Trending Topics

.

.
Showing posts with label Doctrine. Show all posts
Showing posts with label Doctrine. Show all posts

Sunday, March 15, 2015

Sepele



Hati-hati guys, saya bukan seorang ahli bahasa. Oleh karena itu, yang akan saya tulis tentang sepele sebagai sebuah kata kali ini bukanlah sajian yang cukup memuaskan jika anda berekspektasi soal itu. Tapi sebagai seorang manusia yang memiliki alam pikir dan senantiasa dituntut untuk menggunakannya, saya punya pendapat. Jadilah saya berpikir, maka saya ada, dan saya menulis untuk mempertahankan eksistensi dan pikiran saya. Kedepannya membuat film? Mana tahu, tapi ya boleh lah.

Saya baru mendapat ilham hari ini soal sepele. Bukan ilham sepele, tapi memang ia bersangkut paut dengan kesepelean. Sekarang remeh meremehkan adalah kebiasaan, atau justru kecenderungan yang amat lekat dengan kita semua. Saya pun cukup sulit untuk melepaskan diri dari kebiasaan yang korosif terhadap nurani ini. Oleh karenanya, banyak sekali yang di cap sepele dengan mudah, dikesampingkan, lagi dan lagi, hingga ketika sadar, sebentang jalan di depan putus sudah karena semua pindah ke samping dan kita harus meniti orientasi dari nol lagi. 

Saya pikir, sepele adalah anggapan. Kita manusia, tak sempurna, tapi ideal dengan plus minus, baik soal ekspektasi terhadap hal diluar, maupun pedalaman sendiri.Itulah sebabnya saya tak ingin mengatakan bahwa tulisan ini mengajarkan untuk tidak berpikir sepele soal apapun. Bagaimanapun manusia memiliki kecenderungan untuk itu. Dengan banyaknya tuntutan dan sempitnya waktu, kita seringkali secara sadar maupun tidak menyusun skala prioritas. Meskipun terlalu vulgar jika dikatakan sepele, menempatkan sesuatu sebagai prioritas kan berarti mengentengkan yang lain, bukan begitu? Hal tersebut akan menjadi sepele ketika dipandang enteng dengan berlebih.

Bagi saya, dalam kata sepele ada motivasi. Karena mengentengkan, itu berarti hal sepele adalah hal yang patutnya mudah bagi kita. Dari sana perasaan merasa tak pantas seharusnya muncul ketika kita memfonis demikian tanpa mencobanya terlebih dahulu. Dari sepele, ia berubah jadi sombong.

Saya sering kali berurusan dengan hal yang orang bilang sepele karena menganggapnya anti umum dan keren. Sekaligus juga difonis ibu saya mengidap penyakit gemar menyepelekan akut, turunan langsung dari ayah saya. Dan hal ini benar adanya, terbukti 120% ketika saya hidup terpisah sekarang. Menyepelekan sesuatu yang ketika di rumah urusannya hanya sampai omelan ibu saya lalu selesai, saat ini saya sadari menghambat saya maju dalam banyak hal yang sedianya bisa diusahakan.

Saya menyepelekan kerapihan ruangan diluar zona nyaman saya, dan ini adalah kebiasaan sejak zaman dahulu kala yang tiap hari diperjuangkan ibu saya untuk berubah. Sekarang saya sadar itu merupakan refleksi saya terhadap lingkungan sekitar. Awalnya mana sangka? Ketika saya tidur saya menggaransi tempat tidur saya harus dalam keadaan rapi, tanpa debu, dan nyaman, tapi membiarkan buku buku berserakan disekitarnya, setrikaan menumpuk tak tersentuh, dan zona lain samasekali tak sedap dipandang mata. Di lingkungan sosial saya juga ternyata serupa. Menjaga teman baik dengan posesivitas cukup tinggi. Jika tidak terlalu cocok dengan saya lebih baik saya sendiri. Tapi membiarkan orang yang rumahnya saya lewati setiap hari tanpa tegur sapa (meskipun awalnya karena saya punya pengalaman buruk soal ini, ketika mencoba menegur tapi tak direspon) berpikir lebih buruk tentang saya lebih dari yang sedianya. Berdiam diri mengesampingkan suatu kelompok pengembangan sampai akhirnya mereka telah berlari jauh sekali mendahului saya. Dan banyak hal lainnya. Hingga saya selalu saja berada dalam lingkaran yang kecil.
Setelah ini, membereskan kamar keseluruhan mungkin cukup mudah, tapi tak demikian dengan lingkungan sosial. Langkah pasti saya Cuma satu: meminimalisir penyepelean. Saya harap Tuhan dengan segala maha kebaikannya berkenan lagi untuk menjadikan saya individu yang lebih baik dengan ini. 

Dalam lingkup dunia intelektual yang luar biasa luas, suatu hal difonis sepele mungkin akibat pandangan umum. Tapi lihatlah posmo dan tema-tema unik dalam aliran ini. Semua hal yang sepele, terlihat kecil, tipis, kurus, lunglai, dan mudah koyak ternyata menyimpan faedah besar, informasi tingkat tinggi dan refleksi yang membuka cakrawala baru. Sesuatu tak hanya bisa dilihat dari satu sisi, dan semua hal sepele punya banyak sisi sebagaimana yang tidak.

Tadi saya menonton Begin Japanologi, semacam acara dokumenter etnohistori seputar fragmen-fragmen di masyarakat Jepang. Bahasan mereka apakah politik, pengaruh budaya pemerintahan edo terhadap gaya memerintah eksekutif negara saat ini, kelestarian kesenian adiluhung, isu gender, atau tema berat lainnya? Bukan, tema mereka sangat simpel. Mereka membahas ramen, onsen, mochi, rumput laut, makanan cepat saji lokal, dan bahkan rice cooker! Terlepas dari kampanye budaya Jepang yang memang sangat posmo, sudut pandang acara ini cukup menarik untuk bisa membuat kita di Indonesia berefleksi. Tidakkah para sarjana akan lebih suka bekerja untuk kajian-kajian ringan tapi berkualitas seperti ini daripada beramah tamah di bank atau duduk di kantoran dengan rutinitas minim improvisasi? Terlebih untuk konsep ini, lahan Indonesia masih sangat virgin. Lihatlah ketika duo trans mempelopori acara-acara wisata dan dampaknya hingga hari ini. Para backpacker, traveller, mountainer, dan petualang baru lahir. Bukankah acara dokumenter etnohistori bisa menjadi katalisator bagi dunia ilmiah kita?

Karena rakyat adalah fonis pertanggung jawaban sebuah kerja intelektual, memperkenalkan produk kerja akademik yang meski ringan, berdampak luas dan memiliki kontinuitas saya kira lebih besar artinya daripada kajian rumit cemerlang yang meraih penghargaan intenasional tapi teronggok menjadi wacana tanpa eksekusi.
Jadi buat semuanya, juga saya sendiri, ketika kita bingung soal ide, tema, dan gagasan suatu kerja ilmiah, mari buka mata dan tinggalkan dulu kebiasaan menyepelekan. Kualitas itu ada di pemahaman terhadap teori dan kemampuan aplikasi, yang semuanya ada di dalam proses dan bisa dilatih.

MARI MENCOBA
13-3-2015

Friday, August 08, 2014

Berbisnis, Bertaruh dengan Waktu


Njirr lama banget ya~ sejak terakhir kali saya menyapa blog ini. Puasa Ramadhan saya juga puasa nulis, kecuali barang nulis status mungkin hhoho#dor padahal kan gitu, akhir-akhir ini sangat banyak isu yang seksi dari mulai pemilu pertama saya *yaterus?*, kemelut di Palestine yang menurut saya menyandera logika, ISIS coy, event-event pribadi semisal lebaran yang sepi di Cikarang, ngotu dan nyenen, dan masih banyak yang lainnya. Tapi saya justru baru punya greget nulis sekarang, dan samasekali bukan karena yang hot-hot diatas, tapi biasa, masalah yang mengorek nurani, meski kadang tak berarti apa-apa bagi sekalian banyak orang.

Kemarin saya ke pasar sama ibu saya. Setelah beberapa hari hampir seminggu jadi sepi bak kota terpapar radiasi yang ditinggalkan penghuninya, cikarang mulai mereguk cairan nyawanya kembali. Lepas dari pintu rel kereta api pasar lama yang untek-untekan rame gila, kami mulai menjajaki pecinannya cikarang di sekitar kelenteng Liem Thay Soe Kong. Dari sana, tujuan kami ke Multi Media, sebuah stationary store alias toko ATK dan buku paling senior se-cikarang buat nyari kado temennya adek saya dan buku gambar A3 buat tugas dia bikin peta. Saya ngapain ikutan? Niatnya pengen beli cat air berhubung lama nggak maen cat, tapi pas sampe sana, niat saya urung. Nggak tahu kenapa. Mungkin dukunnya MulMed kurang manjur makanya saya gak jadi beli. Tapi sebenernya ya, uang lebaran saya udah nonsense banget, kemaren abis banyak buat ngebolang Jekardah. Belom lagi saya masih punya beberapa buku yang belom selesai dibaca. Sketch book pun masih menyisakan beberapa lembar kosong dengan seperangkat pensil dan penghapus yang masih sangat layak digunakan. Jadilah, pikiran soal mundur selangkah daripada maju menjadi serakah, ingin meraup semuanya, selagi milik masih cukup dan belum bisa betul kita nikmati semaksimal yang ia bisa membuat saya mengelus saku, lima puluh ribu, selamat.

Pulang dari sana, kami harus kembali melalui rel kereta yang berkondisi masih sangat sama seperti tadi. Antrian teruntai panjang sampai di depan apotek yang saya lupa namanya, sangat dekat dengan mulut jalan tempatnya bersentuhan dengan jalan utama Gatot Subroto. Dari sana, sepeda motor kami dipaksa setia mengantri oleh kebutuhan akan keselamatan dan sedikit-sedikit kepatuhan pada norma jalanan. Di suasana lebaran seperti ini, meski perekonomian belum sepenuhnya massif, lalu lalang kendaraan bermotor dengan penumpang-penumpang berbaju baru yang warnanya masih mentereng sama atau bahkan lebih ramai dari hari biasa. Lain uang, penduduk negara ini masih tak sematerialistis yang kita kira, tumpah ruah kendaraan ini rata-rata dalam penuntasan misi silaturrahmi lebaran.

Selagi mengantri untuk terbukanya pintu palang lintasan kereta, pandangan saya berpatroli. Barisan toko-toko di kompleks pasar lama masih sama seperti dulu, kecuali mungkin soal kusam dan kesan usia yang tak bisa ditutupi. Komoditi yang dijejer di etalase berdebu mereka pun masih sama, meski beberapa saya tak tahu karena memang belum bangun dari libur panjangnya. Kebanyakan toko disini dikelola oleh orang-orang Tionghoa, inilah mengapa kawasan ini disebut-sebut pecinan. Tapi warga pendatang tua ini sudah merupakan warna udara yang turut berhembus bersama sekalian angin di kota ini tanpa bisa terpisahkan. Jika para engkoh dan enci ini di anulir keberadaannya, mungkin isi pasar cuma anak jalanan, sopir angkot, preman-preman, dan sedikit saja pedagang yang tersisa. Tapi bukan eksistensi mereka yang saya ingin bahas disini sekarang, melainkan pekerjaan mereka, bongkah-bongkah toko tua yang mereka kelola.

Saya kira, di tulisan yang lain saya pernah bercerita, juga soal sepenggal kisah di Pasar Lama. Purbasari, sejaman saya SD, di sini ada sebuah toko buku pelajaran, dan alat tulis yang cukup besar. Salah satu buku yang pernah saya beli disana adalah RPUL, terbitan tahun 2005, tepat ketika saya kelas 3 SD. Dulu saya tak begitu suka pergi ke tempat itu. Sebagai anak kecil yang sehari-hari hampir menghabiskan mayoritas waktunya menonton televisi, saya termakan komersialisasi. Konsep modern terpateri dan jauh lebih menarik hati dibanding pasar yang ramai, terkesan kumuh, dan jauh dari rasa nyaman. Saya tak tahu menahu soal uang. Karenanyalah saya tak peduli soal harga miring yang jadi motivasi utama orang tua saya mengajak saya kesana. Multi Media yang dua lantai dan berpendingin ruangan ketika itu jauh lebih menarik.

Sekarang saya tak tahu kelanjutan Purbasari yang pada masanya amat ramai. Multi Media sendiri, setelah SGC berdiri, pembangunan di Cikarang semakin menggeliat, toko-toko semacam itu semakin menjamur, mulai kehilangan pamor dan elegansinya. Kemarin saya kesana, barang-barangnya tak lagi selengkap dulu. Eksteriornya masih khas 2000an dan tak pernah diperbaharui. Di etalase paling depan, dekat meja kasir, saya melihat beberapa unit kamus elektrik bahasa Inggris yang dipajang berdebu. Dulu, kelas satu SMP, ketika saya membeli salah satu dari yang mungkin masih dipajang hingga saat ini, kamus elektrik adalah salah satu komoditi mewah yang jadi jago di toko ini. Dipajang di etalase utama berdampingan dengan pulpen-pulpen mahal di dalam kotak beludru. Sekarang, ketika website penerjemah telah bertaburan, internet telah mendekap erat nadi-nadi kehidupan, siapa yang masih mencari kamus-kamus ini?

Di sisi kiri jalan, saya lihat sebuah toko sudah buka. Bingkai folding dornya warnanya pudar, tapi masih jelas kalau itu hijau tua. Di bagian atas toko tertulis nama toko dan keterangan bahwa ini adalah toko tani dan menyediakan macam-macam bibit dan pupuk. Di dalamnya ada dua etalase panjang yang berisi kemasan-kemasan biji-bijian, jeligen-jeligen, botol-botol, dan beberapa alat semprot hama digantung di salah satu sisinya. Di sisi lain, di dinding belakang yang bersisian dengan pintu ke ruangan lain, tersemat sebuah kalender jadul yang gambarnya model seksi. Saya pikir, kalau pemandangan semacam ini hadir di tahun 90’an atau paling tidak sampai awal 2000’an tentu sangat wajar, tapi kalau sekarang?

Dulu, di sisi kiri dan belakang rumah saya, beberapa bidang tanah luas yang sekarang jadi perumahan, terhampar kebun-kebun warga yang ditanami aneka sayuran. Alat semprot hama semacam itu masih sangat sering saya temui, demikianpun dengan jeligen pupuk yang asing dan berbagai macam bibit dalam botol yang dijejer rapi di jendela rumah tetangga saya, menunggu giliran untuk disemai. Sekarang perumahan yang ada tak perlu semprotan hama, bibit-bibit itu hanya didiamkan berdebu. Dalam hati saya bertanya-tanya, siapa yang menjadi pelanggan toko ini sekarang? Bagaimana mungkin bisnis ini bisa bertahan? Rasa macam apa yang ada bagi mereka ketika megingat masa-masa keemasan bisnis mereka?

Bisnis, sejak lama menjadi sebuah kata penuh horror bagi saya. Meski banyak acara TV yang mengangkatnya sebagai konsep dan berusaha memasyarakatkannya akhir-akhir ini, pandangan saya masih belum berubah. Kalau memang dekat dengan kata sukses, bisnis memang menggiurkan, tapi rasanya kata gagal dan rugi berada beberapa jarak lebih dekat. Rugi yang saya maksud bukan cuma dari segi modal, tapi rugi hatinya itu loh. Saya nggak jauh-jauh amat kok dari dunia bisnis, kakek-nenek saya petani yang nyambi dagang, ibu saya juga dagang, dan dari kecil saya udah kenal sama dunia semacam ini, tapi tetep, bisnis itu makan ati. Hal-hal yang jauh lebih saya sukai daripada bisnis itu sendiri, semacam toleransi, kekeluargaan dan idealisme katanya amat jauh dari bisnis. Bisnis yang baik itu memang yang jujur, tapi disiplin, dan saya nggak bisa hidup dengan cara seperti itu. Dalam bisnis kita mau tak mau dikuasai dua hantu besar, pasar dan modal.

Sejauh ini, sejauh tulisan ini tertunda beberapa hari, sejauh saya banyak merenungi hal lain atau bahkan hal ini lebih jauh lagi, saya masih belum menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini. Apakah bisnis harus selalu berubah dari waktu ke waktu? Haruskah terus bergelut dengan inovasi dan bereksperimen, selagi bertarung dengan waktu, keterbatasan modal dan selera pasar? Atau putus asa, melepas lapak warisan keluarga untuk menjadi pesuruh di lapak orang tanpa pusing-pusing sampai kita sadar kita telah jadi budak asing? Haruskah toko tani berubah jadi toko matrial? Pertanyaan ini justru beranak lebih banyak lagi.

Toko tani tadi masih berdiri mungkin karena sebuah alasan. Entah itu seorang nenek tua yang tak rela toko itu ditutup setidaknya sampai dia mati, entah seorang bapak paruh baya punya keprihatinan soal kebun milik para langganannya yang alih fungsi jadi lahan perumahan, atau entah apa, saya tak tahu. Yang jelas entah si toko tani, entah si Purbasari, entah Multi Media, entah satu toko lagi semacam multi media yang kini telah berubah jadi restoran bebek, bahkan kamus-kamus elektrik yang berdebu, rasanya adalah korban dari gerak roda ini. Pihak-pihak yang kalah, pihak-pihak yang karena sekian banyak alasan tak mampu mengikuti pola-pola dalam rimba kapitalis yang tak berhati.

Lama-lama soal arah dunia ini, ketika orang-orang dari humanis bergeser ke arah kapitalis, manusia hanya akan kembali ke arah putaran yang sama. Sama tidak beradabnya, sebagaimana orang-orang yang mereka sebut demikian sejak ratusan tahun lalu. Mungkin orang-orang didalam rimba, yang resisten dengan adatnya, yang bijak terhadap lingkungan dan kehidupan, akan patut membalik segalanya, menyebut mereka yang hidup dalam rimba pasar, di tengah pohon-pohon menara beton dan kanopi asap tebal, di tengah jalaran modal berdaun lembaran dolar, liar tanpa adab, sebagaimana mereka disebut oleh moyang-moyang orang-orang itu, dahulu.


Yuanita Wahyu Pratiwi, 8 Agustus 2014.

Monday, March 03, 2014

I NEED TO WRITE SOMETHING

Well, ini saat saat yang sangat genting buat anak kelas 3 SMA. Bagaimana tidak? Dalam rentan waktu tiga tahun yang didurasikan penuh untuk mengenyam pendidikan, tempaan pendewasaan mental bertumpuk hanya pada satu periode waktu di beberapa bulan terakhir. Sejak masa orientasi, sampai ujian semester yang kelima, peringatan untuk itu hanya berupa himbauan, preventif yang luar biasa samar, angin yang berhembus sambil lalu, tapi frekuensinya langsung naik seribu kali lipat di saat-saat terakhir ini. Belajar hanya soal menghapal, bercengkrama dengan alat tulis di meja belajar, mengotak atik rumus, mendengarkan ceramah guru dan sebagainya. Semua berulang bak pola, evaluasi hanya dilakukan untuk skala waktu yang pendek, dan kebanyakan hanya dari sisi akademik saja. Sedangkan masuk triwulan akhir 12 tahun karir pendidikan ini, yang ditagih evaluasinya bukan hanya akademis, tapi juga kesiapan mental, dan tentunya tanda tanya besar yang di awal kerap jadi angin lalu, dipikir sambil melaju, dan tanpa sadar garis finish sudah terlihat tapi ia masih kelabu; tujuan. Beberapa pendidik menyadari ini, menyadari kalau sistem adalah aturan maha kaku maha baku, dan tugas mereka sebagai makhluk yang berasa dan berindera adalah menafsirkannya kedalam bahasa manusia, mengalirkannya sebagai ritme hidup untuk para siswa bingung yang jadi tanggung jawabnya. Tapi kelabunya gelap sekali, warna putihnya masih jauh dari sekedar takaran yang seimbang dengan yang hitam.

Apa yang dulu saya pikirkan di saat saat seperti ini? Bohong kalau saya tak dihujam berbagai hantaman. Rasanya sekolah adalah tidur panjang, dan besok juga saya akan terbangun, menghadapi sesosok monster mengerikan bernama kenyataan. Universitas negeri adalah satu-satunya gerbang yang tak terlarang bagi saya untuk bisa terus melaju dalam ranah keilmuan. Subsidi pemerintah amat berharga buat warga menengah macam kami, maka tak ada ampunan atau opsi kedua berselam di institusi swasta. Sedangkan keadaan saya? Oh luar biasa. Saya minim persiapan. Teman-teman banyak yang telah mengambil kelas tambahan di luar sekolah demi meraih kursi emas yang ditargetkan. Berbagai jalur dilewati, berbagai latihan ujian dijalani demi meraih harga yang telah ditetapkan sejak awal. Tapi saya tidak. Salah jurusan di SMA membuat saya buta arah. Satu yang saya tahu, cukup sudah saya bersakit-sakit disini, di universitas, saya tak akan mengambil arah yang serupa dengan yang ini, hanya itu. Selepasnya pikiran saya benar benar kosong.

Oke soal pilihan, bisa dipikir dan direnungkan setiap sebelum tidur, tapi soal kesiapan? Saya juga nol besar. UN, kompetensi terdasar yang harus dilalui setiap kepala yang mau lolos dari pancungan predikat 'tidak lulus' pun harus saya perjuangkan mati-matian. Sementara untuk tes jurusan-jurusan yang saya minati, saya juga tak punya bekal. Saya berada di jurusan yang tidak mempelajari apa yang saya minati? Bimbel pun rasanya terlalu menguras biaya, apalagi harus ada back-up dana cukup bagi keluarga kami yang akan memodali saya kuliah. Semuanya seperti palu godam yang menghantam kepala saya setiap 30 detik sekali, tapi bukannya berlarut-larut stress dan jatuh gila, saya memilih untuk memikirkannya dengan cara lain. Bukannya belajar lebih keras, saya justru menutup rapat mata dan telinga saya dan menetapkan target pendek saja. Target utamanya, saya harus keluar dari jurusan kelam ini, dan target terdekatnya adalah lulus UN. Akhirnya saya ikut teman saya yang memanggil guru privat ke rumahnya dan belajar 3 hari dalam seminggu sepulang sekolah. Rasanya lelah bukan main, bahkan di hari libur pun, buku latihan UN dan soal-soal fotokopian dari sang guru tetap jadi santapan. Bukan karena saya ingin mengejar nilai. Usaha sekeras itu hanya untuk mengejar kata lulus yang saya butuhkan untuk keluar. Selama ini saya tak pernah belajar dengan gembira di kelas, oleh karenanya banyak kompetensi yang saya tinggalkan. Maka untuk periode ini saja saya berkeras hati, saya memaksimalkan semuanya selagi saya masih bisa, sampai batas-batas terpahit pun saya sentuh, hanya untuk lulus. Dan akhirnya, target tersebut saya dapatkan. Saya lulus, meski dengan nilai yang pas-pasan, saya tetap lulus, dengan usaha saya.

Ironisnya di saat-saat krusial tersebut, saya juga harus menentukan masa depan dengan memilih. Belum lagi pilihan yang dibatasi, bagaimana meyakinkan orang-orang sekitar, dan rasanya diremehkan. Ketika saya datang ke BK, dan bilang kalau saya minat di Sejarah yang passing gradenya rendah, mereka mensupport saya. Yang saya rasakan ketika itu, seolah menemukan penopang ditengah badai yang menghembus kejam ke arah saya, tapi hal yang sama tidak diterima oleh orang-orang yang memilih Pendidikan Dokter atau jurusan lain dengan passing grade tinggi. Bagaimanapun mutu sekolah adalah yang nomer satu, semakin banyak siswa yang diterima di SNMPTN, semakin baik nama sekolah. Semua orang bergerak dengan motivasi masing-masing. Memang sih, siswa juga akan kecewa jikalau tidak diterima, tapi motivasi berbanding lurus dengan tekad dan usaha. Mereka yang berani memilih, tentunya berani berkorban untuk pilihannya, dan sebagai konseling yang baik seharusnya mereka percaya itu.

Beberapa minggu kemudian, saya datang ke BK lagi. Kali ini air mata sampai turut campur tangan akibat emosi yang tak bisa ditahan dan tingkat kecengengan saya yang tinggi. Masalahnya tembok impian yang sudah saya bangun diatas penopang yang mereka berikan, mereka runtuhkan oleh sebuah steatment yang katanya dikeluarkan oleh beberapa universitas kalau mereka tidak memperkenankan acara pindah jurusan. Dan seketika itu juga, bendungannya pecah. Saya nggak tahu lagi yang harus saya perbuat, di rumah saya mencari info sebanyak-banyaknya di internet, untuk sekedar menemukan argumentasi yang bisa membantah mereka. Dan pada akhirnya, meski tak cukup kuat saya dapatkan argumentasi semacam itu, saya tetap nekat, mempertaruhkan seluruh modal kesempatan paling emas yang saya punya untuk sebuah harga yang saya inginkan.

Belum lagi problem dengan orang tua. Saya bersyukur saya punya orang tua yang seperti mereka. Tapi bukan berarti semuanya tanpa ganjalan. Miris juga jika mendengar kisah teman-teman yang berbelok sangat jauh dan malah 'gagal' karena tuntutan orang tuanya. Meskipun begitu, jika komunikasi dalam sebuah keluarga berjalan dengan baik, orang tua adalah pribadi yang sangat mengerti kita. Mungkin adakalanya komunikasi kita dengan mereka tidak seintens dulu, tapi mereka tetap orang yang mengenal kita paling baik dibandingkan siapapun. Saran orang tua adalah yang paling dicari ketika kita tak tahu harus kemana. Tapi lain halnya dengan memaksakan. Ada kalanya orang tua memang menganggap kita belum bisa bertanggung jawab. Orang tua kerap memilihkan jalan karena khawatir kita salah jalan. Mereka itu lebih kaya pengalaman, mereka sudah belajar dari banyak kegagalan, dan tak ingin kita merasakan hal semacam itu. Oleh karenanya, yang dipilihkan orang tua kerap kali adalah 'jalan aman'. Berlawanan dengan itu, bocah minim pengalaman seusia kita justru memiliki keinginan kuat terhadap hal-hal yang diminati. Sering kali hal-hal tersebut adalah hal-hal baru yang mengundang banyak kekhawatiran para orang tua. Begitupun dengan orang tua saya.

Ayah saya, adalah orang yang mengajari saya menjahit pertama kali, tapi ketika dulu saya pernah ingin menjadi desainer, beliau nggak berkomentar sama sekali. Ayah saya juga yang menularkan kecintaan luar biasanya pada sejarah, tapi ketika saya memutuskan untuk masuk sejarah, ia sempat kecewa. Waktu saya masih berkeinginan menjadi desainer di masa-masa SMP dulu, saya disarankan untuk menjadi guru bahasa Inggris. Dan saya menolak itu. Sering kali diskusi yang diawali dengan gurauan-gurauan berakhir kolot. Tapi sungguh, meski saya kenal guru-guru hebat, saya ingin bisa lebih jauh dari itu. Pikiran saya ketika itu, dunia ini bukan hanya untuk ditonton dari balik meja, tapi untuk dijelajahi dengan sebenar-benarnya. Seiring dengan waktu, saya mulai menemukan potongan baru dari puzzle kehidupan saya, kelas satu SMA, saya sempat berkeinginan mejadi diplomat atau profesi lain yang semacam tukang bicara internasional lah, dan ke HI lah tujuan saya yang selanjutnya berlabuh. Tapi semuanya berubah lagi ketika saya masuk ke jurusan IPA. Saya mulai memiliki sudut pandang lain. Orang-orang di jurusan ini, jelas memiliki pandangan yang jauh bersebrangan dengan saya. Saya sempat mengira bahwa orang-orang di jurusan sebelah lah yang berpandangan seperti ini, tapi nyatanya tidak. Saya mulai melihat segala hal menjadi sangat sentimentil, dunia ini dipenuhi abstraksi yang gila dan tak bisa diterka dengan sekedar konverensi ilmuwan atau penelitian bersama. Hal-hal berbau humaniora terdengar ajaib dan menggelitik. Kita bisa melihat sisi biasa dengan aneh, begitu pula sebaliknya. Selain itu, entah mengapa, saya tak suka hidup di tempat terang yang disoroti banyak orang, hidup di tempat aneh yang orang lain tak betah berlama-lama di dalamnya justru yang kerap kali saya minati, dan disinilah akhirnya saya, menemukan satu lagi keanehan yang nampak seperti sudah terpola dengan rapi pada diri saya sendiri. Saya, berbelok ke sejarah. Bidang keilmuan ajaib yang menurut saya penuh dengan perasaan.

Meski beberapa orang kecewa, beberapa kali saya tersinggung, dan beberapa-beberapa lain yang juga cukup menyakitkan, saya sudah melupakan rasa pahit semacam itu dan sekarang saya bahagia. Lebih bahagianya lagi, ada banyak orang yang ternyata seperti saya. Tertarik dengan hal yang sama, memiliki latar belakang dan kisah yang mirip, dan kini terkumpulkan menjadi satu di sebuah komunitas akademik resmi, Ilmu Sejarah FIB UGM, angkatan 2013. Saya menikmati buku-buku yang saya baca disini, kuliah para dosen yang seru, dan teman-teman yang 'sejalan'.

Seorang guru saya sempat bilang di hari setelah saya diterima SNMPTN, "Yuan, harus diambil ya, bersyukur." Bukannya bilang selamat, beliau malah bilang begitu. Saya nggak tahu apa yang ada dipikiran beliau ketika itu. Mungkin jurusan ini dikira sebagai tempat pelarian saya, dan ternyata saya keterima, kenyataan yang penuh kejutan dan sepele, mungkin begitu. Dan karena saya main main, mudah buat saya meninggalkan ini dan hancurlah reputasi sekolah di universitas saya sekarang. Padahal ini pilihan serius yang saya sangat syukuri. Kalau beliau nggak bilang apa-apa, mungkin saya bakal lebih berkenan. Haahhh~ Orang tua saya juga sempat menuduh saya menghindari persaingan, ya dalam bahasa yang lebih halus sih. Tapi saya akhirnya bisa menjelaskan sampai mereka menerima alasan saya. Meski saya yakin mereka masih sedikit kecewa. Masih, kali ini masih dalam tahap saya menjelaskan kalau mereka nggak akan kecewa.

Di saat-saat genting menjelang pengumuman UN, SNMPTN, dan lainnya, saya lebih memilih untuk menutup rapat mata dan telinga seperti kata saya tadi. Dan saya rasa itu yang terbaik. Saya menyerahkan semuanya kepada Tuhan, karena usaha saya hanya bisa sampai disini, sambil meyakini dalam hati kalau saya akan mendapatkan apa yang terbaik bagi saya dan beberapa saat kedepannya, satu bulanan lagi setelah saat itu, saya akan baik baik saja, berbahagia dengan dunia baru saya, entah seperti apapun mereka.





SEMANGAT BUAT ANGKATAN 2014!
kalian sudah berjuang selama ini, tinggal sedikit lagi~

sebagai hiburan, ini video yang suasananya cocok XD




Friday, January 31, 2014

Penentuan: Sejengkal lebih dalam tentang menembus batas ke Universitas

Besok career day di sekolah saya, dimana mestinya saya aktif sebagai salah satu anggota, menghadiri setiap rapatnya, menyatakan pendapat dan sebagainya, tapi ternyata saya tak banyak bertindak. Kadang kala keputusan untuk diam dalam satu saja perkara kecil akan membuatmu terdiam untuk waktu yang lama. Lagipula ada banyak lagi kisah dibaliknya. Sudahlah.

Saya tak punya tips macam-macam. Lagipula tips-tips mengenai masa-masa penentuan ini hanya banyak dikeluarkan oleh lembaga lembaga bimbel sebagai produk komersial mereka. Lembaga-lembaga yang apabila dilihat dari konsep luhur pendidikan, nyatanya amat sangat tidak mendidik. Mereka mengajarkan rumus-rumus mudah untuk menyiasati soal tertentu, membuat anak-anak korban mereka memeras otak untuk waktu yang berlebihan dari kapasitas mereka demi menghapal cara menjawab tanpa tahu akar dari masalah sebenarnya yang dihadapkan pada mereka. Lembaga-lembaga tersebut, di mata saya, kadang nampak tak lebih dari sekedar pelumas mahal untuk melumuri diri demi melewati sebuah celah yang benar-benar sempit bernama UN dengan lebih mudah.

Tak ubahnya juga dengan UN itu sendiri. Ideal memang mustahil, tapi masih ada manusia yang mengalahkan kepentingan orang banyak demi segelintir individu dan gologan tertentu. Hal itu yang rasanya masih membuat tangan-tangan aktivis semakin erat mengepal. Dengan UN, otomatis, pendidikan hanya soal nilai. Tak peduli ada 60-40% atau apalah itu, 40% tersebut bukanlah ruang yang diberikan oleh oknum pendidik untuk turut bicara mengenai kelulusan anak didiknya, melainkan celah untuk menyumpal nilai demi memenuhi standar. Terserah soal sekolah-sekolah elit dengan guru-guru mumpuni dan murid-murid bergizi baik, tapi jika dibandingkan dengan keseluruhan sekolah yang pasaknya tertanam di bumi negeri ini, mereka hanya minor yang selalu tersoroti oleh cahaya pesona ibu kota, samasekali bukan cerminan dari semuanya. Yang lain hanya sekolah sederhana di desa-desa, atau paling banyak, sekolah yang dari luar terlihat baik, tapi dalamnya bobrok luar biasa.

Bagaimana tidak? Gedung sekolah tersebut bertingkat-tingkat, bahkan beberapa dilengkapi pendingin ruangan, perangkat multimedia dan sebagainya. Tapi kualitas pendidikannya masih jauh dari standar yang diminta oleh sistem UN. Bangunannya boleh jadi mentereng, tapi kondisi sosial di sekitarnyalah yang mestinya terperi sebagai cerminan dari isi sekolah yang sebenarnya. Masyarakat menengah yang mati-matian memenuhi tuntutan modernisasi gaya hidup tanpa modernisasi pola pikir. Alhasil, dari sekolah luar ibu kota yang dibilang berkualitas baik tersebut, para siswa yang di kelilingi gadget itu tak pernah punya ruang untuk memilih masa depan dan terdampar di arus yang seragam. Arus seragam ini boleh jadi akan menimbulkan dampak besar bagi regenerasi negeri ini. Kedepannya bhinekka tunggal ika yang dipuja hanya beribu-ribu burung garuda dengan mata kosong yang sama sama menjunjung perisai, mencengkeram pita, terbang ke arah yang sama, tanpa mengetahui alasan yang ada dibalik arah yang mereka pilih.

Tapi sudahlah, sistem sudah ada. Tulisan ini dan orang seperti saya hanya ikan perairan hangat yang terseret arus dingin lalu membeku. Satu akan terkubur oleh seribu sebagaimana susu setitik yang lenyap di nila sebelanga. Revolusi akan dipenuhi pengorbanan, dan perubahan selain revolusi hanya akan menelan waktu sangat-sangat lama. Yang ada sekarang adalah masalah yang sebenarnya yang harus segera diselesaikan. Sampai level kita bisa naik, kita bisa berada pada posisi sedikit lebih diatas agar cukup bisa didengar.

 Pada bulan-bulan genting seperti ini, kalian para pejuang UN harusnya sudah sadar mengenai apa yang akan kalian hadapi kedepannya. Saya bukan orang dalam kemendiknas atau cenahyang yang bisa meramalkan segalanya, apa yang saya sampaikan sepenuhnya hanya berdasarkan pengalaman saya. UN saya mungkin lebih berat dari anda sekalian. Sekolah saya, sebenarnya terbiasa untuk curang. Kecurangan itu dilakukan beberapa tahun sebelum saya, oleh pendidik, para pahlawan tanpa tanda jasa kami yang sekali lagi harus mempertaruhkan keselamatan diri demi membela kami yang dihakimi oleh sistem. Pemberitahuan di auditorium mengenai ketidak bisaan dilakukannya lagi bentuk kecurangan seperti itu di tahun saya dan permintaan maaf dari mereka terdengar seperti pengumuman bahwa keesokan harinya pemilik dari ratusan kepala di auditorium itu akan dikirim berperang tanpa kepastian untuk kembali dengan selamat. Akhirnya dengan dibebani ketakutan dan mimpi buruk setiap malam, kami turun berperang. Melawan kantuk, malas, dan kecenderungan memberontak yang lumrahnya dimiliki oleh anak-anak seusia kami dan memilih untuk menurut sembari berharap jiwa yang terkekang ini tidak akan terus menerus berada pada kondisi seperti ini untuk waktu yang lama, bermimpi bahwa besok ketika matahari terbit kita sudah bebas dari segalanya.

Di tahun-tahun sebelumnya, anak-anak dari sekolah yang sama dengan kami bisa lulus dengan mudah, tanpa harus berusaha lebih berat dari bangun lebih pagi untuk menjemput kunci jawaban yang dibagikan cuma cuma, yang menghadiahkan secara cuma-cuma pula angka-angka indah di ijazah mereka. Aku sempat berpikir, tidakkah mereka merasa bersalah atas kelulusan mereka ketika mendengar tentang kami? Toh kami sama-sama diajar oleh orang-orang yang sama, di kelas-kelas yang sama, dengan fasilitas dan rentan waktu yang juga sama. Tapi siapa juga yang mau pusing-pusing memikirkan tentang Ujian Nasional tahun berikutnya. Sudah lulus berarti sudah selesai urusan, apapun yang orang katakan tentang kelulusan itu. Bahwasanya saya belum pernah mendengar kasus pertanggung jawaban kelulusan dan kelulusan yang dicabut, adalah bukti bahwa sistem yang berlaku adalah kerjakan, selesaikan, dan lupakan. Sekali kata lulus dikantongi maka proses hanyalah omong kosong.
Beberapa anak yang kiranya mampu mengundang guru privat, atau mengikuti bimbel mahal. Yang lain memilih menggantungkan nasib sepenuhnya pada program-program minim sekolahan. Dari keseluruhan anak-anak di gedung bimbel itu, ada yang datang satu dua kali, dikuasai oleh rasa malas, ketergangguan, dan pemikiran pendek bahwa hari esok bukanlah urusan untuk dipikir hari ini. Beberapa yang lainnya memilih untuk rajin, tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan orang tua dari penyisihan sebagian yang tidak kecil dari hasil jerih payah mereka bekerja. Beberapa sisanya, rajin bukan karena dorongan orang tua, tapi memang bernafsu mengejar nilai, mereka orang-orang terbaik dalam sistem.
Diluar kelompok-kelompok tersebut ada kelompok penggerutu dimana saya berada. Memilih untuk tak mengikuti arus tanpa benar-benar terdiam. Belajar adalah hal yang bisa dilakukan siapa saja dan dimana saja. Usaha tidak akan pernah sia-sia dan ilmu serta potensi diri adalah apa yang mestinya diperjuangkan lebih daripada nilai. Kau boleh lulus dengan angka yang hampir menggantung nyawamu di tiang keputus asaan, tapi kau punya pemikiran kritis, kau sanggup melangkah melawan arus dan meluruskan kepincangan ini, kau punya potensi lebih di lain sisi, tak masalah. Karena dunia ini tak terkotak-kotakkan oleh sudut, tapi bundar oleh relativitas. Kau tak akan membentur tembok yang mendakwamu benar-benar salah selama itu bukan pengadilan Tuhan. Jadi lakukanlah apa yang menurutmu paling benar.

Soal masuk ke universitas, saya pun tak mampu bicara banyak. Alhamdulillah, tahun lalu saya diterima melalui jalur yang luar biasa mudah. Saya masuk di pintu pertama yang dibukakan untuk saya tanpa perlu lagi berdesakkan di pintu lain. Tapi diluar passing grade, kekhawatiran, kerumitan sistem, malapetaka human error, dan teror dari konseling, orang tua, atau siapa saja yang kadang kala ketika berbenturan selalu mencoba untuk mengalahkan keinginan kita, fase ini adalah fase paling ajaib yang pernah saya alami sampai detik ke sekian hidup saya ini.
Cerita lama kalau saya adalah orang bodoh yang terdampar di IPA. Lho, bukannya orang selain IPA seringkali dianggap tidak lebih pintar dari mereka kan? Tak salah lagi, sudut pandang yang kolonial seperti ini memang masih tak bisa dilepaskan dari pola pikir orang-orang kita pada umumnya. Bahwa rambut panjang, kulit putih, dan tubuh tinggi semampai adalah cantik, bahwa nilai bagus adalah pintar, dan bahwa-bahwa lainnya yang memaparkan satu ‘bahwa’ yakni pendapat umum adalah kebenaran mulia dan yang lain adalah salah, ialah kesempurnaan dan yang bukan hanya sampah, tak peduli dengan sifat alamiah manusia yang diciptakan samasekali berbeda setiap individunya.
Bagaimanapun juga pahitnya cerita lama itu, tapi cerita itulah yang membuat saya menemukan diri saya yang sekarang. Bukan tidak mungkin saya akan berada sangat jauh dari ini, tanpa mendekap keinginan kuat ini jika dulunya saya tak lebih dahulu bersakit-sakit ria. Teman seperjuangan saya, bermimpi segera bisa eksodus ke negara dengan sistem pendidikan lebih baik dari pada terus menerus tersiksa disini, tapi saya tak sampai hati. Mungkin saya tahu rasanya jadi Eren yang keinginannya untuk jadi Recon Corps ditentang banyak orang. Sebenarnya, sebagai mana milik saya, keinginan itu berdasarkan atas pemikiran yang amat sederhana. Begitu banyak prajurit yang mati oleh para raksasa di luar dinding, jika orang hanya menganggap apa yang mereka lakukan sia-sia, siapa lagi yang akan berada disana untu meregenerasi pasukan yang cepat sekali mengalami penurunan jumlah? Panggilan hati ketika kita sedikit menghaluskan perasaan dalam situasi semacam ini tak bisa dipungkiri. Kalau kami, orang-orang seperti saya yang bertahan hanya diam, akan jatuh korban lain. Akan banyak Saya-Saya lain yang harus merasakan hal yang sama. Jadi untuk apa saya bertahan sejauh ini jika hanya untuk menyelamatkan diri sendiri?

Masuk lewat jalur Undangan atau SNMPTN adalah strategi win-win. Mari lupakan soal kesombongan atas nilai raport kalian yang angkanya berkilauan, dan dengarkan konsep yang saya tawarkan. Masuk lewat jalur ini adalah cara yang paling mudah, murah, dan tak beresiko. Ibaratnya, dengan ini, sistem ini sudah menawarkan keuntungan pada kita, sebelum keuntungan yang sebenarnya yakni apabila kita memenangkan pertarungan strategi ini. Manusia memang terlahir dengan nafsu dan hidup dengan ambisi, tapi menjadi tidak tinggi hati adalah yang harus dilakukan sekarang. Sistem ini sudah menawarkan kemudahan demikian banyak, masa iya kita masih hanya mau mengejar ambisi dengan melupakan keterbatasan kita? Yang terpenting adalah memilih apa yang kita sukai, bukan gengsi. Jadi jujurlah pada diri sendiri dan balaslah keramahan sistem ini. Kalau itu memang jalur tes yang meminta usaha maksimal kalian, kesungguhan kalian, bolehlah kalian meminta ambisi kalian pada mereka. Yang jelas dalam setiap usaha, keterikatan dengan Tuhan juga tak bisa dianulir.

Selamat menikmati. Fase ini akan jadi ajaib. Sulit untuk merasakan sensasi yang sama jadi maksimalkanlah apapun yang kalian usahakan dalam fase ini.

Yuanita WP

Wednesday, December 11, 2013

Equality of Life

Saya berani bertaruh, kalimat diatas menjadi terminologi yang akan membawa anda ke cabang pemikiran lain soal Amon di Avatar Korra, atau Karl Marx kalau anda memang seorang intelektual dan bukan cuma bocah penggemar Nickelodeon yang sebenarnya tak amat paham apa itu Equality of Life. Memang yang sebenar-benarnya kalau itu bukan kalimat saya, saya terinspirasi dari Amon, kemudian merasa bahwa kalimat itu betul ajaib dan aplikatif sebenarnya dalam kehidupan, lalu menyadari bahwa itu sebenarnya konsep Marx beberapa saat kemudian.

Kadang saya memang hobi menggali pemikiran-pemikiran konyol saya semacam ini. Mungkin sangat nggak match dengan layout blog yang demikian aduhai ini haha, tapi ya, blog ini representasi identik dari diri saya. Amburadul, kebanyakan embel-embel, masih punya selera, suka estetika meski gak disiplin dengan kerapihan, melankolis, tapi kadang kritis juga, saya rasa sejauh ini saya masih berada pada batas-batas yang saya kenali.

Anda sekalian tahu? Tulisan yang nggak akan menambah satu poin pun nilai mata kuliah saya ini saya tulis ditengah kebuntuan dalam mencari ide akan tugas yang deadlinenya tepat besok, jam sebelas siang. Pikir saya, daripada saya buka internet dan googling dengan niat awal mencari ide dan ujung ujungnya malah lupa waktu di fb atau ffn, lebih baik saya semedi di blog ini. Siapa tahu, dengan meneliti pemikiran saya sendiri, tulisan-tulisan yang demikian abstraknya ini, saya bisa bangkit dari keterpurukan dan segera menemukan pencerahan akan ide yang tak kunjung datang itu. Semacam membongkar lemari lama dengan harapan menemukan harta karun.

Jadi sesuai judulnya, saya berpikir jikalau Equality of Life itu nyata. Kehidupan yang berlangsung ini memiliki konsep dasar berupa kesetaraan. Oke, siapa lo wan berani ngomong gini? S3 Filsafat? Yaelah bro, nyante, ini lapak gue kok. Saya memang tak berpegang pada apa yang dinamakan dengan metode, tapi inilah yang ditafsirkan otak saya oleh gejala-gejala yang saya tangkap selama ini. Memang benar bahwa metode lah yang membedakan seorang cenahyang dan sejarawan, tapi bagaimana dengan Da Vinci yang tak pernah berguru dan menemukan ilmunya sendiri dari alam? Oh, lancang sekali saya menganalogikan pemikiran saya dengan seorang ber-IQ diatas 200, tapi bisakah dengan segala kerendahan hati, saya meminta anda sekalian mempertimbangkan analisis konyol ini?

Kerangkanya bermula pada steatment umum yang menyatakan bahwa hidup adalah pilihan. Saya nggak tahu siapa yang pertama kali mengutarakan kalimat mainstream ini, tapi yang jelas, hampir semua orang pernah mendengarnya. Tiap detik, menit, jam, kesempatan, kita memang selalu dihadapkan pada pilihan, kadang rumit, kadang pula sulit. Saya jarang sekali mengganti keputusan saya, tapi selalu sulit ketika memutuskan sesuatu. Seperti ketika memilih pakaian di toko, saya bisa mendatangi gantungan yang sama berkali-kali, berputar lagi, dan mengulang pola itu untuk beberapa jam, padahal apa yang saya punya kemudian hanya satu dari sekian banyak yang saya putari tadi, sebanyak apapun saya memuji dan mendewakan pakaian-pakaian disana, selama apapun saya bingung soal mereka. Saya kemudian ingat kata-kata Bapak saya, "Halah, nanti kalo dirumah, gak ada temennya juga ini bagus. Disini keliatannya biasa aja karena banyak temennya." Apa yang sebetulnya tersirat dalam konsep yang kemudian tertanam pada saya ini adalah perasaan 'nrimo' yang muncul sebagai stimulus dari keterbatasan. Perasaan nrimo ini cukup melegakan, dan membuka kesadaran untuk bersyukur bahwa pilihan saya tidak buruk, saya setelahnya bisa berbahagianya karenanya, kalau saya mengambil yang tadi atau yang satunya lagi, tak menutup kemungkinan hal yang kemudian terjadi tidaklah sebaik ini, jadi apa yang terbaik bagi saya adalah apa yang saya miliki, detik ini. 

Kesannya mungkin terlalu St. Agustinus, amor fati begitu. Tapi sebetulnya ini lebih Ibnu Khaldun kok. Konsep nrimo ini bukan semata mata menerima takdir, tapi lebih mensyukuri setelah memilih, dan merepress apa yang dinamakan penyesalan. Manusia memiliki kuasa untuk berusaha dan berjuang demi nasibnya, Tuhan bukanlah musabab tunggal, apa yang kemudian terjadi adalah karena ikhtiar manusia juga. Pengertian dangkal saya dari teori ini kemudian adalah equality of life itu tadi. Yang kemudian terjadi adalah keseimbangan antara usaha manusia dan restu Tuhan.

Mudahnya, apabila hidup ini diibaratkan sebagai labirin, ketika kita dihadapkan pada tiga percabangan baru yang gelap, adalah murni pilihan kita untuk menentukan satu diantara yang lainnya. Setiap dari percabangan itu memiliki suka dukanya sendiri, dengan porsi yang persis sama. Persoalannya kemudian hanya soal selera dan pandangan yang murni subjektif mengenai kisah yang terjadi dalam labirin itu setelah orang-orang yang berbeda melewatinya.

Selain itu, kecenderungan untuk bimbang erat kaitannya dengan kepribadian yang konservatif. Orang yang konservatif, tertutup atau setidaknya tak selalu berprasangka baik terhadap perubahan akan mudah terjebak pada zona aman akibat perasaan nrimo tadi dan otomatis sulit untuk menentukan pilihan yang akan membawa kebaruan pada dirinya. Dan konyolnya, saya termasuk orang-orang ini.

Tapi teori equality of life ini ada untuk meredam dosis prasangka buruknya orang-orang konservatif. Bahwa hidup ini murni pilihan. Berhentilah menjadi demikian kaku karena apa yang benar adalah yang dianggap baik oleh mayoritas orang, dan apa yang buruk adalah apa yang dianggap baik oleh minoritas orang. Janganlah berprasangka buruk pada kehidupan karena ia masih memiliki batas yang jelas.

Mungkin ini terdengar berbahaya, tapi Mencuri sekalipun punya sisi baik, yakni untuk pelakunya, dan sisi buruk untuk yang kecurian. Orang beradap tak suka merugi dan merasa memiliki cara untuk menengahi kriminalitas ini yakni dengan berusaha sedikit lebih berat tanpa terlalu beresiko untuk tidak memiliki apapun dengan bantuan instrumen yang dinamakan hukum dan instansi berisi aparatur untuk menegakkan pilar-pilar tersebut. Jalan tengah yang diambil itu jugalah keseimbangan hidup. Mereka rela untuk tak menjadi demikian dimudahkan demi takt terlalu mudah dirugikan pula. Iya kan?

Marx saya rasa, punya konsep besar untuk menerapkan keseimbangan ini bukan lagi hanya dalam kapasitas individu, tapi juga negara, sebuah instansi yang menaungi banyak sekali manusia. Konsep ini sudah teruji oleh zaman dan terbukti tak bisa bertahan. Menurut saya, karena manusia sendiri sudah memiliki kredibilitas atas keseimbangan ini dan jikalau mereka sadar, kehidupan yang seimbang akan tercipta tanpa harus dengan konsep rumit yang mengatur banyak orang. Yang masih belum saya temukan jawabannya ialah bagaimana cara membuka kesadaran tersebut. Yaah, lagipula, jika sudah ditemukan, ini adalah kunci dari segala kunci. Dan jika sudah begitu, permasalahan terbesar dalam hidup ini akan terselesaikan. Tapi, apabila dikaji dengan teori keseimbangan hidup, akan ada permasalahan lagi, yang lebih besar, yang akan muncul untuk diselesaikan, entah itu apa. Jadi biarlah seperti ini, karena apa yang kita dapati sekarang adalah apa yang terbaik untuk kita.



Oh, kepala saya sakit. Apa yang sebenarnya saya tulis ini?
Salam Amon!



11/12/13
Yuanita WP

Friday, November 15, 2013

Jeanne de Arc di Hetalia The Beautiful World Episode 15



Well, beberapa minggu yang lalu saya dapat tugas dari matkul favorit saya yakni Pengantar Ilmu Sejarah. Ketika itu, tugas kami adalah untuk mencari contoh suatu aspek sebagai kekuatan sejarah yang tercermin dalam sebuah peristiwa sejarah. Aspeknya macem-macem, ada umur, golongan, etnis, sex, ekonomi, budaya, dan masih banyak lagi. Kebetulan yang saya dapet waktu itu Budaya, padahal berhubung saya baru saja membaca "Perang Cina dan Runtuhnya Negara Jawa"-nya Remmelink, saya pengennya sih etnis. Soalnya, isu rasisme itu terdengar lebih sensitif.

Seorang teman saya yang mendapat tema sex kemudian langsung menemukan tugasnya beberapa detik saja setelah dia mendapatkan takdirnya. Dengan berapi-api, ia mempresentasikan penjelasan mengenai poligami King Henry VIII yang melatar belakangi terbentuknya gereja Anglican untuk pertama kalinya karena Gereja Katolik tak mengizinkan poligami. Sejak itu, King Henry benar-benar memutus hubungan dengan Gereja Katolik dan memimpin sendiri gereja di Inggris dengan nama Gereja Anglican. Bahkan sampai sekarang pun, ratu Elizabeth II jugalah masih pemimpin gereja Inggris.

Hal itu kemudian membuat saya makin buntu. Budaya itu luasnya luar biasa, dari bahasa, makanan, sampai korupsi itu semuanya budaya. Saya betul-betul nggak punya pegangan sampai saya membaca sedikit penjelasan di buku Pengantar Ilmu Sejarahnya Kuntowijoyo mengenai periodisasi historiografi Eropa yang lebih didasarkan pada kebudayaan dari pada politiknya. Setelah mengorek berkas lama di komputer saya menemukan Episode ini dan lantas semakin terinspirasi. Satu dua literatur pendukung kemudian menuntun saya untuk mulai bekerja dengan bahasan Zaman Kristen Awal yang saya kaitkan dengan Sang Perawan, alias La Pucelle, Jeanne de Arc.

Saya menggunakan sudut pandang film Joan of Arc yang mengisahkan bahwa Jeanne adalah seorang yang tumbuh di lingkungan religius menjadi seorang dengan religiusitas tinggi. Ia yang banyak dikatakan mendapat bisikan Tuhan lewat mimpi untuk menyelamatkan negerinya hingga kemudian bisa menang Orleans, menggulingkan pemerintahan sebelumnya yang bobrok dan mengangkat Raja baru bagi Prancis, lebih karena ketika ia masih kecil, desanya pernah diserbu pasukan Burgundy dan kakak yang amat disayanginya gugur dalam peristiwa itu karena melindunginya. Hal itu memicu tumbuh dendam amat besar dalam diri Jeanne. Selain itu, religiusitasnya kemudian juga dimaknai sebagai pemikiran over control terhadap dirinya sendiri hingga kemudian ia tak bisa membedakan mana yang ambisi pribadinya, mana yang keinginan Tuhan. 

Dalam sejarah, mestinya memang tak ada Pahlawan atau Pemberontak yang sedianya hanya merupakan orang-orang yang dijadikan simbol dan berderajat sesuai dengan dari sudut mana ia dipandang. Yang ada hanya orang-orang besar yang menjadi ikon dalam sebuah peristiwa yang meletup, lengkap dengan hitam putih yang ia punya. Tanpa mahkota atau borgol, melainkan keseluruhan latar belakangnya, apa yang ia bawa, miliki dan persembahkan kemudian. Sehingga ditengah ketidak mampuan lepas dari subjektivitas pun,  objektivitas masih merupakan hal yang diusahakan.

Lepas dari siapa itu Jeanne de Arc dan mengapa namanya demikian besar, ia telah lahir dan tumbuh pada zaman yang sulit. Zaman itulah yang kemudian menempanya menjadi seorang dengan pribadi sedemikian kuat. Pada akhirnya, seorang religius seperti Jeanne pun harus mati atas tuduhan sebagai pagan oleh Inggris yang sebenarnya justru pagan. Hal ini sangat mungkin mengingat pada zaman kristen awal, isu paganisme dan penyihir atau bahkan segala bentuk keuatan lain selain gereja ditentang keberadaannya. Kekuasaan gereja adalah mutlak, setidak masuk akal apapun itu, seotoriter apapun itu. Karena Jeanne sang Perawan pun, akhirnya harus mati dibakar atas tuduhan Bid'ah yang tak dilakukannya. 

Di Hetalia sendiri, Jeanne adalah satu-satunya manusia yang benar-benar dicintai France saya rasa. Yang jadi masalah dari Pairing super Angst ini adalah immortalitas mereka yang berbeda. Kalau France bisa menyaksikan pembakaran Jeanne tanggal 30 Mei 1431 dan kembalinya seorang mirip Jeanne di harinya yang sekarang bernama Lisa dengan sepasang mata yang sama, Jeanne hanyalah manusia biasa yang umumnya hidup tak sampai satu abad lamanya. Terlebih lagi ia yang harus mati muda dalam ambisinya. Tak ada setitikpun celah yang mengizinkan mereka berdua untuk bersama. Sampai kapanpun.

Dan ini kata-kata France yang membuat episode ini semakin spesial buat saya. 





To all People that get tossed about by history,
I always hope they'll be reborn into a normal life, fall in love, and end up living happily somewhere.
When I saw you, I thought God does wonderful things.
Be happy this time. It seems like my wish has already come true.


Akhir kisah, tugas itu pun dapat saya kerjakan dengan bahagia dan lancar prosesnya. Presentasi saya pun mulus meski sepertinya terlampau partikuler menjelaskannya. Tapi saya rasa cukup lah. Lagipula saya mengerjakan tugas ini dengan sangat senang hati. Itu nilai sempurna pertama saya, meski masih dari saya sendiri.


Yuanita Wahyu Pratiwi
15-11-2013

Tuesday, November 12, 2013

Masih Manusia

Originally from My Daily Life


Bro, tau nggak? Akhir-akhir ini saya sering blogwalking ke punyanya orang-orang lalu membaca post-post mereka. Isinya kebanyakan dokumentasi sehari-hari, testimoni, dan galauan-galauan eksplisit. Begitu saya pulang ke blog saya, saya kemudian bertanya tanya. Iya sih ada fotonya, identitasnya juga lengkap. Tapi berdasarkan penuturan beberapa nara sumber, mereka kerap menyangsikan blog saya ini. Ini manusia apa bukan gitu ya? Apa jangan-jangan setengah pikirannya hidup di dunia lain. wkwk. Iya bionya jelas, tapi isinya liar. Semuanya testimoni-testimoni yang sebenarnya tak ubahnya seperti apa yang remaja lain sebut sebagai galauan hanya saja dikemas sedemikian sok implisit dan berbelit. Kaya ada yang mau ngepoin gua aja gitu ya~#dor

Ya, dari hati terdalam, saya memang lebih mencintai cara itu. Dan suasana hati semacam ini adalah kesempatan emas untuk dapat menghasilkan tulisan yang berkualitas. Karena peran emosi dalam tulisan saya itu luar biasa ajaibnya. Ketika hidup saya sedang selo dan bahagia, tulisan yang saya hasilkan pasti kurang bernyawa. Sedih ya? Kalo mau hebat harus berpayah-payah dulu, tapi ya, disanalah letak keajaibannya. Bahwa ketika saya direndung kegelisahan yang demikian menyiksa pun, masih ada sisi positif yang bisa saya pilah dan kantongi.

Sekarang, saya mau menghadirkan sebuah refleksi dari kehidupan saya selama 17 tahun belakangan ini. Yaa, singkat aja sih. Soalnya kalo dijabarin dengan niat, pasti jadinya autobiografi 500 halaman lebih haha~

Saya lahir 20 Mei 1996 di Bidan Uum, Cibitung, Bekasi. #masih muda kan? :3 Secara geografis, Bidan Uum itu, letaknya gak begitu jauh dari kontrakan saya dulu yang bersebrangan kali dengan telaga harapan, yakni di sebelahnya Fajar Paper atau PT. Fajar Surya Wisesa Tbk. yang notabene adalah perseroan terbatas tempat bokap saya mengabdi sejak 1992 silam. Nyokap saya dulu juga kerja disana, tapi karena waktu kecil saya sakit-sakitan, beliau berhenti di sekitar tahun 1997. Parahnya, gak lama setelah beliau berhenti, datanglah Krismon alias Krisi Moneter. Waktu itu saya masih bayi#yaiyalah, sakit-sakitan, ringkih, tinggal masih di kontrakan petak, nyokap udah gak kerja, apa-apa mahal, nyari sembako susah, coba bayangkan apa yang akan anda lakukan kalo jadi orang tua saya waktu itu? Denger ceritanya aja saya udah merinding.

Bocah sakit-sakitan itu kemudian bisa bertahan hidup. Di usia 2 tahun, setelah krismon pergi dan reformasi menjelang, masalah datang lagi. Waktu itu saya didiagnosa mengoleksi 3 penyakit pernapasan sekaligus, yakni plek, asma, dan bronkhitis. Super sekali kan?#dor Alhasil, 2 minggu sekali, saya nodong gaji bokap yang waktu itu masih dua mingguan buat berobat jalan di RS. Karya Medika depannya Fajar Paper. Dokternya, saya masih inget, kalo gak Dr. Kholit, ya Dr. Marisi. Saya nggak ceto dulu udah ada jamsostek apa belum, yang jelas biaya yang dihabiskan waktu itu cukup besar buat keluarga karyawan swasta kecil macam kami. Hasil kerja nyokap saya selama ini yang diabadikan dalam bentuk perhiasan-perhiasan kecil pun raib dipretelin satu persatu.

Penyakit itu nyusahin banget bro. Dan perjuangan saya melawan mereka belum berakhir sampe saya pindah rumah dari kontrakan petak nan sumpek itu ke sebuah rumah yang lebih luas, tapi belum diplester dan dikeramik ketika umur saya 3 tahun. Dari rumah yang jaraknya sekitar 9-10 km dari kontrakan lama itu, hidup kami tetap berotasi di sekitar Gardu Sawah sana. Saya masih berobat jalan di Medika, dan Bokap masih setia dengan jabatan Foremannya di Fajar Surya Wisesa.

Ada yang gak bisa lepas dari kehidupan awal saya di kontrakan dulu. Temen-temen seangkatan saya disana, maksudnya yang sama-sama merupakan anak-anak pertama dari pasangan-pasangan muda yang umumnya juga karyawan yang sama-sama ngontrak disana, saya satu-satunya yang lahiran '96. Waktu mereka main bareng dan saya pengen ikut, saya selalu diintimidasi atau bahasa sekarangnya dibully wkwk. Kalo mereka main ketempat saya, saya dengan segala kerendahan hati dan keikhlasan meminjamkan mereka seluruh mainan yang saya punya, tapi ketika terjadi sebaliknya, mereka gak mau minjemin saya. Ketika mereka mulai sekolah pun, saya yang satu-satunya belum. Pas saya pindah pun, dua orang sohib baru saya lahiran '95 bro~. Menyakitkan ketika kami yang biasanya main bersama tak bisa melanjutkan rutinitas menyenangkan itu lagi karena si '95 itu harus memiliki rutinitas baru untuk pergi ke sekolah, dan saya masihlah seorang balita pengangguran yang kesepian.

Soal penyakit nyusahin yang saya banggakan bernama asma itu, ada cerita keren lain. Dulu asma saya sering banget kambuh. Sampe saya berada pada suatu titik dimana saya merasa terlahir terlalu lemah dan teramat berbeda dari yang lain. Sekali waktu, asma itu pernah kambuh di malam hari. Saya biasanya langsung diberi pertolongan pertama sama ibu saya dengan meninggikan bantal yang dibuat tidur dan meminumkan saya air hangat, tapi naasnya malam itu hal tersebut nggak sepenuhnya berhasil. Karena sesak napas saya semakin menjadi, dan nyokap pun semakin panik, akhirnya dini hari itu juga saya digendong ke klinik terdekat yang jaraknya sekitar 15 menit jalan kaki. Digendong seorang diri oleh nyokap saya, ditengah kegelapan kampung yang masih sepi dan jalannya becek abis ujan. Sasuga banget kan nyokap gue, padahal ketika itu gua udah SD kelas satu dan udah lumayan berat.

Nyokap saya terkenal sebagai emak paling galak sekomplek maupun sekeluarga besar, dan bokap saya sebaliknya, sebagai seorang bokap ganteng yang baek. Dan setelah saya liat-liat lagi, dua sisi itu sekarang tertanam di diri saya. Bukan tentang galak dan gantengnya bro, tapi tentang bagaimana mereka memperlakukan saya dulu yang kemudian membentuk kepribadian saya. Contoh sederhana gini, saya terkenal tukang nyolot yang gak bisa marah sama orang. Dan ini ternyata adalah refleksi dari dua metode pendidikan dari nyokap dan bokap saya. Hal ini saya sadari ketika beberapa waktu yang lalu, saya ngeliat seorang anak ngambek sama mamanya, terus mamanya itu membujuk dia sampe kaya mohon mohon gitu, padahal sampai di akhir pengamatan saya pun, bocah yang masih kecil itu belum reda ngambeknya. Orang-orang kebanyakan mungkin cuma bilang, "Ah, anak kecil, sekarang ngambek, besok juga engak." Tapi pembentukan mental anak-anak itu sudah bekerja bahkan ketika orang dewasa banyak yang bicara apatis macam itu.

Saya tergolong cengeng bro, cengeng sekali bahkan. Saya ini tipikal acak abstrak ang segala aspek dalam kehidupannya digerakan oleh emosi. Jadi intinya, ya emosional. Kalo diomelin, biasanya saya bisa nangis hebat, sampe sesenggukan gitu lho. Nah kalo udah gitu, nyokap saya itu bukan tipikal mama yang membujuk halus untuk diam, tapi malah tambah ngomelin saya. Biasanya kalo saya udah sesenggukan, Beliau bilang gini, "Hayo, diem nggak?! Diem nggak?!" pake nada kesel sekaligus gemes yang cukup tinggi dan bikin anak tetangga merinding. Nah, kalo anak lain kan biasanya malah tambah nangis kenceng, tapi berhubung saya terlalu sering dibegitukan, saya lama lama kebal. Imunitas saya terhadap omelan nyokap pun secara alami meninggi. Saya yang terlalu gampang nangis dan nyokap yang terlalu gampang ngomel pun memicu kejadian ini berulang terus menerus sampe saya berada pada satu titik dimana, saya merasa perlu mengutarakan apa yang sebenarnya saya rasakan dengan jelas. Cape bro diomelin terus. Tapi lucunya kesadaran ini muncul sejak saya masih bocil juga. Biasanya kalo udah diomelin gitu, sambil sesenggukan saya jawab, "Nggak bisa berhenti buuu~".

Kebiasaan itulah yang saya kira bikin saya jadi orang ngeyel sekarang. Tapi saya senang karenanya, bahagia malah. Saya amat bersyukur dengan keluarga yang demikian demokratis ini. Kedepannya, sejak SD sampai Universitas, saya selalu diperkenankan untuk memilih masa depan saya sendiri. Tanggung jawab bukan makanan baru buat saya, karena saya selalu dipersilahkan untuk menentukan apa yang akan saya kerjakan kedepannya dengan konsekuensi mereka hanya ingin hasil yang terbaik. Memang gak semulus alur Power Ranger yang selalu menang di penghujung cerita, tapi overall apa yang saya lakukan cukup membuat mereka tersenyum. Itu udah kebanggaan yang luar biasa buat saya.

Lain nyokap yang galak, lain pula bokap ganteng saya. Beliau itu baik banget, gak pernah ngomel *eh jarang maksudnya, kalo pernah mah pernah haha*, asik diajak diskusi, asik diajak iseng, pokoknya, dunia bokap itu gue banget lah. Nyokap saya selalu memfonis kami berdua sebagai kroni yang bersekongkol setiap saat, karena secara genetik,  saya memang lebih deket ke bokap. Saya lebih suka stay berlama-lama di kampung bokap di Tolokan, saya dan bokap suka mie ayam sementara nyokap dan iwul*adek saya* suka bakso, saya dan bokap juga sama sama orang IPS, nasionalis, dan cukup "Nyeni" di keluarga kami. Bokap saya juga tergolong bokap yang nyohib sama anak-anaknya, demokratis, dan terbuka. Kok kayaknya perfect banget yak? ya emang sih. Saya gak mengada-ada kok, temen-temen dan tetangga saya juga bahkan mengakuinya. Sebenarnya karena ada satu rahasia dibalik ini semua. Yakni kehebatan Nyokap saya. Bokap perfect yang saya temui saban hari ini adalah pasca transformasinya, karena kata nyokap dan mbah saya, dulu beliau nggak sebaik ini.

Dari penuturan nyokap, bokap itu dulunya galak, kalo ngomong kasar, sholatnya bolong-bolong, ngerokok, de el el. Pas awal-awal mereka nikah aja, nyokap saya cerita, beliau banyak makan atinya. Masa bokap masih suka cerita tentang mantan mantannya coba ke nyokap wkwk. Nyokap juga pernah dibentak, tapi setelah itu Beliau langsung sakit, dan cukup parah. Nyokap saya itu meski tukang ngomel-ngomel psikisnya gak bisa banget dibentak. Sejak saat itu, bokap introspeksi diri. Beliau sampe takut gara gara peristiwa itu. Yaa, namanya juga tjintah bro~

Dari sana, bokap saya lambat laun berubah. Dan step-step berikutnya lebih ke campur tangan nyokap yang emang berusaha merubah beliau. Jadilah bokap kakkoi saya yang sekarang. Keren ya bro?~ Kapan coba saya bisa ngalamin kisah luar biasa semacam itu. Ya, oke iya saya masih  bocil. Lagian saya juga gak mau buru-buru. Paling nggak, punya titel MA dulu baru nikah, kalo bisa malah setelah disertasi yagak? :3 Untuk sekarang mah, yaa... plisdeh, saya gak ngerti beginian. So, sori buat yang dirugikan karena kenaifan saya. Saya memang nggak keberatan membuka pergaulan dengan semua orang, tapi sekalinya saya menemukan yang tidak saya sukai, saya akan menjauhinya. Malesin tau gak wkwk.

Soal peran bokap buat kepribadian saya, saya jadi orang yang gak bisa marah sama orang lain. Jadi gini, kan akan sangat umum sekali kalo seorang anak kecil ngambek karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan atau problem sepele lainnya kan? Nah biasanya ketika dia ngambek, orang tuanya akan mikir dua kali dan akhirnya memberikan apa yang tadinya gak diberikan ke dia. Kalo bokap saya lain. Setiap kali saya beranjak ngambek, pasti dia malah menggoda saya untuk tertawa, entah itu dengan ngelawak kayak apa. Alhasil, sekarang saya lebih prefer ketawa daripada ngambek wkwk. Beliau juga pasti yang nyuruh saya minta maaf ke nyokap kalo lagi selek. 

Gara gara biasa deket sama bokap, saya juga nggak canggung sama temen cowo. Tercatat dari TK sampe SMA, paling nggak ada satu sohib cowok deket saya di setiap masa. Selain itu, saya bahagia merasa memiliki orang tua yang lebih seperti teman seperjuangan daripada orang tua sendiri. Mereka itu more than parents, tapi sohib dan hero saya~

Glad to have both of you in my side. May God bless us with a long life and health. Sumpah, Gua harus berbuat sesuatu buat kalian berdua kedepannya! I'll Make you Proud of Me! I'll Make you be the Happiest parents ever! Doain aku ya, Buk, Pak! XD



Ik Mis Je~

Saturday, September 28, 2013

Theorema Punggung

Dua tahun ini isunya meredup ternyata tak cukup mengukuhkan hukum yang mengalahkan teorinya untuk kembali teraplikasi. Theorema Punggung yang konyol sekaligus krusial, menggelikan sekaligus dekat, dan sepele, tapi cukup memusingkan.

Mungkin sekitar dua tahun yang lalu itulah saat yang saya maksud. Ketika dalam blog yang masih sama baik pemilik, tampilan, maupun substansinya ini, saya memublikasikan sebuah post mengenai Theorema Punggung yang pertama, judulnya Still Keep Staring at Your Back. Ketika itu, bentuknya mungkin masih sekedar proposal penelitian, atau mungkin sebuah hipotesa yang sedikit berada lebih tinggi tingkatannya. Yang jelas, Theorema Punggung saat itu masih hanya Theorema, tapi sekarang saya mulai menemukan jalan di mana ia memiliki kesempatan yang terbuka lebar untuk dapat terkukuhkan menjadi sebuah Hukum.
Penelitian yang secara metodologis hanya membutuhkan kesaksian-kesaksian dari narasumber, kepekaan afektif, dan penalaran untuk dapat menarik kesimpulan ini telah membuka mata saya bahwa Theorema ini benar-benar terbukti sebagai salah satu fenomena yang cukup umum dalam kehidupan. Jika anda bertanya-tanya, sejauh mana penelitian ini dapat dipertanggung jawabkan, mungkin jawabannya ada pada diri anda sendiri. Nanti, setelah saya selesai menjelaskan rinci definisinya, anda akan menemukan sendiri jawabannya.

Karena pada kenyataannya pun keakuratan Teorema ini telah teruji, dua kali, pada diri saya sendiri.

Still Staring at Your Back adalah yang pertama, dan Theorema Punggung adalah kali keduanya.

A adalah simbol yang mewakili dua variabel utama yang saya temui dalam persamaan-persamaan pada Teorema ini.

Dan saya rasa cukup bagi saya untuk menyatakan keabsahannya setelah dua kali merasakan berada pada kedudukan yang berbeda dalam Theorema ini.

***

Pada suatu pagi yang berkabut, bulir-bulir embun masih menggelayut di pucuk-pucuk jemari tetumbuhan yang masih tertunduk malu, ada kisah yang tertafsir oleh mata-mata kami yang terlampau peka atau justru iseng dibalik gestur beberapa ekor ayam di pekarangan. Dalam gambaran tersebut, seekor ayam jantan memunggungi seekor ayam betina ketika ia tengah memandangi lekat ayam betina elok yang berada jauh di depannya. Seperti itulah Teorema Punggung bekerja. Melibatkan orang-orang yang tak saling melakukan bentuk interaksi lain selain saling menyakiti.

Setelah menemukan Teorema ini, kadang saya bertanya-tanya, kalau Tuhan memang memiliki maksud dari setiap yang diciptakan-Nya di dunia ini, apa maksud sesungguhnya dibalik keadaan saling menyakiti ini? Keadaan yang mirip dengan domino effect ini tak ubahnya seperti rantai yang saling menusuk. Bisa jadi, dalam sebuah rantai panjang teorema ini, terlibat sekian banyak orang dengan posisi yang sama dan berulang dimana orang paling depan tak melihat apa-apa, tapi dengan kejamnya, tanpa sadar menusuk orang di belakangnya, terus seperti itu sampai di tempat paling belakang adalah orang yang paling tersiksa karena ditusuk tanpa pernah memiliki kesempatan menusuk, meski menusuk pun sebenarnya bukan keinginan salah seorang pun dari mereka. Jika begini, bukankah dua orang yang saling memunggungi, atau saling menusuk sekalipun, lebih baik dibandingkan mata rantai yang akan selalu menarik tumbal-tumbal untuk turut terjalin didalamnya semacam ini?

Dalam Teorema ini, ada tiga posisi dasar. Posisi pertama ialah seseorang yang paling depan, yang tak tahu apa-apa sekaligus tak tahu kalau ada sesuatu yang tak pernah ia perbuat yang membuat orang lain tersakiti olehnya. Posisi pertama ini biasanya sering dialami tanpa disadari. Kedua, posisi tengah sekaligus kunci dari jalinan rantainya. Mengapa kunci? Karena jika ia mengambil langkah besar untuk memutuskan berbalik, ia akan memutus rantai setan yang menjerat orang-orang dalam garis yang sama dengannya. Yang jadi permasalahan mengenai si tengah ini hanya bagaimana ia akan menempatkan perasaannya dan perasaan seseorang di belakangnya dalam sebuah skala prioritas yang akan menentukan kesinambungan rantai tersebut. Yang ketiga, posisi belakang yang paling tak berdaya. Sebenarnya ketika berada dalam posisi ini pun kita memiliki pilihan, yakni untuk tetap bertahan atau berlari menghindar dan melupakan segalanya untuk menemukan kutub magnet baru yang siapa kira bisa saja bersatu baik dengan kutub kita. Tapi sekali lagi, perlu langkah super berani untuk melepas segala ‘sensasi’ yang pernah dirasa untuk mengambil pilihan-pilihan tersebut. Dan selama saya mengalami terlibat dalam Teorema ini, tak sekalipun saya pernah mengambil langkah berani tersebut. Entah kenapa, tapi kemungkinan terhebatnya adalah saya lebih mencintai ‘sensasi’nya daripada kenyataan bahwa saya berada dalam posisi yang tak diuntungkan samasekali itu tadi.

***

Kisah dimana Teorema ini teraplikasi berlanjut ketika kami, tiga variabel ini dipertemukan di sebuah kota baru. Bagai mimpi, apa yang selama ini hanya wacana dalam imajinasi yang sudah menghasilkan sekian banyak luka, terlaksana sedikit demi sedikit secara nyata. Orang pertama yang selama ini hanya memunggungi Orang kedua dalam seribu macam kesunyian, bersedia menoleh untuk kali pertamanya.

Anda tentu bisa membayangkan bagaimana besar makna sebuah perhatian, sekecil apapun itu, bagi seseorang yang sudah menantikannya dengan berdiri susah payah pada sebuah sudut dingin dengan tubuh penuh luka untuk waktu yang tak sebentar. Tapi justru pada saat dimana si Orang Kedua itu tengah terlena oleh perasaan bahagianya, seseorang lain dari belakangnya menawarkan tangan dinginnya untuk mencoba menyembuhkan luka-lukanya. Si Orang Kedua kemudian mematung dalam sejuta kebingungan, ia mematung untuk saat yang lama, sampai kini pun ia hanya mampu diam. Ia takut melangkah terlampau jauh bersama si Tokoh Baru ini, sementara ia tak bisa menjanjikan lebih untuk apa yang ada di depan mereka. Ibarat segala kebaikan si Tokoh Baru adalah emas, bagi seorang penggila romantisme dan sensasi yang idealis ini, respon-respon kecil yang dinantikannya dari Orang Pertama adalah batu mulia yang langka. Dilema terbesar dalam dinamika hidupnya kini adalah haruskah ia melepas mimpi besar yang setelah sekian lama akhirnya mulai tercium wanginya demi sebuah kenyamanan yang masih asing baginya dibanding pedih dari luka-luka lama yang masih menganga?

Suatu saat waktu akan menjawabnya, tapi dari hati terdalamku, Orang Kedua dalam dinamika teorema ini, aku minta maaf kepada yang merasa berada pada posisi yang tak diuntungkan karenaku. Aku tak bisa mengambil langkah untuk saat ini. Mimpi tentang orang pertama yang berdiri tanpa mendengar semua ini disana terlalu tinggi harganya untuk kulepas begitu saja. Sudah cukup luka demi luka yang kutabung selama ini bebas ditukar dengan sesuatu yang lebih berharga darinya kini bukan? Entah apa yang mengganggumu, Orang Pertama, apa semua yang kurasakan terhadapmu memang salah? Jika iya tolong beritahu aku. Agar kau bisa berhenti menyakitiku, agar aku bisa berhenti menyakiti orang lain.

Tapi boleh lah kau tahu, andai kata aku tak bersakit-sakit ria untuk bermimpi akan sebuah kalimat eksekusi menyakitkan darimu.
Aku masih, berada dalam posisi yang sama, seperti sedia kala.

                                                                                               
 Teruntuk objek riset saya yang budiman, Marshella Riyanto
dan Rere Harits Ariyanti yang juga merangkap konsultan saya.
Dan sesama yang terlibat dalam Theorema,
Yuanita Wahyu Pratiwi
25 September 2013