Trending Topics

.

.
Showing posts with label History Book. Show all posts
Showing posts with label History Book. Show all posts

Tuesday, March 11, 2014

Welcome to East, Welcome to Asia~

Well, apa kabar semuanya? Hehe, saya lagi hepi-hepinya nih sama kuliah. Yaiyalah, baru mulai, baru kenal kenalan, tugas masih selo, dan masih jauh dari ujian hahaha~ Ya, meskipun selain dari pada hal-hal common diatas juga karena semester 2 ini adalah pintu gerbang baru buat saya dan 30an orang lainnya di sejarah 2013 dimana apa yang kami pelajari semakin luas dan menantang. Kalo di semester 1 kemaren cuma ada mata kuliah mata kuliah yang sifatnya pengantar dan dasar, sekarang, kami sudah sedikit lebih terbekali untuk menerjunkan diri ke ranah yang lebih pelik dan luar biasa luas. Ada tiga matkul yang gak bisa dianggap remeh semester ini, yakni Sejarah Asia, Sejarah Indonesia Sampai abad ke 16, dan of course, HISTORIOGRAFI HAHAHAHA~ #berisikwoy

Ya, selain tentunya Bahasa Belanda yang masih setia 4 sks menemani keseharian kami sampai semester depan~

Tiga matkul diatas itu kami juluki badass karena merekalah sumber dari segala sumber tantangan, atau cobaan#dor di semester ini. Referensinya bejibun. Buku buku sejarah yang segede gede batako buat bangun perumahan. Dua diantaranya yang baru saya miliki dan baru saya sentuh sedikit saja adalah Kerajaan-Kerajaan Awal di Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia dari Munoz dan Peradaban Jawa dari Mataram Kuno sampai Majapahit Akhir oleh Supratikno. Yang lainnya masih belum punya~ Mungkin menyusul. Lain lagi sama Historiografi yang mewajibkan kami melahap sebuah kitab yang sudah diracik dari berbagai buku yang tebalnya juga cukup bikin kenyang duluan ngeliatnya. Selain daripada referensi, bahasannya juga gak nyante. Sejarah Abad 16 itu isinya perjalanan sejarah sebuah unit geopolitik yang sekarang kita tiduri dan injak-injak setiap hari ini dari jaman Holosen-Pleitosen sampe abad 16 bro~ begimana gak gile~ :v Belom lagi Sejarah Asia yang bahasannya Asia Barat-Timur-Selatan-Tengah-Tenggara-'Utara' otomatis plus perkembangan mereka, keterkaitan satu sama lain, dan hubungan mereka dengan bangsa-bangsa lain, terutama dengan para kulit putih di benua biru sana. Dan hal inilah yang akan saya bahas malam ini. :3

Kuliah Sejarah Asia hari ini dibuka dengan dosen kami, Mbak Ratih, yang membagikan sebuah selebaran ke tiap tiap individu yang konsentrasinya masih ketinggalan di jalan ini. "Hari ini ada kuis ya~", kata beliau, dibalas dengan celetukan nggak mutu dari salah seorang teman saya, "Oho, kuis, 2 juta rupiah~". Wkwk, ini seriusan~ tadi emang gini lho.

Dengan dramatis kami membuka selebaran kertas itu, dan tarra~ terpampanglah sebuah peta dari regional yang amat luas dan hanya dipenuhi oleh angka angka. Angka-angka itu sedianya adalah tanda tanya yang harus kami jawab, dan you know ada berapa angka tadi? 47 saja saudara saudara~

APA, SAJA? SAJA? SAJA WAN? BELAGU LOH

Gaak, bukan gitu maksudnya. Apanya yang saja?! Bisa jawab aja paling cuma setengahnya. Kerennya, diantara teman saya ada yang bisa jawab lengkap lho~ Tapi selain itu juga ada yang malah nyeletuk gak karuan kayak, "Wah peta buta!" atau "Aku belom belajar lagi~", "Sipp, gampang, kan sering main abc nama negara.", "Haha, kayak SD, makanya udah pada lupa.", sampai "RPUL MANA RPUL?!" 

-_______-

Secara keseluruhan, saya cuma bisa jawab kuis itu selingkup asia tenggara, timur, dan selatan saja. Untuk Asia Barat dan Tengah, saya buta total wkwk apalagi negara negara yang berakhiran -tan -tan itu atau negara negara yang berminyak sebagaimana wajah anda~#plakk Tapi itsokay lah, bukan masalah besar kok. Teman-teman saya yang kemarin mengaku menyukai sejarah Asia Barat dan Tengah pun nggak pada becus juga. Pas ditanya alasannya, orang yang kebanyakan pria-pria lawak itu malah berargumen gini: "Disana kan ceweknya cantik cantik, Mbak~" lagi lagi sweatdrop buat kalian~ wkwk

Usai kuis diselesaikan sampai titik pengetahuan penghabisan, kami dibawa ke sebuah slide dengan pertanyaan fundamental yang rumit, yakni

"What is Asia?"

"Apa?"
"Apa?"
"APAAA?!" 

"Benua, Mbak~" #gubrak

Oke, seandainya kami baru seusia adek saya yang kelas 5 SD, okelah benua, tapi buat insan intelektual setua kami, itu too simple. Jadilah banyak yang sok intelek dengan menyeletukkan "Continental" "Regional" "Kultural" dan lain sebagainya yang kalo diliat-liat juga nggak nggenah.

Bener sih, Asia itu secara simple adalah benua yang berbatas dengan Russia di sebelah Utara, Pasifik di sebelah timur, Hindia di sebelah Selatan dan Eropa serta Afrika di sebelah Baratnya. Tapi jika berbicara mengenai konteks yang lebih dalam, Asia bukan hanya sebidang tanah. Jika kita berbicara Asia kita juga berbicara ceritanya, iklimnya, flora dan faunanya, kulturnya dan bagaimana setiap hal yang berlainan ranah tersebut bisa saling berkaitan dan mempengaruhi.

Untuk itu, kami diseret ke pertanyaan fundamental lainnya di slide ke dua.

"Is Asia Important?"

Sejenak kami merenung. Merenungi sebuah benua raksasa yang memiliki moyang bernama Laurasia di suatu waktu yang lampau. Apakah raksasa ini penting? Rasanya jelas. Bagaimana kalau ia tiba-tiba menghilang dalam semalam. Maka dunia akan berduka sangat dalam kehilangan separuh jiwanya, setengah raganya, yang menjadi rumah bagi sebagian besar warganya yang telah tumbuh menjadi sedemikian berkembang sampai hari ini. Mewarisi kekayaan dari peradaban-peradaban masa lampau yang pernah meraja disini. Maka dari itu, rasanya jelas, luar biasa jelas, kalau raksasa ini, penting.

Ya tapi gak melankolis gitu juga kali penjelasannnya. Hahahaha~

Bener sih, kalo soal mewarisi peradaban mutakhir masa lampaunya. Kali ini kita bicara soal Asian Old Civilization alias peradaban kuno di Asia. Mereka ada 4, yakni Egypt, Mesopotamia, Indus Valley, dan China. Berikut ini adalah petanya.


Ada yang bisa anda deteksi dari peta diatas? Yeap! Semuanya di pinggir kali~

Atau ya, bahasa lebih tingginya di tepi sungai. Ini artinya, sebuah peradaban selalu terbangun di tempat yang dekat dengan air, karena air sendiri adalah sumber kehidupan. Teori yang sama juga menjelaskan kehidupan nomaden orang orang 'dulu' di era food gathering, mereka berpindah pindah dan katanya selalu mencari tempat di dekat sungai. Setelah beberapa abad berlalu, alam berganti dan manusia semakin banyak dan cerdas di muka bumi ini, peradaban yang masih dikenang kemutakhirannya ini pun menggunakan resep yang sama soal berada tak jauh dari sungai-sungai besar. Dapat disimpulkan pula bahwa mereka berkehidupan dengan bercocok tanam menggunakan air sungai tersebut.

Lanjut ke topik selanjutnya nih ya, ini soal yang lebih luas, lebih mengenai hubungan, sekali lagi, hubungan, ehem#dor

"Why do the European Came to Asia?"

Dari kuliah tadi, setelah sekian banyak diskusi, pemukaan pendapat dari mulai yang mutu dan berdasar sampe yang asal, disimpulkanlah bahwa sebabnya adalah karena 3G.

Gold, Glory, and Gospel. Kekayaan, Kejayaan, dan Misi Agama.

Konon kata guru SMP saya bu Nanik Purwati, ada sebab sebab lain, sebagai berikut.
  • 1453, Jatuhnya Konstantinopel (Byzantium) ke tangan Turki Usmani sehingga terputus hubungan dagang antara Eropa dan Asia Barat (utamanya perdagangan rempah-rempah).
  • Nah, karena itu mereka jadi ingin mencari rempah rempah ke daerah asalnya.
  • Ingin membuktikan teori Heliosentris oleh Nicholas Copernicus bahwasanya bumi bulat dan Matahari sebagai pusat tata surya.
  • Adanya semangat Reconquesta, yakni semangat balas dendam umat Kristen yang kalah pada Perang Salib pada Umat Islam.
  • Imago Mundi, buku yang ditulis Marco Polo atas pengembaraannya ke Cina yang menginspirasi.
  • Ditemukannya navigasi, perkembangan teknologi perkapalan, dan teknologi lainnya.

Secara umum, sama aja sih, cuman ya, kalo pas SMP belajarnya lebih terima apa adanya, sekarang harus lebih kritis dan dirunut dari mana asalnya sebuah steatment dikeluarkan. Kronologisnya, setelah kalah perang salib, umat Kristen di Eropa punya sakit hati mendalam karena dikalahkan. Selain itu, lebih sakit hatinya lagi, sumber kehangatan mereka menghilang *najongbahasanya* karena perdagangan rempah-rempah dari Asia Barat diputus oleh Turki Usmani. Akibatnya, mereka harus mencari kehangatan sendiri ke tempatnya di tropis yang jauh di sana~ #eak. 

Gospel yang merupakan salah satu sebab orang Eropa eksplorasi ke Asia katanya diakibatkan oleh Perang Salib meskipun orientasi Perang Salib pun tak melulu soal agama, melainkan juga soal ekonomi. Tapi bangsa Moor (muslim) memang menguasai Eropa dalam kurun 700 tahun. Wilayah terakhir yang ditaklukan dari Moor adalah Granada di Spanyol, yang sampai sekarang jejak ke-Islamannya masih bisa ditelusuri. 

Selama perang salib, teknologi Islam yang maju ternyata dipelajari oleh orang-orang Eropa. Pada masa Rennaisance inilah kesadaran pemikiran memuncak. Ilmu yang mereka dapatkan kemudian dikembangkan hingga mereka bisa mencapai kemutakhiran teknologi pada masanya yang kemudian bisa mendukung rencana penjelajahan mereka mencari the source of spices. 

Sedikit trivia nih, kenapa iptek itu di Eropa kesannya kaya maju banget, padahal aslinya, mereka bukan pioneer juga lho. Beberapa teknologi mereka merupakan pengembangan dari bangsa lain, misalnya saja Cina. Ini dikarenakan, bangsa timur itu semacam kebanyakan basa-basi. Yang namanya patron-klien, kesopanan, ekslusivitas golongan eksekutif itu dijunjung banget. Jadilah, ketika sebuah teknologi baru diketemukan, penikmat teknologi tersebut adalah golongan atas saja, yakni Kaisar dan sekitarnya. Hal ini kaitannya dengan superioritas dan tidak bisa disebar luaskan begitu saja sebagai tanda hormat kepada kaisar. Lain halnya dengan orang Eropa yang sepertinya, pada dasarnya memang efisien. Alkisah, sebuah teori menyatakan kalau jam, di Cina dan Eropa berkembang dengan sangat berbeda. Di Cina, jam yang sedemikian mutakhir teknologinya pada masa itu dikhususkan hanya untuk digunakan kaisar dan para petinggi di kerajaan sehingga 'resep' jam demikian terjaga dan otomatis pengembangan pun tiada, atau mungkin sangat kecil. Lain halnya dengan di Eropa. Jam digunakan di sebuah biara oleh para biarawan. Mereka yang hidup bersama memerlukan keteraturan. Ketika jam di aplikasikan dalam keseharian mereka, mereka menyadari bagaimana keteraturan akhirnya bisa tercipta. Kecenderungan yang tercipta adalah semakin fungsional suatu teknologi, maka pengembangan dan pemasyarakatannya akan semakin diprioritaskan. Amanatnya, kalo mau maju, jangan pelit ilmu hahaha~

Kembali ke eksplorasi Eropa ke Asia. Sekarang kita menginjak ke perjanjian Tordesilas. Sebuah agreement yang membelah dunia menjadi dua untuk dijelajahi masing masing Portugis dan Spanyol. Spanyol yang sebelah barat dan akhirnya menemukan New World alias Amerika, lalu berakhir di Filiphina. Dan Portugis yang melalui semenanjung barat pantai afrika, cape town, hingga ke Goa. Perjalanan inilah yang mempertemukan mereka dengan 'kehangatan' yang mereka cari, sekaligus mengajarkan mereka kerakusan.

Cukup soal yang kronologis ya. Waktu sudah semakin malam dan saya punya peer belanda yang belom kelar :v #siapasuruhnulisbeginian

Terakhir, beberapa trivia soal Sejarah Asia.
  1. Russia
    Apakah russia termasuk kedalam Asia? Bisa iya, bisa nggak juga. Artinya gini, secara kultural dan politis, jelas Russia adalah part of Europe. Tapi kalo diliat secara geografis ya masuk asia. Susah ya, terlalu gede sih#dor
  2. Golden Horde
    Semacam term yang mengarah kepada masa kekuasaan sangat besar di bagian tengah asia.
  3. Teh
    Pada abad ke 18, Cina menciptakan tren perdagangan baru yakni Teh. Komoditi ini sangat populer dan diminati. Negara Eropa pertama yang berhasil berhubungan dagang dalam urusan teh dengan Cina adalah Inggris. Kebanggaan akan inilah yang mereka bawa sampai sekarang dalam budaya 'nge-teh' mereka yang menjadi ciri kehidupan berkelas ala Inggris. Bahkan banyak pensiunan Inggris yang menghabiskan uang pensiun mereka untuk berkeliling Inggris dan menikmati teh-teh terbaik di Inggris dari berbagai negara di tempat-tempat terbaik untuk menikmatinya. Tapi bukan Inggris tidak mengalami kesusahan dalam urusan teh ini. Mereka bahkan harus sampai mengirim diplomat khusus ke Cina untuk menangani urusan dagang ini. Selan itu, bahasa yang digunakan dalam perdagangan dengan Cina, baik langsung maupun melalui surat hanyalah Cina, Arab, dan sedikit Thailand. Arab dan Thailand juga digunakan karena hubungan dagang antara orang-orang bangsa ini dengan orang Cina sudah terjalin sangat lama, dan juga menjadi penting bagi kedua belah pihak. Selain itu, Cina juga haya mengizinkan Perak untuk ditukar dengan Teh. Dalam hal ini, Inggris mendapatkan perak dari koloni kesayangannya, Amerika.
  4. Opium
    Masalah kemudian muncul ketika Amerika merdeka tahun 1776. Sumber perak inggis hilang. No Silver mean no Tea. Akhirnya Inggris dan Cina setuju untuk menukarnya dengan Opium. Opium-opium ini didapatkan Inggris dari India, dan sedikit dari Turki. Opium pada zaman itu tidak seberbahaya sekarang. Ia tidak dicampur dengan bahan kimia lain dan digunakan lebih sebagai suplemen penambah tenaga, terutama untuk perkebunan tebu yang pekerjaannya paling berat dan harus diawasi 24 jam. Namun dengan opium yang penggunaannya amat luas, dampaknya juga tidak kecil. Kaisar kemudian sadar, bahwa Opium telah merenggut satu generasinya karena kecanduan. 
  5. Jepang
    Seperti saya bilang tadi, Asia itu kesannya terlalu kaku. Persis personifikasinya Nihon di Hetalia Axis Power yang kalo mau ngomong selalu nggak jadi gara-gara ditahan. Gak kalah dengan Cina, Jepang juga tertutup. Sebelum Jepang membuka diri kepada bangsa barat, ada sebuah pulau buatan bernama Deshima (kadang dieja Dejima) yang menjadi titik terakhir persinggahan orang Barat di Jepang. Perdagangan dari Jepang hanya boleh sampai dan melewati pulau ini. Sebagai gantinya, Jepang lebih memilih pelajar-pelajarnya dikirim ke Eropa untuk mempelajari pengetahuan dan teknologi terbaru. Disini yang saya kagum dari Jepang. Dari fakta ini juga, kayaknya, setiap bangsa seperti mewarisi sifat khas yang kurang lebih sama ya~
  6. Opium War
    Masalah Opium antara Cina dan negara-negara Eropa kemudian menghasilkan Opium War. Perang ini terjadi dalam gelombang I dan II. Dampak terakhir Opium War adalah Hongkong yang sempat 'dipinjam' Inggris selama 100 tahun dan baru dikembalikan pada 1997. Begitu kembali Hongkong pun jadi mengalami masalah untuk bergabung dengan Cina, akibatnya, sampai sekarang Hongkong seperti memiliki otonomi khusus.
Yak begitulah kira kira, ilmu yang saya dapat dari kelas Sejarah Asia tadi siang yang kemudian saya muat ulang dan bagikan disini. Keren kan, pengetahuan yang sebegini luas hanya didapatkan dalam sekali kelas? hehe, sejarah gituloh~#dor. Mulai dari sekarang, saya janji, kalo sempet, saya bakal mempublikasikan kuliah-kuliah yang menarik di blog ini. Berbagi ilmu kan, biar maju wkwk

Jujur setelah kelas ini, I can't wait for European History in next Semester~ We'll talk more about Holy Roman Empire, Germania, Habsburg, and many more~ I must be great! XD



Akhir kata, semoga berguna, semoga anda sekalian turut merasakan antusiasme saya,
dan malam semuanya, See yaa~~ :3


Saturday, January 04, 2014

2013 and It's Wind of Change

Tahun 2014 yang bakal jadi tahun politik ini yang dibilang banyak orang lebih sebagai tahun perubahan, tapi buat saya pribadi, no, tahun perubahan itu ya tahun lalu, yang baru berakhir beberapa hari yang lalu, 2013 yang sekarang telah turun takhta dan bersila penuh wibawa di deretan panjang sejarah hidup saya.

Kenapa Wind of Change? yeaa~ gegara bokap minta di downloadin lagu-lagu love songs 70's 80's 90's sebagai oleh-oleh ketika saya pulang nanti berhubung dikosan ada wifi dan download jadi surga sekali, saya otomatis jadi turut mendengarkan lagu-lagu tersebut. Favorit saya, Bon Jovi, Aerosmith, beberapa dari Richard Marx, dan tentunya Scorpions. Sumpah, asik lagunya, metal tapi mellow gitu liriknya, dan salah satu yang jadi most played saya adalah Wind Of Change. Cocok kan, sama tema tulisan kali ini?

Well, harus mulai dari mana? entahlah. Kerjakan saja dan biarkan ia mengalir, maka kau akan menemukan kejutan-kejutan tak terduga~ Itu yang kerap jadi motto hidup saya. Jadi langsung aja dari yang pertama muncul di benak saya,


Change of Fate

Saya gak amor fati sebenernya. Saya mengusahakan nasib saya di waktu kedepan untuk menjadi lebih baik dari yang baik yang sekarang. Tapi apa boleh buat kalau memang mendung harus ditiupkan oleh angin keatas kepala saya. Dalam situasi seperti ini, saya jadi kerap merasa kalo gak semua yang buruk itu benar-benar buruk. Beberapa kejadian di hari-hari belakangan juga menegaskan hal yang sama, seolah-olah Tuhan memberikan capslock untuk saya lihat di kasus-kasus semacam ini bahwasanya, pelajaran atas mereka adalah hal yang sangat teramat penting bagi kehidupan saya.

Posting blog saya sampai Mei-Juni, isinya hanya kegundah-gulanaan, keluh kesah, dan doa-doa pasrah. Meen, siapa juga yang tak akan seperti ini jikalau anda sekalian bukan lah amfibi, melainkan hanya hewan darat dan kalian direndam di air untuk 2 tahun lamanya. Saya bertahan susah payah, berpegang ke segala macam akar dan rerantingan yang bisa saya raih dan terseok-seok parah. Dari penyesuaian awal terhadap program IPA yang gak pernah berhasil sampai akhir, sampai semester sebulan yang aduhaaai~. Semua itu, apabila diingat-ingat lagi, membuat saya amat mensyukuri hari hari saya sekarang.

27 Mei 2013, nasib saya berubah total. Ibarat Avatar yang baru tahu jati dirinya, atau malah Prince Zuko yang kehilangan kemampuan fire bending-nya. Saya membuka sebuah web berlogo mirip pepsi dan menemukan nama saya ditulis dalam layout serba hijau di sebuah persegi panjang, disana terdapat pula sebuah informasi membahagiakan bahwa saya diterima sebagai mahasiswa prodi Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada lewat jalur paling kere, paling gak modal, paling enak, paling gampang, dan paling cuma-cuma, jalur SNMPTN.

Seketika air mata saya ngucur bro, bak tengah menyantap penyetan ayam terong cabe sepuluh di Pak Kubis. Peristiwa yang kalo direkam dan disetel ulang pasti sangat lucu tersebut disaksikan langsung oleh seisi rumah, emak, bapak, adek, menok, jujul, kucil item dan almarhumah kucil putih. Emak saya yang biasanya kaga ada romantis-romantisnya terus meluk saya, dan bilang "Wis, hebat kamu yu. Kata ibu juga apa kan, keterima!". Terus bokap cerita kalo pakde saya dulu pernah bilangin, "ngasih makan anak istri itu yang jujur, nanti berkah." dan kata bokap, pas momen itu, makna dari kalimat pakde saya itu kerasa banget. Haa, ini salah satu momen terbahagia saya, salah satu yang membuat 2013 luar biasa.

UN saya memang hanchyur. Matematika 5, 5; Fisika 4; Kimia 6,75; Bahasa Indonesia 8,8; Bahasa Inggris 8,8; Biologi 8. Tapi itu hasil sendiri broh~ Dan buat seorang yang gak pernah niat masuk IPA, gak pernah menikmati tiap detik di pelajaran eksakta, pernah punya track record berantem sama guru Fisika gegara gak ngerjain PR dan ngotot, dan seorang IPS sejati#bhuah seperti saya, saya justru bangga terhadap angka-angka itu. Itu hasil saya, tilas perjuangan saya atas penyiksaan selama ini, dan itu justru manis tjoy~

Paruh pertama tahun ini saya lalui dengan penuh tekanan. UN, UAS, TRY OUT, NILAI JELEK, GAK LULUS, GAK KETERIMA UNIV NEGERI, PEMULIAAN TANAMAN#kagainimah, hal seperti itu selalu menjadi mimpi buruk yang merenggut ketenangan tidur dalam setiap malam-malam saya. Belajar sampe malem, begadang, les sampe ngantuk-ngantuk dan pusing, semuanya semakin berat setiap harinya. Terlebih ketika semuanya disudahi oleh UN, beban mental yang lebih berat menggondeli. PENGUMUMAN. Dari pengumuman UN, pengumuman SNMPTN, dan lain lainnya. Terlebih lagi, orang yang kelewat awesome ini cuma daftar lewat SNMPTN tanpa punya cadangan lain ataupun ngambil kelas bimbel. Kelewat pede? nggak juga. Saya cuma demen ngulur ulur waktu dan tanpa sadar, belum satupun buku latihan SBM yang saya beli sampai saya beli pulsa modem buat buka web SNMPTN jam 5 sore hari itu.

Setelah jam 5 sore itu, hidup saya berubah, nasib saya berbalik. Mendung seketika menjadi cerah berpelangi. Bayangkan, seorang bebal eksak seperti saya, jikalau harus mengambil jalur tes, mungkin kecil sekali kemungkinan diterimanya. Tapi dengan tanpa mengorbankan apapun lagi, saya sudah resmi diterima di Universitas kerakyatan pertama di Indonesia. Mungkin Tuhan menghitung jerih payah saya selama ini sudah cukup untuk menerima hadiahnya.

5 weekdays dalam seminggu saya yang tadinya hanya berisi penantian akan pelajaran sejarah yang akhirnya justru sering diganti Bahasa Sunda kini penuh berisikan mata kuliah-mata kuliah yang ketika sekolah jadi mata pelajaran favorit saya. Matkul semester 1 cuma 6, Pengantar Sejarah Indonesia, Pengantar Ilmu Sejarah, Dasar Dasar Ilmu Budaya, PAI, B. Inggris dan B. Belanda. No more Physics, Biology, Chemist, EVEN MATH! Subhanallah~ Dan orang-orang yang saya temui disini pun ajaib. Mereka adalah orang-orang yang selama ini saya anggap langka, tapi justru saya temui sekian banyak, 30 lebih kepala dalam satu kelas. Obrolan yang mereka singgung berat luar biasa, pengetahuan mereka membuat saya terkadang jadi lawan bicara yang tidak sebanding, tapi karenanyalah saya puas. Saya tak memasuki dunia yang salah lagi, ini benar-benar ranah yang saya impikan. Kini saya semakin menikmati segalanya, semakin mensyukuri segalanya. Karena jujur, atmosfer kelas ini salah satu yang paling nyaman yang pernah saya rasakan.


Change of Surroundings

Saya seorang anak rumahan yang buat ke warnet pun kadang males, tapi disini saya sudah travelling ke beberapa tempat jauh seorang diri. Perasaan jauh dari orang tua kayaknya yang bikin saya sadar saya gak bisa bermanja-manja ataupun menggantungkan diri pada siapapun lagi. Kalo saya sendiri gak gerak, ya gak akan gerak. Dorongan semacam itu yang membuat saya pada masa independen yang masih awal ini sudah melakukan beberapa perubahan pada diri saya sendiri. Tercatat, saya trip angkatan ke Semarang-kota lama yang saya impikan untuk kunjungi selama sekian lama-, lalu trip seorang diri ke Salatiga, dan yang terakhir ke Wonosari. Rasanya agak aneh. Apalagi ketika menyinggahi tempat-tempat yang masih saya ingat bahwa saya pernah menyinggahinya beberapa kali sebelumnya, dengan sosok yang samasekali berbeda dengan sosok ini, bersama orang tua saya.

Habitat yang baru ini juga menuntut saya untuk luar biasa berubah dari kebiasaan lama. Saya mengurus diri sendiri, tanpa ada yang mengomplain kalo-kalo saya hanya mandi sehari sekali. Cucian, setrikaan, kamar yang berantakan, semuanya dikendalikan hanya oleh tangan dan kesadaran saya akan kebutuhan untuk sehat, rapi, bersih, dan kepedulian terhadap diri sendiri. Birokrasi bagi emak saya untuk tahu keadaan yang super duper kacau dan mengomeli saya karenanya amat panjang dan tak terjangkau, karenanya, saya benar-benar lepas dari kontrol. Tapi justru ini yang membuat saya akhirnya sadar kalo jarang nyapu itu nanti banyak semut, kalo jarang bersih-bersih kamar bakal ada serangga aneh aneh yang menginterupsi ketenangan, kalo jarang mandi nanti gatel-gatel, kalo jarang nyuci bajunya abis. Sehingga mau tak mau, kebutuhan akan hal-hal esensi yang sekarang saya urus sendiri tersebut yang membuat saya meski harus menahan diri untuk egois, meski harus berlelah lelah ria, tetap harus melakukannya.

Bicara soal makan, ada beberapa karma yang saya dapatkan. Hal pertama adalah toge. Coba tanya emak saya, pasti beliau bilang saya ini benci toge. Dan ya, memang demikian. Toge itu dibumbui apapun, dimasak selama apapun dengan metode apapun tetep susah diresapi oleh bumbu, terlalu konservatif, jadi dia hanya akan menjadi toge, bahkan dalam bala-bala sekalipun. Tapi disini seketika tuah itu berbalik pada saya. You know? Sampe risoles pun isinya toge, padahal itu favorit saya. Soto, tahu gimbal, semuanya ada togenya, bahkan ketoprak yang bumbunya terenak yang pernah saya coba disini, komponen sayuran berupa toge dan irisan kubisnya lebih banyak daripada ketupatnya. Karma yang kedua adalah mie instan. Di rumah, terlebih semenjak ada warung, saya hobi banget makan mie instan. Yang saya cari itu bukan praktisnya, tapi sensasi si mie instan itu sendiri, terutama kalo lagi ujan ujan, kayaknya klop banget gitu. Makanya, meskipun nyokap udah masak, saya sering diomelin gara gara tetep kekeh bikin mie. Dan sekarang? Ah, kaga ada masakan tjoy, mau nggak mau ya bikin mi, sampe pas ujan-ujan yang dulu saya bilang klop itupun, kayaknya ogah banget bikin mie. Udah mblenger -_-. The last is kertas nasi. Pas dirumah, kertas nasi itu barang unik, makan diatas kertas nasi adalah perihal langka yang gak dateng setiap hari berhubung nyokap saya termasuk yang rajin masak. Tak jarang saya beli kertas nasi hanya untuk alas makan dengan alasan sensasi. Sekarang? tong sampah depan kamar isinya buntelan kertas nasi, setiap kali makan hampir-hampir selalu pake kertas nasi kalo nggak minimal sehari sekali. Bagaimana bisa begini saya pun tak mengerti~

Soal habitat di kampus juga lain. Anak kelas saya yang waktu SMA isinya anak rajin dan anak pinter semua, sekarang jadi warna-warni, tapi setelah semakin mendalami karakter kelompok baru ini, saya semakin banyak menguak misteri dan sadar bahwa tempat saya memang disini. Jadi gini, di FIB itu ada beberapa jurusan kan, dan kalo anda seorang awam FIB, ditebak-tebak dari penampilannya, insyaallah anda tahu berasal dari mana anak-anak FIB tersebut. Misalnya kalo anak Arkeo berdampingan dengan anak SasPran, itu bakal beda, begitupun dengan jurusan lain. Anak antro itu menurut saya dandanannya paling eksentrik dari yang lain, kalo anak korea biasa gitu~, kalo anak jepang, well, yang tampang rada otaku, biarpun berkerudung tetep pake atribut kotak-kotak, vest atau cardigan panjang, dan boots, anak Sabar (sastra asia barat) bukan stereo sih, tapi umumnya emang kaya anak rismaci di SMAN, pake rok, kerudung syar'i, ya pokoknya gayanya santun dan gak macem macem sih meski ini hanya umumnya, lain lagi anak arkeo, mereka juga meski rada mirip dandanannya sama anak antro atau sejarah, tetep beda. Kalo anak sejarah itu ya, gimana ya? Cewenya gak terlalu feminim yang pasti, beberapa orang punya trade mark, dan memang seperti itu. Seketika saja anda mencoba mengupgrade penampilan dengan menyetipekannya dengan jurusan lain, anda akan merasa terlepas dari bagian. Dan itu hanya secuil cerita dari ranah fashion, kalo melangkah lebih jauh ke gaya obrolan, pola pikir dan lain sebagainya pasti tulisan ini malah jadi buku.

Habitat yang terakhir saya bahas disini adalah Jogja. Siapa yang gak kenal Jogja? Nah kalo Cikarang? Haha. Itulah kenapa, sekarang saya tinggal di kota yang samasekali berbeda sama Cikarang. Kota ini, dibilang kota seni juga iya, grafiti dan pelukis pinggir jalan dimana-mana, kesenian mendapat tempat di hati penduduknya, event gak perlu ditunggu jangankan sekali sebulan, hampir tiap hari selalu ada. Mau itu teater, karawitan, puisi, rupa, keroncong, sampe orkestra semuanya ada. Toko buku? Buanyak, dari gramedia yang mahal sampe yang formatnya loakan kaya di Senen. Tempat shopping pun gak hanya mall, tempat wisata dimana mana. Ya, kurang lebihnya, apa yang nggak ada di Cikarang yang saya inginkan itu ada disini. Tapi bukan lantas tempat ini jadi perfect, soal kuliner saya tetep kangen berat sama Cikarang, terutama tempat-tempat nostalgic yang nggak akan tergantikan disana tempat keping-keping memori saya berhamburan.


Change of Bakathings

Posting blog beberapa bulan terakhir ini mulai berwarna serupa yang dulu. Kenapa? Entahlah, semua terjadi begitu saya. Tiba-tiba saja saya dihadapkan pada kesempatan kedua, tapi hal tersebut tak ubahnya penyadaran terhadap ketiadaan apa-apa lagi terhadapnya. Rasanya menyesakkan bro. Kami berjalan berdua di tengah keramaian yang semarak, lampu-lampu yang kemerlingan, romantisme yang sederhana sekaligus memikat, kau bersikap demikian baik, demikian manis, tapi semua itu hanya berupa hantaman-hantaman keras ketika sampai menyentuh permukaan hatiku yang terlanjur mendingin. Empat tahunan itu nggak singkat ya, bisa buat dua kali lulus program akselerasi, begitupun dengan lulus dari kelelahan untuk menahan dan menunggu. Sekarang kesempatan bertebaran, pertemuan-pertemuan terjadi begitu saja, saya tak lagi mengalami kekhawatiran tinggi, ketakutan, atau luapan perasaan aneh yang saking dahsyatnya membuat saya seolah tak kuat menghadapi segala situasinya lagi. Luapan macam apapun itu sudah tidak terasa lagi, samasekali. Maka mari cukupkan sampai disini. Kalalupun dirimu pernah mengetahuinya, dan menganggapnya angin lalu karena tak memiliki hendak dan kuasa untuk memastikannya lebih jauh, saya akui itu benar adanya, tapi maaf perasaan ini sudah kadung menyerah tanpa diminta, maaf bukan hanya untukmu, tapi juga untuk harapan-harapanku yang kadung lepas tanpa pernah menyentuh ambang perwujudan.

Lalu ada orang lain muncul, seorang baru yang ternyata bukan apa-apa. Ia berkata tapi saya tak berminat mendengarnya. Saya tak bermaksud menghilangkannya dari kisah hidup saya. Bagaimanapun ia pernah menghadirkan masalah dalam tahun ini bagi saya. Tapi kali ini semuanya tak bertilas untuk saya. Masalah itu tak akan menjadi masalah lebih jauh lagi. Ia hanya seorang yang membuat saya mengetahui beberapa jenis perasaan, otoritas, bagaimana sebuah kewajaran, dan titik dimana saya memutuskan untuk berhenti dan berjalan ke arah lain.

Dan yang ketiga, hal ketiga yang saya pelajari di akhir-akhir tahun ini dari seorang shipwright yang saya kenal dari hobi yang sama. Saya juga masih belum mengerti sepenuhnya soal apa yang ada diantara kami, yang jelas saya menaruh setitik kekaguman padanya. Ia orang yang samasekali berbeda dari yang pertama, dan saya pun tak pernah menyangka akan pernah mengenal orang sepertinya. Tapi ia menghadirkan alur yang persis sama dengan yang pertama, meski untuk kali ini, entah karena positivisme saya saja atau apa, saya tak hanya bermain sendiri. Sekali waktu kami bersenang-senang bersama, dan perasaan saya bersemi karenanya, seketika kami bicara soal hal-hal aneh, melakukan hobi dan bekerja bersama sampai larut malam, dan waktu-waktu itu hanya mengalir begitu saja. Satu-dua kali kami direndung masalah, saling terdiam dan semuanya nampak seketika berbeda, kenyamanan di tempat-tempat biasa tak lagi terperi dalam perasaan hanya karenanya. Satu kali saya dibuatnya kecewa, entah ini semacam pisau bermata dua atau apa, tapi kalau kau mau jujur perlahan-lahan dan memberikanku kesempatan yang sama juga, saya juga ingin jujur soal segalanya. Sejujurnya saya tak ingin menyesal di kali kedua, cukup karena saya sudah menemukan, dan jangan katakan ini hanya kekeliruan. Karena tiap kali ada kesempatan yang membuatku entah bagaimana caranya menyadari sebuah tanda, aku berdoa itu benar adanya, dan sesuatu yang cerah di depan sana pun benar adanya.

2012 saya samasekali tak terlibat dalam masalah semacam ini, tapi dalam tahun ini, semuanya menyerang bertubi-tubi. Seolah akselerasi kedua, saya dipaksa mempelajari hal semacam ini dalam waktu yang sangat cepat. Entahlah soal semuanya mungkin ini karena di tahun ini saya resmi 17 tahun haha#dor, dan lagi, meski saya meninggalkan, tak peduli, dan menaruh harapan di yang terakhir, saya hanya ingin menikmati segalanya di hari-hari saya sebaik mungkin.


Change of Paradigm

Saya terdaftar sebagai peserta ujian akhir semester satu jurusan sejarah UGM yang sedang berlangsung, tapi salah besar kalo kalian menyangka sejarah yang dipelajari dan diujikan minggu-minggu ini cuma soal hapalan. Dalam mata kuliah substansional semacam Pengantar Ilmu Sejarah yang materinya dari 1200-2008 sekalipun, kami bukan diminta menghapal, tapi mengerti konsep. Manusiawinya, sulit untuk mengingat tanggal dari semua peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu tersebut secara rinci kecuali anda terlahir dengan kemampuan khusus, oleh karenanya kami diminta untuk mengerti konsep waktu. Kronologisasi dan Periodisasi adalah yang utama. Bahwa setelah peristiwa A ada peristiwa B karena peristiwa A membawa dampak A' yang menyebabkan peristiwa B dan selanjutnya memancing terjadinya pemberontakan B' di daerah C karena daerah C merupakan bekas kekuasaan B". Jadi sejarah itu berkesinambungan dan karenanyalah saling berkaitan. Membaca buku pun bukan hanya mendapatkan informasi di permukaan, tapi juga di dalam, dengan membaca yang tersirat. Bayangkan! Bahkan lama-lama pekerjaan sejarawan semakin mirip detektif.

Kami nantinya berurusan dengan dokumen rahasia, menulis yang belum ditulis, perspektif baru dari sejarah yang selama ini disetir oleh rezim tertentu. Kami membaca tulisan kuno sesuai spesialisasi, meneliti pola pemikiran dan zeitgeist setiap zaman. Kami membaca foto, meneliti keabsahannya dari gaya bangunan dan pakaian yang ada di sana, plang-plang toko dan plat-plat nomor kendaraan. Kami menggunakan surat kabar lama, iklan-iklan awal abad 20 yang diksinya menggelitik, dan menyimpulkan golongan masyarakat apa yang berperan didalamnya. Kami mengecek autentisitas dari sebuah surat dengan melihat gaya tulisannya, capnya, trademarknya, bahkan jenis kertasnya. Kami dibiasakan peka terhadap film, bagaimana bedanya antara film dokumenter dan reka kejadian yang terlihat sama tuanya. Bahkan mengetahui usia, apa yang pernah terjadi di desa tersebut dalam kurun waktu tertentu di sebuah desa hanya dari kompleks pemakaman.

Satu semester ini benar-benar sudah mulai meracuni pola pikir saya, tapi ini menyenangkan dan semoga saja kedepannya semakin menyenangkan.

Tahun 2013 ini kemudian ditutup dengan sebuah perhelatan akbar di sebuah desa di Sleman yang sunyi. Sederhana sih, cuma masak bareng dan nonton tipi, tapi hey, semenjak ngekos nonton tipi itu hal mewah ya~. Meski diawali oleh kemeranaan, akhirnya awesome kok, persis seperti pola 2013 itu sendiri. Yang terpenting yang saya pelajari dari 2013 itu optimisme, akan ada suatu tempat dimana anda akan merasa benar-benar nyaman, dan meski butuh perjuangan besar untuk itu, semua akan indah pada waktunya~~ :3



Bubay 2013, Adieu~ terimakasih atas segalanya!
DIRIMU LUAR BIASA, AWESOME AS ME~ :* #JEDDAR
Kau pintu gerbang termegah yang mengajariku artinya berjuang dan mendapatkan kemenangan. 


MAY 2014 BE AS GREAT AS THIS OR EVEN MORE!~~HAPPY NEW YEAR THROUGH INTERNET EXPLORER~~

#halah pake chrome juga lu

Thursday, December 26, 2013

Antara Rasa Ayam dan Rasanya Jadi Ayam

Kemarin sore, saya berkunjung ke rumah mbah untuk meditasi menjelang ujian, dan tekanan dari kos yang hobi kebanjiran. Diluar dugaan dan target, ternyata saya malah berhasil menyelesaikan dua paper yang terlunta-lunta sekian lama hanya dalam waktu dua sore disana. Internet memang luar biasa pengaruhnya terhadap kemalasan saya~#dorTapi bukan itu yang hendak saya bahas disini. Mungkin post semacam ini sewajarnya saya post di blog dalam kesempatan-kesempatan lalu, tapi entah mengapa tidak untuk saat ini. Mungkin iya nanti, tapi saya ingin memasyarakatkan dulu post ini di jejaring sosial biru tua ini. Saya dapat ilham atas tulisan ini, ketika mbah saya menyembelih seekor ayam jago kemarin sore. Ayam itu ayam kampung, satu dari sekian banyak yang beliau pelihara. Prahara dalam benak saya kemudian muncul ketika ayam itu disembelih dan saya tak tega melihatnya. Bro, dia punya nyawa, dan ketika itulah nyawanya dicabut. Mungkin disembelih dan dijadikan makanan yang menjadi sumber gizi manusia adalah alasan dibalik eksistensinya, tapi meski tak punya akal, dalam menjalani kehidupannya, ayam juga punya perasaan disamping insting hewaninya.

Di bis tadi, sewaktu jalanan macet, saya duduk hanya berbatas kaca yang ditutup dengan truk ayam negeri. Untung kacanya ditutup, karena kalo nggak, pasti ambune wes mbreng-mbrengan kae. Dalam momen itu, entah kenapa, saya bisa catch eyes to eyes sama salah seekor ayam #ngarang. Dia ayam yang beruntung tjoy, karena meskipun baunya gitu ya, dia duduk (?) dipinggir, bisa menghirup udara segar dengan lebih bebas, bayangkan kondisi ayam-ayam yang ada ditengah! Ruang kelas baru dibuka pagi-pagi dan ACnya mati aja, udah pada kabur gara-gara apek dan sumpek. Gimana ayam ayam itu bro? Apa rasanya berjubel bersama ratusan individu, dikotak-kotakkan oleh penjara plastik oranye di tempat sebau itu? astaga~

Oke, saya tahu. Sungguh sebuah rekayasa yang teramat mellow untuk mempersonifikasikan hewan konsumsi semacam ini. Tapi mari ringankan perasaan, jangan emosi dan terlalu melankolis. Turunkan tensi emosi sampai ke taraf terdingin anda, lalu cermati bagaimana rasanya jadi mereka.

Mungkin fine jikalau kita membahas tentang ayam di masa lalu. Saya nggak tahu menahu soal evolusi dan nenek moyang ayam sih, toh saya nggak akan terlalu jauh melangkah sampe ke era jurrasic, tapi lebih ke yang deket aja. Suatu ketika, saya pernah dikisahkan tentang ayam yang dulunya bisa terbang. Ayam adalah burung-burung hutan yang hinggap dari satu pohon ke pohon lain yang cukup susah untuk diburu. Tapi karena dagingnya enak dan susah untuk diburu, beberapa orang kemudian berinovasi cara dengan memelihara mereka. Ayam-ayam pun di tempatkan di sebuah tempat yang jauh lebih sempit daripada habitat asli mereka di hutan dan diberi makan. Badan mereka pun menggemuk dan karena berada disana terlalu lama, mereka terlena dan lupa caranya terbang. Jadilah, ayam ayam itu tak pernah lagi mengenal terbang. Mereka beranak pinak, dan anak-anak mereka pun dibesarkan dengan cara yang sama, tanpa pernah mengenal dahan-dahan pohon yang tinggi lagi. Maka kita dapatilah ayam-ayam seperti sekarang.

Dulu, warga desa kelas menengah ke bawah memelihara ayam di pekarangan rumah mereka dan mengurungnya dengan kurungan bambu di malam hari. Ayam-ayam itu selain memiliki fungsi hiburan sebagai peliharaan, juga memiliki fungsi ekonomis. Beberapa ekor ayam adalah investasi yang bisa diandalkan ketika ada keperluan mendadak. Jika ayam-ayam itu mulai terlihat sakit, sebelum akhirnya mati dan mubazir, mereka disembelih dan dikonsumsi. Semua orang sehat, dan ayam-ayam itu terlihat bahagia dan sudah betul lupa akan angan mereka untuk mencapai angkasa di masa lalu.

Zaman berganti dan ayam semakin banyak di cari. Orang-orang kaya bisa membeli ayam yang enak setiap hari dari orang-orang desa yang setia memeliharanya. Permintaan semakin banyak, akhirnya dikembangkanlah apa yang disebut peternakan ayam. Peternakan itu hanya mengembang biakan mereka, memberi mereka cukup makan dan perawatan secara masal dan terorganisir. Satu wilayah karenanya bisa menghasilkan dua kali lipat jumlah ayam, harganya pun semakin terjangkau. Dengan ini, permintaan semakin banyak. Permintaan ini kemudian ditafsirkan sebagai kebutuhan. Ayam sudah menjadi gaya hidup orang-orang menengah ke atas. Dengan alasan untuk memperbaiki gizi masyarakat umum, genetika ayam mulai direkayasa untuk dapat menciptakan ayam konsumsi yang lebih cepat berkembang-biak dan cepat besar hingga harganya bisa semakin terjangkau oleh lebih banyak kalangan.

Mari membayangkan, berapa banyak jiwa ayam yang ditumbalkan untuk penelitian ini? Mereka menahan sakitnya disuntiki sana sini. Pada akhirnya ini memang berhasil. Terciptalah ayam jenis pedaging dan petelur yang bisa difungsikan sesuai kebutuhannya. Anak-anak ayam hasil proyek ini yang warnanya kuning adalah mereka yang secara genetik sudah dirubah sana sini. Ketika besar mereka tak akan bercorak warna warni seperti ayam sejatinya melainkan putih saja dengan wajah dan jengger merah. Takdir mereka jelas dan masa hidup mereka singkat. Tanpa lagi kebebasan untuk beterbangan di hutan, atau kesempatan untuk menjadi ayam kesayangan di pekarangan rumah. 

Ayam-ayam petelur bisa bertelur tiap hari tanpa harus dibuahi. Ayam rekayasa yang terlahir jantan yang jelas tak bisa bertelur berakhir di pembuangan atau di penjual ayam warna warni di SD. Belum lagi berita baru-baru ini bahwasanya ada seorang anak manusia yang tega memperkosa 300 ekor ayam -_-

Sekarang, rasa ayam adalah rasa yang wajib ada di semua label produk makanan instan dan bumbu penyedap. Dalam dunia bisnis kuliner, ayam dijadikan standar untuk makanan yang pantas gizi dan pantas harga. Ayam kini dijangkau setiap kalangan. Ayam-ayam putih yang berjengger merah tadi setiap harinya disembelih entah berapa ribu ekor untuk menghuni kuali-kuali baik rumahan, restoran, maupun penjual-penjual kaki lima. Manusia sepertinya terlalu terbuai dengan rasa gurih ayam dan tanpa sadar telah merenggut haknya sekian banyak.

Oke, saya ngaku saya manusia bukan ayam. Dan sekali lagi, saya tegaskan tulisan ini ditulis oleh manusia dan dalam pengerjaannya, tak sepeserpun saya dibayar oleh ayam (?). Saya cuma mau menyimpulkan sebuah konsep dari uraian panjang tentang ayam ini. Alam telah berubah sedemikian ekstrim oleh manusia yang tak pernah merasa cukup. Ayam yang tadinya bisa terbang jadi kehilangan kemampuannya, terlebih lagi, bagaimana status ayam-ayam konsumsi itu? Rekayasa genetik telah membuatnya luar biasa berbeda.

Ini cuma opini saya yang juga seorang penyuka ayam. Lihatlah lagi apa yang telah kita perbuat guyes~ Buat memperbaiki kekacauan alam, menghentikan pembalakan liar, pencemaran sungai, dan lainnya itu, yang kita lihat harusnya bukan cuma momok global warmingnya dong, tapi juga perasaan mereka seandainya apa-apa saja itu, yang anda perlakukan semena mena punya perasaan tak ubahnya anda sekalian.

-Yuanita Wahyu Pratiwi, atas nama ayam di seluruh muka bumi-

Wednesday, December 18, 2013

Seminggu di Penghujung Semester Satu

Terlalu mainstream kalo saya bilang 'rasanya baru kemarin', tapi ya gimana lagi, kalo diliat dari sisi dimana saya berdiri detik ini, waktu-waktu dibelakang rasanya memang terlalu cepat berlalu. Lucunya, hari dimana saya membaca tulisan ijo di snmptn.ac.id kalo saya diterima di Jurusan Sejarah Universitas Gadjah Mada itu terjadi tujuh bulan yang lalu. Ketika itu tanggal 27 Mei, pengumuman dimajukan. Paginya dengan tampang tak terdefinisikan, saya masih main ke sekolah, melihat tampang-tampang lain yang juga tak terdefinisikan. Lawakan dan tawa-tawa tanpa kata anggun dan santun mungkin mengalir seperti biasa, tapi tiap-tiap dari kami tahu, kalau kami satu sama lain memelihara bisul sama besar yang akan meletus sorenya.

Sekarang, setelah melalui berbagai proses, sempat menganggur dan menikmati sesi penggemukan yang tak disengaja (ya mana mungkin saya menyengaja menggemukan diri?!) selama beberapa bulan, dan mencicipi apa yang dinamakan perkuliahan, bertemu dan menyegani banyak orang serta menjadi candu oleh atmosfer baru, ternyata saya sudah sampai di penghujung semester. Ada banyak sekali hal yang terjadi, bagaimana saya yang males ini harus membiasakan diri mengurusi kerapihan diri serta tempat tinggal seorang diri, bahkan sampai sempat mendapat teguran dari Yang Maha Kuasa dengan dua butir (?) kelabang, menunaikan kewajiban dengan waktu yang tak seragam setiap harinya, dan menjalani hidup secara normal dan bahagia sebagaimana anak muda pada umumnya.

Pola pikir saya sedikit sudah terpengaruh oleh kuliah-kuliah selama empat bulanan ini. Well, sekarang, gak tau kenapa, bawaannya kalo orang awam berkoar-koar tentang sejarah dengan pedenya (sama saja seperti yang saya lakukan dahulu sebenarnya) bawaannya sweatdropped. Soalnya guyes, terlalu banyak, terlalu banyak kegelapan dibalik kegemilangan yang hanya kita ketahui selama ini. Ibarat kata seperlima dari gunung es yang nampak di permukaan laut, sejarah yang ditutup-tutupi dari orang awam adalah gunung es yang gak kebagian tempat untuk eksis dan lantas dendam hingga menelan tumbal Titanic yang jadi legenda Atlantik Utara. Sejarah itu bukan benar atau salah, kanan atau kiri, pahlawan atau pemberontak, hitam atau putih, tapi semua warna. Kekuatan sejarah adalah eksplanasi yang empiris sekaligus dekat dan menyeluruh dengan bantuan "multidimensional approach". Objektivitas hanya ada di peristiwa aslinya, subjektivitas mutlak ada, dan metodelah yang membedakannya dari sekedar omong kosong dan cenahyangan belaka.

Adaptasi saya disinipun sudah meraih posisi yang nyaman. Doa saya sekian lama benar-benar terkabul, dan rasanya luar biasa. Rasanya saya masih ingat sensasi gundah yang luar biasa menjelang kepindahan, bagaimana saya merasa benar benar jauh dan sendirian, dan seberapa parah saya homesick sampe nangis tiap malem di kamar. Dalam hari hari awal itu, doa saya masih sama, saya meminta untuk didekatkan kepada orang-orang yang baik dan bisa membahagiakan saya, dan sekarang semuanya benar-benar terjadi. Kelas dimana saya berada ini adalah kelas ternyaman yang pernah saya tempati. Mungkin homoegnitas minat dan pola pikir yang menyatukan kami. Meskipun diantaranya ada beberapa orang diluar kelompok, mereka hanya individu atau kelompok kecil yang sangat minor dan tak demikian membelot. Yang lain hanya menanggapinya ringan sejauh apapun dampak kekacauan yang bisa mereka timbulkan sebenarnya bisa memecah belah kami.

Beberapa kali, nampak seolah ada masalah serius yang datang menghampiri. Kami kemudian membuka forum untuk meluruskannya, tapi di kemudian hari forum tersebut malah menghasilkan masalah baru. Tapi sebagaimana yang saya katakan, persoalan pelik semacam ini hanya untuk sebagian kecil orang, minor, amat minor. Sementara yang lain sewarna dengan pemikiran saya, tak pernah betulan menganggap ini masalah.

Satu semester yang diawal terlihat amat sangat panjang kini sudah menyentuh akhir. Beberapa mata kuliah sudah menutup buku presensi dan menuntaskan evaluasi. Untunglah di semester depan, mata kuliah yang diambil masih paket dan kesemuanya wajib, karena buat saya pribadi, rasanya pasti sulit mendapati kelas ini tak lagi berpadu dalam satu kesatuan. Ketika nanti kami telah dipisah-pisah oleh spesialisasi, entah akan seperti apa jadinya. Sementara itu masih lama, saya ingin fokus menikmatinya.

Seminggu terakhir ini, kami dibebani beberapa tugas paper yang amat menyita waktu dan pikiran. Belum lagi, minggu depan adalah minggu tenang yang notabene merupakan garis start menuju ujian akhir semester. Beberapa diantara kami memutuskan untuk pulang, yang rumahnya agak jauh memilih untuk berhemat ongkos dan menahan diri, sementara yang rumahnya lebih jauh lagi harus lebih bersabar dan bersabar.

Pertemuan pertama kelas awesome ini secara keseluruhan terjadi di sebuah sore yang saya lupa tanggalnya. Jadwalnya ketika itu sebenarnya adalah technical meeting untuk Bratasena 2013. Dalam pertemuan itu, saya melihat beberapa wajah lama yang saya lihat di gathering selepas test toefl, dan wajah-wajah baru.

Kuliah pertama kami berlangsung di ruang A 203 dengan kuliah orientasi Pengantar Sejarah Indonesia oleh Prof. Bambang. Beberapa orang terlambat ketika itu dan saya sempat kena tegur akibat main ballpoint. Kami kemudian melalui sebuah step wajib maba sejarah yang dinamakan Siwaramudya. Dalam event itu saya mendapatkan sebuah nama. 

Berikutnya ada History Week, disinilah skuadron artistik pertama kalinya mengalami pelatihan resmi. Selama sekitar sepuluh hari, kami pulang hampir tengah malam untuk mengurusi tata letak, dekorasi dan artistik HW 2013. Dari acara inilah, dibentuk skuadron artistik yang tersiagakan untuk acara-acara berikutnya. Yang terakhir ada inagurasi. Event ini yang paling kerasa pahit manisnya. Event dimulai dari rapat pleno awal, disana kami menentukan susunan panitia dan saya kembali mendaftar di skuadron artistik. Selain itu, dibentuk skuadron darurat untuk menggalang dana yakni Skuadron Nasi Kucing. Skuadron ini menangani produksi nasi kucing demi penggalangan dana untuk inagurasi, dan saya turut terlibat didalamnya. Inagurasi ini prosesnya berlangsung cukup lama, mungkin sekitar 2 bulan, dan banyak letupan-letupan didalamnya. Tapi darisinilah saya semakin mengenal dekat beberapa orang. Meski hasilnya kami belum beruntung untuk menang di acara penutupan Bratasena ini, saya pribadi puas. Kami sudah mencoba apa yang kami bisa, selain itu, kami memiliki kompetensi mumpuni yang tak masuk kategori penilaian. Yang jelas, setiap usaha baik menghasilkan kebaikan, dan itu bisa kami rasakan sekarang.

Dalam dinamikanya, kelas ini sempat melakukan sebuah trip angkatan ke Semarang. Meski kunjungan itu terlampau singkat, lagi-lagi kami juga mendapatkan banyak hal dari sini. Kunjungan ini juga menjawab salah satu ambisi saya untuk pergi ke Little Netherland ini.

Disini saya memiliki beberapa dokumentasi perjalanan kami.

masterpiece squadron artistik yang diarsiteki oleh Rama

foto sama Gatot Rp 5000,-

WIP with Habib, sekarang ancur :v

posenya -_-

depan lawang sewu, kaya abis demo~


dibis mau ke Semarang

masih di lawang sewu

detik detik menjelang tampil~

poster inagurasi dalam semalam
Gatot dan Soeharto, dua ikon~

anglenya lumayan :v

isi posternya mantap XD

mau berangkat kirab~~


malam puncak History Week 2013, semuanya cokelat~


begitu kostum gatot jadi, foto bersama crew


Monday, November 18, 2013

Masihlah Kisah Cinta yang Sama

Guyes, sekali lagi hidup ini membuat saya terpana sekaligus senyum-senyum sendiri. Banyak sekali misteri yang ada di dalamnya, terkadang apa yang sebenarnya misteri itu meliputi hal-hal sederhana yang banyak tak kita sadari. Tapi inilah kenyataannya, sadar atau tidak, dengan campur tangan kita atau bukan, kehidupan adalah sebuah mekanisme ajaib yang nyata.



Suatu ketika di salah satu kelas, saya pernah di troll oleh seorang teman baru saya. Dia yang ketika itu duduk di sebelah saya bertanya saya suka sejarah apa. Saya bilang, saya suka Kolonialisme Barat, apapun yang kaitannya sama ekspansi kekuasaan Barat kesini deh, terutama sejarah Jakarta. Lalu dia melanjutkan, "Ayo coba kolonialisme sama imperialisme bedanya apa?" Dan disanalah saya kalah. Entah kenapa saya bisa kehilangan poin waktu itu. Bagaimana mungkin saya jatuh oleh pertanyaan yang demikian mendasar. Oke saya memang habis merehatkan otak saya untuk beberapa bulan, tapi saya pernah baca beberapa buku menarik, dan sepantasnya saya tak melupakan substansinya. Tapi sudahlah, tuan yang pernah menjatuhkan saya. Sekarang saya sudah lebih banyak membaca. Saya mungkin speechles soal sejarah militer dan persenjataan, tapi saya janji nggak akan kalah soal sejarah kolonial lagi. Saya angkat topi soal knowledgemu yang luar biasa, dan itu tantangan yang luar biasa juga buat saya.

Tadi di kelas paling istimewa sesemester, Pengantar Sejarah Indonesia, nostalgia tiba-tiba menculik saya untuk secara ragawi tidak lenyap dari kursi paling depan yang segaris lurus dengan meja dosen, tapi lenyap secara konsentrasi karena seketika layar proyektor menampilkan judul presentasi, saya kembali ke hari-hari Rabu semasa kelas satu SMP, sekitar jam 10, setelah olahraga yang disambung istirahat; kelas sejarah Bu Nanik Purwati.

Beliau sempat kami juluki Bu Rocker karena suaranya yang khas sekali. Jikalau sudah berurusan dengan sampah dan kedisiplinan di dalam kelas Beliau amat garang. Entah kenapa, saya yang sebenarnya amat urakan, sebodoan, dan susah sekali untuk bisa terikat baik dengan aturan ini kebanyakan justru memiliki guru-guru favorit semacam ini ya? Saya juga kurang tahu sampai sekarang. Yang saya mengerti cuma galak atau tidak itu bukan soal asal saya sudah lebih dulu suka. Dan saya cinta sekali dengan pembawaan beliau.

Professor kami bilang, apa yang diajarkan di sekolah selama ini, yang bahannya mengacu pada Sejarah Nasional Indonesia yang tak lepas dari pesanan politis ORBA, sejarahnya punya banyak kesalahan. Aru Palaka sang Kaisar Sulawesi di cap pengkhianat sebagai konsekuensi dari mengangkat Hasanuddin sebagai pahlawan. Simpelnya, beliau katakan sebagai "Gagalnya Historiografi Indonesia" yang terkenal itu. Sebagai antitesis, ketika diskusi selepas kuliah ini salah seorang teman saya mengeluarkan steatment yang cukup keras, "Berarti Institusi Keguruan itu penuh kebohongan dong Pak."

Tapi Professor tak lantas mengiyakan. Dan itu jawaban yang cukup melegakan. Katanya, "Kita nggak bisa bilang demikian, Mas. Memang mereka mempelajari apa yang akan mereka ajarkan di sekolah, tapi saya yakin anda-anda sekalian disini pasti memiliki guru sejarah yang hebat. Saya pun punya guru sejarah yang hebat."

So, Pak, I got it. Sejarah yang diajarkan di sekolah memang bukan sejarah kritis. Orang-orang diatas, para penyusun kurikulum misal, memang memiliki kewajiban untuk tidak mewarisi semakin jauh sebuah langkah yang salah. Memang tak ada sejarah yang objektif, tapi subjektif pun, objektifitas tetap adalah hal yang paling diusahakan seorang sejarawan. Beberapa guru mengajar bak menggunakan tutorial untuk memasang sekrup demi sekrup di sebuah mainan rakitan, tapi guru-guru spesial berimprovisasi dan menginspirasi. Membangun dalam mindset murid-muridnya lebih dari sekedar tujuan melainkan impian. Guru-guru seperti itulah yang beliau maksud saya rasa.


Di buku teks, saya tak menemukan nama Afonso de Albererquerque, tapi Bu Nanik memanggilnya berulang ulang hingga ia terngiang sampai sekarang di benak saya, bersama bayangan seorang Portugis berbaju merah. Di buku tak ada Dr. Nomensen yang Zending, atau Franciscus Xaverius yang Missionaris itu, saya baru menemukannya di buku lain beberapa tahun kemudian, tapi nama itu bisa demikian awet bercokol dalam benak saya. Dan masih banyak nama-nama lain yang berperan dalam dua kali empat puluh lima menit panggung sandiwara beliau yang membentangkan cakrawala sejarah yang demikian luas dari Perang Salib hingga Napoleon kalah dan tercetus Konverensi London. 

buku ajaib ini masih saya bawa sampe Jogja~

Buku tulis tipis saya ini hanya tilas yang terlihat, karena selebihnya Beliau telah melukis dengan indah di benak saya sehingga ketika saya membuka buku tipis ini di hari ini, ketika 5 tahun sudah berlalu sejak Beliau membawakan kisah ini di kelas, buku ini adalah jendela yang menyajikan dunia dengan segala warna-warninya yang indah dan perjalanannya yang menakjubkan dari masa ke masa. Mungkin tilas ajaib ini akan tetap saya bawa ketika suatu saat nanti saya ke Leiden.



ini foto catatan saya pas SMP~

Lima tahun setelah untuk pertama kalinya saya mendengar kisah ini, tadi dosen saya menerangkannya lagi. Bahasannya hampir sama, hanya berbeda di beberapa aspek partikuler saja. Dan ketika itu, perasaan saya berada di dua dimensi waktu berbeda, di sebuah kelas berlabel 7.6 disamping seorang bocah gila Fisika bernama Nurina Nidya, atau di ruang G.302 gedung Zoetmoelder FIB UGM, di sebelah seorang pelawak intelek yang expert Sejarah Jawa. 

Saya tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum, bagaimanapun saya merasakan indahya jatuh cinta lagi, entah untuk yang berapa kali sejak saya pertama kali jatuh cinta pada mata pelajaran ini di kelas tiga SD dulu. Saya pernah berada pada situasi dimana saya merasa sangat tidak menikmati kelas, mati-matian menahan kantuk, memutar otak demi memasukkan materi yang samasekali tidak ramah, dan menjadi salah satu dari yang terbuang, orang-orang yang eksistensinya samasekali tidak berarti, orang-orang di garis tepi yang hanya bisa memancing keluar emosi guru. Setelah masa-masa berat itu, indah sekali rasanya jatuh cinta lagi, menemukan diri saya diterima dan bahagia. Terimakasih atas hidup yang penuh berkat ini Tuhan, apapun yang saya lakukan tak akan pernah melukiskan syukur yang semestinya.


Kadang saya tak sabar untuk mengetahui misteri apa lagi dalam hidup ini yang akan terbongkar dan memancing keluar selengkung senyum saya. Tapi ketika dorongan untuk itu muncul, saya mulai menahan diri. Menyiram api-api gejolak yang mulai muncul dengan air embun pagi hari, dan meyakinkan diri bahwa tak perlu sedemikian buru-buru. Saya hanya perlu menikmati alurnya dan menemukan saya menjadi orang yang bahagia nantinya, jauh lebih bahagia dari sekarang.


18 November 2013

Friday, November 15, 2013

Jeanne de Arc di Hetalia The Beautiful World Episode 15



Well, beberapa minggu yang lalu saya dapat tugas dari matkul favorit saya yakni Pengantar Ilmu Sejarah. Ketika itu, tugas kami adalah untuk mencari contoh suatu aspek sebagai kekuatan sejarah yang tercermin dalam sebuah peristiwa sejarah. Aspeknya macem-macem, ada umur, golongan, etnis, sex, ekonomi, budaya, dan masih banyak lagi. Kebetulan yang saya dapet waktu itu Budaya, padahal berhubung saya baru saja membaca "Perang Cina dan Runtuhnya Negara Jawa"-nya Remmelink, saya pengennya sih etnis. Soalnya, isu rasisme itu terdengar lebih sensitif.

Seorang teman saya yang mendapat tema sex kemudian langsung menemukan tugasnya beberapa detik saja setelah dia mendapatkan takdirnya. Dengan berapi-api, ia mempresentasikan penjelasan mengenai poligami King Henry VIII yang melatar belakangi terbentuknya gereja Anglican untuk pertama kalinya karena Gereja Katolik tak mengizinkan poligami. Sejak itu, King Henry benar-benar memutus hubungan dengan Gereja Katolik dan memimpin sendiri gereja di Inggris dengan nama Gereja Anglican. Bahkan sampai sekarang pun, ratu Elizabeth II jugalah masih pemimpin gereja Inggris.

Hal itu kemudian membuat saya makin buntu. Budaya itu luasnya luar biasa, dari bahasa, makanan, sampai korupsi itu semuanya budaya. Saya betul-betul nggak punya pegangan sampai saya membaca sedikit penjelasan di buku Pengantar Ilmu Sejarahnya Kuntowijoyo mengenai periodisasi historiografi Eropa yang lebih didasarkan pada kebudayaan dari pada politiknya. Setelah mengorek berkas lama di komputer saya menemukan Episode ini dan lantas semakin terinspirasi. Satu dua literatur pendukung kemudian menuntun saya untuk mulai bekerja dengan bahasan Zaman Kristen Awal yang saya kaitkan dengan Sang Perawan, alias La Pucelle, Jeanne de Arc.

Saya menggunakan sudut pandang film Joan of Arc yang mengisahkan bahwa Jeanne adalah seorang yang tumbuh di lingkungan religius menjadi seorang dengan religiusitas tinggi. Ia yang banyak dikatakan mendapat bisikan Tuhan lewat mimpi untuk menyelamatkan negerinya hingga kemudian bisa menang Orleans, menggulingkan pemerintahan sebelumnya yang bobrok dan mengangkat Raja baru bagi Prancis, lebih karena ketika ia masih kecil, desanya pernah diserbu pasukan Burgundy dan kakak yang amat disayanginya gugur dalam peristiwa itu karena melindunginya. Hal itu memicu tumbuh dendam amat besar dalam diri Jeanne. Selain itu, religiusitasnya kemudian juga dimaknai sebagai pemikiran over control terhadap dirinya sendiri hingga kemudian ia tak bisa membedakan mana yang ambisi pribadinya, mana yang keinginan Tuhan. 

Dalam sejarah, mestinya memang tak ada Pahlawan atau Pemberontak yang sedianya hanya merupakan orang-orang yang dijadikan simbol dan berderajat sesuai dengan dari sudut mana ia dipandang. Yang ada hanya orang-orang besar yang menjadi ikon dalam sebuah peristiwa yang meletup, lengkap dengan hitam putih yang ia punya. Tanpa mahkota atau borgol, melainkan keseluruhan latar belakangnya, apa yang ia bawa, miliki dan persembahkan kemudian. Sehingga ditengah ketidak mampuan lepas dari subjektivitas pun,  objektivitas masih merupakan hal yang diusahakan.

Lepas dari siapa itu Jeanne de Arc dan mengapa namanya demikian besar, ia telah lahir dan tumbuh pada zaman yang sulit. Zaman itulah yang kemudian menempanya menjadi seorang dengan pribadi sedemikian kuat. Pada akhirnya, seorang religius seperti Jeanne pun harus mati atas tuduhan sebagai pagan oleh Inggris yang sebenarnya justru pagan. Hal ini sangat mungkin mengingat pada zaman kristen awal, isu paganisme dan penyihir atau bahkan segala bentuk keuatan lain selain gereja ditentang keberadaannya. Kekuasaan gereja adalah mutlak, setidak masuk akal apapun itu, seotoriter apapun itu. Karena Jeanne sang Perawan pun, akhirnya harus mati dibakar atas tuduhan Bid'ah yang tak dilakukannya. 

Di Hetalia sendiri, Jeanne adalah satu-satunya manusia yang benar-benar dicintai France saya rasa. Yang jadi masalah dari Pairing super Angst ini adalah immortalitas mereka yang berbeda. Kalau France bisa menyaksikan pembakaran Jeanne tanggal 30 Mei 1431 dan kembalinya seorang mirip Jeanne di harinya yang sekarang bernama Lisa dengan sepasang mata yang sama, Jeanne hanyalah manusia biasa yang umumnya hidup tak sampai satu abad lamanya. Terlebih lagi ia yang harus mati muda dalam ambisinya. Tak ada setitikpun celah yang mengizinkan mereka berdua untuk bersama. Sampai kapanpun.

Dan ini kata-kata France yang membuat episode ini semakin spesial buat saya. 





To all People that get tossed about by history,
I always hope they'll be reborn into a normal life, fall in love, and end up living happily somewhere.
When I saw you, I thought God does wonderful things.
Be happy this time. It seems like my wish has already come true.


Akhir kisah, tugas itu pun dapat saya kerjakan dengan bahagia dan lancar prosesnya. Presentasi saya pun mulus meski sepertinya terlampau partikuler menjelaskannya. Tapi saya rasa cukup lah. Lagipula saya mengerjakan tugas ini dengan sangat senang hati. Itu nilai sempurna pertama saya, meski masih dari saya sendiri.


Yuanita Wahyu Pratiwi
15-11-2013

Saturday, August 17, 2013

Restorasi, A Hetalia Fanfiction

A Hetalia Fanfiction, for all Nether-Nesia lovers
Khusus dipersembahkan untuk Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 68

  
Restorasi situs bersejarah bukan hanya soal mencari tambang devisa baru, tapi juga bagaimana ia akan mengisahkan kembali kenangannya pada generasi anyar bangsanya, mengenalkan pada mereka jati diri mereka yang sesungguhnya. Baginya pribadi, restorasi juga berarti menjajaki kembali masa lalu secara nyata. Ia akan membuat rencana yang membuatnya mengingat lagi kenangannya —entah yang pahit maupun yang manis— bersama orang-orang yang pernah hadir mengisi ruang kosong di sudut hatinya. Tempat ia meluangkan sedikit keegoisan untuk dirinya sendiri, tempat ia mengungsi ketika ia menolak kenyataan bahwa diantara jutaan manusia lainnya, dirinyalah personifikasi negara yang ditinggalinya.


Meckino Sara Proudly Present 
RESTORASI


Kota, tak jauh dari lapangan BEOS dan hanya beberapa langkah dari halaman mantan gedung Stadhuis, sekaligus lima belas menit jalan kaki dari Sunda Kelapa, Menara Syah Bandar, dan mantan Gudang VOC yang bertetangga. Kota, bukan dalam arti harfiah, melainkan nama dari sebuah tempat yang memang lumrah disebutkan demikian bagi sebuah regional di Jakarta Barat, yang berbatasan dengan laut dan Jakarta Utara, yang dulunya bernamakan Batavia, permata di Timur Hindia, di mana detik ini bisa kita dapati seseorang termangu dan larut dalam sejuta kebingungan di otak sederhananya, menatap pantulan tak elok dirinya di Kali Besar yang sudah menghitam airnya. Yah, memang benar pepatah jangan berkaca di air yang keruh karena hasilnya memang jelek. Tapi, siapa yang peduli? Orang bingung mana yang peduli dengan bagaimana air keruh atau orang yang melihat ke air keruh itu menilai tentang penampilannya? Termasuk juga gadis ini sepertinya.

Sebenarnya hidupnya sedang tenang-tenang saja, bak selokan padat tanpa arus di sekitar tempat tinggalnya. Hanya diam, semakin penuh, semakin bau, dan semakin menghitam setiap harinya. Tapi itu semua berubah ketika sekelompok orang datang, mengangkat sampah-sampah yang menyumbat otaknya dan membuat mereka bekerja kembali, membawa kasus genting yang pernah terproses disana datang lagi dan menyapa, memberinya kerja berat setelah sekian lama tak memungsi pada mestinya. Kejadian itu terjadi pada gadis malang ini seminggu yang lalu, bermula ketika Pak Pos mengetuk pintunya di pagi hari saat gadis ini sedang menyantap seporsi nasi uduk sarapannya. Tanpa ia jeda, gadis muda yang telah lihai menyambi pekerjaannya ketika menyantap makanan itu membuka amplop dari si Pak Pos tadi dan mengetahui dalam beberapa detik setelahnya bahwa yang ada disana adalah undangan dari sebuah komunitas pencinta sejarah untuk berwisata sejarah bersama mereka ke teritori kedua ‘adik’nya—Malaysia dan Singapura—. ‘Sudahlah, daripada aku hanya diam saja di sini’, pikirnya mengiyakan.

Tanpa Indonesia pernah kira, perjalanan wisata sejarah gagasan dari salah satu komunitas mandiri yang tak begitu memiliki pengaruh itu mengoleh-olehinya beban besar sekembalinya dari sana. Bukan karena seorang perempuan menor mirip dirinya mencegat rombongannya dan memaksanya berkelahi ketika mereka sedang di Penang, bukan juga karena kepesatan perkembangan teknologi Singapura. Ia tahu ia selalu kalah dibanding mereka mengenai teknologi, tapi ia mulai bisa menerimanya dan tak hanya mengejarnya dengan hanya berlandaskan dendam dan nafsu untuk bersaing demi gengsi. Ia hafal rakyatnya tak bisa serta merta ia mobilisasi kearah sana. Bukan itu semua penyebabnya  karena gadis yang pada kenyataannya merupakan personifikasi dari Indonesia—negeri Zamrud Khatulistiwa yang kini meredup kemilaunya— ini sudah cukup dewasa untuk menyikapi hal semacam itu. Kecuali ketika ada sudut lain pada soal yang tengah diujikan kepadanya yang tak tertangkap sorot tajam obsidiannya, sudut yang luput yang kemudian dihadapkan kembali padanya, soal yang mudah tapi ia kacaukan dengan tak menyentuhnya, soal yang membuatnya kecolongan, ketinggalan satu langkah lebih jauh lagi dari kedua adiknya yang menor dan gadget mania itu.

Menyusuri History Trail di kawasan pecinan di Singapura membuat mata ketiganya terbuka, membuat akhirnya perasaannya yang bebal tersentuh embun dingin.

Ditambah lagi, seseorang dari komunitas yang mengundangnya itu kemudian bicara padanya, 

“Sebenarnya kita punya yang jauh lebih mahal, tapi kenapa milik mereka lebih berkilau, ya?”

PLAKK.

Sebuah tamparan keras mendadak menampar bukan sekedar pipinya tapi hatinya yang lembek. Membuatnya berkedut memerah, menyipratkan percik-percik darah tanda kesakitan sekaligus kesesakkan yang tiba-tiba dideritanya detik itu juga.

Tamparan itu yang membuatnya kini menginjakan kaki, berkaca pada air keruh Kali Besar yang membuat wajah manisnya semakin jelek oleh pantulan air keruh yang dengan jujur menampilkan sembab pipinya, kantung matanya yang bulat-bulat, dan air mata kering yang membekas di pipinya —yang tak lama kemudian dihujani dengan yang baru lagi— dengan jelas plus tambahan efek suram khas air keruh. Yaampun, Nona… pria mana yang akan menoleh padamu bila kondisimu seperti ini, ha?

“Aapa yang harus… hiks, kulakukan?! Argghh!!

Ia terus melontarkan pertanyaan tak berguna yang tak akan dijawab baik oleh air keruh Kali Besar, angin pinggir laut yang bertiup kencang dan mengeringkan air matanya dengan cepat, maupun ‘peer’nya, ujian remedialnya, bangunan-bangunan yang sedianya cagar budaya tapi kini hampir rubuh tak bersisa. Mungkin jika wisata sejarah kemarin tak pernah diikutinya, jika para anggota komunitas itu tak pernah memberinya tamparan, ia hanya akan duduk manis di rumah dinasnya, sarapan Nasi Uduk di pagi hari, berlawat ke Raja Ampat di siang hari, menengok ujung Sumatera di sore harinya, dan kembali lagi ke rumah dinasnya, sampai-sampai ia menonton berita di televisi kalau topi-topi lebar warna-warni khas Noni Belanda yang jadi lauknya sepeda ontel sewaan di depan museum Fatahillah sudah diganti semua dengan helm proyek warna oranye karena khawatir para wisatawan kerubuhan bangunan tua yang banyak bertebaran disana.

Sebenarnya ada banyak rencana yang tercanang di otaknya semenjak hari itu. Ia bisa saja mulai membentuk dewan untuk pemugaran kawasan Kota Tua Jakarta yang sebenarnya sudah ada, hanya saja lebih diefektifkan. Tapi rencana itu melempem ketika ia ingat bahwa banyak diantara bangunan-bangunan tua tersebut yang menjadi sengketa. Yang lainnya, yang memiliki kepemilikan jelas oleh pihak swasta kebanyakan pemiliknya tak berminat untuk urusan pemugaran dan lebih memilih untuk menunggu bangunan tuanya runtuh agar bisa mendirikan bangunan baru untuk instrumen bisnis mereka. Ah, andai saja semua orang kaya itu bisa berpikiran sama seperti pemilik Café Batavia. Lalu ia bisa memulai kampanye dan seminar ke kampus-kampus di seluruh wilayahnya, mengajak para mahasiswa untuk aktif terlibat bagi kelestarian situs sejarah di setiap daerahnya. Tapi impian itu kandas ketika seorang siswa kelas dua SMP anak tetangganya yang biasa diajak ayahnya menonton acara debat dan diskusi politik sore hari menyeletuk tajam, “Proyek di Indonesia sekarang gak bakal ada yang beres, orang anggarannya kebanyakan di korupsi. Kalo Monas dibangunnya sekarang juga pasti dua bulan langsung rontok.” Haah, bahkan anak SMP pun hafal seberapa kacaunya dirinya sekarang. Mungkin ia bisa berkampanye lewat iklan televisi atau film dokumenter, tapi ayolah, tontonan seperti itu bukan santapan sehari-hari rakyat dengan bekal pendidikan menengah kebawah yang jadi mayoritas di wilayahnya. Selain tak akan dapat penonton, dirinya hanya akan rugi membayar ongkos tayang channel kawakan yang mahal. Mendadak ia ingin lari dari kenyataan. Secerdas apapun otaknya, ia tetap tak mampu mencari penyelesaian masalah dalam lingkup seterbatas ini.

Menjelang Maghrib ide belum juga didapatinya, dan Indonesia akhirnya menyerah pada egonya. Ia memilih untuk pulang ke rumah, melepas penatnya sejenak, berlari dari kenyataan dengan memejamkan mata diatas tempat tidur berseprai batiknya yang nyaman, berharap mimpinya menyenangkan, dan tak terkait sebenang pun dengan permasalahannya sekarang. Gadis berambut panjang yang diikat satu itu melangkah gontai menuju tempat ia memarkir sepeda antiknya, menyusuri sisi gedung bekas Balai Kota yang sekarang ramai oleh pedagang makanan dan cindera mata yang tak sepenuhnya juga khas Jakarta.

Kota Tua, sebagaimana kota-kota lama lainnya yang luput dari perhatiannya selama ini, ternyata sudah sebegini parah rusaknya. Sejak dahulu mungkin tak sedikit orang-orang idealis yang setia mengampanyekan isu restorasi situs historis, tapi itu semua tak lebih dari sekedar bisikan-bisikan tipis yang hilang tertimpa desing mesin dan deru kendaraan buah dari ambisi kosongnya, pembangunan tanpa irama yang ia kira akan berhasil pada dirinya. Sebagai personifikasi negara, ia tak bisa mengeluh lelah apapun beban yang ditanggungkan kepadanya. Untuk maju selangkah saja ia harus putar otak kanan kiri demi mencari celah bagaimana ia bisa menyaingi negara lain yang setara dengannya dalam sektor yang baik-baik. Dan kini, ketika ia menemukan sebongkah potensi dalam sudut yang ia lupakan selama ini, ia justru kebingungan dibuatnya. Setegas apa ia harus bertindak agar rencananya bisa berjalan? Kemana ia harus bersembunyi selagi berusaha untuk sedikit mengabaikan perasaan rakyatnya? Pertanyaan semacam itu terus muncul, hingga kepalanya sakit tak terkira, ia akan kira dirinya berpotensi besar untuk mati sekiranya sebelum jatuh tertidur karena kelelahan berpikir, ia ingat jika ia seorang imortalis. Selama negaranya masih memiliki eksistensi, seburuk apapun kondisinya ia akan tetap bernafas dengan oksigen sebagaimana manusia pada umumnya, sesakit apapun luka yang ia derita.

***
Indonesia, atau Nesia ia biasa disapa, beruntung karena bosnya meski sedang banyak masalah tetap menaruh perhatian padanya. Rupanya sang bos prihatin melihat kondisi personifikasi negaranya yang wajahnya selalu mendung beberapa hari belakangan. Malam tadi ia mengambil beberapa waktu dari schedule padatnya untuk menyempatkan diri mengobrol dengan sosok yang secara fisik gadis dua puluh tahunan itu. Pada kesempatan itu, gadis yang jadi lawan bicaranya tersebut mengungkapkan semua yang dialaminya, penyebab kegalauan hatinya beberapa waktu belakangan, serta rencananya kedepan sekaligus apa yang menghalanginya, hingga sang bos kemudian menyimpulkan jika masalah yang dihadapinya cukup kompleks.

“Aku akan menemukan konsultan yang handal untukmu. Sekarang sebaiknya kau mencari-cari lagi lebih banyak referensi mengenai konsep seperti apa yang kau kehendaki, aku akan sebisanya membantu. Akan kukabari kalau aku sudah berhasil membawa konsultan itu kesini.”

“Terimakasih, Bos.”

“Ya, lagipula bebanmu itu bebanku juga.”

Setelah perbincangan singkat dengan bosnya itu, Nesia kembali berlawat ke wilayah targetnya. Hari itu cuacanya sedikit lebih panas dari biasanya, tapi ia kembali mengukuhkan niatnya untuk mengayuh sepedanya melalui Jalan Gajah Mada 1, di mana terdapat tempat yang hendak ia tuju, Gedung Arsip Nasional. Tempat itulah yang direkomendasikan bosnya untuk mencari informasi yang mungkin saja bisa memberinya inspirasi atau yah, membuatnya mengenang.

Mengenang, hal yang menjadi masalah cukup krusial bagi dirinya dan mayoritas warganya. Rakyat Indonesia terkenal sulit diatur, terutama untuk urusan relokasi demi ketertiban. Alasannya umumnya serupa, klise, dan mudah ditebak bak alur sinetron yang tak tamat tujuh season, apalagi kalau bukan kenangan. Rumah kumuh di bantaran kali yang sudah puluhan tahun mereka tempati sudah memberi mereka begitu banyak kenangan, dan bagi mereka jauh lebih nyaman dibanding rumah petak rapi di rusun lantai limabelas. Kini giliran dia, sang personifikasi yang biasanya memutuskan untuk mengalahkan persoalan kenangan rakyatnya yang justru berurusan dengan kenangannya sendiri. Kini masa lalu yang menghakiminya, lebih dari yang dialami rakyatnya selama ini, seolah semuanya adalah salahnya. Menjadi seorang personifikasi negara membuatnya harus mencoba memandang dari berlainan persepsi, berpikir dengan beragam cara, dan kadang itu semua memaksanya untuk menjadi orang lain yang mengkhianati hatinya sendiri. Siapa juga yang tega mengusik kehidupan tentram nan harmonis mereka di rumah reot itu? Gadis ini pun tak akan melakukannya andai kata kondisi itu akan terus baik bagi semuanya, tapi nyatanya tidak. Wabah penyakit dan bencana akan selalu mengintai mereka hingga akhirnya skala prioritas di otak kirinya yang mengalahkan kebahagiaan-kebahagiaan kecil para penghuni rumah reot di bantaran kali. Ya, kadang manusia menukar satu kebahagiaan dengan sejuta kesedihan untuk memperoleh beberapa kebahagiaan lainnya.

Detik itu, ia sudah menumpuk beberapa buku yang ia kira relevan dengan maksudnya dihadapannya, tapi baru hendak ia buka buku pertama, ponselnya berdering. Mengisyaratkan bahwa sebuah pesan singkat telah masuk ke inbox-nya, dan hanya perlu menekan sebuah kombinasi tombol simpel untuk mengetahui dan membaca isi dari pesan yang dikirim bosnya itu.

Dari: Bos
Nesia, aku sudah menghubungi konsultan itu dan ia mengiyakan tawaranku. Aku sudah mengatur pertemuan kalian. Nanti sore datang ke café Batavia jam setengah delapan. Jangan mempermalukanku, jadi datanglah tepat waktu.

Merasa penyelesaian masalah yang tengah diusahakannya maju satu langkah, personifikasi negara yang dua pertiganya adalah perairan ini tersenyum lega. Sekarang tinggal tergantung seberapa serius ia akan menanggapinya. Jika ia dan koleganya dalam kasus ini sama-sama serius dan konsisten soal ini, rakyat Indonesia boleh berbangga hati pada identitas dan memoarnya yang akan lahir kembali di secuil tanah yang jadi nenek moyangnya Jakarta ini.

***
 


Café Batavia, 19.15

Indonesia memantapkan langkahnya ketika mencapai teras pintu café itu. ‘Baiklah, ini bagian dari perjuanganku.’ batinnya dalam hati. Perempuan itu tampil agak tidak biasa malam ini. Bukan tidak biasa karena aneh, tapi ehm, yaah, ia punya sisi anggun sebagai seorang wanita dan itu terlihat jelas sekarang. Tubuhnya yang bagus —meski tak setinggi takaran model internasional— dibungkus sesetel kebaya warna merah tua, menandakan ia sedang mendoktrinisasi dirinya untuk berani sebagaimana filosofi warna merah dalam dwiwarna benderanya. Hanya saja ia lupa kalau café yang ramai oleh wisatawan asing itu juga punya riwayat horror tentang penampakan hantu Nyai berkebaya merah. Sudahlah, sekalinya ia ingat pun ia hanya merespon dengan narsis dan mengatakan bahwa kebaya Nyai hantu itu pasti modelnya jauh lebih kuno daripada yang ia kenakan sekarang.

Diluar kebaya dengan bahan brokat anggun yang tak memiliki begitu banyak ornamen tambahan itu, riasan yang ia bubuhkan pada wajah manisnya juga sesuai. Karena temanya merah disana, riasan yang ia gunakan juga sedikit bernuansa demikian, melahirkan kesan tegas dan dewasa. Rambutnya ia gerai bebas dengan ornamen tambahan berupa sematan anggrek bulan. Yah, Bung, pantas saja tukang parkir yang biasa memarkirkan sepeda ontelnya tak mengenalinya ketika ia lewat tadi.

Bel yang ada diatas pintu bergemerincing begitu ia mendorongnya, sedetik kemudian, siluetnya kemudian masuk tertelan oleh cahaya remang dibalik pintu kaca itu. Dari dalam, seorang pelayan menyambutnya lalu mengantarkannya ke meja yang sudah Bos-nya pesankan untuk mereka di lantai dua. Cahaya yang temaram membuat wajah gadis itu yang menampilkan air muka gugup sulit terbaca. Seiring dengan semakin banyak anak tangga yang ia capai dengan langkahnya, detak jantungnya semakin naik saja temponya. Berkali-kali ia menengok arloji antik di tangan kirinya, memastikan bahwa ia belum membuat si konsultan itu menunggu. Meski sebenarnya, bukan hanya itu yang mengganggu pikirannya.

“Anda mau pesan apa selagi menunggu rekan anda?”

“Kkop—”

Detik itu juga Nesia ingat jika ia belum makan sejak tadi siang dan akan berbahaya jika asam lambungnya mengamuk di saat-saat seperti ini.

“Maaf?”

“Teh manis saja.”

Teh manis nona? Anda kira ini warteg langganan Anda?

“Maksud saya—”

“Baiklah, mau teh hitam atau teh hijau?” Rupanya sang pelayan membaca maksudnya dengan baik.

“Teh hitam.”

“Kalau begitu, silakan tunggu sebentar.”

Nesia menghela napas sambil merutuk dalam hati menyadari seberapa bodohnya dia sehingga hampir dikuasai oleh kegugupannya tadi. Teh manis, sungguh itu lucu sekali. Akhirnya, daripada terus-terusan menghakimi dirinya, ia memilih untuk menikmati suasana di sekitarnya.
Pencahayaan di ruangan itu sengaja dibuat nanar tak ubahnya dengan yang dibawah. Dalam sebuah ruangan yang cukup luas, cahaya hanya datang dari sebuah lampu kristal tua di tengahnya dan beberapa lampu kecil yang tersemat di dinding sekedar untuk menyoroti apa yang terpamer di dinding itu semisal koleksi foto mereka, atau lukisan tua.

Gadis yang malam ini terlihat lebih dewasa dari biasanya itu kini merasa seolah masa remajanya hadir kembali diboyong oleh atmosfer yang diciptakan café ini. Dari mulai tata ruang, pencahayaan, ornamen tambahan, semuanya mengarah pada suatu era yang sama di mana ketika itu ia masih bersama seseorang di kota ini. Orang lain, dari jauh sana, yang sempat membuatnya merasakan dimensi waktu mengukuhkan posisinya sebagai seorang remaja biasa, yang baru kenal dan lantas dibodohi oleh yang namanya cinta.

Membayangkan waktu-waktu jauh di belakang sana membuat wajahnya perlahan bersemu. Mungkin seperti sekian banyak perasaan yang menguasainya sekaligus saat itu dapat ia rasakan kembali desirnya saat ini, di tempat ini, bersama... ah, tidak bersama dengan siapa-siapa.

“Maaf menunggu lama, nona. Ini pesanan anda.” Pelayan tadi kini mengantarkan teh manisnya.
Nesia hanya tersenyum kaku menahan malu merasa sesi pribadinya telah dipergoki orang lain. 

“Tidak juga.”

“Ini, silakan nona.”

“Terimakasih,” ujarnya sembari membalas senyuman si pelayan.

Begitu melihat ke arah mejanya, ia terperangah. Ia hanya pesan teh manis, tapi yang datang seperti seluruh isi dapur di rumahnya. Praduganya sebelum ini hanya berputar di teh hitam dalam cangkir mewah yang elegan, atau paling jauh seperangkat poci minum teh seperti warung angkringan di Jogja, tapi yang datang justru jauh lebih parah. Sekarang, mejanya yang tadi hanya berisikan sebuah vas bunga dipenuhi seperangkat alat dan bahan membuat teh seperti di acara-acara masak. Secangkir teh hitam pekat yang luar biasa wangi disajikan dalam sebuah cangkir ditemani sendok pengaduk yang sepertinya perak, tapi juga ada beberapa cepuk kecil lainnya yang berisikan dari mulai susu, gula batu, gula pasir, dan entah apa. Bukan meminumnya, sang pemesan malah geleng-geleng tak percaya melihat apa yang ada dihadapannya. Begitu ia membuka daftar menu, ia lebih tak percaya lagi melihat harga yang tertera untuk secangkir teh dan teman-temannya ini. Ia hanya membatin, ‘pantas saja yang datang kesini wisatawan asing semua’.

Lain di café, di bahu Jalan Lada, beberapa meter dari stasiun, seseorang yang hampir terlambat dari jam yang dijanjikan padanya berjalan dengan tergesa-gesa. Jas yang tadinya ia kenakan kini ia lepas karena meski wilayah ini dekat laut dan anginnya kencang, kulitnya yang sudah tak lagi terbiasa dengan cuaca tropis tetap menunjukan penolakan. Ditambah lagi, dikejar waktu membuatnya tak bisa jalan santai dan harus berolah raga malam-malam begini. Ini kali pertamanya ia akan berpartner dengan seseorang yang tengah menunggu-nya, jadi ia tak boleh membuat partnernya ragu. Tapi di sela-sela pertarungannya dengan waktu, ia masih menyempatkan diri menyapu sekilas pandangannya ke sekitar. Hatinya mencelos menyadari tempat ini sudah banyak berubah sejak saat itu. Di samping itu, sedikit kiranya sisi manusiawinya bertanya-tanya tentang seseorang. Mungkin sebagaimana tempat kenangan mereka yang sudah banyak berubah ini, di suatu tempat di mana orang itu berada sekarang, ia juga sudah banyak berubah.

***


Sepanjang petang menyerang, ini kali ketiga pintu kaca café Batavia dimasuki seorang tamu mancanegara. Setelah perbincangan singkat yang dimulai oleh staf humas yang secara khusus menyambutnya malam itu, belakangan diketahui bahwa ini juga kali ketiganya selepas petang, tamu mancanegara yang datang adalah tamu Belanda, lepas dari sepengetahuan mereka bahwa yang terakhir ini tamu Belanda yang datang bukan sekedar warga sipil biasa.

Pria berkemeja hitam itu tak melewatkan melihat sekeliling interior café yang dirasanya sangat akrab dengannya ini ketika seorang pelayan tengah membimbingnya menuju kursi yang semestinya ia sudah tempati sejak lima menit yang lalu. Iris mata zamrudnya menangkap banyak tersangka sekaligus mengeksekusi kasus dan memvonis bahwa café ini adalah tersangka utamanya. Café yang baru pertama kali dikunjunginya —meski ia sudah mengetahui keberadaannya sejak lama— ini bertindak bak mesin waktu, menyeretnya kepada sekelumit runyam lorong nostalgianya dan membuat seketika nafasnya memberat seiring dengan kian banyak anak tangga yang didakinya.

“Meja anda yang di ujung sana, Tuan.” Ujar si pelayan seraya menunjuk sebuah meja dengan sepasang kursi panjang tepat di ujung ruangan di mana seorang wanita berkebaya merah sudah lebih dulu duduk di sana sembari memandang ke luar jendela besar di sisinya. ‘Jadi wanita itu yang akan jadi kolegaku…’ batin pria itu.

“Kalau begitu terimakasih.” Katanya dengan bahasa Indonesianya yang masih cukup fasih untuk ukuran orang asing seperti dirinya.

“Sama-sama, Tuan.”

Anehnya, pria itu tak langsung bergegas meski si mas pelayan sudah meninggalkannya dan hampir delapan menit sudah ia mangkir dari waktu yang dijanjikan padanya. Ada hal yang sulit dideskripsikan yang menggangu pria itu sepertinya. Air mukanya agak gugup diiringi beberapa bulir keringat yang meluncur dari pelipisnya, sebuah fenomena tak wajar di ruangan ber-AC sekalipun ia adalah pria benua biru.

Secara tak kasat mata, pria itu bertarung dengan banyak hal dalam pikirannya, dengan pikiran buruk, kegugupan, kekhawatiran dan kesulitan pribadinya untuk berjalan ke pojok ruangan dan menemui wanita berkebaya merah yang duduk membelakanginya itu. Tapi sedetik kemudian, ia merasa masih cukup waras untuk tak menghiraukan dunianya sendiri. Ia memilih untuk mengesampingkan praduga, firasat, atau entah apa namanya dan memaksa berpikir realistis bahwa seseorang disana hanyalah calon partner kerjanya dan semua kekhawatirannya tadi hanya sebatas ketakutan yang tak beralasan.

***

Indonesia kembali mengangkat lengannya untuk melihat lagi ke arah pergelangan tangannya di mana arlojinya kini tengah memaparkan kenyataan pahit bahwa ia sudah menunggu seseorang yang tak ia tahu siapa selama lebih dari dua puluh menit. Ia mulai ragu dan seenaknya melayangkan praduga buruk soal Bos-nya yang hanya mengerjainya, atau justru ia hanya menyewa seorang yang tak profesional demi menekan biaya oprasional. ‘Tapi, resminya kan aku baru menunggu sekitar lima menit.’ Sisi baik dari pertarungan batinnya akhirnya berhasil menenangkannya, membuatnya memilih untuk mengalahkan kebosanannya dengan menyeruput tehnya dan memandang keluar jendela.

Dalam kebosanan sedingin suhu Dieng pagi hari, gadis yang hampir frustasi menunggu itu mendengar ketukan sol sepatu yang beradu dengan lantai semakin mendekat ke arahnya. Secercah harapan kemudian muncul, tapi beberapa mikrosekon setelahnya otak cenahyangnya justru berspekulasi bahwa itu hantu.

"Aku harus bagaimana?!” bisiknya pada dirinya sendiri. Ia lalu mulai menyalahkan Bos-nya lagi yang malah memesan tempat duduk di pojok ruangan.
Agak menunduk membuatnya melihat sisa seduhan teh di cangkirnya yang masih sedikit. ‘Ah, teh mengandung cafein, dengan menghabiskan tehnya, kemungkinan aku bisa beberapa level lebih tenang.’ pikirnya ringan.

“Maaf membuat anda menunggu lam—”

Indonesia menyeruput tehnya dan seseorang tercekat. Apa gaya minumnya sedemikian mengerikan?

Merasa tersinggung, gadis itu kemudian menoleh kearah orang tadi dengan mimik wajah yang cukup mengerikan.

Satu.

Dua.

Tiga. Waktu terhenti tiga detik khusus untuknya dan orang itu ketika pandangan, mimik aneh, dan ketercekatan mereka beradu. Ya, khusus untuk Indonesia dan Netherland ketika mereka kembali dipertemukan.

“Tidak mungkin…” Rupanya si kolega itu menulari keterkejutannya pada Indonesia.
Sejenak, dua insan setengah manusia itu mematung dalam ilusi kosong mereka masing masing. Di mana dalam ruang hampa itu, mereka saling berpandangan dengan jarak yang jauh tak terkira sehingga satu sama lain melihat diri mereka hanya sebagai titik, tapi hujaman kilas masa lalu justru menyerang mereka tanpa jarak di saat yang sama.

Kasus yang tak terselesaikan, tanya tak terjawabkan, dan perasaan yang terlupakan begitu saja menjadi beberapa gelintir cindera mata yang ditinggalkan orang yang kini duduk tepat dihadapan Indonesia ketika ia pergi dulu. Dalam sejuta kebingungan ia tak bisa memutuskan untuk menganggap pria ini kawan, lawan, musuh, mantan musuh, atau yang lain. Beberapa dasawarsa bukanlah takaran waktu yang lama bagi seorang personifikasi negara yang notabene-nya immortal untuk melupakan apa yang ia alami pada kurun yang jauh lebih lama, dan itu membuat secara otomatis, begitu pria ini hadir kembali dihadapannya, kepingan ingatan sekian waktu kebelakang itu terangkai kembali dengan demikian kronologis.

Kehadiran pria itu kembali tak bisa ia pungkiri menjadi semacam oasis bagi sudut hatinya yang menderita dahaga kerinduan cukup parah atas mantan motherlandnya itu. Pria dengan potongan rambut tulip itu memaksanya mengenang semua yang pernah mereka alami dulu, memaksanya mereguk lagi pahit dan manisnya kenangan mereka. Detik itu juga, waktu seakan berhenti pada saat di mana ia hendak meninggalkannya setelah si pria terusir oleh kegigihan gerilyawannya dulu, membuatnya meraih kemenangan untuk rakyatnya, tapi kehampaan untuk pribadinya. Pria itu selalu datang dengan dua sisi berbeda dalam benaknya. Tak lain lagi, ia Netherland, yang ia tetap cintai meski harus dengan monopoli dan adu domba.

***

Kondisi mental Netherland setelah melihat perempuan berkebaya merah dihadapannya mungkin jauh lebih buruk dibanding ia melihat hantu nyai yang katanya juga berkebaya merah. Ia secara terang-terangan mengakui pada dirinya sendiri bahwa sebab mengapa ia sedemikian terperangah tadi ialah karena rasa bahagianya yang luar biasa. Mendapati orang yang sempat dan masih ia cintai yang sudah sekian lama tak ditemuinya dalam keadaan baik membuatnya berulang kali mengucap syukur pada Tuhan-nya. Tapi siapapun tahu bahwa saling mencintai adalah pertalian dua arah, ketika ia hanya dimaknai satu arah, ia hanya akan menyakiti pemiliknya. Sebagian dadanya sesak mengingat bagaimana ia pernah melukai gadis ini bahkan ketika ia terlihat jauh lebih lemah dulu, dan menyadari bahwa cintanya pasti membencinya membuat ia ingin melenyapkan diri. 

Seharusnya ia sudah curiga ketika Bos mantan koloninya ini memberitahunya jika ia memenangkan tender proyek peremajaan situs sejarah yang bahkan tak pernah ia ikuti.
Ketidak berdayaannya dalam posisi ini membuatnya hanya mampu meringkuk lemah di sudut tergelap hatinya. Tak ada sedikitpun keberanian baginya untuk memulai komunikasi saat ini, meski ia sesungguhnya sangat ingin. Berbicara dengan gadis ini membuat Netherland seolah mengorek luka lamanya, itulah mengapa ia sempat berdoa untuk tak pernah dipertemukan lagi dengan Nesia. Nesia adalah titik manusiawinya, sebuah noktah di mana ia jatuh begitu lemah dalam keputus asaan. Dan mengingat bagaimana atmosfer yang menyelimuti perasaan mereka berdua di kali terakhir mereka bertemu sebelum ini membuat Netherland semakin merasa terpuruk oleh tembok yang kian meninggi diantara dirinya dan satu-satunya penyejuk hatinya di seberang sana.

“Tak biasanya kau terlambat.”

Indonesia berbicara padanya? Oh, ini pasti mimpi terindah Netherland. Pria bendungan itu pasti sedang bermimpi sekarang!

Mendengar kalimatnya tak direspon, sang lawan bicara mendengus, “ah, sudahlah.”

“Eh, iitu. Maaf, aku baru sampai tadi sore, lalu, macet.” Ia memang tak pernah bagus dalam berkomunikasi. Itulah mengapa masalahnya yang dulu-dulu tetap dan masih menjadi masalah sampai sekarang.
 
“Macet? Selamat, kau sekarang jadi korbanku!” guraunya seraya mencoba tersenyum. Meski jika menurut pandangan umum senyum asimetris itu agak janggal, di mata Netherland yang sudah terrabunkan oleh perasaan bahagia yang luar biasa melihat itu sebagai senyuman yang membuat darah bekunya mencair.

“Senang melihatmu baik-baik saja.” Netherland memberanikan diri berbicara seraya mengangkat wajahnya. Ketika pandangan mereka bertemu, kembali ia menemukan danau paling sejuk yang telah lama tak ia selami, danau obsidian di matanya yang bulat indah.

“Aku juga.” Pemilik mata obsidian nan sejuk itu melarikan diri dari pengaruhnya. Ia berpaling cepat, seolah memungkiri ketenangan yang ia dapati dari sepasang zamrud milik lawan bicaranya. 

“Neth, aku tak menyangka ini kau. Benar-benar tak menyangka.”

“Sebenarnya, aku sudah terganggu dengan gelagat mencurigakan Bos-mu. Tapi karena menurut Ratu ini penting, aku menurut saja. Dan ternyata memang benar, ini penting.”

“Ahaha, sepenting itukah?”

“Pertemuan denganmu...”

“Tapi sayangnya bukan itu kasusku.”

“Iya, aku, aku mengerti. Tentu saja, yang tadi pasti bukan sebuah hal penting buatmu.”

“Tidak juga, semuanya penting.”
DEG. Jantungnya bedetak keras seolah untuk yang terakhir kali. Apakah Netherland baru saja menerima pengakuan?

“Hanya saja, ini yang lebih krusial.”

“Memangnya apa yang mengganggumu? Apa yang salah dengan semua ini?”

“Kau tak mengerti. Aku menghancurkan identitasku sendiri.” katanya dengan nada yang kian melemah, “Netherland, bantu aku membawa mereka kembali. Aku kira Bos benar, kau satu-satunya konsultan yang bisa kumintai andil dalam pekerjaan berat ini.” Mata obsidian itu menatapnya lagi, tapi dengan semburat yang mengganggu untuk kali ini. Netherland menyadari bahwa sinarnya tak setajam dulu, kini ia sedikit mengusam oleh beban dan persoalan. Tapi sebagai seorang yang datang dari masa lalu Indonesia, seorang yang pernah memilikinya, ia tetap bisa melihat jauh kedalam sisinya yang tak tersentuh dan tetap seindah sediakala.
“Hei, jangan tertekan begitu. Kita punya banyak waktu, dan aku berjanji kita pasti akan menyelesaikan masalah ini. Untuk sekarang, bagaimana jika kau sedikit menceritakan lebih detil tentang masalah ini” katanya gugup.

Si kebaya merah mengangguk pelan tanda setuju. Diiringi denting grand piano, pembicaraan mereka terus mengalir dengan ritme tenang. Mereka berbincang banyak, ditemani hidangan pesanan mereka yang kemudian diantarkan oleh dua orang pelayan. Berbincang banyak seolah mereka hanyalah sepasang sahabat biasa yang sudah lama sekali tak berjumpa.
Malam pada pertengahan musim kemarau ini pun menjadi saksi bagaimana waktu telah menumbuhkan ironi diantara mereka. Ledakan meriam dan desing peluru kini bertransformasi jadi denting piano merdu, sama-sama mengiringi pertemuan mereka di lain era.

***

Didasari pengalaman, Indonesia berspekulasi segera jika malam bersama Netherland ini akan jadi malam yang panjang. Stamina lelaki memang berbeda seberapapapun kuat dirinya, terlebih lagi dengan fisik tebal hasil tempaan udara dingin Eropa. Perjalanan sekian puluh jam dari negerinya, macet, dan harus berjalan jauh rupanya tak cukup membuat pemuda tulip itu lelah dan urung mengajak gadis koleganya menyurvei lahan proyeknya malam itu juga.

“Berjalan kaki tak apa kan? Akan lebih efektif jika begitu sepertinya, kita bisa melihat-lihat dengan detil.”

“Kau mau mengekspos kebobrokannya, dan membeberkannya di salah satu museum di Leiden begitu?”

“Apa kau pikir aku sejahat itu?”

“Tidak juga. Tapi berjalan kaki itu tidak manusiawi. Lihat, sepatuku solnya tujuh senti!” ungkapnya marah sambil sedikit mengangkat kain kebayanya, menunjukan pada si tulip bahwasanya apa yang ia katakan bukan alasan karena malas belaka.

“Maaf, aku tak berpikir ke arah sana.” Netherland tersenyum masam, lalu berubah menjadi senyumnya yang biasa. “Berarti hanya ada satu pilihan.”

“Apa?”

“Sepeda.”

Butuh lima menit saja bagi Indonesia untuk menunggu Netherland kembali dengan sepeda ontel warna cokelat tua. Ia berhenti tepat didepannya, lalu mengisyaratkan agar gadis itu mendaratkan diri pada boncengannya.

“Memang kau masih hapal jalan di sini? Semenjak kau meninggalkannya, mereka sudah berubah banyak.”

“Kau punya suara merdu yang tak akan rela disesatkan olehku. Aku tahu itu.”

“Maksudmu aku akan secara reflek meneriakimu jika kita salah jalan, begitu?”

“Persis.” Netherland tertawa kecil. ‘Kau tak pernah berubah, aku tak pernah kehilangan dirimu. Nampaknya itu yang membuatku rindu.’ batinnya dalam hati.

Dari pelataran Stadhuis, tak butuh waktu lama sampai mereka semakin mendekat ke laut. Kota ini dulu kota dermaga yang indah. Ketika malam tiba dari kejauhan lampu-lampu pijar buah sibuknya aktivitas disana akan menyala, berpendar dari kejauhan, menjadi permata penyelamat bagi kapal-kapal yang hilang arah. Netherland mungkin masih bisa mengenali artefak antropologis ini sebagai kotanya yang dahulu, tapi butuh keteguhan untuk menahan gejolak kekecewaannya pada kenangan-kenangannya yang mulai hancur tergerus masa. Jika ia saja kecewa, seseorang seperti dirinya yang berada dibalik berdirinya kota ini tapi tak punya tanggung jawab apa-apa terhadapnya sekarang saja kecewa, perasaan macam apa lagi yang dirasakan pemilik raga dalam boncengannya? Jujur dari hati terdalamnya, ia tak sanggup bahkan untuk sekedar membayangkan berada pada posisinya. Setiap bangsa memiliki masa-masa berat, tapi merasakan perasaan tersiksa milik seseorang yang penting baginya, ternyata jauh lebih berat dibanding ia yang merasakannya sendiri.

Sementara itu dalam batin sang personifikasi Nusantara, berkecamuk banyak pikiran buruk. Mereka menguasainya dan menyerang ketegaran perempuan itu dengan hantaman pesimisme. Hatinya mencelos kian dalam mengira-ngira apa yang dirasakan Netherland terhadap titipan berharganya yang kini memudar eksistensinya. Matanya mulai berkaca-kaca menyadari kebodohannya, menyadari matanya yang selama ini ia pejamkan rapat-rapat dari kenyataan yang kian menggerogoti aset-aset berharganya. Habis mau bagaimana? Pemerintah negara amatiran buah pembebasan kolonialisme perang dunia kedua ini terlalu sibuk oleh banyak hal. Bagaimanapun rakyat yang menjerit oleh kenaikan harga-harga barang pokok lebih menuntut perhatiannya dibanding situs-situs bersejarah yang diam seribu bahasa. Hingga sampai pada sebuah kebiasaan kalau ia hanya mengurusi keadaan kritis rakyatnya setiap waktu. Rintihan-rintihan yang menyayat-nyayat hatinya itu memaksanya mengimpor barang untuk menekan harga, menyubsidi banyak barang, dan berhutang lebih banyak lagi. Semuanya hanya penanggulangan jangka pendek yang memaksanya untuk gali-tutup lubang. Memesinasi dirinya yang kemudian hanya bergerak sesuai dengan pola-pola, menanggulangi masalah dengan penanggulangan yang melahirkan masalah baru, dan samasekali tak pernah keluar dari sana.

“Maaf Neth. Sudah terlalu mustahil, ya?” Matanya menerawang jauh. Seketika ia kembali pada posisi startnya. Segalanya yang sudah ia rintis dengan susah payah soal ini mendadak tak berharga lagi. Membuat hanya tinggal seujung jari lagi sampai ia melepaskannya pergi, merelakan segala kesempatan dan jerih payahnya membumbung tinggi, menjauh dari raihannya.

“Eh, tentu saja tidak.” Netherland sedikit terkejut mendengar pertanyaannya yang demikian tiba-tiba. Seperti tak hanya dalam benaknya, dalam pikiran pria ini pun sepertinya tengah berkecamuk sesuatu.

“Tak apa jika kau tak menyanggupi ini. Kau bisa pulang, nanti biar aku yang bilang pada Bos.”

“Seperti bukan dirimu saja.”

“A-apa?”

“Kita bahkan belum memulai apapun. Tolong jangan sepesimis itu.”

“Apa aku bisa percaya padamu?” Gadis itu menunduk dalam seolah Netherland tak sedang memunggunginya, berusaha mengunci rapat-rapat apapun yang ia tak ingin Netherland ketahui darinya saat ini.

“Entahlah,” Netherland meraih salah satu tangan Nesia yang berpegangan padanya dengan tangan kirinya, menggenggamnya erat, menenggelamkannya dalam kehangatan yang bisa dirasakan bahkan oleh hatinya, “yang jelas, aku tak ingin melihatmu sepesimis ini.”

***

Menyusuri jalan-jalan sempit diantara gedung-gedung tua akhirnya membawa mereka kembali menapaki jalan utama menuju Sunda Kelapa. Ketika itu, malam sudah sangat larut. Lampu-lampu bersinar temaram karena perlahan cahaya-cahaya yang terombang ambing milik para perahu nelayan di dermaga mulai bergerak menjauh untuk mengejar asa mereka menyambung hidup di keesokan harinya. Pelabuhan ini salah satu yang tersibuk yang Nesia miliki. Tanpa kurang, ribuan orang beraktivitas di sini setiap harinya, ramai dan sibuk sebagaimana ketika ia mencapai masa kejayaannya dulu, tapi membisu menghadapi gempuran waktu yang mulai menghancurkan kenangan-kenangannya.

Sepanjang jalan yang mereka lewati tadi, keteguhan hati yang susah payah Netherland bangun untuk tak turut jatuh kecewa dan menjadi pelindung bagi pijar api kecil di hati seseorang yang diboncengnya mengenai restorasi ini turut goyah, bahkan hampir jatuh menimpa pijar api kecil yang akan segera mati juga itu. Ia sadar, bagaimanapun juga bukanlah masa kejayaan yang akan hadir kembali disana ketika misalnya, kota kecil itu berhasil direstorasi, melainkan masa perjuangan berat di mana yang berkuasa disana adalah bangsa asing, lintah darat yang menyedot darah segar dan nyawa-nyawa rakyat Indonesia.

Kota kecil itu bisa diasumsikan hanya sebagai tilas kejahatan Netherland yang ketika itu sungguh gelap mata jika cinta tak meneranginya dengan segera, dan mendapati kenangan buruk itu hadir kembali dalam bentuk baru yang lebih baik akan memaksa memoar-memoar itu mengalir lagi, memaksa Netherland untuk semakin menyesal dan memaksa untuk jauh di balik senyum puasnya, hati kecil Indonesia menderita lagi mengingat kenyataan bahwa satu-satunya pria yang teramat ia sayangi adalah mesin pembunuh bagi rakyatnya. Meski susah payah Netherland menahannya, meyakinkan hatinya jika misi ini sekedar untuk pelestarian budaya, tepat ketika ia menghentikan laju sepedanya di depan buritan sebuah kapal layar yang tengah bersandar tenang dari debur ombak yang kian malam kian menantang, keteguhan hati itu resmi runtuh. Netherland berhenti, lalu turun, membuat reflek, si kebaya merah yang diboncengnya juga turun. Si tulip itu kemudian menyandarkan sepedanya di batas dermaga, lalu berjalan pelan mengikuti langkah Indonesia.

“Nesia, setiap orang memilih jalan hidup mereka sendiri-sendiri kan? Dan kurasa tak ada yang salah untuk itu.” Ujar Netherland memulai pembicaraan yang sepertinya akan sangat panjang.

“Maksudmu?”

“Apa yang kau jalani sekarang bukan hal yang salah. Hanya itu.”

“Termasuk soal ini, begitu?”

“Ya, kurasa.”

Nesia semakin menatapnya heran, “jadi untuk apa aku meminta bantuanmu jika yang kulakukan memang sudah benar?”

“Ya, mungkin disitulah letak kesalahan yang sebenarnya.”

“Kau bercanda, ya?” Nesia menyelidik sarkastik. Ia yakin ada yang salah dengan orang di hadapannya.

“Misalnya saja, model kota seperti ini sudah tidak pada zamannya lagi kan? Sangat mudah bagi kota tua ini untuk tenggelam oleh kenaikan air laut atau gelombang besar.” Dengan nada berbeda yang dikenali dengan mudah oleh Nesia, Netherland terus mengada ada, persis seperti ketika Nesia menanyakan kemana rakyatnya yang katanya ia transmigrasikan dulu. “Kau, bisa membiarkannya untuk kemudian membangun kota yang baru, yang lebih baik, lebih nyaman, dan… tak memiliki kenangan buruk apapun untuk menghantuimu.”

“Apa katamu?”

PLAKK.

Kulit wajah Netherland yang putih terang perlahan meruam merah, memanas oleh tamparan yang baru saja sampai padanya sepersekian detik yang lalu. Tapi tak seujung jari pun ia bergeming. Mata zamrudnya memejam ringan, air mukanya tak terlihat sedikitpun menahan sakit meski kulit wajahnya yang semakin berubah warna tak menjelaskan fakta yang senada.

Setelah semua yang kau katakan tadi, apa ini pantas? Kalau memang hanya hal ini yang membawamu datang jauh-jauh kesini, sekarang juga kuminta kau pulang, Neth! PERGI!!”

“Nesia,”

“Kubilang pergi!” bentaknya lagi seraya berpaling.

“Tidak sebelum kau mengerti.” ujar Netherland seraya mendekap gadis itu dari belakang, melingkarkan lengan di pinggangnya dan memposisikan kepala diatas pundak kirinya, untuk menyesap dalam aroma yang ia rindukan untuk waktu yang sangat lama, untuk lebih berada dekat dengan hatinya, untuk turut merasakan detak jantungnya yang tak menentu oleh berjuta pikiran dalam benaknya. Semacam menahan gadis itu untuk melangkah lebih jauh ke dalam kastil di mana semua ingatan buruknya yang terpenjarakan akan menyerangnya dengan berjuta siksaan.

“Aku baru saja menyadari kesalahanku, maafkan aku. Tapi sungguh, kota ini bukan simbol kejayaanmu, samasekali bukan identitas yang pantas kau utamakan untuk kau kenalkan pada generasimu. Kota ini hanyalah tempat yang kubangun atas kepentinganku yang begitu semena-mena terhadapmu oleh darah dan keringat rakyatmu, oleh nyawa-nyawa mereka yang tak ternilai. Awalnya aku pun berusaha meyakinkan diriku bahwa alasan yang ada dibalik ini semua sepenuhnya adalah pelestarian cagar budaya. Tapi bagi orang-orang seperti kita, maknanya tak sekedar itu saja.” bisik Netherland seraya mengeratkan dekapannya, tapi seolah bongkah batu, seseorang ia dekap hanya diam.

“Nesia, aku hanya takut, segala kelam yang akan terangkat kembali ke permukaan menyakitimu lebih dan lebih lagi. Aku tak berharap kau mengampuniku atas semuanya yang pernah kuperbuat padamu diatas bongkahan tanah ini, tapi setidaknya, kau berhak untuk melupakan segala rasa sakit dan luka yang tercipta karenanya. Seberapapun aku menyesal atas waktu-waktu kebelakang, aku tetap tak bisa menghapus apapun yang pernah terjadi. Oleh karenanya, karena aku menyayangimu Nesia, mencintaimu sebagai seseorang yang penting bagiku hingga detik ini, aku tak ingin menyakitimu lagi, bahkan oleh sekedar sesuatu yang seabstrak masa lalu.”

Indonesia merasa jantungnya terhantam bola besi sejurus setelah mendengar penuturan jujur Netherland. Setetes air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya jatuh meluncur bebas ke wajahnya yang sendu. Ia terharu oleh pernyataan cinta dari mantan motherland yang ia cintai juga itu, juga oleh kekhawatiran sang mantan motherland terhadap dampak yang akan ditimbulkan proyek restorasi ini baginya. Akan tetapi, sekalipun kenyataan yang menyejukkan hati tersebut membuatnya seolah jadi perempuan paling bahagia yang tak membutuhkan hal lain untuk bisa bertahan di dunia ini, perempuan paling bahagia itu hanya sisi individualisnya. Diluar sisi itu, jutaan rakyat menggantungkan masa depan dan menitipkan perasaan mereka padanya sehingga sayang sekali, ia tak akan pernah bisa mengabaikannya.

Dengan tergerakkan oleh perasaan, tangannya bergerak melepas dekapan sang mantan motherland padanya, membuat Netherland kecewa. Tapi tak sampai sedetik setelahnya, kekecewaan itu berubah menjadi perasaan yang entah apa. Di tengah terpaan angin laut yang meniupkan suhu rendah ke arah mereka, di antara debur-debur ombak yang terpecah, dalam keremangan cahaya bulan di pelabuhan tua ini, gadis yang tadi diam seribu bahasa itu membahasakan begitu banyak rangkaian kata hanya dalam satu tindakan berarti. Ia membawa dirinya mendekat pada Netherland, dan sejurus kemudian mendaratkan ciuman lembut di bibirnya, membuat akhirnya Netherland yang diam mematung, meresapi rasa sekaligus makna dari tindakan yang tak pernah ia kira sebelumnya akan diterimanya.

Kedudukan yang amat sangat dekat membuat mereka lupa entah kapan mereka pernah sedekat ini sebelumnya sekaligus membuat mereka sama-sama mengakui apa yang tak terkatakan selama ini lewat bahasa yang degup jantung mereka sampaikan masing masing. Ketika itu, waktu seolah berputar pada saat di mana mereka sama-sama egois dulu. Ketidak stabilan jiwa remaja mereka membuat ketika itu tanggung jawab begitu mudahnya mereka tinggalkan, padahal perang justru tengah berkecamuk. Lain dengan sekarang, waktu dan kedamaian yang banyak mereka dapati tak cukup membuat jiwa mereka goyah untuk lalai dari peran mereka yang sesungguhnya di dunia ini. Dengan kesadaran penuh kini mereka mengabdi, sehingga tak ada lagi tempat untuk kegoisan diri sendiri semacam ini. Tapi ketika secara mendadak kesempatan untuk itu kembali seperti saat ini, gejolak perasaan yang tertumpahkan tak lagi mampu dideskripsikan. Keduanya pun, dalam sisi egois mereka sebagai seseorang yang secara fisik dan afektif hanya manusia biasa, tak pernah menginginkan apapun untuk lekas berakhir. Tapi kenyataan bahwa mereka memiliki hal-hal lebih dibanding manusia lah yang akhirnya membuat mereka harus menarik diri kembali pada apa yang mereka hadapi sedianya.

“Maafkan aku, Neth. Terimakasih atas semua yang kau berikan. Aku tersanjung, terharu, karenanya. Aku juga mencintaimu, bahkan sejak ketika saat-saat kelam itu masih terpapar di hadapan mataku. Awalnya aku pesimis tak bisa menangani ini tapi berkat kau aku mendapatkan optimismeku kembali. Soal rasa sakit ini aku tak keberatan, ini hanya pengorbanan kecilku untuk rakyatku. Sekelam apapun saat-saat itu, masa laluku sebagaimana diriku, semuanya adalah milik mereka, dan aku tak punya kuasa untuk menyembunyikan sekedar satu kalimat pun dari mereka. Ini pengorbananku Neth, pedih pun aku bahagia asalkan mereka juga bahagia.” Bekas air mata yang sudah mengering tadi kini basah lagi. Untuk kali ini, Nesia tak menahan apapun, tak ada yang harus ia sembunyikan di hadapan satu-satunya orang yang selalu mengisi sudut hatinya yang kerontang ini.

Menyadari Indonesia tak sanggup untuk berdiri lebih lama lagi, sekali lagi Netherland mendekapnya, kali ini lebih erat untuk alasan tak ingin kehilangannya. Ia tak ingin kehilangan keceriaan Indonesia yang membuatnya jatuh cinta sejak dulu. Ia pun tak ingin keceriaan yang semula murni itu berubah jadi hanya sekedar topeng belaka. Ia tak ingin, wajah manis yang selalu membuatnya rindu itu menghilang dibalik sendu yang ia derita.

“Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Bukankah personifikasi immortal seperti kita sudah terbiasa dengan rasa sakit? Dari masa ke masa, kita kehilangan banyak sekali orang-orang yang kita sayangi, belum lagi tanggung jawab untuk tak boleh sedikitpun hanya mementingkan diri sendiri. Jadi, percayalah.” Indonesia tersenyum menatap mantan motherlandnya itu meski masih dengan air mata. Memaksanya untuk percaya pada seluruh yang baru saja diocehkannya.
“Lagipula, Neth, dengan atau tanpamu, proyek ini sudah masuk ambisiku. Dengan ini, aku akan mengembalikan semangat perjuangan rakyatku. Aku akan tetap mengerjakannya.”
“Keras kepala,” Netherland mendengus kesal. “Tapi baiklah, jika itu maumu, aku akan tetap bersamamu.” Ujarnya seraya menggenggam erat tangan Indonesia.

***

Hari-hari setelah malam itu pun diisi dengan pencanangan proyek yang kemudian dilanjutkan dengan pengerjaan tahap awal. Mereka mengurus kepemilikan bangunan-bangunan tua itu lalu memulai pekerjaan berat mereka. Ahli-ahli sejarah, arsitektur, tata interior dan eksterior, tata kota, serta antropolog dan banyak ahli-ahli bidang penyokong lainnya baik dari pihak Netherland maupun Indonesia bekerja sama, saling bahu membahu mewujudkan nostalgia mereka kembali. Rasanya jika mengulang kembali ingatan di mana kakek nenek mereka pernah beradu senjata di tempo yang lalu, hal ini sulit dipercaya. Tapi pada akhirnya inilah membuka pikiran Netherland bahwasanya apa yang muncul di pikirannya malam itu memang salah. Tak sepenuhnya proyek yang tak ubahnya proyek pengembalian masa lalu ini akan menyakiti orang tercintanya. Toh nostalgia mereka lah yang akan dibawa kembali, disertai aspek-aspek kognitif bagi bekal generasi mendatang. Dan jika itu adalah nostalgia, berarti tak semuanya kelam, kenangan-kenangan manis mereka yang dahulu pun akan kembali bersamanya.

Di tengah pengerjaan proyek yang cukup besar ini, sangat disayangkan Netherland terpaksa harus kembali. Selain daripada ada urusan mendadak di tempatnya sana, perannya sebagai konsultan proyek ia memang sudah sampai tahap mengawasi saja. Jadi jika hanya itu, Indonesia bisa menggantikannya dan ia hanya tinggal menengok sesekali saja nanti. Yang jelas, untuk kepulangannya yang kali ini Netherland merasa lega mendapati Indonesia tersenyum puas atas Batavia yang akan kembali ini. Dan Netherland rasa, senyum puas itu sudah cukup mengalahkan nostalgia kelamnya, atau apalah itu, yang berkenaan dengan masa lalu buruk yang pernah dilaminya karena Netherland.

“Ini samasekali tak ada hubungannya dengan apa yang pernah kau lakukan dulu. Di era di mana kedamaian adalah cita-cita dunia internasional ini, rakyatku pun pasti sudah memaafkannya. Toh, Netherland yang ada di hadapanku sekarang adalah orang yang berbeda. Dank U .”

Sekali lagi, senyum tersungging di wajah kaukasoid tampannya. Sudah berlalu beberapa minggu setelah the Prince of Oranje ini kembali ke dekapan atmosfer Den Haag yang dingin, tapi seketika ada liquid hangat yang mengaliri hatinya untuk beberapa saat ketika ia mengingat sepenggal kata-kata Nesia sewaktu ia mengantarnya tinggal landas dari Soekarno-Hatta.
Rasanya dunia begitu kejam untuk pasangan yang satu ini, atau mungkin beberapa pasangan lain juga yang bernasib serupa. Mereka saling mencintai, menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing tanpa syarat, tapi oleh takdir tak diperkenankan untuk bersama ketika diluar sana perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga bertebaran di mana-mana. Sekali waktu Netherland mengumpat, menghakimi rute hidup yang terlampau panjang yang harus ia jalani sebagai seorang personifikasi negara. Ia bukan seorang penggila dunia yang mendamba immortalitas, ia justru tak pernah menginginkannya. Mungkin baginya akan lebih bahagia jika ia dilahirkan sebagai manusia biasa yang bebas mencintai dan dicintai meski harus hidup untuk sementara waktu saja. Tapi kenyataan selalu berbeda, selalu kejam baginya dan gadisnya di seberang lautan sana. Ia, tanpa tawar menawar lagi, harus kehilangan haknya yang asasi dan paling berharga baginya untuk ditukar dengan apa yang sedikitpun tak pernah terbesit dalam benaknya. Sampai detik ini pun, kalau memang ada yang menawarkannya, ia rela menukar keimmortalannya dengan dua hari saja untuk berbahagia bersama orang yang dicintainya, secara egois, hanya mereka berdua, tanpa harus memikirkan atau mengorbankan diri untuk siapapun lagi.

Tapi tepat ketika Netherland terpuruk dalam penghakimannya terhadap dirinya sendiri, seorang gadis kecil penuh luka yang terbaring lemah di pangkuannya dalam ingatannya menyadarkannya. Seburuk apapun kondisi di mana mereka berada saat ini, gadis itu mensyukuri pertemuannya yang indah dengan Netherland. Tanpa memperdulikan kenyataan bahwa satu-satunya kebahagiaan yang memotivasi gadis itu untuk bertahan adalah salah satu dari sekelompok pria yang merenggut orang-orang yang disayanginya.

Gadis itu menyadarkannya bagaimana cinta tak bicara soal benar dan salah. Ia dapat menjadi paling benar, sekaligus paling salah, baik sekaligus sangat jahat. Bagi mereka, cinta tak datang di saat yang tepat, atau mungkin lebih tepat jika tak pernah ada saat yang tepat baginya untuk hadir diantara sepasang yang sangat berbeda itu. Bagaimanapun, cinta menghadirkan keindahan di hidup mereka yang amat panjang. Keindahan itulah yang kemudian menjadi alasan terkuat bagi mereka untuk bertahan. Untuk mengerti kemudian bahwa tanggung jawab mereka juga berharga, dan tak terganjar lagi pengorbanan mereka untuk menganulir sisi manusiawi mereka dan lebih memilih rakyat di sisi mereka. Seperti itulah cinta seharusnya bagi mereka.

***

Dua hari yang lalu, ia mengunjungi Pasar Malam Besar. Sebuah festival nostalgia besar-besaran bagi para mantan tentara, warga Indonesia yang menetap di Belanda dan warga keturunan Indonesia. Sebuah festival yang sangat ‘Indonesia’ di mana banyak sekali hal yang bernuansa Indonesia bisa ditemukan di sana. Ketika itu, seseorang dari kepengurusan sebuah museum di Leiden membagikan sebuah pamflet. Netherland tersenyum melihat apa yang tercetak diatas pamflet itu. Judulnya, “Pengembalian Batavia” dan isinya adalah penjelasan yang dilengkapi dengan gambar-gambar mengenai proyek yang tengah ia garap bersama Indonesia. Seperti yang Indonesia kira, banyak orang yang antusias akan hal tersebut. Ternyata benar bahwa ia tak sendiri, ada banyak, luar biasa banyak orang yang rindu Batavia.

Sekilas di mata orang-orang Indonesia, tentara Belanda mungkin hanya sekumpulan orang kejam yang tak tahu belas kasihan. Tapi jauh di dalamnya mereka hanya orang-orang biasa yang berjuang demi kejayaan negeri yang mereka cintai. Dalam kegelisahan, mereka pun mengorbankan banyak hal, meninggalkan orang-orang terkasih di negeri asalnya, atau bahkan teribat pahit-manisnya romantika terlarang dengan gadis-gadis pribumi. Jauh di dalam hati mereka terjadi pergolakan-pergolakan sengit antara menjadi manusia atau mesin pembunuh, mempertahankan sekuat tenaga segalanya demi yang mereka cintai selagi merenggut cinta-cinta orang lain.

Netherland bukanlah satu-satunya pria yang merana oleh kekejaman takdir ketika itu. Pada kenyataannya, para orang-orang tua yang memenuhi Pasar Malam Besar ini juga mengalami hal yang sama. Tak ada yang bisa menolak pesona dan kenyamanan yang ditawarkan Indonesia baik dengan alam maupun keramahan penduduknya. Apa yang pernah mereka lakukan terhadap negeri itu hanya akan jadi penyesalan seumur hidup yang tak tertukarkan dengan apapun, tapi merasakan keramahannya dalam atmosfer damai di negeri itu sekali lagi akan menjadi obat yang sungguh berharti bagi luka hati mereka yang tak pernah beranjak mengering.

Restorasi bukan sekedar mengenang, melainkan menghadirkan kembali masa lalu ke waktu sekarang dengan memperbaiki banyak hal demi penelitian ilmiah atau mendulang pendapatan dari sektor pariwisata. Restorasi akan membawa kembali segala atmosfernya yang sedia kala, ketika itu terjadi maka momen-momen nostalgia tak terelakan lagi. Indonesia bilang padanya jika sekalipun restorasi ini akan membawa kenangan pedih yang sudah hampir ia lupakan selama ini harus terangkat lagi, gadis itu tak keberatan. Toh, hampir di setiap kenangan indah mereka juga terselip ironi-ironi yang menyayat hati.

Gadis itu sudah jauh lebih dewasa dibanding ketika Netherland tinggalkan dulu. Jika ia bilang siap atas segala resikonya, maka ia siap dari hati terdasarnya. Meskipun demikian, ingin Netherland turut berada disana, agar setidaknya, satu-satunya perempuan yang ia cintai hingga kini itu tak sendiri merasakan pedihnya. Ia ingin sekali, setidaknya membagi rasa sakit itu untuk dinikmati berdua. Yah, andai kata Netherland bisa berada disisinya selamanya, sayangnya mereka hanya sama-sama mencintai masa lalu mereka yang pedih itu dari jarak yang sangat berjauhan. Gadis tropis itu hanya akan menikmati kepedihan nostalgianya sendiri, dan di belahan lain dunia Netherland pun hanya akan tersiksa dalam pikirannya sendiri. Seperti halnya terus berlari dalam sebuah lingkaran, mereka hanya akan terus mengejar tanpa pernah berhenti pada satu titik untuk sekedar bertemu.


Meckino Sara © 2013

Author’s Note:
Kahahahaha~ karya pertama di tahun ini#dor
Ternyata sebagaimana yang lalu-lalu, saya hanya mampu mencapai standar produktivitas serendah ini
Lagian, ini termasuk tahun yang sangat sibuk setelah UN 20 paket dan kawan kawannya~
Meskipun libur lama, sebelum saya dinyatakan lolos seleksi PTN dan resmi jadi anak Sejarah angkatan ini, saya masih ketar ketir dan samasekali nggak ada mood buat bikin cerita#dihcurhat

Tapi apabila readers sekalian berkenan, mohon lupakan soal produktivitas dan nikmati kisah ini, semoga terhibur~
Cerita ini, kalo boleh saya menjelaskan sedikit, terinspirasi dari sebuah buku berjudul “Kota Tua Punya Cerita” terbitan Kompas yang saya pinjem dari kolega saya#bahh. Dari situ, greget soal restorasi muncul di kepala saya. Bukan cuma buat Kota Tua Jakarta aja, tapi semuanya, di manapun. Memprihatinkan banget nggak sih ngeliat cagar budaya kita hancur pelan-pelan?!
Oiya, ampuni saya soal typo, kerancuan, dan kejanggalan-kejanggalan lain yang ada dalam cerita ini. Saya masih seorang amatir, begitulah kenyataannya. Tapi berhubung mimpi semua amatir itu untuk menjadi profesional, saya akan selalu bahagia menerima kritik, saran, atau apresiasi dalam bentuk apapun itu dari Anda sekalian~
Tidak lupa pula,
HAPPY INDEPENDENCE DAY...!!!
Selamat bertambah usia buat Republik Indonesia tercinta yang ke-68, semoga semakin maju, semakin baik di segala sektor, semakin mengerti rakyatnya, dan semakin-semakin yang lainnya~