Trending Topics

.

.

Saturday, April 21, 2012

Sang Pendiri Singgasana



 Buaian angin di negeri nan asri
Menyembunyi kisah kelam disana sini

Dan salah satunya berlakonkan kami

Berlatarkan suatu waktu sebelum saat ini


Kala itu kelam meraja, kelabu menguasa

Tak ada setitikpun bias cahaya

Bagi kami yang terpatri mutlak dalam sangkar emas sarat ironi

Bagi kami yang tak punya daya mereguk manisnya mimpi


Bagai tetangkalan kembang di pekarangan

Kami tumbuh, mekar, lalu menyerbakkan wangi

Namun suatu ketika, dalam waktu dekat yang pasti

Raga-raga kami hanya akan ditukas
Dirangkai, dibeli, lalu dibiarkan layu dan mati
Hingga habis sudah kisah kami
Tanpa tilas yang dapat ditelusuri


Namun datangnya dirimu mengubah gores semu takdir kami

Meluruskan lengkung-lengkung tak beruntung di telapak tangan kami

Mengeluarkan kami dari kekabutan asap dapur pagi hari

Membawa kami mengenal arti lebih dalam diri kami


Kau bukan turunan surgawi

Tapi jelas kau bawa pergi gelap dari sisi hidup kami

Kau dengan sekian besar asamu, wujudkan angan kami



Kini adanya, berpuluh tahun setelah masamu

Harum perjuanganmu yang mengabadi dalam kisah masih tereguk oleh kami

Masih menyeruak di seluruh penjuru negeri ini



Dan harus kukatakan,

Kini bukan hanya berhembus angin yang penuh tipu dan menyembunyi

Melainkan kini, disini, aku rasakan wangi namamu yang dihembuskannya
Sepanjang masa di bumi,
Selama belum runtuh singgasana ini

Singgasana yang kau bangun untuk kami

Untuk setarakan harga hidup kami

(21/4/12)




Yoooaa~
Apa kabar semuanyaa?~
Kali ini, tentu anda sekalian sudah dapat mengendus(?) maksud saya mengepos puisi tadi di momen ini. Oke, izinkan saya sedikit mengingatkan dulu, siapa tahu bukan, anda lupa tiba-tiba. Hari ini hari Sabtu tepat bertanggalkan 21 April, ada yang ingat ini hari apa?




Eh, Sabtu?
iya, iya… tadi sudah saya bilang jika sekarang memang hari Sabtu. Selain itulah, ini momen penting lhoo~




Iya?
Sehari setelah peringatan hari lahir Adolf Hitler?
Aaah, oke, satu petunjuk lagi, ini tak lain adalah tentang Negeri kita sendiri, Bangsa kita sendiri. Bukan bangsa Indo Jerman, ras Arya, atau Nazi.



Ah, iya?
Lupa?

Oh, ayolaah…





Ini..
HARI KARTINI!, sekali lagi, HARI KARTINI~
Sudah ingat kan? ^^


Oke, saya terlalu berlebihan. Anda semua mungkin kurang lebihnya tau, ingat, bahkan memperingati dengan sangat antusias momen ini. Tak mungkin kan, salah satu lagu wajib nasional terpopuler yang sering kita lantunkan semasa SD kita lupa begitu saja. Tak mungkin juga bahkan jika kita sebagai bagian dari bangsa ini, sebagai penyusun ruas-ruas rusuk negara ini, tak mengenal sesosok Hero yang satu ini. Yap, terutama saya disini sebagai seorang perempuan, saya menyatakan teramat kagum pada tekad, kegigihan, dan ide yang luar biasa hebat dari seorang Kartini yang bahkan hingga kini, berpuluh tahun sudah sejak perjuangannya yang lalu, masih bisa kita reguk bersama manisnya.

Modernisasi itu pantas dikaitkan betul dengan isu emansipasi saya kira. Sebagaimana arus modernisasi yang menderas sekarang ini, saya pikir itupun terjadi karena emansipasi kaum perempuan kini bukan lagi hal yang semahal dulu. Di negara maju, angka kelahiran cenderung lebih rendah dibanding angka kematian, begitu kata contoh dari piramida tua angka pertumbuhan penduduk dalam Geografi. Dan kenapa itu terjadi, tak lain adalah karena adanya emansipasi tadi. Perempuan dengan bebas bisa memiliki pekerjaan, dan meraih hak yang sama dengan kaum lelaki dalam dunia kerja. Tak lagi seperti dulu, perempuan yang bekerja tak lagi diasumsikan menjadi hal yang tabu, kini dunia kami meluas, melapang, dunia kami bukan lagi hanya sebatas lingkup dapur selebar dua kali tiga meter yang dipenuhi sesak oleh kepulan asap.

Ngomong-ngomong soal emansipasi, sejak tadi saya hanya mengoceh semaunya tanpa membahas dulu definisi dari variable yang kita bahas disini. Oke, emansipasi. Jadi apa itu emansipasi? Sebuah harga prestisius yang diperjuangkan segitu ngototnya oleh Kartini. Itu benar, tapi hanya merupakan penyeketsaan pengertian dari garis luar, bukan dalam konteks yang mendalam. Saya tak sempat membuka kamus, jadi saya kemukakan saja apa yang ada di fikiran saya, ya? Menurut saya emansipasi itu adalah hal yang bukan meninggikan derajat kaum wanita, melainkan menyetarakannya dengan kaum pria. Setara disini juga bukan berarti sejajar, karena emansipasi sendiri tak akan mengantarkan kaum wanita untuk menggenggam tampuk kekuasaan dunia, atau setidaknya berdiri melampaui kaum pria. Melainkan duduk dalam singgasananya sendiri, yang penuh kebebasan, juga tanggung jawab dan rasa hormat sebagai mahluk indah yang pada tempatnya memang dikagumi dan dilindungi. Agak rumit memang, tapi saya harap anda sekalian mengerti.
Dulu, apa yang bangsa kita tahu soal emansipasi? Jangankan kita yang masih akrab dengan kebudyaan yang sarat unsur primitifisme, di Barat pun emansipasi sangat minim. Sebagaimana seorang Lady darah biru di kerajaan-kerajaan Eropa yang tetap harus jadi sepenurut merpati didepan Lord-nya. Atau, hukum penguburan hidup-hidup bayi perempuan yang lahir di masa Jahiliah di jazirah Arab. Pada masa-masa itu, perempuan seakan tak ada harganya, bung. Mungkin mereka memang belum tahu jikalau yang cenderung menerunkan kecerdasan pada anak itu gen ibu, atau dari mana lelaki-lelaki bengis yang mengubur hidup-hidup bayi-bayi perempuan itu lahir? Menetas dari sebongkah batu? Kan juga tidak mungkin. Emansipasi baru mulai disoroti dan dihargai semenjak zaman perang. Ada yang ingat Jeanne de`Arc? Oh, iya… pahlawan Prancis itu lho ketika melawan Inggris. Dia juga merupakan salah satu simbol emansipasi. Lalu tokoh-tokoh perang dunia dua, pilot-pilot Nazi juga banyak yang perempuan.

Intinya bung, emansipasi itu mahal dan luar biasa hebat. Berbicara soal ambisi, kami para perempuan tak akan pernah kenal ambisi tanpa adanya emansipasi. Dan seabad lalu, R.A Kartini menghadiahkannya secara khusus untuk kami. Kini, emansipasi itu menodong bayaran dari kami. Uangkah? Bukan. Atau gengsi sebuah nama? Bukan juga lah. Melainkan apa? Sebuah tanggung jawab. Ini quotes dari film Spiderman, tepatnya yang dibilang Paman Ben ke Peter, “Seiring dengan kekuatan besar, akan datang pula tanggung jawab besar.”

Emansipasi itu bak kekuatan besar buat kami. Dengan emansipasi, kami bisa menjadi apa saja yang kami mau, menjajal dunia mana saja yang ingin kami tapaki, dan mencoba medan apa saja yang ingin kami jajaki. Dan seiring dengan kedatangannya, tanggung jawab besar juga hadir dalam diri kami, menunggu untuk kami bayarkan segera. Bukan dengan hal yang bersifat materil melainkan sebuah jaminan, jaminan bagi generasi selanjutnya untuk terus dapat menghirup udara emansipasi  yang segar ini. Jaminan bahwa dengan ini, kami akan memanfaatkannya sebisa kami, mengisi posisi-posisi yang sepantasnya kami isi, dan melakukan yang terbaik karena apa yang kami jalani detik ini, perjuangan ini, adalah apa yang di waktu lalu hanya berupa mimpi.


Much Thanks to “Sang Pendiri Singgasana”





R.A. Kartini
***
(21.4.1879-17.9.1904)

No comments:

Post a Comment