Trending Topics

.

.
Showing posts with label My Thoughts. Show all posts
Showing posts with label My Thoughts. Show all posts

Wednesday, May 06, 2015

MYDAY


Tulisan ini mungkin akan jadi terlalu subjektif, tapi okelah, toh cuma opini.
Bulan Mei akhirnya tiba lagi. Bulan ini worth so much buat saya pribadi. Tapi di luar event-event pribadi, Mei juga menyimpan banyak event besar yang penting. Salah satunya buat saya sih Mayday, yang baru selang beberapa hari kemarin ini.

Tiap 1 Mei, dunia secara khusus memberikan hari peringatan untuk salah satu kelas sosial terbesar yang menyusun hirarki masyarakat dunia, untuk buruh. Sebetulnya buruh juga kelas baru. Dalam setiap sistem di setiap masa, memang selalu ada wong cilik. Tapi ketika sistem yang berlaku masih feodal misalnya, wong ciliknya tidak sama dengan buruh. Mereka lebih bekerja atas kerelaan, atau mungkin juga keterpaksaan, yang jelas mereka tunduk pada seorang penguasa dengan jalinan hubungan yang tidak seimbang. Seorang patron bertanggung jawab atas keamanan wilayahnya, tapi berhak menarik apapun dari penduduknya yang terikat dengannya. Hubungan mereka juga kerap dikaitkan dengan konsep spiritual yang jauh lebih tinggi, makrokosmos dan mikrokosmos, katanya. Buruh juga tidak sama dengan budak. Golongan ini muncul setelah perbudakan sudah tidak lagi menjadi trend. Budak mungkin juga dipekerjakan di perkebunan seorang tuan, tapi sistemnya adalah kepemilikan dan ia berkedudukan sebagai aset, sehingga si tuan bebas meminta budaknya untuk melakukan apapun. Lagi-lagi, dalam hubungan budak dan tuan, transaksi yang terjadi tidak seimbang.

Buruh muncul ketika industri membesar. Revolusi Industri abad 18 telah membuat tenaga kerja yang dibutuhkan demi meningkatkan produksi membengkak. Dalam keadaan yang seperti ini, menurut saya, kedudukan buruh memiliki posisi penting. Buruh merupakan salah satu faktor produksi. Ia sejajar dengan modal dan bahan baku, tapi ada yang membuat buruh tidak bisa lagi disamakan dengan budak atau diperbendakan. Orientasi pemikiran orang-orang kala itu sudah mulai menyadari kebebasan. Ide-ide yang menjadi bibit-bibit hak asasi manusia telah mulai banyak dipikirkan. Hanya butuh beberapa dekade bagi revolusi Prancis, sang dekrit penghormatan terhadap kesetaraan kedudukan manusia, untuk dikumandangkan. Bersamaan dengan itu, pentingnya kedudukan tenaga manusia untuk produksi menurut saya membuat hak-hak mereka tak lagi bisa diabaikan sebagaimana budak.

Buruh menerima upah atas apa yang dikerjakannya. Profesi ini menjangkit berbagai bidang, dari mulai mesin, pertukangan, perkebunan, manufaktur, dan lain sebagainya. Yang membedakan buruh dengan pengerajin atau petani adalah mereka merupakan komponen dari organisme ekonomi yang jauh lebih besar, lain dengan pengerajin atau petani yang bekerja secara independen. Karena merupakan komponen dari organisme ekonomi yang jauh lebih besar, buruh tak bergerak sebebas pengerajin ataupun petani, dan sekalipun yang dikerjakan adalah sama, ia juga harus terikat peraturan-peraturan serta diatur oleh birokrasi internal organisme ekonomi tadi. Oleh karena itu, pekerjaan buruh cenderung merupakan kegiatan yang lingkupnya tidak terlalu luas dan berulang-ulang. Maksud dari tidak terlalu luas disini adalah ia hanya menangani satu babakan produksi, seperti misal finishing, untuk produk massal, bukan seperti pengerajin yang menangani semua proses tapi produksinya eksklusif.

Itu kiranya yang saya pahami soal konsep buruh, tapi ada cerita yang lebih panjang lagi soal kasus buruh secara khusus. Saya lahir dan besar di Cikarang, yang dengan buruh sejak orde baru seolah sepasang yang ditakdirkan berbagi kasih selamanya. Dalam sejarah mayor soal pembukaan investasi swasta oleh pemerintah orde baru yang kemudian menghasilkan wilayah industri terbesar di Asia Tenggara ini, sejarah keluarga saya menginduk. Kota ini dan industrialisasinyalah yang mempertemukan orang tua saya.

Kalau ditanya atas dasar apa saya menulis ini, saya bisa bilang, dasarnya banyak. Orang tua saya, sepupu, bulik, om, bude, pakde, tetangga, orang tua teman-teman saya, sampai teman-teman saya sekarang semuanya buruh. Saya tumbuh dengan gaji kedua orang tua saya, dalam rumah hasil jerih payah mereka, bersenang-senang dalam tamasya perusahaan setiap tahunnya, dan disokong beasiswa perusahaan sejak SD. Pada dekade 90-an, banyak sekali perusahaan baru dibuka. Mereka membutuhkan sangat banyak tenaga kerja. Kualifikasi yang diprasyaratkan hampir cukup mudah, setidaknya tak sesulit sekarang. Atas daya tarik itu, dari kampung-kampung nun jauh di pelosok Indonesia, orang-orang berdatangan ke kota ini untuk menjemput peruntungannya masing-masing. Kebanyakan dari mereka berakhir sebagai buruh, dan menjadi komponen dari kehidupan kota ini hingga sekarang, 20 tahunan setelah itu.

Untuk soal nasib, mereka banyak mengalami perubahan. Dulu di masa-masa awal lowongan massal dibuka dan mereka dipekerjakan, apa yang mereka dapatkan tidak seperti sekarang. Ada kalanya buruh hanya dibayar harian, atau mingguan, yang berarti hari libur tidak masuk hitungan yang di upah. Padahal, apakah mereka tidak makan ketika libur? Tunjangan kesehatan atau tunjangan ini itu lainnya juga masih nihil. Dari cerita orang tua saya, ketika ibu saya masih bekerja dan saya yang masih bayi sakit-sakitan, tiap minggu mereka terima gaji, gaji itu hampir pasti harus disetor ke rumah sakit yang ada diseberangnya untuk membeli beberapa obat dan perawatan ini itu buat tubuh saya yang tak kenal kompromi waktu itu.

Buruh dari generasi berbeda juga mengalami masalah yang berbeda. Ketika yang dibutuhkan bukan lagi tenaga untuk mengisi kursi kosong, melainkan untuk menggantikan kursi yang ditinggalkan, lowongan yang ada tak sebesar masa-masa awal. Meski selalu ada pabrik yang buka entah itu betul-betul baru atau cabang baru, angkatan kerja yang melamar selalu membeludak. Akhirnya muncullah sistem yang dihalalkan oleh Megawati, Outsourcing, yang umumnya disebut buruh kontrak. Soal itu, kerabat saya banyak yang mengalami. Mereka melamar lewat sebuah yayasan, untuk masa kerja beberapa tahun, umumnya hanya satu atau dua, dan mirisnya disertai uang pangkal. Uang pangkal itu bukan hanya ongkos administrasi, tapi juga semacam uang skip antrian. Saya tidak tahu pastinya, tapi banyak cerita seperti itu yang saya dapatkan. Si yayasan selalu membuat skenario bahwa pendaftar penuh, harus antri sekian lama, dan jika mau cepat harus membayar sekian. Padahal gaji selama beberapa bulan nantinya juga akan dipotong sampai jumlah yang ditentukan sebagai upah jasa yayasan penyalur tadi. Waktu itu, sekitar 2003-2008 UMR belum setinggi sekarang. Dan bayangkanlah apa jadinya jika gaji mereka dipangkas sedemikian rupa.

Entah pastinya, tapi mulai sekitar 2005 kesini, keadaan buruh mulai membaik. Yang awalnya hanya jamsostek, kemudian ditambah askes, UMR naik, dan keluh kesah buruh semakin bebas disuarakan. Tapi keadaan ini tak terjadi merata bagi semua perusahaan. Buruh kontrak biasanya tak dilengkapi dengan berbagai tunjangan. Memang ada, diantara itu, perusahaan-perusahaan otomotif yang progresif hingga memiliki program mengirim karyawan untuk pencanggihan skill ke negara induk. Perusahaan otomotif biasanya juga merupakan yang kaya akan bonus selain perusahaan tambang, karena omzet mereka memang luar biasa. Diantara itu, ada perusahaan yang biasa-biasa saja, yang concern soal hak-hak buruh, tapi penuh dengan syarat.

Akhir-akhir ini, dari lingkungan proletar yang pahit manis, saya bergeser ke lingkungan lain. Begitu jadi mahasiswa, otomatis saya juga bertemu rekan-rekan sepekerjaan. Tapi entah karena apa, banyak dari mereka yang berkomentar miring soal buruh, dekat-dekat hari buruh ini maupun diluar momen tiap kali kami menyinggung persoalan buruh. Dosen saya dalam suatu kuliah juga pernah bersatir soal demo buruh yang menakut-nakuti investor. Teman saya pernah bilang, kalau mereka mau gaji tinggi, kenapa tidak berpendidikan tinggi. Yang lain bilang, demo kesejahteraan, tapi naik ninja. Dan masih banyak lainnya yang serupa. Demo buruh 1 Mei yang tadinya saya lihat sebagai aksi heroik memperjuangkan hak sesama, ternyata dilihat dengan sangat berbeda oleh orang lain.

Bapak saya pernah cerita, kalau buruh sekarang memang betul enak, baru masuk, tapi gajinya langsung seperti yang sudah 20 tahun. Lagipula rekruitmen buruh sekarang tak seasal dulu. Perusahaan tempat bapak saya kerja sekarang malah membidik lulusan dari beberapa SMK yang kualifikasinya sudah dipercaya. Tapi diantara itu, sekali lagi ini tidak merata. Masih banyak buruh hari ini yang merasakan rasanya jadi buruh 20 tahun lalu. Masih banyak yang terperangkap dalam jaring yayasan outsourcing yang parasit. Dari sana, buat saya pribadi tuntutan mereka masih punya alasan. Lagipula dalam sebuah organisasi, kesediaan mereka didorong oleh rasa solidaritas sesama yang lebih dari sekedar motif pribadi. Wajar kalau setiap 1 Mei, jalan-jalan yang dipakai demo masih sama penuhnya.

Lagipula bukan semua orang punya hak untuk mengemukakan pendapat? Bukankah mahasiswa juga sering turun ke jalan? Dengan pengelihatan yang tak seberapa dalam, apa pantas kalau kita membatasi apa yang seharusnya dimiliki buruh hanya dalam beberapa kata? Mungkin banyak buruh yang sudah bisa menyekolahkan tinggi anak-anaknya, membeli Ninja, atau bahkan mobil. Tapi lebih dari sekedar UMR yang diharapkan naik seiring dengan harga BBM, apa hak kita buat melarang golongan ini mendapat fasilitas yang lebih humanis seperti 2 hari libur, rekreasi, cuti hamil, atau tunjangan pendidikan? Lagipula selain sebagai wadah berbagi solidaritas, federasi buruh bisa dibilang mandul. Tetap ada oknum-oknum besar yang bermain diatasnya, ada orang-orang yang ditugaskan untuk mengontrol mereka, dan radikalisme tak akan dibiarkan berbunga-bunga. Undang-undang juga pada akhirnya menyerahkan diri di tangan masing-masing perusahaan. Ditengah lingkungan seperti ini modal di atas menggerakan mereka, bahkan lebih dari itu, mengontrol, orang-orang yang sekedar ‘komponen’ ini.

Buat saya pribadi, buruh hanya sebagian dari masyarakat, yang dengan perannya tersendiri turut membuat dunia berdinamika. Yang masih menjadi ganjalan, kenapa orang-orang beranggapan mereka harus mendapatkan sesuatu yang berbeda dari buruh, kenapa mereka membatasi apa yang seharusnya didapatkan buruh meski tanpa kewenangan untuk itu. Kalau buruh memperjuangkan kenaikan UMR demi kesejahteraan, demi kehidupan generasi penerus mereka yang lebih baik, apakah itu salah? Apakah pendidikan tinggi hanya untuk anak-anak guru? Atau justru pendidikan yang membuat orang-orang menjadi angkuh?

Apapun pekerjaannya, bukankah semuanya harus dimulai dari titik rendah? Bukankah penghargaan akan datang bersamaan dengan semakin kayanya pengalaman?

Meski sama-sama masyarakat minor, buruh sepertinya belum dihormati sebagaimana petani. Kita tak diajarkan untuk berterimakasih pada buruh sebagaimana anak-anak TK berterimakasih pada petani setiap mau makan. Apa karena buruh di sini Cuma sekedar pesuruh, bukan agen transfer teknologi sebagaimana yang semestinya? Tapi siapakah yang sebetulnya membuat kita menjadi bangsa penjual mentah yang konsumeris? Siapa yang mengundang investor asing yang pelit ilmu dan kemana perginya investor lokal yang progresif? Apakah semuanya salah buruh?

Apakah memang demikian berat untuk mengizinkan buruh mendapatkan posisinya sebagaimana mestinya? Haruskah pegawai negeri bergaji lebih tinggi atas dasar pendidikannya, ketika buruh harus diaduk-aduk pola hidupnya oleh pekerjaan 3 shift yang tidak ringan? Kalau sekarang Cikarang makin tidak terkontrol, itulah hasil pola hidup yang selama ini dikatakan sudah cukup untuk buruh. Betapapun Jogja mulai ditumbuhi hotel-hotel, ia selalu diperhatikan baik oleh organisasi mahasiswa, masyarakat, seniman, dan lainnya. Cikarang tidak punya semua itu. Jalanan rusak semakin rusak, perpustakaan dan taman kota tak tersentuh, janji pemerintah hanya akan jadi janji, buruh terlalu sibuk untuk menagihnya. Lembur demi mengejar cicilan ini itu dan menyekolahkan anak-anak jauh lebih penting dibanding mengurusi pemerintah dan preman-premannya.

Saya bermimpi suatu hari 1 Mei bukan lagi ajang turun ke jalan buat buruh. 1 Mei mungkin bisa jadi hari festival besar-besaran buat sebuah masyarakat industri. 1 Mei mungkin bisa digunakan perusahaan-perusahaan untuk ‘memanusiakan’ pekerjanya. 1 Mei mungkin bisa jadi hari yang tak hanya dirayakan buruh, tapi juga semua orang atas jasa buruh dalam lini-lini lekat yang jarang mereka sadari.


Sunday, March 15, 2015

Sepele



Hati-hati guys, saya bukan seorang ahli bahasa. Oleh karena itu, yang akan saya tulis tentang sepele sebagai sebuah kata kali ini bukanlah sajian yang cukup memuaskan jika anda berekspektasi soal itu. Tapi sebagai seorang manusia yang memiliki alam pikir dan senantiasa dituntut untuk menggunakannya, saya punya pendapat. Jadilah saya berpikir, maka saya ada, dan saya menulis untuk mempertahankan eksistensi dan pikiran saya. Kedepannya membuat film? Mana tahu, tapi ya boleh lah.

Saya baru mendapat ilham hari ini soal sepele. Bukan ilham sepele, tapi memang ia bersangkut paut dengan kesepelean. Sekarang remeh meremehkan adalah kebiasaan, atau justru kecenderungan yang amat lekat dengan kita semua. Saya pun cukup sulit untuk melepaskan diri dari kebiasaan yang korosif terhadap nurani ini. Oleh karenanya, banyak sekali yang di cap sepele dengan mudah, dikesampingkan, lagi dan lagi, hingga ketika sadar, sebentang jalan di depan putus sudah karena semua pindah ke samping dan kita harus meniti orientasi dari nol lagi. 

Saya pikir, sepele adalah anggapan. Kita manusia, tak sempurna, tapi ideal dengan plus minus, baik soal ekspektasi terhadap hal diluar, maupun pedalaman sendiri.Itulah sebabnya saya tak ingin mengatakan bahwa tulisan ini mengajarkan untuk tidak berpikir sepele soal apapun. Bagaimanapun manusia memiliki kecenderungan untuk itu. Dengan banyaknya tuntutan dan sempitnya waktu, kita seringkali secara sadar maupun tidak menyusun skala prioritas. Meskipun terlalu vulgar jika dikatakan sepele, menempatkan sesuatu sebagai prioritas kan berarti mengentengkan yang lain, bukan begitu? Hal tersebut akan menjadi sepele ketika dipandang enteng dengan berlebih.

Bagi saya, dalam kata sepele ada motivasi. Karena mengentengkan, itu berarti hal sepele adalah hal yang patutnya mudah bagi kita. Dari sana perasaan merasa tak pantas seharusnya muncul ketika kita memfonis demikian tanpa mencobanya terlebih dahulu. Dari sepele, ia berubah jadi sombong.

Saya sering kali berurusan dengan hal yang orang bilang sepele karena menganggapnya anti umum dan keren. Sekaligus juga difonis ibu saya mengidap penyakit gemar menyepelekan akut, turunan langsung dari ayah saya. Dan hal ini benar adanya, terbukti 120% ketika saya hidup terpisah sekarang. Menyepelekan sesuatu yang ketika di rumah urusannya hanya sampai omelan ibu saya lalu selesai, saat ini saya sadari menghambat saya maju dalam banyak hal yang sedianya bisa diusahakan.

Saya menyepelekan kerapihan ruangan diluar zona nyaman saya, dan ini adalah kebiasaan sejak zaman dahulu kala yang tiap hari diperjuangkan ibu saya untuk berubah. Sekarang saya sadar itu merupakan refleksi saya terhadap lingkungan sekitar. Awalnya mana sangka? Ketika saya tidur saya menggaransi tempat tidur saya harus dalam keadaan rapi, tanpa debu, dan nyaman, tapi membiarkan buku buku berserakan disekitarnya, setrikaan menumpuk tak tersentuh, dan zona lain samasekali tak sedap dipandang mata. Di lingkungan sosial saya juga ternyata serupa. Menjaga teman baik dengan posesivitas cukup tinggi. Jika tidak terlalu cocok dengan saya lebih baik saya sendiri. Tapi membiarkan orang yang rumahnya saya lewati setiap hari tanpa tegur sapa (meskipun awalnya karena saya punya pengalaman buruk soal ini, ketika mencoba menegur tapi tak direspon) berpikir lebih buruk tentang saya lebih dari yang sedianya. Berdiam diri mengesampingkan suatu kelompok pengembangan sampai akhirnya mereka telah berlari jauh sekali mendahului saya. Dan banyak hal lainnya. Hingga saya selalu saja berada dalam lingkaran yang kecil.
Setelah ini, membereskan kamar keseluruhan mungkin cukup mudah, tapi tak demikian dengan lingkungan sosial. Langkah pasti saya Cuma satu: meminimalisir penyepelean. Saya harap Tuhan dengan segala maha kebaikannya berkenan lagi untuk menjadikan saya individu yang lebih baik dengan ini. 

Dalam lingkup dunia intelektual yang luar biasa luas, suatu hal difonis sepele mungkin akibat pandangan umum. Tapi lihatlah posmo dan tema-tema unik dalam aliran ini. Semua hal yang sepele, terlihat kecil, tipis, kurus, lunglai, dan mudah koyak ternyata menyimpan faedah besar, informasi tingkat tinggi dan refleksi yang membuka cakrawala baru. Sesuatu tak hanya bisa dilihat dari satu sisi, dan semua hal sepele punya banyak sisi sebagaimana yang tidak.

Tadi saya menonton Begin Japanologi, semacam acara dokumenter etnohistori seputar fragmen-fragmen di masyarakat Jepang. Bahasan mereka apakah politik, pengaruh budaya pemerintahan edo terhadap gaya memerintah eksekutif negara saat ini, kelestarian kesenian adiluhung, isu gender, atau tema berat lainnya? Bukan, tema mereka sangat simpel. Mereka membahas ramen, onsen, mochi, rumput laut, makanan cepat saji lokal, dan bahkan rice cooker! Terlepas dari kampanye budaya Jepang yang memang sangat posmo, sudut pandang acara ini cukup menarik untuk bisa membuat kita di Indonesia berefleksi. Tidakkah para sarjana akan lebih suka bekerja untuk kajian-kajian ringan tapi berkualitas seperti ini daripada beramah tamah di bank atau duduk di kantoran dengan rutinitas minim improvisasi? Terlebih untuk konsep ini, lahan Indonesia masih sangat virgin. Lihatlah ketika duo trans mempelopori acara-acara wisata dan dampaknya hingga hari ini. Para backpacker, traveller, mountainer, dan petualang baru lahir. Bukankah acara dokumenter etnohistori bisa menjadi katalisator bagi dunia ilmiah kita?

Karena rakyat adalah fonis pertanggung jawaban sebuah kerja intelektual, memperkenalkan produk kerja akademik yang meski ringan, berdampak luas dan memiliki kontinuitas saya kira lebih besar artinya daripada kajian rumit cemerlang yang meraih penghargaan intenasional tapi teronggok menjadi wacana tanpa eksekusi.
Jadi buat semuanya, juga saya sendiri, ketika kita bingung soal ide, tema, dan gagasan suatu kerja ilmiah, mari buka mata dan tinggalkan dulu kebiasaan menyepelekan. Kualitas itu ada di pemahaman terhadap teori dan kemampuan aplikasi, yang semuanya ada di dalam proses dan bisa dilatih.

MARI MENCOBA
13-3-2015

MENULIS




Konon, sebagaimana yang dikatakan semua mahasiswa sepuh di jurusanku, Pram, sang kiri, sang Indonesia tunggal yang berkali-kali dikandidatkan jadi peraih nobel sastra itu, dalam suatu situasi yang entah bagaimana, dalam sadar atau mabuknya, pernah berkata yang kira kira maknanya, seorang akan hilang jika tidak menulis. Beberapa bulan terakhir, di sisa lowong satu buku batas maksimal kuota pinjam di perpus fakultas, kerap kali kuisikan novel Pram. Dan benar, dirinya, dalam sosok seorang aneh bernama Minke, dengan pergaulan dan segala diskusinya dengan teman-teman dan guru-guru kehidupannya: Nyai Ontorosoh, Komer, Jean Marais, dan dirinya sendiri, menyajikan epik yang sesekali berkesimpulan bahwa seseorang akan bisa bersisa di tengah arus perputaran zaman hanya dengan menulis. 

Semacam sebuah pembaruan besar, karena sebelumnya, Descartes mengatakan hanya perlu berpikir untuk ada. Dengan campur tangan zaman, kemajuan ini itu dan perubahan segala macam, berabad setelahnya, Pram bilang harus menulis. Barangkali berabad lagi harus membuat film. 

Maka dari itu, sebelum semakin rumit prasyarat sekedar pelepasan ganjalan batin ini, aku ingin mencukupkan diri malam ini dengan menulis. Semasa penuh tekanan di SMA, menulis adalah obat hati. Sederhananya, mungkin sekedar dalam bentuk yang orang bilang diary. Tak tahulah apa kata itu berhubungan lebih dekat dengan kegiatan harian atau susu-persusuan. Yang jelas begitulah yang kukenal selama ini. Tapi tulisan harian yang secara tulus berusaha meringankan beban hati, mendokumentasikan juga menggali tanya dan gundah tak terjawab, merekam situasi-situasi lokal yang sejaman akan sangat berharga, jauh daripada sekedar curahan hati yang biasa dibayangkan tertulis dalam sebuah diary. Dulunya kupikir ini bentuk baru. Akulah sang revolusioner dalam diary-mendiary. Tapi tulisan Minke, Max Tollenaar,  yang dia kirim ke kantor Nijman, yang bercerita baik soal Nyai, Robert, maupun Truno, tak lain juga pengamatan dan refleksinya terhadap kejadian di kesehariannya kan?

Sekarang, ketika otak dan segala perangkat alat gerak ini bisa fokus difungsikan hanya untuk membaca, berpikir, dan menulis, luput perhatianku pada obat hati yang selalu setia itu. Jika dalam tekanan sedemikian rupa untuk mengerjakan tugas ini itu yang tak kumengerti dan kukehendaki samasekali waktu itu aku bisa selalu sempat untuk menumpahkan kegelisahan dalam tulisan, mengapa tidak untuk masa-masa indah ini? Barangkali segala yang berubah membuat struktur dalam kehidupan, berkenaan soal kesenangan dan penghiburan juga berubah. Ini yang aku takutkan selalu dari sesuatu yang berubah. Aku harus mengerti dan menaklukannya lagi. 

Pandanganku sekilas menyapu koleksi buku-buku yang kupuja semasa SMA. Ketika oasis begitu kering soal baca-membaca yang topiknya kusukai. Tapi buku-buku itu kini berjajar di rak tanpa menjadi lebih istimewa dari yang lain. Tak ada buku penuh angka kecuali statistik dalam pemaparan sejarah ekonomi. Semua bukuku hampir soshum. Ladang subur, mahligai perak, istana yang kuimpi dalam perjuangan di ambang batas kesanggupan kala itu. Mengapa saat ini mereka perlu terstratifikasi?

Ada yang menyenangkan serupa novel, ketika aku sedang suka. Tapi kadang kala novel pun punya tuturan-tuturan membosankan yang menggelayuti kelopak mata dengan bidadari. Buku berat berada jauh di ujung, pada sudut yang hampir tak tersentuh. Berupa pemanis dan buah dari ambisi lapar mata di tanggal muda, dengan harapan, tanpa jajan, di tanggal tua aku bisa bahagia dan cukup dengan makan buku itu. Aku beruntung, Cuma dikehendaki membaca, berpikir dan menulis, tapi ternyata dalam dunia yang sebegini damai, hobiku itu juga terpilah-pilah. Paling, lebih dan biasa, meski masih soal suka.

Kuharap aku makin pandai meluangkan waktu, lagi pandai pula mengatur uang. Dua kemampuan manajerial yang belum lagi kumiliki detik ini. Dengan sedikit kegiatan saja, tubuh ini rasanya begitu lelah sampai bergerak pada pola-pola yang tak seperti selama ini kumengerti. Aku kira seperti selama ini, aku belum pernah bisa memecah konsentrasi. Tapi kuharap kedepannya semakin bisa. Aku punya banyak ingin yang membutuhkannya. 

Kuharap bisa menulis lebih banyak lagi, meski hanya diary, hanya refleksi atas kehidupan sehari-hari. Aku butuh menyelami pedalaman diriku sendiri.


10 Maret 2015

Sunday, January 04, 2015

2015: Resolusi vs Kontemplasi

2015: Resolusi VS Kontemplasi

Di hari-hari pertama 2015 ini saya sering ditanya, gak sama meme, gak sama manusia: Resolusi yang belum tercapai di 2014 apa? Terus saya jawab: Gak ada.

Mungkin terdengar sedikit sombong. Seolah manusia ini selalu mampu menjemput apa yang sudah ditargetkannya. Tapi lain dari sana, maksud saya sebenarnya terletak di sisi yang 180 derajat berbeda darinya. Saya hampir tak pernah beresolusi, atau paling tidak sudah meninggalkan kebiasaan ini sangat lama.

Dari dulu, pikiran saya seolah disetting untuk tak terbiasa melihat kedepan. Pernah suatu ketika di hari-hari chuunibyou saya, saya meniru-niru kebiasaan hatsumoude akibat kebanyakan lihat manga shojo produk majalah komik dan baca Kira-kira. Waktu itu, sekitar SMP awal, seolah keren, melihat matahari terbit dan mengharap sesuatu pada bergantinya waktu. Sebenarnya bukan harapan yang tinggi akan keajaiban, lebih kepada merasa telah menjadi suatu bagian dari literatur-literatur mellow yang telah saya baca tadi. Haha

Makin tua, orang biasanya makin realistis, dan begitupun saya. Tapi mengingat bagaimana saya pernah berada dalam chuunibyou, pernah berada dalam masa yang amat mengagung-agungkan mimpi dan harapan (sebagaimana anime-anime shojo yang saya tonton) bahkan ketika teman-teman sebaya saya kebanyakan pun belum mengalaminya, kini saya melompat jauh menjadi seorang tua yang penggerutu, bukan lagi remaja yang matanya berlinang-linang saking antusiasnya terhadap mimpi dan harapan.

Sebenarnya, punya mimpi, atau apa itu namanya, karena sekarang definisinya seperti sudah berubah di mata saya, bukan hal yang salah. Di dunia ini ada berbagai jenis orang. Ada yang hidup dalam angan-angan tanpa pernah menapak ke tanah (sebagaimana yang saya pernah lakukan dulu), ada yang hidup dengan visi dan misi yang memetakan jalan hidupnya seolah dirinya seorang rennaisans sejati yang percaya bahwa manusia bisa membaca dunia dan tak ada yang namanya keruntuhan kepercayaan ini di era pemikiran abad 19-20, dan ada juga yang tak melakukan keduanya, seperti saya sekarang.

Persisnya, pemikiran semacam ini mungkin merasuki saya ketika SMA. Waktu pertama masuk, alam pikiran saya masih dikuasai oleh khayal-khayal luar biasa: lanjut menulis novel, punya ekskul yang keren, buat blog dan punya fans (?), bahkan mengenal seseorang yang mungkin akan merubah hidup saya dan membawa keindahan yang lebih dan lebih kedalamnya. Ah, shojo sekali! Tapi apa yang terjadi? Saya menjadi keren tanpa melakukan hal yang ada dalam bayangan saya sebelumnya, yang saya kira merupakan satu-satunya jalan untuk menjadi diri yang keren sebagaimana yang saya selalu bayangkan sebelum memulai kehidupan yang baru itu. Ibarat kata mimpi jadi Aurora, saya malah jadi Jean de Arc. Saya tak bertemu siapapun yang membuat hidup saya lebih indah (dalam konteks yang saya tuju), pangeran berkuda putih atau apa, melainkan berada di kelas yang seluruhnya perempuan, dan bersebelahan dengan kelas penyamun, gudang lelaki yang di jam istirahat, jam kosong, maupun setelah bel pulang sekolah sama saja: jadi warnet dadakan. Ohman -_-

Menjelang tahun kedua saya malah masuk IPA, dan disini saya jadi Jean de Arc. Kehidupan chuunibyo alay ala Aurora mengapung jauh di angkasa. Tiap hari saya bertarung dengan PR sains yang kian menggila, 2 bulan sekali bertaruh nyawa di medan UTS, dan 4 bulan sekali menerima eksekusi di padang UAS. Di masa-masa sulit ini, ketika di waktu luang pun saya tak lagi ingat main, melainkan justru menikmati membaca bacaan-bacaan yang tak saya dapatkan di kelas IPA, saya lupa pada cita-cita gemerlapan. Seketika dalam pikiran saya, dunia tak terkonsep untuk bergerak dengan cara kerja seperti itu. Apa iya, hanya dengan bercita-cita, bermimpi indah dan tertidur untuk seribu tahun, seorang pangeran berkuda putih akan benar-benar menyelamatkanmu dengan bertaruh nyawa dalam segala lapis bahaya? MENGHADANG BAHAYA UNTUK MENYELAMATKANMU SEMENTARA KAU TIDUR DENGAN NYENYAKNYA?! Dongeng, man. Kita tidak hidup dalam dongeng.

Demikian pun jadinya jika kita bermimpi sekolah sampai ke luar negeri kalau setiap hari kerjanya hanya merangkai khayalan.

Effort, Struggle, atau entah apa, tapi poin semacam itu hilang dari konsep diatas. Oleh karenanya saya memulai untuk berdiri dengan konsep baru.

Sebenarnya ini bukan konsep yang saya persiapkan, melainkan tumbuh seiring dengan waktu dan pengalaman. Ketika sekarang, tugas-tugas saya semuanya menyenangkan: membaca, membuat review, menyatakan pendapat, merangkai kisah, bercerita, mendengarkan cerita dosen yang luar biasa, membuka cakrawala-demi cakrawala yang saya tak tahu dan selalu antusias terhadapnya, pun membutuhkan tak sedikit energi dan masih membuat saya lelah, betapa hebatnya kekuatan di masa lalu itu. Kekuatan ketika saya lelah atas segala macam hantaman atas ketidak mampuan, tapi saya betul-betul menganggap hal-hal sebagaimana yang saya lakukan sekarang seratus persen mata air surgawi: ringan, menyenangkan, menyegarkan, membebaskan diri dari segala beban, dan tentu tanpa energi samasekali.

Ketika berada dalam waktu yang sulit, impian Aurora seolah sangat mahal dan tak tersentuh oleh tangan hina yang direndung kemalangan ini. Setitikpun saya tak berani untuk bermimpi memenangkan diri atas kemalangan ini dan seketika berada diatas. Semua orang berusaha, bahkan mereka yang tak malang pun berusaha, apalah arti harapan semacam itu bagi orang seperti saya. Akhirnya saya mengambil jalan tengah. Apapun akan saya lakukan untuk bisa lepas dari sini, mengakhiri kemalangan ini, dan apapun yang terjadi setelahnya, itu urusan nanti, yang penting saya lepas dulu dari sini. Dan benar, tujuan itu yang mengantarkan saya pada diri saya yang sekarang.
See, bukan lagi angan-angan tapi target, dan lain impian jangka panjang, ini jangkanya sangat pendek.

Pandangan yang menyelamatkan saya ini yang saya lakukan sampai sekarang.

Kalau angan-angan menyenangkan hati tanpa arti dan kalau resolusi demikian menuntut diri, tujuan terserah pada kita. Sebenarnya agar tak terlalu terlihat bertekanan, saya akan menjelaskan definisinya. Tujuan ini lebih kepada melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan untuk saat ini, memilih setiap pilihan hidup dengan tenang, dan konsekuen. Karena kemudian saya percaya kalau dalam hidup ini segalanya seimbang. Kemalangan dan keberuntungan adalah sisi kanan dan kiri dari sama dengan. Ketika masuk IPA buat saya adalah kemalangan, saya justru memiliki kemampuan untuk menikmati membaca sedemikian hebat, dan memiliki etos sedemikian tinggi untuk bangkit dan segera beranjak dari tempat itu. Jujur, sampai saat ini, ketika apa yang saya lakukan telah lebih menyenangkan, saya belum pernah mencapai titik sehebat itu lagi. Kalau kita menyesali apa yang kita dapati hari ini, ketika kita di hari yang lalu memilih pilihan yang lain dari ini dan tak akan sampai pada keadaan yang seperti ini pun, siapa yang jamin kalau itu akan lebih indah. Mungkin point terakhirnya adalah, ya, tentu: bersyukur.

Bahkan saya bersyukur saya pernah masuk IPA, karena jika tidak, bukan mungkin saya akan berada di tempat ini, hari ini. Dan hari-hari menyenangkan yang saya alami kemudian membuat saya semakin menyadarinya.

Jadi bagi orang yang lebih suka hidup dalam aturannya sendiri ini, daripada beresolusi, akan jauh lebih menyenangkan berkontemplasi.

Resolusi bagi banyak orang juga artinya baik sih. Menuntut diri kan juga berarti membawa diri untuk cepat-cepat melangkah pada kemajuan. Tapi yang saya tidak begitu suka, di dalamnya sering kali ada kata target. Well, kata-kata ini sangat penuh tekanan dan tuntutan meskipun pengertiannya lagi-lagi kembali kepada individu masing-masing.

Buat apa menuntut diri sendiri ketika orang lain telah ada untuk menuntut banyak dari kita?Berikanlah diri ini ruang untuk sedikit bebas berkembang, bagaimanapun yang ia inginkan. Yang terpenting adalah berusaha dengan baik dan bakal menjadi sebuah kejutan ketika kita melihat kebelakang, ada sebuah jarak besar yang telah kita buat dengan ini, tanpa tuntutan, tanpa tekanan!


Tahun lalu, saya juga menulis hal serupa, Cuma ringkasan akhir tahun dan doa untuk tahun kedepannya, tanpa menyebutkan suatu resolusi yang spesifik, tapi hari ini, bagaimanapun saya tetap beranjak dari diri saya yang tahun lalu.

Tahun ini, dari tahun kedua saya naik ke tahun ketiga, dan lantas, punya ade angkatan. Bukan sesuatu yang terlalu luar biasa sih, tapi ya, siwaramudya yang membuka awal semester ini, yang telah masak-masak kami rangkai sejak awal semester sebelumnya, jadi catatan luar biasa di tahun ini. Kalo buat anak sejarah, ini momen penting lah. Angkatan jadi satunya ya disini. Setelah momen ini, bakal terbentuk sebuah kesatuan dan tereliminasi beberapa yang tak sejalan. Selain itu, momen ini juga membawa dua bendera besar yang masing-masing bertuliskan tanggung jawab dan menjadi dewasa. Dua kata yang berjuta-juta kali diucapkan orang, berkali-kali pula diucapkan oleh kakak angkatan yang kami mintai saran. Lucunya, disini nggak semua yang kita kira nggak ada artinya itu nggak ada artinya, dan yang kita kira berarti itu betul betul berarti.

Di tahun ini, saya juga resmi telah menembus 4 penjuru jogja sebagai pembonceng. Mulai dari bolak-balik survey Kaliurang di awal tahun, ngebolang motoran ke Gunung Kidul semester lalu, ke Magelang, dan ke Pantai Depok semester ini. Hebat banget ya, dan poin terhebatnya adalah sebagai pembonceng. Sabar banget yang pada pernah saya bonceng haha. Lagian, salahin Jogja yang angkutan umumnya gak pro-rakyat, yang bukan habitat sempurna bagi angkot-mania seperti saya.

Ini juga tahun tanpa kelas sang profesor. Omaigad, awalnya kuliah begitu hampa sampai-sampai kuliah umumnya diserbu massa. Tapi ya, nanti juga ketemu lagi, lagipula sebagai DPA yang membawahi saya, kami punya jadwal wajib menghadap beliau tiap semesternya. Haha~ Tapi tahun ini saya pernah berbicara langsung (Baca: sedikit lewat mas Uji) sama Prof. Adrian Vickers saudara saudara~ Eouh, bangga banget gitu doang juga -_- // Biarin. Secara, Adrian Vickers, dan dia pernah presentasi dengan tema yang sama di Oxford, terus ketika itu di UGM, di ruang multimedia yang biasanya kami pake kuliah. Saya nanya, terus dijawab, dengan sangat keren, sekeren presentasinya tentang sejarah komoditi kerang mutiara di Indonesia Timur waktu itu yang 100% pake bahasa Indonesia. Aih~ *blush* #dor
Bahagianya, tahun ini juga saya ada beberapa kemajuan soal bahasa. Meski kelas bahasa Inggris justru ada di semester satu, itu bukan apa apa kalo yang dipelajari masih sama kaya yang di kursus-kursus sejak jaman dahulu kala: conversation, grammar, dan kawan-kawan. Tapi semester genap dibuka dengan BAHASA INGGRIS TERAPAN. Ulala, berasa sejarah IUP. Waktu itu kami baru lulus semester satu dengan raihan berupa buku Ricklefs yang bahkan belum sampai tamat dibaca. Banyak diantara kami yang masih kaget sama tuntutan membaca dan baru hanya menamatkan Pengantar Ilmu Sejarah-nya pak Kunto. Tapi di mata kuliah ini kami disuruh baca jurnal-jurnal yang full english. Omaigaad, baca bahasa Indonesia aja masih mikir bolak balik.

Meski dipenuhi tuntutan tugas yang setiap minggu pasti ada dan kuliah yang tanpa subtittle, akhirnya, kami berhasil juga, dan sedikit-sedikit mulai terbiasa sama bahasa yang katanya internasional ini. Gak Cuma bahasa inggris terapan, matkul historiografi pun mewarisi sebundel materi yang harus kami baca dan isinya dari mulai bahasa indonesia konvensional, ejaan 60-an, ejaan 40-an, sampai bahasa inggris juga saudara saudara. Pokoknya mabok deh. Tapi kalo nggak ada semester dua, mungkin membaca belom lagi jadi senikmat sekarang hari ini. Tresno jalaran seko kulino. Bisa karena biasa. Meski awalnya menyiksa, akhir-akhirnya manis juga. #halah

Di semester tiga hadir BAHASA BELANDA TIGA. Meneer vakum ngajar, jadi diganti dosen lain, tiga, yang gaya ngajarnya luar biasa, luar biasa nggak nyante. Awalnya mabok. Yang biasanya cuma ngartiin yang kalo nggak bisa dibantu, ini jadi menebak struktur kalimat, vokus ke gramatika, dan lain sebagainya. Kamus saya yang males dibuka pas semester satu dua, ini langsung jadi keriting. Baik tugas maupun dikelas, semuanya jadi kesempatan mikir keras. Baca dan ngartiin digilir dengan disiplin, dan kalo nggak bisa berakhir dengan panas dingin. Tapi berkahnya, baru di semester ini saya yah, ngerti rengrengannya bahasa belanda lah. Paling nggak, semester ini saya samasekali nggak pernah ngerjain tugas maupun ulangan pake google translate *yeay*. Meski dalam beberapa kesempatan, makin tua teks, makin jumpalitan juga pikiran saya, tapi ya, jujur jujur jujuur banget, baru kali ini saya ngerti bahasa belanda.

Dan sumpah, matkul semester ini tuh hampir semuanya exiting. Yang awalnya nyante, akhirnya bikin senewen semua. Bayangkan, PPS, saudara-saudara. Sebelum UTS kerjaan kita Cuma jalan-jalan, Arsip Pakualaman, Arsip Kraton, Arsip Daerah. Motoran bareng sama dosennya juga, coba liat-liat arsip, dan dikasih tau kalo mau ngakses caranya gimana, dan setelah UTS, kita jalan-jalan lagi, tapi SENDIRI. Seminggu setelah UTS, kita bawa tema plus judul ke hadapan dosen pengampu matkul dan teman-teman. Ketika itu saya bawa judul apa? Yap, mi instan, dan mau dibawa kemana? Mau dibuat ngeliat rekonsiliasi Indonesia Jepang gara-gara pabrikan mi instan awal-awal semuanya hasil patungan sama perusahaan Jepang. Tapi saya masih bloon. Sejak kapan politik luar negeri Indonesia Bebas Aktif? Sejak kapan Indonesia masuk PBB, keluar, dan bahkan masuk lagi? Apakah dengan itu, ajang maaf-maafan Indonesia dengan Jepang baru terjadi ketika muncul pabrik mi instan? Bagaimana dengan tol? Omaigad, saya terlalu berpikiran pendek.

Alhasil, setelah konsul dan konsul, saya dapet pencerahan. Mi instan bukan bukti rekonsiliasi, tapi sebuah budaya konsumsi baru yang meroket dalam waktu kurang dari dua dasawarsa, merangsek nasi langsung di urutan kedua. Masalah inilah yang jadi sumber dari segala sumber masalah bagi PPS saya. Nyari iklan di koran Jogja Library Center malioboro ketika ongkos trans dan kopata sama sama 4000 jauh dekat *hiks* dan jajanan malioboro mahal-mahal. Nyari statistik di BPS yang perjalanannya dari kampus memakan waktu satu jam motoran, ga ada angkutan umum, dan saya gak tau akan jadi apa kalo nggak punya barengan. Nyari statistik di perpus pusat dalam kondisi meriang, dan nulis pula dalam kondisi meriang. Untung nyokap bokap sekeluarga nengokin ditengah-tengah keadaan genting. Saya dikerokin, diberobatin lagi, sembuh, dan kembali bisa menulis. Dan hasilnya 40an halaman, masterpiece tulisan sejarah bermetode (meskipun seancur-ancurnya metode sejarah) pertama saya lahir 1 Januari kemarin. Terharu luar biasa men! Ini pencapaian terbesar tahun ini.

Tahun yang jadi tahun politik ini juga membawa saya mengenal dunia baru bernama politik. Baru minor banget sih, ranah HMJ coy. Tapi yang namanya politik, tetap kejam. Ada sebuah cerita besar dibalik musyawarah besar tahun ini, dan itu cukup mengejutkan buat saya yang belom pernah berkecimpung di politik mana-mana, termasuk politik osis jaman sekolah ini. Tapi untunglah semua beres, dan kami masih menjadi kami yang sediakala.

Di kosan, gak ada banyak perubahan selain poster-poster yang mulai ngelotok bersamaan dengan cat yang mengelupas. Saya gak pindah kos, masih disini. Sebenernya mau aja kalo keadaan memungkinkan. Tapi mengingat ekonomismenya, dan kebutuhan untuk beradaptasi kembali di lingkungan yang baru, saya memilih untuk bertahan.  Meski sudah cukup betah di kos, dan sekarang salah seorang besties saya, si Dancho-nya TJ menetap di kota yang sama dan sering main kesini. Entah kenapa, selain kehidupan di kampus, ini masih mimpi, dan saya baru bangun ketika pulang lagi ke Cikarang.

Yah, namanya juga rumah men, 15 tahun lebih saya disana~

Akhir kata, saya bahagia tahun 2014 ini telah membawa banyak hal bagi saya. Kenikmatan membaca, matkul abad 16 dan 17-18 yang luar biasa exiting, sedikit-sedikit mulai mengerti Belanda, masterpiece PPS apapun nanti nilainya, kesempatan exploring banyak sudut Jogja dari sama bocah kelas sampe sama nyokap bokap adek kemaren, dan masih banyak lagi.

Semoga tahun 2015 bisa menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dari sebelumnya.

Oya, Indonesia juga jangan mau kalah di free trade ASEAN yaaa~ XD