Trending Topics

.

.

Friday, August 08, 2014

Berbisnis, Bertaruh dengan Waktu


Njirr lama banget ya~ sejak terakhir kali saya menyapa blog ini. Puasa Ramadhan saya juga puasa nulis, kecuali barang nulis status mungkin hhoho#dor padahal kan gitu, akhir-akhir ini sangat banyak isu yang seksi dari mulai pemilu pertama saya *yaterus?*, kemelut di Palestine yang menurut saya menyandera logika, ISIS coy, event-event pribadi semisal lebaran yang sepi di Cikarang, ngotu dan nyenen, dan masih banyak yang lainnya. Tapi saya justru baru punya greget nulis sekarang, dan samasekali bukan karena yang hot-hot diatas, tapi biasa, masalah yang mengorek nurani, meski kadang tak berarti apa-apa bagi sekalian banyak orang.

Kemarin saya ke pasar sama ibu saya. Setelah beberapa hari hampir seminggu jadi sepi bak kota terpapar radiasi yang ditinggalkan penghuninya, cikarang mulai mereguk cairan nyawanya kembali. Lepas dari pintu rel kereta api pasar lama yang untek-untekan rame gila, kami mulai menjajaki pecinannya cikarang di sekitar kelenteng Liem Thay Soe Kong. Dari sana, tujuan kami ke Multi Media, sebuah stationary store alias toko ATK dan buku paling senior se-cikarang buat nyari kado temennya adek saya dan buku gambar A3 buat tugas dia bikin peta. Saya ngapain ikutan? Niatnya pengen beli cat air berhubung lama nggak maen cat, tapi pas sampe sana, niat saya urung. Nggak tahu kenapa. Mungkin dukunnya MulMed kurang manjur makanya saya gak jadi beli. Tapi sebenernya ya, uang lebaran saya udah nonsense banget, kemaren abis banyak buat ngebolang Jekardah. Belom lagi saya masih punya beberapa buku yang belom selesai dibaca. Sketch book pun masih menyisakan beberapa lembar kosong dengan seperangkat pensil dan penghapus yang masih sangat layak digunakan. Jadilah, pikiran soal mundur selangkah daripada maju menjadi serakah, ingin meraup semuanya, selagi milik masih cukup dan belum bisa betul kita nikmati semaksimal yang ia bisa membuat saya mengelus saku, lima puluh ribu, selamat.

Pulang dari sana, kami harus kembali melalui rel kereta yang berkondisi masih sangat sama seperti tadi. Antrian teruntai panjang sampai di depan apotek yang saya lupa namanya, sangat dekat dengan mulut jalan tempatnya bersentuhan dengan jalan utama Gatot Subroto. Dari sana, sepeda motor kami dipaksa setia mengantri oleh kebutuhan akan keselamatan dan sedikit-sedikit kepatuhan pada norma jalanan. Di suasana lebaran seperti ini, meski perekonomian belum sepenuhnya massif, lalu lalang kendaraan bermotor dengan penumpang-penumpang berbaju baru yang warnanya masih mentereng sama atau bahkan lebih ramai dari hari biasa. Lain uang, penduduk negara ini masih tak sematerialistis yang kita kira, tumpah ruah kendaraan ini rata-rata dalam penuntasan misi silaturrahmi lebaran.

Selagi mengantri untuk terbukanya pintu palang lintasan kereta, pandangan saya berpatroli. Barisan toko-toko di kompleks pasar lama masih sama seperti dulu, kecuali mungkin soal kusam dan kesan usia yang tak bisa ditutupi. Komoditi yang dijejer di etalase berdebu mereka pun masih sama, meski beberapa saya tak tahu karena memang belum bangun dari libur panjangnya. Kebanyakan toko disini dikelola oleh orang-orang Tionghoa, inilah mengapa kawasan ini disebut-sebut pecinan. Tapi warga pendatang tua ini sudah merupakan warna udara yang turut berhembus bersama sekalian angin di kota ini tanpa bisa terpisahkan. Jika para engkoh dan enci ini di anulir keberadaannya, mungkin isi pasar cuma anak jalanan, sopir angkot, preman-preman, dan sedikit saja pedagang yang tersisa. Tapi bukan eksistensi mereka yang saya ingin bahas disini sekarang, melainkan pekerjaan mereka, bongkah-bongkah toko tua yang mereka kelola.

Saya kira, di tulisan yang lain saya pernah bercerita, juga soal sepenggal kisah di Pasar Lama. Purbasari, sejaman saya SD, di sini ada sebuah toko buku pelajaran, dan alat tulis yang cukup besar. Salah satu buku yang pernah saya beli disana adalah RPUL, terbitan tahun 2005, tepat ketika saya kelas 3 SD. Dulu saya tak begitu suka pergi ke tempat itu. Sebagai anak kecil yang sehari-hari hampir menghabiskan mayoritas waktunya menonton televisi, saya termakan komersialisasi. Konsep modern terpateri dan jauh lebih menarik hati dibanding pasar yang ramai, terkesan kumuh, dan jauh dari rasa nyaman. Saya tak tahu menahu soal uang. Karenanyalah saya tak peduli soal harga miring yang jadi motivasi utama orang tua saya mengajak saya kesana. Multi Media yang dua lantai dan berpendingin ruangan ketika itu jauh lebih menarik.

Sekarang saya tak tahu kelanjutan Purbasari yang pada masanya amat ramai. Multi Media sendiri, setelah SGC berdiri, pembangunan di Cikarang semakin menggeliat, toko-toko semacam itu semakin menjamur, mulai kehilangan pamor dan elegansinya. Kemarin saya kesana, barang-barangnya tak lagi selengkap dulu. Eksteriornya masih khas 2000an dan tak pernah diperbaharui. Di etalase paling depan, dekat meja kasir, saya melihat beberapa unit kamus elektrik bahasa Inggris yang dipajang berdebu. Dulu, kelas satu SMP, ketika saya membeli salah satu dari yang mungkin masih dipajang hingga saat ini, kamus elektrik adalah salah satu komoditi mewah yang jadi jago di toko ini. Dipajang di etalase utama berdampingan dengan pulpen-pulpen mahal di dalam kotak beludru. Sekarang, ketika website penerjemah telah bertaburan, internet telah mendekap erat nadi-nadi kehidupan, siapa yang masih mencari kamus-kamus ini?

Di sisi kiri jalan, saya lihat sebuah toko sudah buka. Bingkai folding dornya warnanya pudar, tapi masih jelas kalau itu hijau tua. Di bagian atas toko tertulis nama toko dan keterangan bahwa ini adalah toko tani dan menyediakan macam-macam bibit dan pupuk. Di dalamnya ada dua etalase panjang yang berisi kemasan-kemasan biji-bijian, jeligen-jeligen, botol-botol, dan beberapa alat semprot hama digantung di salah satu sisinya. Di sisi lain, di dinding belakang yang bersisian dengan pintu ke ruangan lain, tersemat sebuah kalender jadul yang gambarnya model seksi. Saya pikir, kalau pemandangan semacam ini hadir di tahun 90’an atau paling tidak sampai awal 2000’an tentu sangat wajar, tapi kalau sekarang?

Dulu, di sisi kiri dan belakang rumah saya, beberapa bidang tanah luas yang sekarang jadi perumahan, terhampar kebun-kebun warga yang ditanami aneka sayuran. Alat semprot hama semacam itu masih sangat sering saya temui, demikianpun dengan jeligen pupuk yang asing dan berbagai macam bibit dalam botol yang dijejer rapi di jendela rumah tetangga saya, menunggu giliran untuk disemai. Sekarang perumahan yang ada tak perlu semprotan hama, bibit-bibit itu hanya didiamkan berdebu. Dalam hati saya bertanya-tanya, siapa yang menjadi pelanggan toko ini sekarang? Bagaimana mungkin bisnis ini bisa bertahan? Rasa macam apa yang ada bagi mereka ketika megingat masa-masa keemasan bisnis mereka?

Bisnis, sejak lama menjadi sebuah kata penuh horror bagi saya. Meski banyak acara TV yang mengangkatnya sebagai konsep dan berusaha memasyarakatkannya akhir-akhir ini, pandangan saya masih belum berubah. Kalau memang dekat dengan kata sukses, bisnis memang menggiurkan, tapi rasanya kata gagal dan rugi berada beberapa jarak lebih dekat. Rugi yang saya maksud bukan cuma dari segi modal, tapi rugi hatinya itu loh. Saya nggak jauh-jauh amat kok dari dunia bisnis, kakek-nenek saya petani yang nyambi dagang, ibu saya juga dagang, dan dari kecil saya udah kenal sama dunia semacam ini, tapi tetep, bisnis itu makan ati. Hal-hal yang jauh lebih saya sukai daripada bisnis itu sendiri, semacam toleransi, kekeluargaan dan idealisme katanya amat jauh dari bisnis. Bisnis yang baik itu memang yang jujur, tapi disiplin, dan saya nggak bisa hidup dengan cara seperti itu. Dalam bisnis kita mau tak mau dikuasai dua hantu besar, pasar dan modal.

Sejauh ini, sejauh tulisan ini tertunda beberapa hari, sejauh saya banyak merenungi hal lain atau bahkan hal ini lebih jauh lagi, saya masih belum menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini. Apakah bisnis harus selalu berubah dari waktu ke waktu? Haruskah terus bergelut dengan inovasi dan bereksperimen, selagi bertarung dengan waktu, keterbatasan modal dan selera pasar? Atau putus asa, melepas lapak warisan keluarga untuk menjadi pesuruh di lapak orang tanpa pusing-pusing sampai kita sadar kita telah jadi budak asing? Haruskah toko tani berubah jadi toko matrial? Pertanyaan ini justru beranak lebih banyak lagi.

Toko tani tadi masih berdiri mungkin karena sebuah alasan. Entah itu seorang nenek tua yang tak rela toko itu ditutup setidaknya sampai dia mati, entah seorang bapak paruh baya punya keprihatinan soal kebun milik para langganannya yang alih fungsi jadi lahan perumahan, atau entah apa, saya tak tahu. Yang jelas entah si toko tani, entah si Purbasari, entah Multi Media, entah satu toko lagi semacam multi media yang kini telah berubah jadi restoran bebek, bahkan kamus-kamus elektrik yang berdebu, rasanya adalah korban dari gerak roda ini. Pihak-pihak yang kalah, pihak-pihak yang karena sekian banyak alasan tak mampu mengikuti pola-pola dalam rimba kapitalis yang tak berhati.

Lama-lama soal arah dunia ini, ketika orang-orang dari humanis bergeser ke arah kapitalis, manusia hanya akan kembali ke arah putaran yang sama. Sama tidak beradabnya, sebagaimana orang-orang yang mereka sebut demikian sejak ratusan tahun lalu. Mungkin orang-orang didalam rimba, yang resisten dengan adatnya, yang bijak terhadap lingkungan dan kehidupan, akan patut membalik segalanya, menyebut mereka yang hidup dalam rimba pasar, di tengah pohon-pohon menara beton dan kanopi asap tebal, di tengah jalaran modal berdaun lembaran dolar, liar tanpa adab, sebagaimana mereka disebut oleh moyang-moyang orang-orang itu, dahulu.


Yuanita Wahyu Pratiwi, 8 Agustus 2014.