Trending Topics

.

.

Tuesday, March 27, 2012

Still Keep Staring at Your Back

Ekhm.. mulai produktif..
semoga~

hey hey.. ternyata saat berjalan menuju rumah, cukup banyak juga inspirasi yang menghampiri, setelah kemarin aku juga dapatkan inspirasiku dari sana.
Mengenai, em.. setitik ketidak tepatan yang dapat membelokkan kenyataan serumit apapun.

Sudah semenjak aku merintis berdirinya blog ini. Aku berfikiran begitu setelah membaca post banyak orang dalam blog mereka, ternyata tak jarang juga anak laki-laki yang tak segan membicarakan tentang kehidupan pribadi mereka, terutama soal, ekhm.. love story mereka. hohoho.. dalam otak naifku, aku membayangkan akan menyenangkan membaca catatan begitu milikmu. Dan kini bayangan yang hanya sekedar bayangan itu akhirnya terkabul, aku membaca catatan tentang kisahmu yang sejak dulu selalu ingin kuketahui, tapi setelahnya, aku rasa aku sedikit menyesal. Pengetahuanku mengenai hal itulah yang membawaku mengabaikan tugas merangkum tentang fungsi Partai Politik dan menulis hal ini. Mengabadikan satu lagi goresan yang kau torehkan padaku dengan mata terpejam.

Kukira, aku sudah tak punya, aku sudah tak punya kisah apapun lagi untuk kugundahkan. Kukira romansaku yang kuharap bisa tumbuh layak, berdaun lebat, serta berbunga itu telah mati sempurna, tapi ternyata tidak. Aku masih bisa melihatmu, mendengarmu, dan merasakan sakit terhadapmu, sekalipun bagiku yang sekarat ini meregang hidup mungkin akan jauh lebih baik adanya. Mirisnya, tangkal-tangkal haus ini masih bermimpi akan sebulir tetes air darimu, dan mereka terus meronta diluar kendaliku. Meski sudah berapa kalipun kuyakinkan jika hal ini, sia-sia sebagaimana adanya.

Aku tak mampu untuk singgah ke lain tempat, jangkarku sudah terlanjur tertanam pada dangkalanmu, dan akan butuh waktu sangat lama dan usaha ekstra bagiku. Dan ini sudah menginjak tahun yang keempat, hebat kan? Aku bisa bertahan disini dengan segala rasa sakit dan ketidak pastian ini selama hampir 4 tahun. Bahkan setelah semua kenyataan miris yang kutahu, aku masih tak bisa mengelak darimu.

Aku tak pernah berharap untuk akhirnya terjebak disini, tapi takdirlah yang membawaku kesini, menuntunku lalu meninggalkanku sendiri tanpa membuka penutup mataku. Membiarkanku terpejam sambil terus mengharap akan akhir yang bahagia, tanpa pernah menyadari jika angin yang berhembus pun sebenarnya hanya ingin menggerogoti tubuhku, membuatku akhirnya hanya secara sia-sia menghancurkan hati dan ragaku demi dirimu.

Hey, tapi.. takdir ternyata tak hanya kejam padaku, karena kau pun merasakannya bukan?  Jujur, aku agaknya prihatin. Bukan terhadap nasibmu padanya yang sama buruknya dengan nasibku terhadapmu, melainkan pada kenyataan diantara kita. Seperti apa yang kutuangkan dalam puisiku, nyatanya selama ini aku tak pernah melihat wajahmu bahkan, senyummu yang aku lihat hanya bayangan, proyeksi dari kegilaanku yang sudah terlalu, yang memantul pada siluetmu di tempat yang jauh sana, padahal sesungguhnya, yang kulihat hanya dan selalu hanya punggungmu.

Kau menggundah soal gadismu, terterka olehku, kau begitu mengharap soalnya. Sekedar kegilaan yang dapat kumengerti karena sempat hinggap padaku juga. Kau merangkai skenario di waktu mendatang untuk dapat kalian bintangi berdua, kkau.. yah, mencintainya. Ahh.. stop!

oke aku akan tetap melanjutkan ini.

Tapi adapun skenariomu itu tak tentu berjalan sesuai kehendakmu bukan? Masih ada Tuhan, sang penentu takdir yang akan setujui itu atau tidak. Dan nyatanya, semua manis yang kau bayangkan tak serta merta akan berasa manis juga. Keep strong lah!
Jadi, ada hal lain yang lebih penting yang ingin kukatakan dari sekedar mengucap 'keep strong' padamu, aku ingin menyimpulkannya, menyimpulkan segala macam ocehanku malam ini.

Takdir, ada kalanya bisa ditebak dengan prediksi-hanya bila beruntung tentunya-. Tapi itu hanya sebatas keberuntungan, toh nyatanya tak ada yang mampu menebaknya karena itu rahasia yang hanya dipegang Tuhan. Aku, atau mungkin kita semua bahkan, seringkali mengharap soal takdir, membicarakannya pada Tuhan, dan adakalanya benar-benar terjadi-itu namanya berdoa lalu dikabulkan-. Namun, tak melulu takdir yang terbaik adalah yang kita harapkan, ada kalanya ada yang lebih baik dan itu yang Tuhan berikan.

Sebagaimanapun baiknya, sesuatu yang tak sesuai dengan yang kita harapkan terkadang sedikit banyak mengecewakan. Dan aku merasakannya soal ini, meskipun aku tak sampai memaki takdirku sendiri. Jika kita berbicara soal lomba panahan, meleset setitik saja bisa kalah kan? Juga sama halnya dengan seorang sniper, sejitu apapun dia menembak, semematikan apapun peluru dari revlovernya, ia tetap akan salah jika tak tahu yang mana musuhnya. Dalam hubungan yang sukses, kita butuh dua pecahan yang berrelief sama, yang bisa disatukan tanpa menyisakan setitikpun cela. Dan soal kita, kita punya celah yang fatal.

Kau mungkin begitu mengaguminya, mengagungkannya, dan berharap padanya. Juga tak mudah menyerah soal menjaga perasaanmu terhadapnya meski ia tak meresponnya. Sedang aku, aku sempat menggilaimu, aku sempat hanya merotasikan 1/2 hidupku untuk berfikir tentangmu, aku buat banyak puisi untukmu, aku menabung kata-kata indah jika sekiranya suatu ketika aku punya kesempatan berbicara denganmu, dan aku.. aku menata skenarioku yang sangat kuharap bisa kumainkan denganmu suatu saat nanti. Dan yang terakhir, aku,

Aku telah dengan dungunya konsisten terhadap perasaan ini selama hampir 4 tahun..


Andai takdir yang kita punya tak memiliki cela. Aku dan kau, yaah.. apa lagi yang kurang dari kita. Mmaksudku, kita bisa saja, menggunakan waktu yang kita gunakan untuk menggundah ini untuk hal yang lebih berguna, tanpa harus sama sama tersakiti. Jika saja, yaa.. yang kulihat bukan punggungmu dan kau bukan melihat punggungnya, melainkan aku. Aku yang ini, yang kali ini dengan pengecutnya lagi-lagi hanya berdiri disini dan merintih pada dinding kamar di sisiku. Karena atas segala yang terjadi di masa lalu, bagaimanapun aku pernah meninggikanmu, mengagumimu, dan lebih dari sekedar menyukaimu, aku merasa bukan siapa-siapa. Hanya sekedar bocah tengil dari masa lampau yang terpelongo-pelongo tak mengenali dirimu yang sekarang. Yang akhirnya terpesona, terhipnotis oleh apa yang pernah kita lalui bersama, dan hilang kesadaran tentang begitu banyak hal yang ternyata,

Tak lagi sama..



dan menyisakan onggokan hatiku yang penuh luka


Ah, tapi aku tak menyesal. Ini lebih baik dibanding aku tak pernah merasakannya barang sekali. Meski sulit, meski untuk dapat menerima jika ternyata semua yang kuharap memang sudah terlanjur karam aku butuh meyakinkan diriku berkali-kali, meski ini sangat melenceng jauh dari yang kuharapkan, seharusnya aku tahu. Seharusnya aku sudah bisa menerima ini sejak awal. Bahwa apa yang kurasakan terhadapmu hanya sesuatu yang sunyi, yang bisu, yang tak berarti apa-apa bagimu, sesadis apapun kisah ini menyiksaku.

Aku hanya berharap Tuhan tak biarkan tubuhku melebur disini sehingga cepat akan mengangkatku dari sini. Setidaknya aku ingin merasakan kuncup-kuncup layu ini mekar sekali lagi, aku benar-benar merindukannya.


Entah itu padamu atau siapa..




Yuanita WP, 2012


No comments:

Post a Comment