bebal tersentuh embun dingin.

Ditambah lagi, seseorang dari komunitas yang mengundangnya itu kemudian bicara padanya, 

“Sebenarnya kita punya yang jauh lebih mahal, tapi kenapa milik mereka lebih berkilau, ya?”

PLAKK.

Sebuah tamparan keras mendadak menampar bukan sekedar pipinya tapi hatinya yang lembek. Membuatnya berkedut memerah, menyipratkan percik-percik darah tanda kesakitan sekaligus kesesakkan yang tiba-tiba dideritanya detik itu juga.

Tamparan itu yang membuatnya kini menginjakan kaki, berkaca pada air keruh Kali Besar yang membuat wajah manisnya semakin jelek oleh pantulan air keruh yang dengan jujur menampilkan sembab pipinya, kantung matanya yang bulat-bulat, dan air mata kering yang membekas di pipinya —yang tak lama kemudian dihujani dengan yang baru lagi— dengan jelas plus tambahan efek suram khas air keruh. Yaampun, Nona… pria mana yang akan menoleh padamu bila kondisimu seperti ini, ha?

“Aapa yang harus… hiks, kulakukan?! Argghh!!

Ia terus melontarkan pertanyaan tak berguna yang tak akan dijawab baik oleh air keruh Kali Besar, angin pinggir laut yang bertiup kencang dan mengeringkan air matanya dengan cepat, maupun ‘peer’nya, ujian remedialnya, bangunan-bangunan yang sedianya cagar budaya tapi kini hampir rubuh tak bersisa. Mungkin jika wisata sejarah kemarin tak pernah diikutinya, jika para anggota komunitas itu tak pernah memberinya tamparan, ia hanya akan duduk manis di rumah dinasnya, sarapan Nasi Uduk di pagi hari, berlawat ke Raja Ampat di siang hari, menengok ujung Sumatera di sore harinya, dan kembali lagi ke rumah dinasnya, sampai-sampai ia menonton berita di televisi kalau topi-topi lebar warna-warni khas Noni Belanda yang jadi lauknya sepeda ontel sewaan di depan museum Fatahillah sudah diganti semua dengan helm proyek warna oranye karena khawatir para wisatawan kerubuhan bangunan tua yang banyak bertebaran disana.

Sebenarnya ada banyak rencana yang tercanang di otaknya semenjak hari itu. Ia bisa saja mulai membentuk dewan untuk pemugaran kawasan Kota Tua Jakarta yang sebenarnya sudah ada, hanya saja lebih diefektifkan. Tapi rencana itu melempem ketika ia ingat bahwa banyak diantara bangunan-bangunan tua tersebut yang menjadi sengketa. Yang lainnya, yang memiliki kepemilikan jelas oleh pihak swasta kebanyakan pemiliknya tak berminat untuk urusan pemugaran dan lebih memilih untuk menunggu bangunan tuanya runtuh agar bisa mendirikan bangunan baru untuk instrumen bisnis mereka. Ah, andai saja semua orang kaya itu bisa berpikiran sama seperti pemilik Café Batavia. Lalu ia bisa memulai kampanye dan seminar ke kampus-kampus di seluruh wilayahnya, mengajak para mahasiswa untuk aktif terlibat bagi kelestarian situs sejarah di setiap daerahnya. Tapi impian itu kandas ketika seorang siswa kelas dua SMP anak tetangganya yang biasa diajak ayahnya menonton acara debat dan diskusi politik sore hari menyeletuk tajam, “Proyek di Indonesia sekarang gak bakal ada yang beres, orang anggarannya kebanyakan di korupsi. Kalo Monas dibangunnya sekarang juga pasti dua bulan langsung rontok.” Haah, bahkan anak SMP pun hafal seberapa kacaunya dirinya sekarang. Mungkin ia bisa berkampanye lewat iklan televisi atau film dokumenter, tapi ayolah, tontonan seperti itu bukan santapan sehari-hari rakyat dengan bekal pendidikan menengah kebawah yang jadi mayoritas di wilayahnya. Selain tak akan dapat penonton, dirinya hanya akan rugi membayar ongkos tayang channel kawakan yang mahal. Mendadak ia ingin lari dari kenyataan. Secerdas apapun otaknya, ia tetap tak mampu mencari penyelesaian masalah dalam lingkup seterbatas ini.

Menjelang Maghrib ide belum juga didapatinya, dan Indonesia akhirnya menyerah pada egonya. Ia memilih untuk pulang ke rumah, melepas penatnya sejenak, berlari dari kenyataan dengan memejamkan mata diatas tempat tidur berseprai batiknya yang nyaman, berharap mimpinya menyenangkan, dan tak terkait sebenang pun dengan permasalahannya sekarang. Gadis berambut panjang yang diikat satu itu melangkah gontai menuju tempat ia memarkir sepeda antiknya, menyusuri sisi gedung bekas Balai Kota yang sekarang ramai oleh pedagang makanan dan cindera mata yang tak sepenuhnya juga khas Jakarta.

Kota Tua, sebagaimana kota-kota lama lainnya yang luput dari perhatiannya selama ini, ternyata sudah sebegini parah rusaknya. Sejak dahulu mungkin tak sedikit orang-orang idealis yang setia mengampanyekan isu restorasi situs historis, tapi itu semua tak lebih dari sekedar bisikan-bisikan tipis yang hilang tertimpa desing mesin dan deru kendaraan buah dari ambisi kosongnya, pembangunan tanpa irama yang ia kira akan berhasil pada dirinya. Sebagai personifikasi negara, ia tak bisa mengeluh lelah apapun beban yang ditanggungkan kepadanya. Untuk maju selangkah saja ia harus putar otak kanan kiri demi mencari celah bagaimana ia bisa menyaingi negara lain yang setara dengannya dalam sektor yang baik-baik. Dan kini, ketika ia menemukan sebongkah potensi dalam sudut yang ia lupakan selama ini, ia justru kebingungan dibuatnya. Setegas apa ia harus bertindak agar rencananya bisa berjalan? Kemana ia harus bersembunyi selagi berusaha untuk sedikit mengabaikan perasaan rakyatnya? Pertanyaan semacam itu terus muncul, hingga kepalanya sakit tak terkira, ia akan kira dirinya berpotensi besar untuk mati sekiranya sebelum jatuh tertidur karena kelelahan berpikir, ia ingat jika ia seorang imortalis. Selama negaranya masih memiliki eksistensi, seburuk apapun kondisinya ia akan tetap bernafas dengan oksigen sebagaimana manusia pada umumnya, sesakit apapun luka yang ia derita.

***
Indonesia, atau Nesia ia biasa disapa, beruntung karena bosnya meski sedang banyak masalah tetap menaruh perhatian padanya. Rupanya sang bos prihatin melihat kondisi personifikasi negaranya yang wajahnya selalu mendung beberapa hari belakangan. Malam tadi ia mengambil beberapa waktu dari schedule padatnya untuk menyempatkan diri mengobrol dengan sosok yang secara fisik gadis dua puluh tahunan itu. Pada kesempatan itu, gadis yang jadi lawan bicaranya tersebut mengungkapkan semua yang dialaminya, penyebab kegalauan hatinya beberapa waktu belakangan, serta rencananya kedepan sekaligus apa yang menghalanginya, hingga sang bos kemudian menyimpulkan jika masalah yang dihadapinya cukup kompleks.

“Aku akan menemukan konsultan yang handal untukmu. Sekarang sebaiknya kau mencari-cari lagi lebih banyak referensi mengenai konsep seperti apa yang kau kehendaki, aku akan sebisanya membantu. Akan kukabari kalau aku sudah berhasil membawa konsultan itu kesini.”

“Terimakasih, Bos.”

“Ya, lagipula bebanmu itu bebanku juga.”

Setelah perbincangan singkat dengan bosnya itu, Nesia kembali berlawat ke wilayah targetnya. Hari itu cuacanya sedikit lebih panas dari biasanya, tapi ia kembali mengukuhkan niatnya untuk mengayuh sepedanya melalui Jalan Gajah Mada 1, di mana terdapat tempat yang hendak ia tuju, Gedung Arsip Nasional. Tempat itulah yang direkomendasikan bosnya untuk mencari informasi yang mungkin saja bisa memberinya inspirasi atau yah, membuatnya mengenang.

Mengenang, hal yang menjadi masalah cukup krusial bagi dirinya dan mayoritas warganya. Rakyat Indonesia terkenal sulit diatur, terutama untuk urusan relokasi demi ketertiban. Alasannya umumnya serupa, klise, dan mudah ditebak bak alur sinetron yang tak tamat tujuh season, apalagi kalau bukan kenangan. Rumah kumuh di bantaran kali yang sudah puluhan tahun mereka tempati sudah memberi mereka begitu banyak kenangan, dan bagi mereka jauh lebih nyaman dibanding rumah petak rapi di rusun lantai limabelas. Kini giliran dia, sang personifikasi yang biasanya memutuskan untuk mengalahkan persoalan kenangan rakyatnya yang justru berurusan dengan kenangannya sendiri. Kini masa lalu yang menghakiminya, lebih dari yang dialami rakyatnya selama ini, seolah semuanya adalah salahnya. Menjadi seorang personifikasi negara membuatnya harus mencoba memandang dari berlainan persepsi, berpikir dengan beragam cara, dan kadang itu semua memaksanya untuk menjadi orang lain yang mengkhianati hatinya sendiri. Siapa juga yang tega mengusik kehidupan tentram nan harmonis mereka di rumah reot itu? Gadis ini pun tak akan melakukannya andai kata kondisi itu akan terus baik bagi semuanya, tapi nyatanya tidak. Wabah penyakit dan bencana akan selalu mengintai mereka hingga akhirnya skala prioritas di otak kirinya yang mengalahkan kebahagiaan-kebahagiaan kecil para penghuni rumah reot di bantaran kali. Ya, kadang manusia menukar satu kebahagiaan dengan sejuta kesedihan untuk memperoleh beberapa kebahagiaan lainnya.

Detik itu, ia sudah menumpuk beberapa buku yang ia kira relevan dengan maksudnya dihadapannya, tapi baru hendak ia buka buku pertama, ponselnya berdering. Mengisyaratkan bahwa sebuah pesan singkat telah masuk ke inbox-nya, dan hanya perlu menekan sebuah kombinasi tombol simpel untuk mengetahui dan membaca isi dari pesan yang dikirim bosnya itu.

Dari: Bos
Nesia, aku sudah menghubungi konsultan itu dan ia mengiyakan tawaranku. Aku sudah mengatur pertemuan kalian. Nanti sore datang ke café Batavia jam setengah delapan. Jangan mempermalukanku, jadi datanglah tepat waktu.

Merasa penyelesaian masalah yang tengah diusahakannya maju satu langkah, personifikasi negara yang dua pertiganya adalah perairan ini tersenyum lega. Sekarang tinggal tergantung seberapa serius ia akan menanggapinya. Jika ia dan koleganya dalam kasus ini sama-sama serius dan konsisten soal ini, rakyat Indonesia boleh berbangga hati pada identitas dan memoarnya yang akan lahir kembali di secuil tanah yang jadi nenek moyangnya Jakarta ini.

***
 


Café Batavia, 19.15

Indonesia memantapkan langkahnya ketika mencapai teras pintu café itu. ‘Baiklah, ini bagian dari perjuanganku.’ batinnya dalam hati. Perempuan itu tampil agak tidak biasa malam ini. Bukan tidak biasa karena aneh, tapi ehm, yaah, ia punya sisi anggun sebagai seorang wanita dan itu terlihat jelas sekarang. Tubuhnya yang bagus —meski tak setinggi takaran model internasional— dibungkus sesetel kebaya warna merah tua, menandakan ia sedang mendoktrinisasi dirinya untuk berani sebagaimana filosofi warna merah dalam dwiwarna benderanya. Hanya saja ia lupa kalau café yang ramai oleh wisatawan asing itu juga punya riwayat horror tentang penampakan hantu Nyai berkebaya merah. Sudahlah, sekalinya ia ingat pun ia hanya merespon dengan narsis dan mengatakan bahwa kebaya Nyai hantu itu pasti modelnya jauh lebih kuno daripada yang ia kenakan sekarang.

Diluar kebaya dengan bahan brokat anggun yang tak memiliki begitu banyak ornamen tambahan itu, riasan yang ia bubuhkan pada wajah manisnya juga sesuai. Karena temanya merah disana, riasan yang ia gunakan juga sedikit bernuansa demikian, melahirkan kesan tegas dan dewasa. Rambutnya ia gerai bebas dengan ornamen tambahan berupa sematan anggrek bulan. Yah, Bung, pantas saja tukang parkir yang biasa memarkirkan sepeda ontelnya tak mengenalinya ketika ia lewat tadi.

Bel yang ada diatas pintu bergemerincing begitu ia mendorongnya, sedetik kemudian, siluetnya kemudian masuk tertelan oleh cahaya remang dibalik pintu kaca itu. Dari dalam, seorang pelayan menyambutnya lalu mengantarkannya ke meja yang sudah Bos-nya pesankan untuk mereka di lantai dua. Cahaya yang temaram membuat wajah gadis itu yang menampilkan air muka gugup sulit terbaca. Seiring dengan semakin banyak anak tangga yang ia capai dengan langkahnya, detak jantungnya semakin naik saja temponya. Berkali-kali ia menengok arloji antik di tangan kirinya, memastikan bahwa ia belum membuat si konsultan itu menunggu. Meski sebenarnya, bukan hanya itu yang mengganggu pikirannya.

“Anda mau pesan apa selagi menunggu rekan anda?”

“Kkop—”

Detik itu juga Nesia ingat jika ia belum makan sejak tadi siang dan akan berbahaya jika asam lambungnya mengamuk di saat-saat seperti ini.

“Maaf?”

“Teh manis saja.”

Teh manis nona? Anda kira ini warteg langganan Anda?

“Maksud saya—”

“Baiklah, mau teh hitam atau teh hijau?” Rupanya sang pelayan membaca maksudnya dengan baik.

“Teh hitam.”

“Kalau begitu, silakan tunggu sebentar.”

Nesia menghela napas sambil merutuk dalam hati menyadari seberapa bodohnya dia sehingga hampir dikuasai oleh kegugupannya tadi. Teh manis, sungguh itu lucu sekali. Akhirnya, daripada terus-terusan menghakimi dirinya, ia memilih untuk menikmati suasana di sekitarnya.
Pencahayaan di ruangan itu sengaja dibuat nanar tak ubahnya dengan yang dibawah. Dalam sebuah ruangan yang cukup luas, cahaya hanya datang dari sebuah lampu kristal tua di tengahnya dan beberapa lampu kecil yang tersemat di dinding sekedar untuk menyoroti apa yang terpamer di dinding itu semisal koleksi foto mereka, atau lukisan tua.

Gadis yang malam ini terlihat lebih dewasa dari biasanya itu kini merasa seolah masa remajanya hadir kembali diboyong oleh atmosfer yang diciptakan café ini. Dari mulai tata ruang, pencahayaan, ornamen tambahan, semuanya mengarah pada suatu era yang sama di mana ketika itu ia masih bersama seseorang di kota ini. Orang lain, dari jauh sana, yang sempat membuatnya merasakan dimensi waktu mengukuhkan posisinya sebagai seorang remaja biasa, yang baru kenal dan lantas dibodohi oleh yang namanya cinta.

Membayangkan waktu-waktu jauh di belakang sana membuat wajahnya perlahan bersemu. Mungkin seperti sekian banyak perasaan yang menguasainya sekaligus saat itu dapat ia rasakan kembali desirnya saat ini, di tempat ini, bersama... ah, tidak bersama dengan siapa-siapa.

“Maaf menunggu lama, nona. Ini pesanan anda.” Pelayan tadi kini mengantarkan teh manisnya.
Nesia hanya tersenyum kaku menahan malu merasa sesi pribadinya telah dipergoki orang lain. 

“Tidak juga.”

“Ini, silakan nona.”

“Terimakasih,” ujarnya sembari membalas senyuman si pelayan.

Begitu melihat ke arah mejanya, ia terperangah. Ia hanya pesan teh manis, tapi yang datang seperti seluruh isi dapur di rumahnya. Praduganya sebelum ini hanya berputar di teh hitam dalam cangkir mewah yang elegan, atau paling jauh seperangkat poci minum teh seperti warung angkringan di Jogja, tapi yang datang justru jauh lebih parah. Sekarang, mejanya yang tadi hanya berisikan sebuah vas bunga dipenuhi seperangkat alat dan bahan membuat teh seperti di acara-acara masak. Secangkir teh hitam pekat yang luar biasa wangi disajikan dalam sebuah cangkir ditemani sendok pengaduk yang sepertinya perak, tapi juga ada beberapa cepuk kecil lainnya yang berisikan dari mulai susu, gula batu, gula pasir, dan entah apa. Bukan meminumnya, sang pemesan malah geleng-geleng tak percaya melihat apa yang ada dihadapannya. Begitu ia membuka daftar menu, ia lebih tak percaya lagi melihat harga yang tertera untuk secangkir teh dan teman-temannya ini. Ia hanya membatin, ‘pantas saja yang datang kesini wisatawan asing semua’.

Lain di café, di bahu Jalan Lada, beberapa meter dari stasiun, seseorang yang hampir terlambat dari jam yang dijanjikan padanya berjalan dengan tergesa-gesa. Jas yang tadinya ia kenakan kini ia lepas karena meski wilayah ini dekat laut dan anginnya kencang, kulitnya yang sudah tak lagi terbiasa dengan cuaca tropis tetap menunjukan penolakan. Ditambah lagi, dikejar waktu membuatnya tak bisa jalan santai dan harus berolah raga malam-malam begini. Ini kali pertamanya ia akan berpartner dengan seseorang yang tengah menunggu-nya, jadi ia tak boleh membuat partnernya ragu. Tapi di sela-sela pertarungannya dengan waktu, ia masih menyempatkan diri menyapu sekilas pandangannya ke sekitar. Hatinya mencelos menyadari tempat ini sudah banyak berubah sejak saat itu. Di samping itu, sedikit kiranya sisi manusiawinya bertanya-tanya tentang seseorang. Mungkin sebagaimana tempat kenangan mereka yang sudah banyak berubah ini, di suatu tempat di mana orang itu berada sekarang, ia juga sudah banyak berubah.

***


Sepanjang petang menyerang, ini kali ketiga pintu kaca café Batavia dimasuki seorang tamu mancanegara. Setelah perbincangan singkat yang dimulai oleh staf humas yang secara khusus menyambutnya malam itu, belakangan diketahui bahwa ini juga kali ketiganya selepas petang, tamu mancanegara yang datang adalah tamu Belanda, lepas dari sepengetahuan mereka bahwa yang terakhir ini tamu Belanda yang datang bukan sekedar warga sipil biasa.

Pria berkemeja hitam itu tak melewatkan melihat sekeliling interior café yang dirasanya sangat akrab dengannya ini ketika seorang pelayan tengah membimbingnya menuju kursi yang semestinya ia sudah tempati sejak lima menit yang lalu. Iris mata zamrudnya menangkap banyak tersangka sekaligus mengeksekusi kasus dan memvonis bahwa café ini adalah tersangka utamanya. Café yang baru pertama kali dikunjunginya —meski ia sudah mengetahui keberadaannya sejak lama— ini bertindak bak mesin waktu, menyeretnya kepada sekelumit runyam lorong nostalgianya dan membuat seketika nafasnya memberat seiring dengan kian banyak anak tangga yang didakinya.

“Meja anda yang di ujung sana, Tuan.” Ujar si pelayan seraya menunjuk sebuah meja dengan sepasang kursi panjang tepat di ujung ruangan di mana seorang wanita berkebaya merah sudah lebih dulu duduk di sana sembari memandang ke luar jendela besar di sisinya. ‘Jadi wanita itu yang akan jadi kolegaku…’ batin pria itu.

“Kalau begitu terimakasih.” Katanya dengan bahasa Indonesianya yang masih cukup fasih untuk ukuran orang asing seperti dirinya.

“Sama-sama, Tuan.”

Anehnya, pria itu tak langsung bergegas meski si mas pelayan sudah meninggalkannya dan hampir delapan menit sudah ia mangkir dari waktu yang dijanjikan padanya. Ada hal yang sulit dideskripsikan yang menggangu pria itu sepertinya. Air mukanya agak gugup diiringi beberapa bulir keringat yang meluncur dari pelipisnya, sebuah fenomena tak wajar di ruangan ber-AC sekalipun ia adalah pria benua biru.

Secara tak kasat mata, pria itu bertarung dengan banyak hal dalam pikirannya, dengan pikiran buruk, kegugupan, kekhawatiran dan kesulitan pribadinya untuk berjalan ke pojok ruangan dan menemui wanita berkebaya merah yang duduk membelakanginya itu. Tapi sedetik kemudian, ia merasa masih cukup waras untuk tak menghiraukan dunianya sendiri. Ia memilih untuk mengesampingkan praduga, firasat, atau entah apa namanya dan memaksa berpikir realistis bahwa seseorang disana hanyalah calon partner kerjanya dan semua kekhawatirannya tadi hanya sebatas ketakutan yang tak beralasan.

***

Indonesia kembali mengangkat lengannya untuk melihat lagi ke arah pergelangan tangannya di mana arlojinya kini tengah memaparkan kenyataan pahit bahwa ia sudah menunggu seseorang yang tak ia tahu siapa selama lebih dari dua puluh menit. Ia mulai ragu dan seenaknya melayangkan praduga buruk soal Bos-nya yang hanya mengerjainya, atau justru ia hanya menyewa seorang yang tak profesional demi menekan biaya oprasional. ‘Tapi, resminya kan aku baru menunggu sekitar lima menit.’ Sisi baik dari pertarungan batinnya akhirnya berhasil menenangkannya, membuatnya memilih untuk mengalahkan kebosanannya dengan menyeruput tehnya dan memandang keluar jendela.

Dalam kebosanan sedingin suhu Dieng pagi hari, gadis yang hampir frustasi menunggu itu mendengar ketukan sol sepatu yang beradu dengan lantai semakin mendekat ke arahnya. Secercah harapan kemudian muncul, tapi beberapa mikrosekon setelahnya otak cenahyangnya justru berspekulasi bahwa itu hantu.

"Aku harus bagaimana?!” bisiknya pada dirinya sendiri. Ia lalu mulai menyalahkan Bos-nya lagi yang malah memesan tempat duduk di pojok ruangan.
Agak menunduk membuatnya melihat sisa seduhan teh di cangkirnya yang masih sedikit. ‘Ah, teh mengandung cafein, dengan menghabiskan tehnya, kemungkinan aku bisa beberapa level lebih tenang.’ pikirnya ringan.

“Maaf membuat anda menunggu lam—”

Indonesia menyeruput tehnya dan seseorang tercekat. Apa gaya minumnya sedemikian mengerikan?

Merasa tersinggung, gadis itu kemudian menoleh kearah orang tadi dengan mimik wajah yang cukup mengerikan.

Satu.

Dua.

Tiga. Waktu terhenti tiga detik khusus untuknya dan orang itu ketika pandangan, mimik aneh, dan ketercekatan mereka beradu. Ya, khusus untuk Indonesia dan Netherland ketika mereka kembali dipertemukan.

“Tidak mungkin…” Rupanya si kolega itu menulari keterkejutannya pada Indonesia.
Sejenak, dua insan setengah manusia itu mematung dalam ilusi kosong mereka masing masing. Di mana dalam ruang hampa itu, mereka saling berpandangan dengan jarak yang jauh tak terkira sehingga satu sama lain melihat diri mereka hanya sebagai titik, tapi hujaman kilas masa lalu justru menyerang mereka tanpa jarak di saat yang sama.

Kasus yang tak terselesaikan, tanya tak terjawabkan, dan perasaan yang terlupakan begitu saja menjadi beberapa gelintir cindera mata yang ditinggalkan orang yang kini duduk tepat dihadapan Indonesia ketika ia pergi dulu. Dalam sejuta kebingungan ia tak bisa memutuskan untuk menganggap pria ini kawan, lawan, musuh, mantan musuh, atau yang lain. Beberapa dasawarsa bukanlah takaran waktu yang lama bagi seorang personifikasi negara yang notabene-nya immortal untuk melupakan apa yang ia alami pada kurun yang jauh lebih lama, dan itu membuat secara otomatis, begitu pria ini hadir kembali dihadapannya, kepingan ingatan sekian waktu kebelakang itu terangkai kembali dengan demikian kronologis.

Kehadiran pria itu kembali tak bisa ia pungkiri menjadi semacam oasis bagi sudut hatinya yang menderita dahaga kerinduan cukup parah atas mantan motherlandnya itu. Pria dengan potongan rambut tulip itu memaksanya mengenang semua yang pernah mereka alami dulu, memaksanya mereguk lagi pahit dan manisnya kenangan mereka. Detik itu juga, waktu seakan berhenti pada saat di mana ia hendak meninggalkannya setelah si pria terusir oleh kegigihan gerilyawannya dulu, membuatnya meraih kemenangan untuk rakyatnya, tapi kehampaan untuk pribadinya. Pria itu selalu datang dengan dua sisi berbeda dalam benaknya. Tak lain lagi, ia Netherland, yang ia tetap cintai meski harus dengan monopoli dan adu domba.

***

Kondisi mental Netherland setelah melihat perempuan berkebaya merah dihadapannya mungkin jauh lebih buruk dibanding ia melihat hantu nyai yang katanya juga berkebaya merah. Ia secara terang-terangan mengakui pada dirinya sendiri bahwa sebab mengapa ia sedemikian terperangah tadi ialah karena rasa bahagianya yang luar biasa. Mendapati orang yang sempat dan masih ia cintai yang sudah sekian lama tak ditemuinya dalam keadaan baik membuatnya berulang kali mengucap syukur pada Tuhan-nya. Tapi siapapun tahu bahwa saling mencintai adalah pertalian dua arah, ketika ia hanya dimaknai satu arah, ia hanya akan menyakiti pemiliknya. Sebagian dadanya sesak mengingat bagaimana ia pernah melukai gadis ini bahkan ketika ia terlihat jauh lebih lemah dulu, dan menyadari bahwa cintanya pasti membencinya membuat ia ingin melenyapkan diri. 

Seharusnya ia sudah curiga ketika Bos mantan koloninya ini memberitahunya jika ia memenangkan tender proyek peremajaan situs sejarah yang bahkan tak pernah ia ikuti.
Ketidak berdayaannya dalam posisi ini membuatnya hanya mampu meringkuk lemah di sudut tergelap hatinya. Tak ada sedikitpun keberanian baginya untuk memulai komunikasi saat ini, meski ia sesungguhnya sangat ingin. Berbicara dengan gadis ini membuat Netherland seolah mengorek luka lamanya, itulah mengapa ia sempat berdoa untuk tak pernah dipertemukan lagi dengan Nesia. Nesia adalah titik manusiawinya, sebuah noktah di mana ia jatuh begitu lemah dalam keputus asaan. Dan mengingat bagaimana atmosfer yang menyelimuti perasaan mereka berdua di kali terakhir mereka bertemu sebelum ini membuat Netherland semakin merasa terpuruk oleh tembok yang kian meninggi diantara dirinya dan satu-satunya penyejuk hatinya di seberang sana.

“Tak biasanya kau terlambat.”

Indonesia berbicara padanya? Oh, ini pasti mimpi terindah Netherland. Pria bendungan itu pasti sedang bermimpi sekarang!

Mendengar kalimatnya tak direspon, sang lawan bicara mendengus, “ah, sudahlah.”

“Eh, iitu. Maaf, aku baru sampai tadi sore, lalu, macet.” Ia memang tak pernah bagus dalam berkomunikasi. Itulah mengapa masalahnya yang dulu-dulu tetap dan masih menjadi masalah sampai sekarang.
 
“Macet? Selamat, kau sekarang jadi korbanku!” guraunya seraya mencoba tersenyum. Meski jika menurut pandangan umum senyum asimetris itu agak janggal, di mata Netherland yang sudah terrabunkan oleh perasaan bahagia yang luar biasa melihat itu sebagai senyuman yang membuat darah bekunya mencair.

“Senang melihatmu baik-baik saja.” Netherland memberanikan diri berbicara seraya mengangkat wajahnya. Ketika pandangan mereka bertemu, kembali ia menemukan danau paling sejuk yang telah lama tak ia selami, danau obsidian di matanya yang bulat indah.

“Aku juga.” Pemilik mata obsidian nan sejuk itu melarikan diri dari pengaruhnya. Ia berpaling cepat, seolah memungkiri ketenangan yang ia dapati dari sepasang zamrud milik lawan bicaranya. 

“Neth, aku tak menyangka ini kau. Benar-benar tak menyangka.”

“Sebenarnya, aku sudah terganggu dengan gelagat mencurigakan Bos-mu. Tapi karena menurut Ratu ini penting, aku menurut saja. Dan ternyata memang benar, ini penting.”

“Ahaha, sepenting itukah?”

“Pertemuan denganmu...”

“Tapi sayangnya bukan itu kasusku.”

“Iya, aku, aku mengerti. Tentu saja, yang tadi pasti bukan sebuah hal penting buatmu.”

“Tidak juga, semuanya penting.”
DEG. Jantungnya bedetak keras seolah untuk yang terakhir kali. Apakah Netherland baru saja menerima pengakuan?

“Hanya saja, ini yang lebih krusial.”

“Memangnya apa yang mengganggumu? Apa yang salah dengan semua ini?”

“Kau tak mengerti. Aku menghancurkan identitasku sendiri.” katanya dengan nada yang kian melemah, “Netherland, bantu aku membawa mereka kembali. Aku kira Bos benar, kau satu-satunya konsultan yang bisa kumintai andil dalam pekerjaan berat ini.” Mata obsidian itu menatapnya lagi, tapi dengan semburat yang mengganggu untuk kali ini. Netherland menyadari bahwa sinarnya tak setajam dulu, kini ia sedikit mengusam oleh beban dan persoalan. Tapi sebagai seorang yang datang dari masa lalu Indonesia, seorang yang pernah memilikinya, ia tetap bisa melihat jauh kedalam sisinya yang tak tersentuh dan tetap seindah sediakala.
“Hei, jangan tertekan begitu. Kita punya banyak waktu, dan aku berjanji kita pasti akan menyelesaikan masalah ini. Untuk sekarang, bagaimana jika kau sedikit menceritakan lebih detil tentang masalah ini” katanya gugup.

Si kebaya merah mengangguk pelan tanda setuju. Diiringi denting grand piano, pembicaraan mereka terus mengalir dengan ritme tenang. Mereka berbincang banyak, ditemani hidangan pesanan mereka yang kemudian diantarkan oleh dua orang pelayan. Berbincang banyak seolah mereka hanyalah sepasang sahabat biasa yang sudah lama sekali tak berjumpa.
Malam pada pertengahan musim kemarau ini pun menjadi saksi bagaimana waktu telah menumbuhkan ironi diantara mereka. Ledakan meriam dan desing peluru kini bertransformasi jadi denting piano merdu, sama-sama mengiringi pertemuan mereka di lain era.

***

Didasari pengalaman, Indonesia berspekulasi segera jika malam bersama Netherland ini akan jadi malam yang panjang. Stamina lelaki memang berbeda seberapapapun kuat dirinya, terlebih lagi dengan fisik tebal hasil tempaan udara dingin Eropa. Perjalanan sekian puluh jam dari negerinya, macet, dan harus berjalan jauh rupanya tak cukup membuat pemuda tulip itu lelah dan urung mengajak gadis koleganya menyurvei lahan proyeknya malam itu juga.

“Berjalan kaki tak apa kan? Akan lebih efektif jika begitu sepertinya, kita bisa melihat-lihat dengan detil.”

“Kau mau mengekspos kebobrokannya, dan membeberkannya di salah satu museum di Leiden begitu?”

“Apa kau pikir aku sejahat itu?”

“Tidak juga. Tapi berjalan kaki itu tidak manusiawi. Lihat, sepatuku solnya tujuh senti!” ungkapnya marah sambil sedikit mengangkat kain kebayanya, menunjukan pada si tulip bahwasanya apa yang ia katakan bukan alasan karena malas belaka.

“Maaf, aku tak berpikir ke arah sana.” Netherland tersenyum masam, lalu berubah menjadi senyumnya yang biasa. “Berarti hanya ada satu pilihan.”

“Apa?”

“Sepeda.”

Butuh lima menit saja bagi Indonesia untuk menunggu Netherland kembali dengan sepeda ontel warna cokelat tua. Ia berhenti tepat didepannya, lalu mengisyaratkan agar gadis itu mendaratkan diri pada boncengannya.

“Memang kau masih hapal jalan di sini? Semenjak kau meninggalkannya, mereka sudah berubah banyak.”

“Kau punya suara merdu yang tak akan rela disesatkan olehku. Aku tahu itu.”

“Maksudmu aku akan secara reflek meneriakimu jika kita salah jalan, begitu?”

“Persis.” Netherland tertawa kecil. ‘Kau tak pernah berubah, aku tak pernah kehilangan dirimu. Nampaknya itu yang membuatku rindu.’ batinnya dalam hati.

Dari pelataran Stadhuis, tak butuh waktu lama sampai mereka semakin mendekat ke laut. Kota ini dulu kota dermaga yang indah. Ketika malam tiba dari kejauhan lampu-lampu pijar buah sibuknya aktivitas disana akan menyala, berpendar dari kejauhan, menjadi permata penyelamat bagi kapal-kapal yang hilang arah. Netherland mungkin masih bisa mengenali artefak antropologis ini sebagai kotanya yang dahulu, tapi butuh keteguhan untuk menahan gejolak kekecewaannya pada kenangan-kenangannya yang mulai hancur tergerus masa. Jika ia saja kecewa, seseorang seperti dirinya yang berada dibalik berdirinya kota ini tapi tak punya tanggung jawab apa-apa terhadapnya sekarang saja kecewa, perasaan macam apa lagi yang dirasakan pemilik raga dalam boncengannya? Jujur dari hati terdalamnya, ia tak sanggup bahkan untuk sekedar membayangkan berada pada posisinya. Setiap bangsa memiliki masa-masa berat, tapi merasakan perasaan tersiksa milik seseorang yang penting baginya, ternyata jauh lebih berat dibanding ia yang merasakannya sendiri.

Sementara itu dalam batin sang personifikasi Nusantara, berkecamuk banyak pikiran buruk. Mereka menguasainya dan menyerang ketegaran perempuan itu dengan hantaman pesimisme. Hatinya mencelos kian dalam mengira-ngira apa yang dirasakan Netherland terhadap titipan berharganya yang kini memudar eksistensinya. Matanya mulai berkaca-kaca menyadari kebodohannya, menyadari matanya yang selama ini ia pejamkan rapat-rapat dari kenyataan yang kian menggerogoti aset-aset berharganya. Habis mau bagaimana? Pemerintah negara amatiran buah pembebasan kolonialisme perang dunia kedua ini terlalu sibuk oleh banyak hal. Bagaimanapun rakyat yang menjerit oleh kenaikan harga-harga barang pokok lebih menuntut perhatiannya dibanding situs-situs bersejarah yang diam seribu bahasa. Hingga sampai pada sebuah kebiasaan kalau ia hanya mengurusi keadaan kritis rakyatnya setiap waktu. Rintihan-rintihan yang menyayat-nyayat hatinya itu memaksanya mengimpor barang untuk menekan harga, menyubsidi banyak barang, dan berhutang lebih banyak lagi. Semuanya hanya penanggulangan jangka pendek yang memaksanya untuk gali-tutup lubang. Memesinasi dirinya yang kemudian hanya bergerak sesuai dengan pola-pola, menanggulangi masalah dengan penanggulangan yang melahirkan masalah baru, dan samasekali tak pernah keluar dari sana.

“Maaf Neth. Sudah terlalu mustahil, ya?” Matanya menerawang jauh. Seketika ia kembali pada posisi startnya. Segalanya yang sudah ia rintis dengan susah payah soal ini mendadak tak berharga lagi. Membuat hanya tinggal seujung jari lagi sampai ia melepaskannya pergi, merelakan segala kesempatan dan jerih payahnya membumbung tinggi, menjauh dari raihannya.

“Eh, tentu saja tidak.” Netherland sedikit terkejut mendengar pertanyaannya yang demikian tiba-tiba. Seperti tak hanya dalam benaknya, dalam pikiran pria ini pun sepertinya tengah berkecamuk sesuatu.

“Tak apa jika kau tak menyanggupi ini. Kau bisa pulang, nanti biar aku yang bilang pada Bos.”

“Seperti bukan dirimu saja.”

“A-apa?”

“Kita bahkan belum memulai apapun. Tolong jangan sepesimis itu.”

“Apa aku bisa percaya padamu?” Gadis itu menunduk dalam seolah Netherland tak sedang memunggunginya, berusaha mengunci rapat-rapat apapun yang ia tak ingin Netherland ketahui darinya saat ini.

“Entahlah,” Netherland meraih salah satu tangan Nesia yang berpegangan padanya dengan tangan kirinya, menggenggamnya erat, menenggelamkannya dalam kehangatan yang bisa dirasakan bahkan oleh hatinya, “yang jelas, aku tak ingin melihatmu sepesimis ini.”

***

Menyusuri jalan-jalan sempit diantara gedung-gedung tua akhirnya membawa mereka kembali menapaki jalan utama menuju Sunda Kelapa. Ketika itu, malam sudah sangat larut. Lampu-lampu bersinar temaram karena perlahan cahaya-cahaya yang terombang ambing milik para perahu nelayan di dermaga mulai bergerak menjauh untuk mengejar asa mereka menyambung hidup di keesokan harinya. Pelabuhan ini salah satu yang tersibuk yang Nesia miliki. Tanpa kurang, ribuan orang beraktivitas di sini setiap harinya, ramai dan sibuk sebagaimana ketika ia mencapai masa kejayaannya dulu, tapi membisu menghadapi gempuran waktu yang mulai menghancurkan kenangan-kenangannya.

Sepanjang jalan yang mereka lewati tadi, keteguhan hati yang susah payah Netherland bangun untuk tak turut jatuh kecewa dan menjadi pelindung bagi pijar api kecil di hati seseorang yang diboncengnya mengenai restorasi ini turut goyah, bahkan hampir jatuh menimpa pijar api kecil yang akan segera mati juga itu. Ia sadar, bagaimanapun juga bukanlah masa kejayaan yang akan hadir kembali disana ketika misalnya, kota kecil itu berhasil direstorasi, melainkan masa perjuangan berat di mana yang berkuasa disana adalah bangsa asing, lintah darat yang menyedot darah segar dan nyawa-nyawa rakyat Indonesia.

Kota kecil itu bisa diasumsikan hanya sebagai tilas kejahatan Netherland yang ketika itu sungguh gelap mata jika cinta tak meneranginya dengan segera, dan mendapati kenangan buruk itu hadir kembali dalam bentuk baru yang lebih baik akan memaksa memoar-memoar itu mengalir lagi, memaksa Netherland untuk semakin menyesal dan memaksa untuk jauh di balik senyum puasnya, hati kecil Indonesia menderita lagi mengingat kenyataan bahwa satu-satunya pria yang teramat ia sayangi adalah mesin pembunuh bagi rakyatnya. Meski susah payah Netherland menahannya, meyakinkan hatinya jika misi ini sekedar untuk pelestarian budaya, tepat ketika ia menghentikan laju sepedanya di depan buritan sebuah kapal layar yang tengah bersandar tenang dari debur ombak yang kian malam kian menantang, keteguhan hati itu resmi runtuh. Netherland berhenti, lalu turun, membuat reflek, si kebaya merah yang diboncengnya juga turun. Si tulip itu kemudian menyandarkan sepedanya di batas dermaga, lalu berjalan pelan mengikuti langkah Indonesia.

“Nesia, setiap orang memilih jalan hidup mereka sendiri-sendiri kan? Dan kurasa tak ada yang salah untuk itu.” Ujar Netherland memulai pembicaraan yang sepertinya akan sangat panjang.

“Maksudmu?”

“Apa yang kau jalani sekarang bukan hal yang salah. Hanya itu.”

“Termasuk soal ini, begitu?”

“Ya, kurasa.”

Nesia semakin menatapnya heran, “jadi untuk apa aku meminta bantuanmu jika yang kulakukan memang sudah benar?”

“Ya, mungkin disitulah letak kesalahan yang sebenarnya.”

“Kau bercanda, ya?” Nesia menyelidik sarkastik. Ia yakin ada yang salah dengan orang di hadapannya.

“Misalnya saja, model kota seperti ini sudah tidak pada zamannya lagi kan? Sangat mudah bagi kota tua ini untuk tenggelam oleh kenaikan air laut atau gelombang besar.” Dengan nada berbeda yang dikenali dengan mudah oleh Nesia, Netherland terus mengada ada, persis seperti ketika Nesia menanyakan kemana rakyatnya yang katanya ia transmigrasikan dulu. “Kau, bisa membiarkannya untuk kemudian membangun kota yang baru, yang lebih baik, lebih nyaman, dan… tak memiliki kenangan buruk apapun untuk menghantuimu.”

“Apa katamu?”

PLAKK.

Kulit wajah Netherland yang putih terang perlahan meruam merah, memanas oleh tamparan yang baru saja sampai padanya sepersekian detik yang lalu. Tapi tak seujung jari pun ia bergeming. Mata zamrudnya memejam ringan, air mukanya tak terlihat sedikitpun menahan sakit meski kulit wajahnya yang semakin berubah warna tak menjelaskan fakta yang senada.

Setelah semua yang kau katakan tadi, apa ini pantas? Kalau memang hanya hal ini yang membawamu datang jauh-jauh kesini, sekarang juga kuminta kau pulang, Neth! PERGI!!”

“Nesia,”

“Kubilang pergi!” bentaknya lagi seraya berpaling.

“Tidak sebelum kau mengerti.” ujar Netherland seraya mendekap gadis itu dari belakang, melingkarkan lengan di pinggangnya dan memposisikan kepala diatas pundak kirinya, untuk menyesap dalam aroma yang ia rindukan untuk waktu yang sangat lama, untuk lebih berada dekat dengan hatinya, untuk turut merasakan detak jantungnya yang tak menentu oleh berjuta pikiran dalam benaknya. Semacam menahan gadis itu untuk melangkah lebih jauh ke dalam kastil di mana semua ingatan buruknya yang terpenjarakan akan menyerangnya dengan berjuta siksaan.

“Aku baru saja menyadari kesalahanku, maafkan aku. Tapi sungguh, kota ini bukan simbol kejayaanmu, samasekali bukan identitas yang pantas kau utamakan untuk kau kenalkan pada generasimu. Kota ini hanyalah tempat yang kubangun atas kepentinganku yang begitu semena-mena terhadapmu oleh darah dan keringat rakyatmu, oleh nyawa-nyawa mereka yang tak ternilai. Awalnya aku pun berusaha meyakinkan diriku bahwa alasan yang ada dibalik ini semua sepenuhnya adalah pelestarian cagar budaya. Tapi bagi orang-orang seperti kita, maknanya tak sekedar itu saja.” bisik Netherland seraya mengeratkan dekapannya, tapi seolah bongkah batu, seseorang ia dekap hanya diam.

“Nesia, aku hanya takut, segala kelam yang akan terangkat kembali ke permukaan menyakitimu lebih dan lebih lagi. Aku tak berharap kau mengampuniku atas semuanya yang pernah kuperbuat padamu diatas bongkahan tanah ini, tapi setidaknya, kau berhak untuk melupakan segala rasa sakit dan luka yang tercipta karenanya. Seberapapun aku menyesal atas waktu-waktu kebelakang, aku tetap tak bisa menghapus apapun yang pernah terjadi. Oleh karenanya, karena aku menyayangimu Nesia, mencintaimu sebagai seseorang yang penting bagiku hingga detik ini, aku tak ingin menyakitimu lagi, bahkan oleh sekedar sesuatu yang seabstrak masa lalu.”

Indonesia merasa jantungnya terhantam bola besi sejurus setelah mendengar penuturan jujur Netherland. Setetes air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya jatuh meluncur bebas ke wajahnya yang sendu. Ia terharu oleh pernyataan cinta dari mantan motherland yang ia cintai juga itu, juga oleh kekhawatiran sang mantan motherland terhadap dampak yang akan ditimbulkan proyek restorasi ini baginya. Akan tetapi, sekalipun kenyataan yang menyejukkan hati tersebut membuatnya seolah jadi perempuan paling bahagia yang tak membutuhkan hal lain untuk bisa bertahan di dunia ini, perempuan paling bahagia itu hanya sisi individualisnya. Diluar sisi itu, jutaan rakyat menggantungkan masa depan dan menitipkan perasaan mereka padanya sehingga sayang sekali, ia tak akan pernah bisa mengabaikannya.

Dengan tergerakkan oleh perasaan, tangannya bergerak melepas dekapan sang mantan motherland padanya, membuat Netherland kecewa. Tapi tak sampai sedetik setelahnya, kekecewaan itu berubah menjadi perasaan yang entah apa. Di tengah terpaan angin laut yang meniupkan suhu rendah ke arah mereka, di antara debur-debur ombak yang terpecah, dalam keremangan cahaya bulan di pelabuhan tua ini, gadis yang tadi diam seribu bahasa itu membahasakan begitu banyak rangkaian kata hanya dalam satu tindakan berarti. Ia membawa dirinya mendekat pada Netherland, dan sejurus kemudian mendaratkan ciuman lembut di bibirnya, membuat akhirnya Netherland yang diam mematung, meresapi rasa sekaligus makna dari tindakan yang tak pernah ia kira sebelumnya akan diterimanya.

Kedudukan yang amat sangat dekat membuat mereka lupa entah kapan mereka pernah sedekat ini sebelumnya sekaligus membuat mereka sama-sama mengakui apa yang tak terkatakan selama ini lewat bahasa yang degup jantung mereka sampaikan masing masing. Ketika itu, waktu seolah berputar pada saat di mana mereka sama-sama egois dulu. Ketidak stabilan jiwa remaja mereka membuat ketika itu tanggung jawab begitu mudahnya mereka tinggalkan, padahal perang justru tengah berkecamuk. Lain dengan sekarang, waktu dan kedamaian yang banyak mereka dapati tak cukup membuat jiwa mereka goyah untuk lalai dari peran mereka yang sesungguhnya di dunia ini. Dengan kesadaran penuh kini mereka mengabdi, sehingga tak ada lagi tempat untuk kegoisan diri sendiri semacam ini. Tapi ketika secara mendadak kesempatan untuk itu kembali seperti saat ini, gejolak perasaan yang tertumpahkan tak lagi mampu dideskripsikan. Keduanya pun, dalam sisi egois mereka sebagai seseorang yang secara fisik dan afektif hanya manusia biasa, tak pernah menginginkan apapun untuk lekas berakhir. Tapi kenyataan bahwa mereka memiliki hal-hal lebih dibanding manusia lah yang akhirnya membuat mereka harus menarik diri kembali pada apa yang mereka hadapi sedianya.

“Maafkan aku, Neth. Terimakasih atas semua yang kau berikan. Aku tersanjung, terharu, karenanya. Aku juga mencintaimu, bahkan sejak ketika saat-saat kelam itu masih terpapar di hadapan mataku. Awalnya aku pesimis tak bisa menangani ini tapi berkat kau aku mendapatkan optimismeku kembali. Soal rasa sakit ini aku tak keberatan, ini hanya pengorbanan kecilku untuk rakyatku. Sekelam apapun saat-saat itu, masa laluku sebagaimana diriku, semuanya adalah milik mereka, dan aku tak punya kuasa untuk menyembunyikan sekedar satu kalimat pun dari mereka. Ini pengorbananku Neth, pedih pun aku bahagia asalkan mereka juga bahagia.” Bekas air mata yang sudah mengering tadi kini basah lagi. Untuk kali ini, Nesia tak menahan apapun, tak ada yang harus ia sembunyikan di hadapan satu-satunya orang yang selalu mengisi sudut hatinya yang kerontang ini.

Menyadari Indonesia tak sanggup untuk berdiri lebih lama lagi, sekali lagi Netherland mendekapnya, kali ini lebih erat untuk alasan tak ingin kehilangannya. Ia tak ingin kehilangan keceriaan Indonesia yang membuatnya jatuh cinta sejak dulu. Ia pun tak ingin keceriaan yang semula murni itu berubah jadi hanya sekedar topeng belaka. Ia tak ingin, wajah manis yang selalu membuatnya rindu itu menghilang dibalik sendu yang ia derita.

“Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Bukankah personifikasi immortal seperti kita sudah terbiasa dengan rasa sakit? Dari masa ke masa, kita kehilangan banyak sekali orang-orang yang kita sayangi, belum lagi tanggung jawab untuk tak boleh sedikitpun hanya mementingkan diri sendiri. Jadi, percayalah.” Indonesia tersenyum menatap mantan motherlandnya itu meski masih dengan air mata. Memaksanya untuk percaya pada seluruh yang baru saja diocehkannya.
“Lagipula, Neth, dengan atau tanpamu, proyek ini sudah masuk ambisiku. Dengan ini, aku akan mengembalikan semangat perjuangan rakyatku. Aku akan tetap mengerjakannya.”
“Keras kepala,” Netherland mendengus kesal. “Tapi baiklah, jika itu maumu, aku akan tetap bersamamu.” Ujarnya seraya menggenggam erat tangan Indonesia.

***

Hari-hari setelah malam itu pun diisi dengan pencanangan proyek yang kemudian dilanjutkan dengan pengerjaan tahap awal. Mereka mengurus kepemilikan bangunan-bangunan tua itu lalu memulai pekerjaan berat mereka. Ahli-ahli sejarah, arsitektur, tata interior dan eksterior, tata kota, serta antropolog dan banyak ahli-ahli bidang penyokong lainnya baik dari pihak Netherland maupun Indonesia bekerja sama, saling bahu membahu mewujudkan nostalgia mereka kembali. Rasanya jika mengulang kembali ingatan di mana kakek nenek mereka pernah beradu senjata di tempo yang lalu, hal ini sulit dipercaya. Tapi pada akhirnya inilah membuka pikiran Netherland bahwasanya apa yang muncul di pikirannya malam itu memang salah. Tak sepenuhnya proyek yang tak ubahnya proyek pengembalian masa lalu ini akan menyakiti orang tercintanya. Toh nostalgia mereka lah yang akan dibawa kembali, disertai aspek-aspek kognitif bagi bekal generasi mendatang. Dan jika itu adalah nostalgia, berarti tak semuanya kelam, kenangan-kenangan manis mereka yang dahulu pun akan kembali bersamanya.

Di tengah pengerjaan proyek yang cukup besar ini, sangat disayangkan Netherland terpaksa harus kembali. Selain daripada ada urusan mendadak di tempatnya sana, perannya sebagai konsultan proyek ia memang sudah sampai tahap mengawasi saja. Jadi jika hanya itu, Indonesia bisa menggantikannya dan ia hanya tinggal menengok sesekali saja nanti. Yang jelas, untuk kepulangannya yang kali ini Netherland merasa lega mendapati Indonesia tersenyum puas atas Batavia yang akan kembali ini. Dan Netherland rasa, senyum puas itu sudah cukup mengalahkan nostalgia kelamnya, atau apalah itu, yang berkenaan dengan masa lalu buruk yang pernah dilaminya karena Netherland.

“Ini samasekali tak ada hubungannya dengan apa yang pernah kau lakukan dulu. Di era di mana kedamaian adalah cita-cita dunia internasional ini, rakyatku pun pasti sudah memaafkannya. Toh, Netherland yang ada di hadapanku sekarang adalah orang yang berbeda. Dank U .”

Sekali lagi, senyum tersungging di wajah kaukasoid tampannya. Sudah berlalu beberapa minggu setelah the Prince of Oranje ini kembali ke dekapan atmosfer Den Haag yang dingin, tapi seketika ada liquid hangat yang mengaliri hatinya untuk beberapa saat ketika ia mengingat sepenggal kata-kata Nesia sewaktu ia mengantarnya tinggal landas dari Soekarno-Hatta.
Rasanya dunia begitu kejam untuk pasangan yang satu ini, atau mungkin beberapa pasangan lain juga yang bernasib serupa. Mereka saling mencintai, menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing tanpa syarat, tapi oleh takdir tak diperkenankan untuk bersama ketika diluar sana perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga bertebaran di mana-mana. Sekali waktu Netherland mengumpat, menghakimi rute hidup yang terlampau panjang yang harus ia jalani sebagai seorang personifikasi negara. Ia bukan seorang penggila dunia yang mendamba immortalitas, ia justru tak pernah menginginkannya. Mungkin baginya akan lebih bahagia jika ia dilahirkan sebagai manusia biasa yang bebas mencintai dan dicintai meski harus hidup untuk sementara waktu saja. Tapi kenyataan selalu berbeda, selalu kejam baginya dan gadisnya di seberang lautan sana. Ia, tanpa tawar menawar lagi, harus kehilangan haknya yang asasi dan paling berharga baginya untuk ditukar dengan apa yang sedikitpun tak pernah terbesit dalam benaknya. Sampai detik ini pun, kalau memang ada yang menawarkannya, ia rela menukar keimmortalannya dengan dua hari saja untuk berbahagia bersama orang yang dicintainya, secara egois, hanya mereka berdua, tanpa harus memikirkan atau mengorbankan diri untuk siapapun lagi.

Tapi tepat ketika Netherland terpuruk dalam penghakimannya terhadap dirinya sendiri, seorang gadis kecil penuh luka yang terbaring lemah di pangkuannya dalam ingatannya menyadarkannya. Seburuk apapun kondisi di mana mereka berada saat ini, gadis itu mensyukuri pertemuannya yang indah dengan Netherland. Tanpa memperdulikan kenyataan bahwa satu-satunya kebahagiaan yang memotivasi gadis itu untuk bertahan adalah salah satu dari sekelompok pria yang merenggut orang-orang yang disayanginya.

Gadis itu menyadarkannya bagaimana cinta tak bicara soal benar dan salah. Ia dapat menjadi paling benar, sekaligus paling salah, baik sekaligus sangat jahat. Bagi mereka, cinta tak datang di saat yang tepat, atau mungkin lebih tepat jika tak pernah ada saat yang tepat baginya untuk hadir diantara sepasang yang sangat berbeda itu. Bagaimanapun, cinta menghadirkan keindahan di hidup mereka yang amat panjang. Keindahan itulah yang kemudian menjadi alasan terkuat bagi mereka untuk bertahan. Untuk mengerti kemudian bahwa tanggung jawab mereka juga berharga, dan tak terganjar lagi pengorbanan mereka untuk menganulir sisi manusiawi mereka dan lebih memilih rakyat di sisi mereka. Seperti itulah cinta seharusnya bagi mereka.

***

Dua hari yang lalu, ia mengunjungi Pasar Malam Besar. Sebuah festival nostalgia besar-besaran bagi para mantan tentara, warga Indonesia yang menetap di Belanda dan warga keturunan Indonesia. Sebuah festival yang sangat ‘Indonesia’ di mana banyak sekali hal yang bernuansa Indonesia bisa ditemukan di sana. Ketika itu, seseorang dari kepengurusan sebuah museum di Leiden membagikan sebuah pamflet. Netherland tersenyum melihat apa yang tercetak diatas pamflet itu. Judulnya, “Pengembalian Batavia” dan isinya adalah penjelasan yang dilengkapi dengan gambar-gambar mengenai proyek yang tengah ia garap bersama Indonesia. Seperti yang Indonesia kira, banyak orang yang antusias akan hal tersebut. Ternyata benar bahwa ia tak sendiri, ada banyak, luar biasa banyak orang yang rindu Batavia.

Sekilas di mata orang-orang Indonesia, tentara Belanda mungkin hanya sekumpulan orang kejam yang tak tahu belas kasihan. Tapi jauh di dalamnya mereka hanya orang-orang biasa yang berjuang demi kejayaan negeri yang mereka cintai. Dalam kegelisahan, mereka pun mengorbankan banyak hal, meninggalkan orang-orang terkasih di negeri asalnya, atau bahkan teribat pahit-manisnya romantika terlarang dengan gadis-gadis pribumi. Jauh di dalam hati mereka terjadi pergolakan-pergolakan sengit antara menjadi manusia atau mesin pembunuh, mempertahankan sekuat tenaga segalanya demi yang mereka cintai selagi merenggut cinta-cinta orang lain.

Netherland bukanlah satu-satunya pria yang merana oleh kekejaman takdir ketika itu. Pada kenyataannya, para orang-orang tua yang memenuhi Pasar Malam Besar ini juga mengalami hal yang sama. Tak ada yang bisa menolak pesona dan kenyamanan yang ditawarkan Indonesia baik dengan alam maupun keramahan penduduknya. Apa yang pernah mereka lakukan terhadap negeri itu hanya akan jadi penyesalan seumur hidup yang tak tertukarkan dengan apapun, tapi merasakan keramahannya dalam atmosfer damai di negeri itu sekali lagi akan menjadi obat yang sungguh berharti bagi luka hati mereka yang tak pernah beranjak mengering.

Restorasi bukan sekedar mengenang, melainkan menghadirkan kembali masa lalu ke waktu sekarang dengan memperbaiki banyak hal demi penelitian ilmiah atau mendulang pendapatan dari sektor pariwisata. Restorasi akan membawa kembali segala atmosfernya yang sedia kala, ketika itu terjadi maka momen-momen nostalgia tak terelakan lagi. Indonesia bilang padanya jika sekalipun restorasi ini akan membawa kenangan pedih yang sudah hampir ia lupakan selama ini harus terangkat lagi, gadis itu tak keberatan. Toh, hampir di setiap kenangan indah mereka juga terselip ironi-ironi yang menyayat hati.

Gadis itu sudah jauh lebih dewasa dibanding ketika Netherland tinggalkan dulu. Jika ia bilang siap atas segala resikonya, maka ia siap dari hati terdasarnya. Meskipun demikian, ingin Netherland turut berada disana, agar setidaknya, satu-satunya perempuan yang ia cintai hingga kini itu tak sendiri merasakan pedihnya. Ia ingin sekali, setidaknya membagi rasa sakit itu untuk dinikmati berdua. Yah, andai kata Netherland bisa berada disisinya selamanya, sayangnya mereka hanya sama-sama mencintai masa lalu mereka yang pedih itu dari jarak yang sangat berjauhan. Gadis tropis itu hanya akan menikmati kepedihan nostalgianya sendiri, dan di belahan lain dunia Netherland pun hanya akan tersiksa dalam pikirannya sendiri. Seperti halnya terus berlari dalam sebuah lingkaran, mereka hanya akan terus mengejar tanpa pernah berhenti pada satu titik untuk sekedar bertemu.


Meckino Sara © 2013

Author’s Note:
Kahahahaha~ karya pertama di tahun ini#dor
Ternyata sebagaimana yang lalu-lalu, saya hanya mampu mencapai standar produktivitas serendah ini
Lagian, ini termasuk tahun yang sangat sibuk setelah UN 20 paket dan kawan kawannya~
Meskipun libur lama, sebelum saya dinyatakan lolos seleksi PTN dan resmi jadi anak Sejarah angkatan ini, saya masih ketar ketir dan samasekali nggak ada mood buat bikin cerita#dihcurhat

Tapi apabila readers sekalian berkenan, mohon lupakan soal produktivitas dan nikmati kisah ini, semoga terhibur~
Cerita ini, kalo boleh saya menjelaskan sedikit, terinspirasi dari sebuah buku berjudul “Kota Tua Punya Cerita” terbitan Kompas yang saya pinjem dari kolega saya#bahh. Dari situ, greget soal restorasi muncul di kepala saya. Bukan cuma buat Kota Tua Jakarta aja, tapi semuanya, di manapun. Memprihatinkan banget nggak sih ngeliat cagar budaya kita hancur pelan-pelan?!
Oiya, ampuni saya soal typo, kerancuan, dan kejanggalan-kejanggalan lain yang ada dalam cerita ini. Saya masih seorang amatir, begitulah kenyataannya. Tapi berhubung mimpi semua amatir itu untuk menjadi profesional, saya akan selalu bahagia menerima kritik, saran, atau apresiasi dalam bentuk apapun itu dari Anda sekalian~
Tidak lupa pula,
HAPPY INDEPENDENCE DAY...!!!
Selamat bertambah usia buat Republik Indonesia tercinta yang ke-68, semoga semakin maju, semakin baik di segala sektor, semakin mengerti rakyatnya, dan semakin-semakin yang lainnya~