Trending Topics

.

.
Showing posts with label Romance. Show all posts
Showing posts with label Romance. Show all posts

Monday, August 10, 2015

Sisa Perjalanan



Teman-teman, hati selalu punya ruang. Anak muda seharusnya memang progresif, mengingat fungsi tubuh sedang dalam kondisi terprima. Pada masa-masa ini para atlet mendapatkan medali terbanyaknya, dan seorang yang duduk di kelas dalam gedung berpendingin ruangan mendengar ceramah professor yang mengaku intelektual ini patutnya berkarya. Orang lain sesama pemuda telah sampai di tanah-tanah asing, telah mengukir nama yang harum dalam kejuaraan-kejuaraan besar, dan telah membuat orang terdekat kenyang oleh rasa bangga, tapi apalah diri ini. Seorang yang belum menemukan diri menghasilkan suatu yang berharga. Seorang penghabis waktu dan biaya, tidak produktif luar biasa.

Diantara tugas-tugas wajib, kesenangan hati selalu jadi prioritasnya. Kali ini, setelah ia melakukan perjalanan ini, nampaknya paham yang terlalu SMA itu telah terlalu usang untuk tantangan di dunia barunya. Ia beranjak ke semester tua, masih dengan tangan hampa kecuali deretan nilai di transkrip. Waktunya hanya berputar di orang-orang sekitar, hobi, dan ketidak disiplinannya. Dasar anak manja.
Antara panitia dan calon peserta tak pernah ada komunikasi apapun, bahkan dalam bentuk kontak batin sekalipun. Birokrasi di tanah berisi ratusan juta orang ini sering kali terlalu panjang dan berbelit. Sementara itu waktu adalah makhluk paling konsisten di muka bumi. Kalau menurutmu deadlinenya terlalu singkat, itu cuma self excuse para pecundang. Kau bukan seorang pengambil kesempatan.

Sebetulnya Tuhan Maha Pemurah. Bahkan di dalam duniaNya yang orang bilang kejam ini, setiap manusia akan berkembang sesedikit apapun usaha yang ia lakukan. Minimal manusia tahu caranya menyuapkan makanan ke mulutnya, maka makanan-makanan itu akan sampai pada sel-sel yang terus berlipat ganda. Tubuh berubah dan tantangan dengan tanpa disadari juga bertambah. Dengan kekuatan lebih, seorang anak berusia 7 tahun harus berjalan kaki ketika ibunya hanya sanggup menggendong adiknya yang berusia 3 tahun. Apakah itu tantangan? Rasanya terlalu sederhana untuk menyebut keterpaksaan untuk berjalan kaki dalam lelah selagi si ibu tak sanggup menggendong dua anak sebagai tantangan. Akan tetapi lama kelamaan, anak 7 tahun itu akan jadi seorang kakak yang bukan hanya kuat, tapi paham posisinya, mengerti arti pengorbanannya, dan menyayangi adiknya. 

Dalam kesempatan lain, untuk menjadi murid yang pandai, anak 7 tahun itu harus mengambil kesempatan memperhatikan apa yang di ajarkan guru di setiap kelas tanpa melewatkan sedikitpun. Pun untuk masuk tim sepak bola anak kabupaten, ia harus rajin berlatih sebelum audisi dilakukan. Ada lebih banyak usaha yang dituntut kesempatan-kesempatan semacam itu. Masalah yang ditimbulkan jika kalian tidak mengikutinya pun tidak akan besar. Nilai sekolah kalian akan tetap bagus meskipun kalian tak ikut lomba-lomba ke luar. Dan kalian akan tetap naik kelas sekalipun duduk di tengah, dan kadang luput dari penjelasan guru di depan kelas selama kalian rajin masuk dan mengerjakan tugas. Tapi ketika ada orang-orang lain yang mengambilnya, jangan harap mereka akan dengan murah hati setia menunggu kalian sampai saat terakhir. Mereka akan melesat, jauh, sampai tak terlihat lagi. 

Dunia yang kecil tak akan berubah terlalu banyak. Teman akan tetap baik, keluarga akan selalu ada dan membanjiri diri dengan kasih sayang. Tapi di dunia yang lebih besar, akan ada banyak orang yang kontradiktif denganmu. Ada mereka yang konsisten dengan sikap diri yang tak kau sukai. Ada banyak kekalahan dibalik satu dua kemenangan maha manis yang menggetirkan hati. Di kali pertama kedua mencoba, rasanya dunia seperti meninggalkanmu sendirian. Ketika tak bisa mengatasi, kita seringkali akan berlari dan sembunyi. Dunia tak akan melihat kita lagi sebelum kita bisa tersenyum dan beramah hati. Selamanya mereka akan mengingat kita sebagai orang-orang yang ditimpa bayangannya sendiri. 

Soal semua itu, aku baru merasakannya kali ini. Selama ini zona nyaman telah membuat cahaya luar terasa sangat menyakitkan. Segalanya asing, keras, dan membuat diri tak nyaman. Namun dibalik keputus asaan, dengan segala kuasanya Tuhan datang dengan pertolongan. Dunia akan indah tanpa didoa. Di ujung jalan kita akan sampai pada rasa syukur yang meluap. Dunia tidak sekejam yang kita kira. 

Di perjalanan itu, ada sisa yang manis. Sejengkal dunia telah masuk ke pengembaraanku lagi. Mungkin akan butuh waktu lama sampai jengkal demi jengkal merengkuh seluruhnya dalam dekapan, tapi biarlah ini menjadi proses yang baik. Aku terlambat memulai memang, tapi ada angin kontemplasi yang kubawa dari sini. Untuk menerjunkan diri ke dunia yang luas, aku butuh lebih banyak berlatih. Berhadapan dengan orang-orang baru memang terlalu membuat langkah seringkali terasa salah, dan aku masih sulit mengatasi ini. 

Takdir adalah skenario Tuhan yang rahasia. Dalam setiap hela nafas, tindak tanduk, dan keputusan, tak pernah ada yang pasti tahu apa yang akan didapatkannya. Tesis hanya buah pikir khas metodologi Eropa. Nyatanya masih banyak hal tak bisa di rumuskan. Masih terlalu banyak anomali dalam serangkaian dalil seorang ilmuwan. Manusia begitu kecil. 

Dalam tiap kesempatan aku tak tahu akan bertemu siapa. Seringkali diri ini ingin seluas-luasnya membuka hati. Tapi perasaan dengan segala spekulasi anehnya kerap kali mengambil kendali. Diam, melewatkan banyak hal, merasa salah tanpa meluruskannya, dan aku pun kehilangan banyak hal. Di perjalanan kali ini aku punya banyak hal untuk dikatakan setelah aku sampai di rumah dan merenung. Sayang tak sekata pun sampai padamu di waktu kemarin.

Adakah aku harus seperti mereka? Sayang sekali, sepertinya itu sangat bukan diriku. Aku bukan siapa-siapa. Apa pantasku untuk banyak-banyak angkat bicara. Mungkin diri ini terlalu banyak berkomentar termasuk pada diri sendiri daripada bertindak. Tapi mengertilah, tolong, meski tidak mungkin. Aku ingin tanya beberapa hal, memulai percakapan kecil, dan bertemu serta berpisah dengan wajar denganmu, tapi aku hanya seorang pemula. Mungkin ada banyak tindakku yang berbeda arti di depanmu, tapi maksudku tak pernah buruk. Aku senang hati mengenalmu, hanya saja sulit untuk menafsirkannya dengan benar. 



Selamat memulai hidup yang biasa lagi. Aku harap kita bisa bertemu lagi, dengan suasana yang mungkin lebih baik, nanti.



Friday, February 20, 2015

Jauh dari Rumah



Rumah bagi saya hari ini adalah segalanya. Pernah dengar ungkapan ‘sesuatu akan terasa berharga ketika berada jauh dari kita’? Mungkin bisa dikira itu yang terjadi, tapi untuk kasus saya, saya telah lama menyadarinya.

Ketika SD, saya banyak main. Terutama di kelas-kelas tua masa itu, hampir setiap pulang sekolah dan di hari libur, saya selalu mangkir dari rumah. Waktu itu baru pertama kali saya tahu soal dunia yang begitu luas diluar rumah, yang ternyata cukup menyenangkan dan bisa dijelajah bersama teman-teman. Di masa-masa itu untuk pertama kalinya saya bepergian secara mandiri, hanya bersama teman-teman saja, tapi kami berpetualang ke setiap sudut kota. Kami menelusuri lorong-lorong kecil perkampungan kumuh, berjalan kaki berkeliling kompleks elit, mencoba semua makanan yang harus dicoba meski tukangnya harus diburu sedemikian hingga: susu raos, baso chuanki, dan sate seribu tiga tusuk. Itu juga masa dimana saya tahu hampir semua bekal yang saya butuh tahu untuk menjadi tour guide paket eksplor Cikarang ketika SMP. Saya tahu dimana orang jual manik-manik dan renda nun jauh di jantung pasar yang bau pesing; saya tahu sisi pasar mana yang jual beras dan yang jual ikan; saya tahu jalan tikus tercepat menuju satu-satunya toko buku di tempat kami; dan saya orang yang bergerak dibalik kunjungan massal ke perpustakaan kabupaten di kalangan teman smp saya yang para anak kota itu. Semua tahu dan pengetahuan itu didapat tak lain dari tour guide yang jauh lebih berpengalaman yang memandu saya dalam petualangan semasa SD. Teman-teman saya yang sehari-hari memang main di pasar, bersepeda keliling penjuru kota, akrab dengan fasilitas publik macam perpustakaan yang dari luar nampak horror itu dan hapal tempat dimana kita bisa menemukan jajanan-jajanan legendaris.

Tapi ajaibnya, entah mengapa, jiwa petualang saya hanya liar di masa itu. Di masa dimana saya sering dilarang bepergian oleh ibu saya. Mungkin karena terlalu sering, mungkin juga karena petualangan itu mengharuskan saya menyebrang dari mulai jalan raya sampai jalur kereta, terutama setelah saya sempat kecelakaan di kelas lima. Seringkali saya tak terima, menangis minta dibolehkan keluar. Tapi sekarang, di hari dimana saya telah beribu kilometer jauhnya berada di luar rumah, saya lebih ingin berada di dalamnya.
Sudah akan menjelang dua tahun saya berada di kota ini, tinggal sementara demi studi. Sungguh syukur saya sangat mencintai studi saya, jadi bersusah hati demikian rupa pun tertahankan karenanya. Jika tidak, tapi jangan sampai ya Allah, mungkin akan sangat lain ceritanya. Demikianpun saya memprioritaskan apa yang saya pelajari disini, keadaan tak selalu baik. Satu-satunya pelipur lara ketika gamang melanda dari penjuru arah semasa jauh dari keluarga adalah para teman seperjuangan. Namun teman adalah teman, mereka datang silih berganti, menghibur lara lagi berurusan sendiri-sendiri, tak selalu termiliki. 

Saya cinta segalanya soal rumah, dan sadar betul akan itu, mungkin sejak SMP. Ketika itu, saya mungkin masih haus soal dunia luar, memperjuangkan banyak hal di luar dan sedikit menganulir kenyamanan rumah di sisi hati sampai saya menyadarinya di SMA, bahwa pasca dua tahun ini, jauh atau dekat rantau memanggil dan kemungkinan besar saya tak lagi tinggal sepanjang hari di rumah ini. Rasanya pilu, bak dikejar-kejar waktu.
Saya cinta bangunan ini dan segala isinya, saya rindu. 

Ini baru lain kota lain provinsi, ada kalanya saya bermimpi soal studi di lain negeri. Namun sanggupkan jika adanya seperti ini? Bukan hanya dalam jarak kilometer, zona waktu pun berjam-jam bedanya. Ah, kenapa dunia ini begitu luas.

Tapi bagaimanapun adanya, saya tetap bermimpi, karena itu juga yang diinginkan orang tua saya, kobar api abadi dalam obor semangat saya. Sungguh murah hati mereka membebaskan pilihan saya, mengorbankan gamang dan mempercayakan masa depan di tangan saya sendiri. Saya harus mempertanggungjawabkannya. Pegangan saya, ada Allah yang Maha Pengasih yang senantiasa mengasihi kami dengan segala rahmatNya dan menjaga keluarga saya selagi saya jauh dari mereka.

Saya sanggup. Karena sejauh apapun saya pergi, saya menanti satu hal yang pasti indahnya: pulang ke rumah.

20 Februari 2015

Monday, November 17, 2014

hari pertama musim hujan tahun ini

Dalam banyak kesempatan, aku tak bisa membedakan betul antara tak bisa berbuat apa-apa dan memilih untuk diam. Keduanya diam, tapi berbeda secara tendensi. Ketika memang tak bisa, bergerak pun tak ada gunanya, tapi berbeda dengan yang kedua. Saat ini aku yakin aku berada di kondisi kedua, tapi aku merasa tak ubahnya tak bisa melakukan apa-apa.

Di era ini, ada banyak lapisan komunikasi. Kesemuanya memiliki ikatan yang berbeda eratnya. Jika dulu semua orang saling menyapa dengan lisannya masing-masing, sekarang komunikasi semacam itu jadi mewah. Ada beberapa anak yang kaku jika bicara dengan orang tuanya, ada yang pintar tapi diam saja di kelas, ada yang pendiam juga bahkan di tengah-tengah lingkungan sejawatnya. Handphone, ponsel, smartphone, atau apapun istilah dan fiturnya, selalu setia berteman dengan kesendirian orang-orang yang wajahnya bersinar dalam gelap. Mereka teman hidup orang saat ini. Topeng tercanggih yang memungkinkanmu memasang segala muka, segala ekspresi tanpa harus mempertanggungjawabkannya. Maksudku, ketika kau tersenyum, tertawa, menggila, sendirian pun kau aman dari cela ketika kau punya mereka, sesuatu yang menyinari wajahmu dalam kegelapan.
Suatu ketika, hampir semua orang telah masuk ke dunia tanpa musim. Segalanya bergerak cepat dan mengalir. Penuh dengan keluh kesah, harap, dan serapah sembarang manusia. Meski terlihat kotor dan tak bernorma, dunia semacam ini, menurutku, dunia yang menampilkan banyak kejujuran. Di alam paralel ini sekalian kata tak terucap dengan lisan terlontarkan, sekalian rasa tak terjamah ekspresi tertuangkan, semuanya dalam sederet kata, sepenggal tayangan, atau hanya beberapa gambar.

Aku tak begitu cinta teknologi. Bagiku ia hanya anak zaman. Ia hanya kendaraan beroda empat yang harus kita naiki jika ingin lewat jalan tol, sedang aku lebih suka jalan kaki, berlama-lama dan memutar jauh mengikuti lekuk kehidupan yang alam sediakan. Tapi kadang aku tak sanggup melalui beberapa hal. Meski berkata demikian, aku tak ubahnya sekalian orang, yang jadi mangsa dari anak zaman. Suatu ketika, aku memutuskan dengan segera—tanpa berpikir terlalu mendalam— kalau dalam kasus ini, aku hanya bisa naik kendaraan roda empat. Demikianlah aku disini.

Jika aku berjalan kaki, mungkin aku bisa bertemu, menyapamu, atau mungkin menawarkanmu berbagi payung ditengah gerimis yang mulai menghujam. Sekali waktu di kesempatan yang selanjutnya atau yang selanjutnya lagi, mungkin aku bisa mengatakan sesuatu: mengatakan padamu entah itu soal rasaku atau kata-kata menyerahku, mengatakan padamu apakah setelah kita sampai di persimpangan jalan di dekat rumahku kau boleh mengantarku sampai gerbang dan membawa payungku untuk kau pinjam dan kau kembalikan lagi di pertemuan yang berikutnya, atau sekedar selamat tinggal lalu meninggalkanmu bersama payung itu, berlari ke simpang yang lain tanpa menoleh lagi, dan menjauh selamanya, sembari membiarkan air hujan membasuh segalanya.




Beribu sayang aku berada disini, di dalam kendaraan roda empat: mobil yang aman dan nyaman. Dengan segala daya yang sesungguhnya ada, aku membiarkan segala rupa dinding dan batas melintang antara aku dan sosokmu di trotoar: udara, wewangian, kaca jendela yang mengembun, debu yang luruh, rinai hujan, angin, mendung, dan kilatan cahaya, kendaraan lain, tawa tangis orang lain, dan dedaunan basah. Aku mengatakan sesuatu dari dalam kaca, sesuatu yang mungkin —atau hampir pasti— tak akan bisa kau dengar. Untuk tahun kesekian dan kesekian kalinya, aku telah berbisik sampai berteriak gamblang. Setahun aku telah berperjalanan hingga kembali ke titik ini, di mana aku melihatmu, mengatakan sesuatu padamu, dari dalam mobil untuk sampai ke sosokmu di trotoar, menembus segala partikel, tapi tak hingga. Entah bagaimana dengan tahun selanjutnya tapi, aku ingin jadi anak anak lagi, yang bisa tanpa mobil memakan ceri di kuemu, menumpuk kado di meja, lalu mengucapkan selamat ulang tahun dan meminta bingkisanku sebelum akhirnya pulang ke rumah dengan bahagia.

Monday, September 15, 2014

Nikmatnya Bersama-sama bagi Seorang Introvert

 
Di film yang hampir 10 kali saya tonton ulang, Titanic, Rose Dewitt Bukatter tua pernah berkata, “Hati seorang wanita adalah lautan yang amat dalam…” dan ketika itu saya amat tersentuh. Saya yang masihlah hanya seorang abege labil seketika disulap emosinya untuk turut terlibat dalam film luar biasa tersebut, dan saat itu juga menjadi semerana Rose dan menangis tersedu padahal sebelum menonton saya jingkrak-jingkrak bahagia karena salah satu film favorit saya ini kembali unjuk gigi di televisi. Sebetulnya dalam tulisan ini, Titanic bukan soal. Memang hobi saya membuat opening yang agak melenceng dari konteks, tapi okelah, karena semua tetap akan teruntai dengan satu benang merah. Kali ini sebetulnya saya ingin menyoroti quote Rose diatas. Kalau baginya yang hidup dalam pendustaan terhadap keinginan nuraninya, hati seorang wanita, atau singkat cerita hatinya sendiri adalah lautan yang amat dalam, bagi seorang introvert yang sangat menghindari segala macam risiko seperti saya, hati semua orang adalah lautan yang teramat dalam.

Kebiasaan menghubung-hubungkan keadaan saya yang sekarang dengan masa lalu ternyata adalah kemampuan yang saya miliki sejak sebelum mendalami Sejarah, dan semakin menjadi-jadi saat ini. Jadi sepertinya salah jurusan bukan lagi kemalangan yang saya alami dalam periode ini. Prodi ini adalah rumah bagi the rest of my life. Sebagai buktinya, post ini adalah post kesekian yang membuat saya memulai cerita dengan sepenggal kisah di masa lalu saya.

Jadi begini, saya anak pertama bagi sepasang suami istri muda ketika itu yang dihujani segala macam saran dan wejangan dari yang asalnya pengalaman sampai mitos turun temurun. Sebagai ‘pengalaman pertama’ saya dibesarkan dengan banyak eksperimen #dor. Maksudnya adalah, kebayakan dari saran tersebut ditampung oleh kedua orang tua saya, dan soal kredibelitas saran, yang jadi patokan kadang bukan lagi logika melainkan track record dan posisi sang pemberi saran bagi yang diberi saran. Singkat cerita, meski kata bidan yang baik untuk kesehatan a, kalau kakaknya ibu saya atau simbah bilang b ya yang dilakukan b. Alasannya, wong bu bidannya juga belom punya anak kan, tau apa dia :v

Selain daripada mitos-mitos, saya dibesarkan dalam kapsul kekhawatiran. Ibu saya ketika saya lahir sampai berusia beberapa bulan masih bekerja, dan ketika itu lah tanggung jawab asuhan atas saya ketika ibu saya bekerja berpindah dari satu nanny ke yang lain hingga beberapa kali. Ndelalah, saya sakit-sakitan. Entah ini faktornya apa, tapi setelah sharing dengan sekalian banyak manusia, kebanyakan anak pertama memang punya kisah yang semacam ini. Puncaknya ibu saya keluar kerja. Seluruh perhatian kemudian tercurah kepada saya, tapi saya tak kunjung menunjukan tanda keramahan pada keputusan ini. Sampai TK saya masih rawat jalan gara-gara asma dan bronkhitis yang menjangkit dari usia 2 tahun. Sebelumnya, entah penyakit apa yang jelas saya hampir setiap minggu ke rumah sakit dan beberapa kali sampai dirawat inap. Dengan track record yang sekelam itu, meski setelah masuk TK saya menunjukan progress kesehatan yang luar biasa, ortu saya tetap dihantui trauma. Yang namanya surga anak-anak seusia itu semacam CIKI, ES, PERMEN, COKELAT, HUJAN-HUJANAN, PANAS-PANASAN, DAN MAIN BERLEBIHAN dicoret dari daftar hal yang boleh saya sentuh. Setelah beberapa lama berada dalam kukungan ini, betul saya sehat, tapi begitu terkena satu dari alergen diatas saya memang bisa jadi langsung jatuh seperti ancaman ibu saya. Dan karena ini saya memiliki keterbatasan waktu bermain hingga hampir usia-usia main saya habis.

Kalau sepulang sekolah saya lihat teman-teman sebaya lari-lari di lapangan, saya dipaksa tidur siang. Kalau yang lain jajan ciki, saya jajan roti, yang lain minum es warna-warni, saya beli susu. Masa kecil saya akhirnya memiliki warna yang cukup berbeda dari yang lain. Dulu, berlama-lama main di akhir pekan dengan pengawasan spesial orang tua adalah momen yang paling saya tunggu-tunggu. Kalau sudah asyik saya kerap kali enggan diajak pulang. Perihal keabsahan cerita, tanya lah teman-teman masa kecil saya atau ibu mereka. Setidaknya, meskipun ibu saya setia mengingatkan untuk tidak menyentuh ini dan itu, saya memiliki kesempatan terbang bebas sejenak ke langit dimana mahluk lain seusia saya mengepakkan sayapnya.

Karena hal ini, dulu saya super berisik. Cengeng jelas, karena ibu saya sangat sering memperingati untuk tidak menyentuh hal yang selalu sangat menggoda untuk saya sentuh, dan air mata lantas mengalir begitu saja. Tapi baiknya, dari hal ini, saya mudah sekali bergaul dengan segala usia. Anak seusia saya, adik-adik orang tua saya, teman kerja ayah saya, sepupu-sepupu yang lebih tua dari saya, mereka semua adalah teman yang menarik. Mereka selalu punya cerita dan beberapa jajanan. Mereka adalah orang baru diluar orang tua saya yang ketika itu dalam anggapan saya amat lurus dan terlalu menegakkan peraturan yang membosankan.

Tapi belum lama hal ini terjadi, saya diculik oleh dunia baru bernama sekolah. Disini jelas saya punya banyak sosok teman yang selama ini saya cari dari setiap pribadi yang saya temui. Mereka adalah orang-orang yang bisa saya ajak bicara dan berbagi mengenai apa yang saya inginkan dan mengerti akan itu. Mereka jauh lebih luar biasa dibanding teman-teman ayah saya atau sepupu-sepupu yang lebih tua. Sekejap, pandangan saya terhadap dunia berubah. Lingkungan di sekitar rumah yang memang berada cukup jauh sejak isolasi itu, membuat saya melupakannya dengan mudah ketika saya menemukan keasyikan di sekolah. SD sampai lulus, SMP, lalu SMA, hingga saya sadari saya tak bertegur sapa dengan mereka yang saya lihat sejak sama-sama kecil. Kami banyak bersekolah di tempat berbeda, membicarakan hal berbeda dan banyak melakukan hal berbeda, hingga saya tak tahu lagi apa yang menyatukan kami selain kilas-kilas gambar di masa lalu. Saya akhirnya diam.

Baru akhir-akhir ini saya sadar, kalau memiliki teman akrab bagi seorang seperti seperti saya telah menjauhkan sejauh-jauhnya diri saya dari aktivitas mencari teman. Teman akan saya cari ketika saya tidak punya, begitulah yang kemudian lebih sering terjadi, atau bahkan kadang saya berpikir lebih baik saya sendiri. Rasa takut akan penolakan dari lingkungan selalu menghantui ketika saya berkaca, berjalan keluar, dan berkeinginan untuk menyapa seseorang. Saya tak mengenal mereka, bagaimana kalau salah menafsirkan maksud baik saya. Sungguh hal yang sangat jauh berada dari kepribadian kecil saya yang haus akan teman. Jadilah saya tumbuh lebih dengan kecenderungan sebagai seorang introvert.

Saya beruntung, cangkang tempat saya berlindung dari dunia luar yang penuh ketidak tentuan adalah pintu rumah, bukan pintu kamar. Dinamika ini membuat keluarga menjadi satu-satunya kesatuan yang transparan bagi saya. Saya membagi banyak hal dengan mereka, malah hampir setiap hal. Tapi masalahnya adalah ketika saya keluar dari rumah, tidak ada yang menggantikan posisi mereka kecuali sekedar sambungan telepon dan kiriman sms. Padahal di satu sisi, saya juga berpisah dengan teman-teman lama saya.

Di tempat baru ini, saya terjun bebas. Menutup mata dari segala ketakutan dan hanya setia berpegang pada takaran hakiki salah dan benar. Saya mencari teman lagi, dan akhirnya menemukannya.

Keheranan pertama saya muncul di pertemuan pertama teman-teman fakultas, lalu sejurusan. Mereka yang berada dalam lingkup ini membawa atmosfer yang amat berbeda dari teman-teman satu kelompok ospek di universitas. Ketika setiap diantara kami diminta berbagi cerita, mereka para teman sejurusan hampir semuanya adalah yang berpandangan sama seperti saya. Hal yang tidak berbeda juga terjadi dengan angkatan baru 2014. Seolah jodoh alam, kami memang ditakdirkan untuk digiring dalam satu frame kisah yang sama disini dengan cara-cara yang meski beragam, terpetakan indah dan amat serupa polanya.

Kami menertawakan banyak hal, peduli pada hal-hal yang bayak dilupakan orang lain. Kami menyukai atmosfer yang sama, berhobi sama, tahan mengobrol berlama-lama dan masih banyak lagi. Kami bersatu, satu angkatan, semakin ditempa semakin solid sebagaimana perasaan nyaman saya ketika pertama kali diterima di tengah-tengah komunitas ini.

Mungkin ini keberapa kalinya saya mengatakan kalau saya amat bersyukur berada dalam komunitas ini. Ini adalah kelas pertama dimana hampir satu sama lain sekelas bisa bersatu dan tertawa bersama dalam satu lelucon, saling mengejek dan menertawai, mengerjai dan meneriaki tanpa dendam. Awalnya memang semuanya tak serta merta sedekat ini, beberapa keretakan juga sempat mengusik soliditas kelompok kelas kami, tapi kemudian mereka tertinggal di bingkai waktu yang lalu sementara kami bergerak kian maju, kian erat.

Beberapa kali kami dipekerjakan dalam satu kesempatan, dipaksa oleh sense of belonging untuk saling bahu-membahu menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada kami. Dari sini kami semakin mengenal pribadi demi pribadi. Setiap orang berdiri dengan banyak kekurangan dan kelebihan, tapi pointnya adalah kami menerima satu sama lain sebagai manusia yang sebagaimana adanya.

Lingkup masyarakat baru ini menyadarkan saya akan kenikmatan berada dalam sebuah lingkup kelompok yang terdiri dari banyak orang. Memiliki teman bukanlah soal bergenggam tangan erat dengan seorang yang kita jaga betul perasaan dan kenyamanannya agar terus berada disisi kita, melainkan menjadi sebetul-betulnya manusia dihadapannya. Jika marah, silakan marah sampai bisa menjelaskan mengapa kalian marah dan apa yang harus saya perbaiki. Jika sedih, bergabunglah bersama dengan yang lain, tertawa dan lupakan segalanya. Jika kecewa, ungkapkan, niscaya selalu ada ujung yang bisa diraih bersama dengan tangan dan pikiran yang terbuka.

Sekarang saya baru saja menemukan artinya. Teman bukanlah soal satu atau dua orang yang setia tapi tertutup matanya, mereka adalah rekan terbaik yang siap menampar, memukul, memaki, dan menarik kita kembali ke jalan yang baik. Selama ini saya terlalu takut dan tertutup, lalu mencukupkan diri dengan kukungan yang kian menciutkan hati. Saya memiliki keluarga yang sepatutnya telah lama menyadarkan saya tentang definisi baru yang senantiasa mereka tanamkan pada saya ini, tapi bodohnya saya baru menyadari kalau hubungan seperti ini bukan hanya dengan keluarga baru-baru saja.

Kalau saya sempat diisolasi, tak diperkenankan banyak bermain dan sebagainya, orang tua saya tak pernah berniat jahat. Mereka hanya dihantui banyak pemikiran dan ingin yang terbaik bagi saya untuk dapat tumbuh juga dengan baik seperti yang lain tanpa harus dibahayakan. Toh jika bukan karena sikap saya yang lalu, saya tak akan belajar darinya. Saya tak akan mendapatkan pemahaman ini, dan satu lagi poin mengenai betapa hidup adalah sebuah fase luar biasa.

Manusia makhluk sosial. Perasaan hati diungkapkan dengan bahasa sementara bahasa adalah alat untuk saling mengerti satu sama lain. Selain bahu-membahu dalam pemenuhan kebutuhan yang sifatnya fisik dan primer, manusia berbahasa karena saling butuh dimengerti. Introvert bukan kesalahan. Memang beberapa tempaan dalam hidup membuat bentukan tiap orang berbeda-beda, dan tak ada yang salah atau benar perihal itu. Entah saya introvert atau bukan, entah jika saya introvert saya bisa berubah atau tidak. Yang jelas, meskipun saya kadang menikmati waktu sendiri, meskipun untuk melakukan hal tertentu saya harus sendirian, saya menikmati waktu bersama-sama. Teman adalah salah satu hal paling luar biasa dalam hidup saya, dari orang tua saya, keluarga saya, guru-guru saya, rekan saya di sekolah dan di kampus, kawan lama saya, teman kelas saya yang sekarang, mereka semua teman saya. Mereka yang membagi hidupnya dengan saya, menginspirasi saya, mengingatkan saya ketika salah, dan senantiasa membuat saya menjadi lebih baik siapapun itu adalah teman-teman saya.



Yuanita Wahyu Pratiwi 15 September 2014
Untuk teman terbaik saya, yang ulang tahun tanggal 13 kemarin, Ibu saya.

Wednesday, June 25, 2014

Semua Tak Sama

Yoman, saya punya blog baru, jadi kesempatan apdet dibagi dua deh, makanya blog ini sebulan terakhir gak ada pembaharuan sama sekali. Ya sori, bukannya maksud untuk meninggalkan salah satu, hanya saja, yang onoh, yang masih sepi itu, blog yang insyaallah serius, beda sama yang ini. Kalo mau main boleh, ayo ke Historia Rasa~ #kok malah promo lu

Selamat buat semuanya, terutama mahasiswa FIB UGM yang udah masuk ke hari-hari terakhir ujian dan siap-siap menjelang liburan. Buat kelas saya, besok terakhir: Sejarah Indonesia sampai abad ke 16. Yang kemaren-kemaren campur aduk. Entahlah IP bakal naik atau turun, tapi bertahan pun saya amat bersyukur. Biasa lah yang namanya ujian, "vini vidi vici" artinya jadi "datang, kerjakan, lupakan", spesial versi saya ada tambahan: "plus Hadapi Kenyataan" wkwk

Sebenernya saya bukan mau cerita tentang ujian sih. Tapi justru soal rumah, pulang, dan *lagi-lagi* homesick, atau lebih tepatnya, saya teringat akan sesuatu yang "ba-dum-tss' banget. Kata orang punya daya ingat yang cukup baik dan sifat setia itu baik lah, idaman lah, haha, tapi gak juga lho. Terutama ketika kedua hal tadi, si daya ingat baik dan setia itu konteksnya jadi konservatif dan susah move on #dor. Yagak? :3

Jadi gini, sehari sebelum headset samsung ori saya, alias ari-arinya si kintjlong *baca: hape saya* hilang, saya  yang tak memiliki televisi di kosan ini seperti biasa kembali ke rutinitas orang puluhan tahun lalu ketika tv hanya ada di bale desa yakni mendengarkan radio. Setel random, akhirnya saya nemu yang enak, lagu Indonesia sih, tapi kok asik. Pas saya denger denger lagi, kayaknya familiar. Dan ternyata saya bahkan bisa ngikutin nyanyi. Ketika itu saya sadar, ini salah satu lagunya Padi yang suka saya denger pas TK dari walkman-nya om saya. Berhubung si penyiar gak nyebutin judulnya, saya cuma bisa nginget-nginget lirik, dan akhirnya dapet sepenggal kalimat;

"semua tak sama, tak pernah sama, apa yang..."

googling deh.

dapet tuh, dari album yang judulnya Sesuatu Yang Tertunda, judul lagunya gak jauh dari sepenggal kalimat tadi, Semua Tak Sama.


Step berikutnya tentu adalah dunlut, dan bukan hanya lagu itu, tapi juga lagu lain dalam album yang sama. Bahkan sampai Kasih Tak Sampai yang liriknya cukup legend: "tetaplah menjadi bintang di langit, agar cinta kita tetap abadi. Biarlah sinarmu datang, menyinari alam ini, agar menjadi saksi cinta kita, berdua..."

Seperti biasa, saya yang hobi banget nostalgia ini langsung terbawa suasana. Seketika bayangan yang hadir adalah rumah saya di Cikarang sana, ketika di depannya masih ada sebuah pohon asem besar dan dinding rumah saya masih batu bata. Di celah dinding batu-bata itu Om saya yang waktu itu masih nganggur, lagi muter-muter Jababeka ngelamar kerjaan dan gak punya uang tapi tetep cannot stop smoking, nyelipin rokok yang udah habis setengah batang buat nanti lagi. Njirr miris yak~ nih orang kalo saya ceritain lagi soal ini pasti ketawa.

Waktu itu jaman masih susah lah pokoknya. Rumah masih batu-bata, bokap kerja masih naik sepeda, saya dianter sekolah juga naik sepeda, om saya masih nganggur, dan ya pokoknya gitu lah. Tapi ini asyiknya jadi anak pertama sebenernya. Anak kedua apalagi ketiga gak akan tau sejarah perjuangan keluarga. Waktu adek saya lahir, kita kemana-mana udah ada motor dan rumah udah rapi. Tapi demikianpun, meski orang kebanyakan berpikir kalo hidup yang seperti itu lebih enak, dengan tau perjuangan orang tua merintis apa yang kami miliki sekarang dan memperjuangkan keberlangsungan kehidupan keluarga itu bukan something yang worthless lho. Adek saya nggak ngalamin tradisi sepedaan hari minggu pagi. Dulu waktu saya masih kecil, dan masih muat ditaro di boncengan sepeda khusus bocil yang ada di depan itu, tiap minggu pagi, kami bertiga ke pasar naik sepeda. Saya di boncengan depan sepeda bokap, dan nyokap naik sepeda yang ada keranjangnya sendiri. Berangkatnya pagi habis subuh, terus sampe pasar pas lagi rame-ramenya, beli sayuran dengan harga yang cukup wow daripada di tukang sayur. Yang paling berkesan, nyokap naro oncom di japitan boncengan sepeda belakangnya hehe. Kalo buat saya pribadi, pasar is just a little thing, tapi perjalanannya, pas kita lewat jalan yang kanan kirinya sawah, anginnya gede, terus ngobrol dan nyanyi-nyanyi sepanjang jalan sama mereka, itu yang langka, keren banget, dan gak bisa terulang kecuali saya berganti posisi *IYKWIM* haha~

Pas adek saya lahir, keadaan keluarga yang lebih baik itu entah bagaimana bikin kita punya kesibukan lebih. Tapi ya, iya sih saya udah sekolah, dan semua orang jadi gak se-selo dulu lagi. Rekreasi semacam ke pasar di minggu pagi itu pun nggak ada lagi, tergantikan sama tiap minggu berkunjung ke rumah saudara, atau rekreasi-rekreasi lain yang meskipun lebih jauh, lebih mudah, dan terdengar lebih keren, buat saya pribadi tetep gak punya sesuatu yang saya dapatkan di minggu pagi itu.

Sesuai lagu itu, lagu yang ternyata sudah sangat lawas itu bilang "semua tak sama" meskipun konteks yang dimaksud mungkin berbeda, atmosfer yang berada di sekeliling saya ketika lagu itu launching dan saya denger dari walkman Om saya dan saat ini ketika saya diingatkan kembali oleh radio, download, lalu denger di WMP laptop saya, tak sama. Sejarah juga menegaskan kalau peristiwa gak mungkin terulang. Kalaupun ia berulang, itu hanya berupa polanya, kalaupun ia direkonstruksi, tetep gak bisa persis, dan gak pernah ada kejadian yang sama persis terjadi untuk kedua kalinya baik disengaja maupun tidak.

Oh kok kampret banget ya, udah tau saya orangnya susah mup on gini, belajarnya sejarah lagi, punya kasus susah mup on yang akut lagi, ah entahlah. Kayaknya saya entah ini curse atau berkah, punya ikatan yang luar biasa sama masa lalu. Lusa insyaallah saya balik ke rumah. Balik ke Cikarang, ke kota satelit yang bedagulan tapi herannya ketika saya berada jauh darinya, tetep aja jadi romantis rasanya. Semoga aja puasa hari minggu jadi saya masih bisa minum es siang-siang setidaknya sehari disana nanti, dan tentunya menikmati nyorok :3

Mari pulang, mari bersukacita menyambut puasa. Bulan yang buat saya pribadi diluar berkahnya yang luar biasa bagi umat muslim, luar biasa romantis. Iklan sirup, acara sahur, asinan, risol dan sambel kacang, kerupuk mie, teraweh, buka bersama, ah itu semua romantis kan? Bakalan ada banyak acara, ketemu banyak orang yang kita udah lama gak ketemu, dan banyak hal spesial lainnya.

Oya, maafin ya kalo saya banyak salah~

Sunday, May 11, 2014

Kulminasi

Malam ini aku punya tugas. Membaca materi persis seperti malam-malam sebelumnya. Ada banyak, dan aku baru saja sadar kalau aku sudah terlalu banyak menyiakan waktu, tapi aku tak sadar kalau itu salah. Aku tak tahu itu benar atau salah, atau sekalipun tahu, aku tak yakin, sehingga segala ketidak sinkronan oleh kekonyolan yang kembali kambuh ditengah dera kantuk dan bersin-bersin kurang tidur. Aku tak betul mengerti alasan mengapa aku tak mengambil jalan lurus untuk bersila dan membaca tapi justru berbelok, menghabiskan berjam-jam menukik pantau di layar komputer, menyimak lampu hijau-mu yang mati menyala sembari setengah asyik rewatch Sakurasou. Anime yang setelah kusadari ternyata amat merupakan satire buat sekenario hidupku.


Tentu saja aku takut. Aku sudah jatuh cinta pada Jin sejak SD, tapi aku tidak sadar soal itu sampai SMP. Aku jadi gugup. jika dipikirkan sedikit saja, aku tidak mampu mengatakannya. Aku hanya akan terjebak pada putaran yang lainnya. Dimulai saat "aku harus beritahu Jin soal perasaanku, aku tidak tahan lagi!" "tapi aku takut, bagaimana kalau dia menolakku." Lalu, "Ya, kurasa seperti ini saja. Dengan begini Jin akan terus bersamaku." "Tapi aku ingin mencintainya lebih." "Jin sudah punya gadis lain, bagaimana kalau ia lebih memilihnya dari pada aku?" Dan aku kembali lagi kesini. Mungkin aku sudah melakukan ratusan putaran sejak SMP.


-Misaki Kamiigusa-


Sial, apa bedanya? Mungkin hanya soal Jin dan Misaki. Konsep temporanya pun hampir persis. Aku mulai curiga pada orang-orang dibalik layarnya. Ataukah memang ini kisah yang cukup umum? Tapi bagaimanapun umumnya, jika ditelaah dari sudut pandang pribadi, semuanya partikuler. Setiap orang berbeda dalam imajinasi, kerja otak, dan penafsiran mereka, jangankan untuk peristiwa yang persis hanya bila digeneralisasikan, tapi juga untuk peristiwa-peristiwa yang benar-benar sama. 

Aku pikir aku lupa, tapi sepertinya aku mulai tertelan imajiku sendiri, termakan bicaraku, tertuduh oleh tudinganku. Ketika aku merasa seolah sudah lepas dari segalanya, aku hanya terkurung dalam kabut sementara. Ketika matahari meninggi dan angin gunung berhembus kencang lagi, semuanya kembali, dan aku samasekali tak menemukan diriku berjarak menjauh selangkah saja dari sosokmu yang sekian tahun sudah menghantuiku dalam diam.


Kadang aku tak yakin di hari-hari sekarang. Aku tak selalu bisa persis menentukan porsi dari setiap yang aku lakukan atau jalani. Ketika aku berpikir aku telah melaju cepat, mendahuluimu, dan begitu yakin akan itu, ternyata aku masih hanya terperangkap tak jauh dari bayanganku. Kadang aku bertanya, apakah ketika aku memikirkanmu aku benar-benar tak bisa menghindarinya, atau hanya terbawa suasana dan memilih untuk memikirkanmu selagi aku sebenarnya bisa mengusahakan untuk memikirkan yang lain? Aku tak selalu yakin dengan jawabanku, termasuk ketika aku memilih untuk diam dan menunggu keajaiban menyatukan lajur yang kutempuh dengan milikmu di depan sana.


Anak lelaki kelas dua SMP yang mengajakku berbincang di perahu penyebrangan, berangkat sekolah bersamaku di hari tes pembagian kelas karena aku takut menyebrang jalan sendirian. Anak laki-laki itu pernah menoreh sebuah kesan yang sangat dalam, bahkan masih kuingat betul sampai sekarang. Tapi adakah itu benar dirimu yang sekarang ini lagi-lagi berada di kota yang sama denganku bahkan ketika puluhan kilometer kita telah pergi jauh dari rumah dimana kita untuk pertama kalinya bertemu? Aku lagi-lagi tak tahu persisnya.


Aku selalu saja bingung menentukan antara kata hati dan euforia. Sejauh mana aku jujur, dan menuruti apa yang hatiku bilang soal diriku. Rasanya ia selalu saja menoreh pesannya di sebuah perkamen dalam heroglif yang tak mampu kuterjemahkan. Dulu, aku betul mengerti akan kejujuran itu. Aku bisa membacanya dengan baik, merasakan setiap inci nafas yang ia hembuskan, baik itu pedih perih, hingga bahagia yang tak terperi lagi. Tapi sekian lama aku telah tanpa sengaja memaku abstraksi ini di punggungmu. Aku tak tahu bagaimana kau tak pernah menoleh dan merasa ketika aku sudah sedemikian keras berteriak nestapa. Mungkin manusia memang berbeda antara satu dengan lainnya, dan ini alibi yang pantas buatmu, kubuatkan dengan sukarela jadi kuharap janganlah bergerak lebih jauh untuk menoreh luka yang lain lagi. Ada kalanya kau bisa saja tahu, tapi kau anggap tak lebih dari angin lalu. Kau mendengar kalau si payah tetanggamu memiliki sesuatu yang dari dalam hatinya, jauh yang tak bisa kau terka, menginginkanmu mengetahuinya. Kalau beberapa tahun telah ia habiskan untuk memandangmu dengan fana. Maka jadikanlah ini nyata. Tapi bagian dari dirimu yang lain menganulirnya. Melenggang pergi dengan ringan seolah apapun tak pernah terjadi. Siapa pula yang bisa memastikan kalau itu betulan adanya. Lagipula aku hanya seseorang dari masa lalu. Kau diam, aku diam. Aku terluka, entah denganmu. Tapi tak seorangpun sadar dengan belati yang digenggamnya.


Kau mengajarkanku untuk menyerahkan diri pada keadaan, menangis konyol, dan menganggap dunia ini meninggalkanku hanya karena seorang bedebah sepertimu. Aku tak lagi melihatmu penuh cahaya seperti di waktu lalu. Aku mulai menemukan titik manusiawimu, seorang bocah yang mulai tidak lagi bisa disebut bocah, yang mulai suka pedas dan sayuran, yang mandiri, tak lagi kutemukan tengah disuapi ibunya di pagi hari. Kau bukan seorang pangeran dari padang bunga, cuma bocah biasa yang beberapa bulan lebih tua dariku. Aku bahkan pernah mencapai titik paling normal, menganggap semuanya telah berakhir dan sempat menempatkan orang lain untuk posisi yang lebih tinggi darimu. Tapi aku heran itu tak bertahan lama. Hanya beberapa waktu sampai aku tersadar kalau kau, tetap di padang bunga meski bukan dalam wujudan seorang pangeran.


Dulu aku menutupi segalanya rapat-rapat. Menguncimu dalam lemari berlapis pintu dan menahannya dengan segala asa yang kupunya. Aku tak sanggup memikirkan apapun ketika pada akhirnya kau tahu ketika banyak kesempatan justru terbuka. Sekarang, kita berada dalam satu kota, satu instansi pendidikan dan jarak hunian yang mungkin hanya 2 kilometer saja. Tapi kita benar-benar sendiri. Temanku, temanmu, semuanya menjemput takdirnya masing masing, dan tak lagi ada teman bersama yang bisa menjembatani pertemuan-pertemuan kita. Kini aku menyesali sesuatu. Aku menginginkannya ketika ia hampir tak mungkin adanya.


Kau, kalau kau tahu kau yang kumaksud dan kebetulan mebaca tulisan ini, aku hampir mengulang lagi putaranku. Aku sudah tak seperti dulu yang dikuasai emosi dan selalu meledak-ledak. Aku hampir betul-betul lelah dan menyadari kalau terlalu banyak sudah waktu yang kulewati tanpa makna kecuali menunggumu. Ibarat kat soal dirimu, waktu waktu itu ialah taruhanku. Sekarang aku tak akan menutupi apapun lagi. Blog ini yang mampu menyuarakan apapun perasaanku. Kalau sampai sekarang semuanya tak berarti apa-apa, aku benar-benar telah merugi terlalu banyak, dalam konteks hitungan, meski sejujurnya aku masih tak berpikiran kesana. Waktu terus berjalan dan kupikir harus ada batas dimana pengharapan ini menemui cahayanya. Apakah kau ada disana atau tidak, itu yang kuharapkan dalam judiku.

Aku tak tahu fluktuasi ini bermakna apa, tapi aku sangat bahagia ketika komunikasi kita berjalan sangat baik di awal awal kepindahan kita. Adakah mungkin kalau aku mengharapkan kesinambungannya? 


Jujur memang melegakan, tapi tak mudah untuk dilakukan. Aku tetap tak bisa menceburkan diri seluruhnya. Tapi kalau kau tanya sampai sekarang masihkah aku mengharapkannya? Kali ini aku berani berkata iya.









Thursday, May 08, 2014

Menari dalam Imaji


Waktu mengikutiku tanpa bicara
Seribu langkah tak bersuara
Musim berganti musim tak berjarak
Hingga menara ini sudah terlalu tinggi untuk dapat kutinggal pergi

Di cermin aku melihat sorot cahaya
Penuh tanya juga titik, berpadu tanpa nada
Aku tenggelam di dalamnya
Terlarut, tanpa bisa pergi
Terjebak, tanpa bisa lari

Dunia di belakangku semu ketika aku tak ingin tahu
Semuanya terpusat pada satu
Sorot cahaya di pelupuk senja
Kadang aku bertanya, mengapa tak lantas aku menoleh dan pergi
Ketika kudengar suara memanggil, nyanyian mendayu mengundang

Batas telah mengabur
Aku tersesat, tanpa ingin mengerti sebuah kisah
Menutup buku, menjedanya sebelum sampai pada akhir
Menghentikan detik dalam dunia di sorot cahaya
Entah berapa lama atau selamanya
Bahkan ketika suara memanggil, nyanyian mendayu mengundang
Tak henti datang dan pergi

Hendak tapi tak hendak
Aku mengering, menghampa dalam solo tari di imaji
Menanti arti akan keberadaanmu

06MEI14

Saturday, January 11, 2014

Dua Tempat untuk Pulang

"Karena ini rumahku, satu-satunya tempatku untuk kembali..."

Kalimat ini diutarakan oleh Kenshin di salah satu scene paling RWOMENTYIK di Samurai X: Reflection. Yang di pinggir sungai sore-sore itu lho~. Njirr pokoknya itu keren buanget scene-nya. But, wait. Wan, kenapa jadi bahas ini?!

Sebenernya, saya mau bahas soal kata "rumah" disana. Menurut Kenshin, rumah itu satu-satunya tempat untuk kembali. Tapi yang jadi masalah disini, sekarang, saya punya dua tempat untuk kembali. Tempat pertama, rumah saya yang soswit di Cikarang sana, dan kosan saya disini. Jadi manakah yang sebenarnya rumah?

Saya rasa akarnya ada disini. Pernah dengar perbedaan antara Home dan House. Quote pasaran mengatakan bahwa "not all Houses are Home." Selain itu ada juga istilah Homy, bukan Houssy. Karena House itu kata rumah yang sifatnya ragawi, sedangkan Home lebih maknawi. Home adalah satu-satunya tempat untuk pulang yang dimaksud Kenshin tadi. Dimana selalu ada perasaan nyaman di dalamnya dan setelah lama tak kembali, ada perasaan rindu yang ditimbulkan olehnya.

Dua bulanan yang lalu, mungkin mudah bagi saya untuk menjawab pertanyaan mengenai yang manakah rumah saya, tapi untuk kali ini, penjelasan yang akan saya paparkan untuk itu kiranya akan jauh lebih panjang. Saya pernah bicara soal konsep seratus persen adaptasi manusia. Saya manusia, dan saya melakukan adaptasi terhadap lingkungan tempat tinggal saya. Beberapa bulan yang lalu, seratus persen adaptasi itu ada di Cikarang, kota yang sejak lahir saya tempati. Akan tetapi, untuk dapat bertahan hidup disini, kemudian saya harus membaginya sedikit dengan kota yang baru ini. Yogya pun memiliki sebagian darinya. Meski awalnya hanya sebagai syarat untuk dapat bertahan, hari demi hari yang saya alami disini membawa banyak kesan, sehingga perlahan-lahan, presentasi adaptasi tersebut terelevasikan.

Seharusnya, sebagaimana adanya ini adalah hal yang baik, namun semuanya berbalik ketika saya kembali mengingat Cikarang. Memori adalah hal yang tak tergantikan, meskipun ia tersimpan dalam ingatan, mereka hanya seperti domba domba di pekarangan tak berpagar. Sekalem apapun mereka berpindah-pindah dalam areal pekarangan tersebut, tak ada yang bisa menjamin mereka akan diam disana saja, dan kadang kala, oleh semakin banyaknya domba yang terkumpul, semakin mudah pula bagi mereka untuk pergi tanpa diketahui, terlupakan tanpa disadari. Dan memori itu adalah pengikat 50% presentase adaptasi saya terhadap Cikarang.

Dulu saya banyak ber-parno ria soal kehidupan independen. Karena pada kenyataannya pun awalnya, bahkan sampai sekarang, hidup memarasit ke orang tua memang lebih surga. Tapi tak sedikit pula yang saya dapatkan dari independensi ini terhadap kemajuan pribadi saya. Belum lagi mulai terbentuknya kenangan-kenangan baru bersama orang-orang baru, datangnya domba-domba baru ke pekarangan yang semakin menggeser mundur presentase domba-domba lama.

Besok saya kembali ke rumah dari rumah saya. Meski petak kamar ini awalnya tak lebih dari sekedar 'House', orang-orang baru yang banyak membahagiakan saya disini membuatnya perlahan-lahan mulai mirip 'Home', meski kerinduan saya masih hanya ada di satu rumah di tengah ilalang disana. Meski tak menutup kemungkinan pula, ada aspek-aspek serta orang-orang tertentu yang kurindukan dari rumah saya disini.

Suatu hari nanti, saya pun akan pergi, lebih jauh dari ini, untuk memiliki rumah dan kehidupan sendiri, bukan milik orang tua lagi. Tapi analogi hal ini serupa dengan ketika saya memulai membagi 24 jam dalam sehari dengan kehidupan rumah dan sekolah, belasan tahun lalu. Awalnya memang berat, tapi akhirnya saya berhasil melaluinya. Sampai saya menamatkan bangku sekolah menengah atas kemarin, saya menikmati bagaimana saya memiliki dua dunia, rumah sekaligus sekolah. Begitupun dalam kasus ini saya harap.

Selamat berlibur semuanya. Semoga kita bisa kembali lagi dalam keadaan yang persis sama, tanpa ada sesuatau apapun yang kurang, selain semangat yang semakin menggebu untuk meraih hasil maksimal di perjuangan bersama ini. Terimakasih untuk semuanya atas rumah kedua yang kalian persembahkan pada saya, tempat saya merasa paling nyaman selain di rumah tempat orang-orang yang paling saya sayangi berada disana.

Kalian, orang-orang aneh sekaligus ngangenin yang saya kenal disini, kalo bisa saya mau dua sisi dunia saya ini sohib baru disini, keluarga, dan kawan lama saya  berkumpul pada poros yang sama, tanpa harus meninggalkan salah satu untuk menemui yang lain. Tapi rasanya itu mustahil, sebagaimana ibu yang tak boleh menunggui anaknya belajar di dalam kelas. Awalnya memang berat, tapi bersama keajaiban seabsurd kalian, saya bisa bertahan dan berbahagia. Kalian benar-benar realisasi atas doa saya, orang-orang baik yang membahagiakan saya.


Semoga perjalanan besok berjalan lancar dan menyenangkan. Semoga liburan kita semua menyenangkan. Selamat bermomen penting di rumah, tapi sadarlah bahwa janji adalah hutang, dan rasanya kau bukan seorang yang mudah lupa :3

11 Januari 2014



Saturday, January 04, 2014

2013 and It's Wind of Change

Tahun 2014 yang bakal jadi tahun politik ini yang dibilang banyak orang lebih sebagai tahun perubahan, tapi buat saya pribadi, no, tahun perubahan itu ya tahun lalu, yang baru berakhir beberapa hari yang lalu, 2013 yang sekarang telah turun takhta dan bersila penuh wibawa di deretan panjang sejarah hidup saya.

Kenapa Wind of Change? yeaa~ gegara bokap minta di downloadin lagu-lagu love songs 70's 80's 90's sebagai oleh-oleh ketika saya pulang nanti berhubung dikosan ada wifi dan download jadi surga sekali, saya otomatis jadi turut mendengarkan lagu-lagu tersebut. Favorit saya, Bon Jovi, Aerosmith, beberapa dari Richard Marx, dan tentunya Scorpions. Sumpah, asik lagunya, metal tapi mellow gitu liriknya, dan salah satu yang jadi most played saya adalah Wind Of Change. Cocok kan, sama tema tulisan kali ini?

Well, harus mulai dari mana? entahlah. Kerjakan saja dan biarkan ia mengalir, maka kau akan menemukan kejutan-kejutan tak terduga~ Itu yang kerap jadi motto hidup saya. Jadi langsung aja dari yang pertama muncul di benak saya,


Change of Fate

Saya gak amor fati sebenernya. Saya mengusahakan nasib saya di waktu kedepan untuk menjadi lebih baik dari yang baik yang sekarang. Tapi apa boleh buat kalau memang mendung harus ditiupkan oleh angin keatas kepala saya. Dalam situasi seperti ini, saya jadi kerap merasa kalo gak semua yang buruk itu benar-benar buruk. Beberapa kejadian di hari-hari belakangan juga menegaskan hal yang sama, seolah-olah Tuhan memberikan capslock untuk saya lihat di kasus-kasus semacam ini bahwasanya, pelajaran atas mereka adalah hal yang sangat teramat penting bagi kehidupan saya.

Posting blog saya sampai Mei-Juni, isinya hanya kegundah-gulanaan, keluh kesah, dan doa-doa pasrah. Meen, siapa juga yang tak akan seperti ini jikalau anda sekalian bukan lah amfibi, melainkan hanya hewan darat dan kalian direndam di air untuk 2 tahun lamanya. Saya bertahan susah payah, berpegang ke segala macam akar dan rerantingan yang bisa saya raih dan terseok-seok parah. Dari penyesuaian awal terhadap program IPA yang gak pernah berhasil sampai akhir, sampai semester sebulan yang aduhaaai~. Semua itu, apabila diingat-ingat lagi, membuat saya amat mensyukuri hari hari saya sekarang.

27 Mei 2013, nasib saya berubah total. Ibarat Avatar yang baru tahu jati dirinya, atau malah Prince Zuko yang kehilangan kemampuan fire bending-nya. Saya membuka sebuah web berlogo mirip pepsi dan menemukan nama saya ditulis dalam layout serba hijau di sebuah persegi panjang, disana terdapat pula sebuah informasi membahagiakan bahwa saya diterima sebagai mahasiswa prodi Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada lewat jalur paling kere, paling gak modal, paling enak, paling gampang, dan paling cuma-cuma, jalur SNMPTN.

Seketika air mata saya ngucur bro, bak tengah menyantap penyetan ayam terong cabe sepuluh di Pak Kubis. Peristiwa yang kalo direkam dan disetel ulang pasti sangat lucu tersebut disaksikan langsung oleh seisi rumah, emak, bapak, adek, menok, jujul, kucil item dan almarhumah kucil putih. Emak saya yang biasanya kaga ada romantis-romantisnya terus meluk saya, dan bilang "Wis, hebat kamu yu. Kata ibu juga apa kan, keterima!". Terus bokap cerita kalo pakde saya dulu pernah bilangin, "ngasih makan anak istri itu yang jujur, nanti berkah." dan kata bokap, pas momen itu, makna dari kalimat pakde saya itu kerasa banget. Haa, ini salah satu momen terbahagia saya, salah satu yang membuat 2013 luar biasa.

UN saya memang hanchyur. Matematika 5, 5; Fisika 4; Kimia 6,75; Bahasa Indonesia 8,8; Bahasa Inggris 8,8; Biologi 8. Tapi itu hasil sendiri broh~ Dan buat seorang yang gak pernah niat masuk IPA, gak pernah menikmati tiap detik di pelajaran eksakta, pernah punya track record berantem sama guru Fisika gegara gak ngerjain PR dan ngotot, dan seorang IPS sejati#bhuah seperti saya, saya justru bangga terhadap angka-angka itu. Itu hasil saya, tilas perjuangan saya atas penyiksaan selama ini, dan itu justru manis tjoy~

Paruh pertama tahun ini saya lalui dengan penuh tekanan. UN, UAS, TRY OUT, NILAI JELEK, GAK LULUS, GAK KETERIMA UNIV NEGERI, PEMULIAAN TANAMAN#kagainimah, hal seperti itu selalu menjadi mimpi buruk yang merenggut ketenangan tidur dalam setiap malam-malam saya. Belajar sampe malem, begadang, les sampe ngantuk-ngantuk dan pusing, semuanya semakin berat setiap harinya. Terlebih ketika semuanya disudahi oleh UN, beban mental yang lebih berat menggondeli. PENGUMUMAN. Dari pengumuman UN, pengumuman SNMPTN, dan lain lainnya. Terlebih lagi, orang yang kelewat awesome ini cuma daftar lewat SNMPTN tanpa punya cadangan lain ataupun ngambil kelas bimbel. Kelewat pede? nggak juga. Saya cuma demen ngulur ulur waktu dan tanpa sadar, belum satupun buku latihan SBM yang saya beli sampai saya beli pulsa modem buat buka web SNMPTN jam 5 sore hari itu.

Setelah jam 5 sore itu, hidup saya berubah, nasib saya berbalik. Mendung seketika menjadi cerah berpelangi. Bayangkan, seorang bebal eksak seperti saya, jikalau harus mengambil jalur tes, mungkin kecil sekali kemungkinan diterimanya. Tapi dengan tanpa mengorbankan apapun lagi, saya sudah resmi diterima di Universitas kerakyatan pertama di Indonesia. Mungkin Tuhan menghitung jerih payah saya selama ini sudah cukup untuk menerima hadiahnya.

5 weekdays dalam seminggu saya yang tadinya hanya berisi penantian akan pelajaran sejarah yang akhirnya justru sering diganti Bahasa Sunda kini penuh berisikan mata kuliah-mata kuliah yang ketika sekolah jadi mata pelajaran favorit saya. Matkul semester 1 cuma 6, Pengantar Sejarah Indonesia, Pengantar Ilmu Sejarah, Dasar Dasar Ilmu Budaya, PAI, B. Inggris dan B. Belanda. No more Physics, Biology, Chemist, EVEN MATH! Subhanallah~ Dan orang-orang yang saya temui disini pun ajaib. Mereka adalah orang-orang yang selama ini saya anggap langka, tapi justru saya temui sekian banyak, 30 lebih kepala dalam satu kelas. Obrolan yang mereka singgung berat luar biasa, pengetahuan mereka membuat saya terkadang jadi lawan bicara yang tidak sebanding, tapi karenanyalah saya puas. Saya tak memasuki dunia yang salah lagi, ini benar-benar ranah yang saya impikan. Kini saya semakin menikmati segalanya, semakin mensyukuri segalanya. Karena jujur, atmosfer kelas ini salah satu yang paling nyaman yang pernah saya rasakan.


Change of Surroundings

Saya seorang anak rumahan yang buat ke warnet pun kadang males, tapi disini saya sudah travelling ke beberapa tempat jauh seorang diri. Perasaan jauh dari orang tua kayaknya yang bikin saya sadar saya gak bisa bermanja-manja ataupun menggantungkan diri pada siapapun lagi. Kalo saya sendiri gak gerak, ya gak akan gerak. Dorongan semacam itu yang membuat saya pada masa independen yang masih awal ini sudah melakukan beberapa perubahan pada diri saya sendiri. Tercatat, saya trip angkatan ke Semarang-kota lama yang saya impikan untuk kunjungi selama sekian lama-, lalu trip seorang diri ke Salatiga, dan yang terakhir ke Wonosari. Rasanya agak aneh. Apalagi ketika menyinggahi tempat-tempat yang masih saya ingat bahwa saya pernah menyinggahinya beberapa kali sebelumnya, dengan sosok yang samasekali berbeda dengan sosok ini, bersama orang tua saya.

Habitat yang baru ini juga menuntut saya untuk luar biasa berubah dari kebiasaan lama. Saya mengurus diri sendiri, tanpa ada yang mengomplain kalo-kalo saya hanya mandi sehari sekali. Cucian, setrikaan, kamar yang berantakan, semuanya dikendalikan hanya oleh tangan dan kesadaran saya akan kebutuhan untuk sehat, rapi, bersih, dan kepedulian terhadap diri sendiri. Birokrasi bagi emak saya untuk tahu keadaan yang super duper kacau dan mengomeli saya karenanya amat panjang dan tak terjangkau, karenanya, saya benar-benar lepas dari kontrol. Tapi justru ini yang membuat saya akhirnya sadar kalo jarang nyapu itu nanti banyak semut, kalo jarang bersih-bersih kamar bakal ada serangga aneh aneh yang menginterupsi ketenangan, kalo jarang mandi nanti gatel-gatel, kalo jarang nyuci bajunya abis. Sehingga mau tak mau, kebutuhan akan hal-hal esensi yang sekarang saya urus sendiri tersebut yang membuat saya meski harus menahan diri untuk egois, meski harus berlelah lelah ria, tetap harus melakukannya.

Bicara soal makan, ada beberapa karma yang saya dapatkan. Hal pertama adalah toge. Coba tanya emak saya, pasti beliau bilang saya ini benci toge. Dan ya, memang demikian. Toge itu dibumbui apapun, dimasak selama apapun dengan metode apapun tetep susah diresapi oleh bumbu, terlalu konservatif, jadi dia hanya akan menjadi toge, bahkan dalam bala-bala sekalipun. Tapi disini seketika tuah itu berbalik pada saya. You know? Sampe risoles pun isinya toge, padahal itu favorit saya. Soto, tahu gimbal, semuanya ada togenya, bahkan ketoprak yang bumbunya terenak yang pernah saya coba disini, komponen sayuran berupa toge dan irisan kubisnya lebih banyak daripada ketupatnya. Karma yang kedua adalah mie instan. Di rumah, terlebih semenjak ada warung, saya hobi banget makan mie instan. Yang saya cari itu bukan praktisnya, tapi sensasi si mie instan itu sendiri, terutama kalo lagi ujan ujan, kayaknya klop banget gitu. Makanya, meskipun nyokap udah masak, saya sering diomelin gara gara tetep kekeh bikin mie. Dan sekarang? Ah, kaga ada masakan tjoy, mau nggak mau ya bikin mi, sampe pas ujan-ujan yang dulu saya bilang klop itupun, kayaknya ogah banget bikin mie. Udah mblenger -_-. The last is kertas nasi. Pas dirumah, kertas nasi itu barang unik, makan diatas kertas nasi adalah perihal langka yang gak dateng setiap hari berhubung nyokap saya termasuk yang rajin masak. Tak jarang saya beli kertas nasi hanya untuk alas makan dengan alasan sensasi. Sekarang? tong sampah depan kamar isinya buntelan kertas nasi, setiap kali makan hampir-hampir selalu pake kertas nasi kalo nggak minimal sehari sekali. Bagaimana bisa begini saya pun tak mengerti~

Soal habitat di kampus juga lain. Anak kelas saya yang waktu SMA isinya anak rajin dan anak pinter semua, sekarang jadi warna-warni, tapi setelah semakin mendalami karakter kelompok baru ini, saya semakin banyak menguak misteri dan sadar bahwa tempat saya memang disini. Jadi gini, di FIB itu ada beberapa jurusan kan, dan kalo anda seorang awam FIB, ditebak-tebak dari penampilannya, insyaallah anda tahu berasal dari mana anak-anak FIB tersebut. Misalnya kalo anak Arkeo berdampingan dengan anak SasPran, itu bakal beda, begitupun dengan jurusan lain. Anak antro itu menurut saya dandanannya paling eksentrik dari yang lain, kalo anak korea biasa gitu~, kalo anak jepang, well, yang tampang rada otaku, biarpun berkerudung tetep pake atribut kotak-kotak, vest atau cardigan panjang, dan boots, anak Sabar (sastra asia barat) bukan stereo sih, tapi umumnya emang kaya anak rismaci di SMAN, pake rok, kerudung syar'i, ya pokoknya gayanya santun dan gak macem macem sih meski ini hanya umumnya, lain lagi anak arkeo, mereka juga meski rada mirip dandanannya sama anak antro atau sejarah, tetep beda. Kalo anak sejarah itu ya, gimana ya? Cewenya gak terlalu feminim yang pasti, beberapa orang punya trade mark, dan memang seperti itu. Seketika saja anda mencoba mengupgrade penampilan dengan menyetipekannya dengan jurusan lain, anda akan merasa terlepas dari bagian. Dan itu hanya secuil cerita dari ranah fashion, kalo melangkah lebih jauh ke gaya obrolan, pola pikir dan lain sebagainya pasti tulisan ini malah jadi buku.

Habitat yang terakhir saya bahas disini adalah Jogja. Siapa yang gak kenal Jogja? Nah kalo Cikarang? Haha. Itulah kenapa, sekarang saya tinggal di kota yang samasekali berbeda sama Cikarang. Kota ini, dibilang kota seni juga iya, grafiti dan pelukis pinggir jalan dimana-mana, kesenian mendapat tempat di hati penduduknya, event gak perlu ditunggu jangankan sekali sebulan, hampir tiap hari selalu ada. Mau itu teater, karawitan, puisi, rupa, keroncong, sampe orkestra semuanya ada. Toko buku? Buanyak, dari gramedia yang mahal sampe yang formatnya loakan kaya di Senen. Tempat shopping pun gak hanya mall, tempat wisata dimana mana. Ya, kurang lebihnya, apa yang nggak ada di Cikarang yang saya inginkan itu ada disini. Tapi bukan lantas tempat ini jadi perfect, soal kuliner saya tetep kangen berat sama Cikarang, terutama tempat-tempat nostalgic yang nggak akan tergantikan disana tempat keping-keping memori saya berhamburan.


Change of Bakathings

Posting blog beberapa bulan terakhir ini mulai berwarna serupa yang dulu. Kenapa? Entahlah, semua terjadi begitu saya. Tiba-tiba saja saya dihadapkan pada kesempatan kedua, tapi hal tersebut tak ubahnya penyadaran terhadap ketiadaan apa-apa lagi terhadapnya. Rasanya menyesakkan bro. Kami berjalan berdua di tengah keramaian yang semarak, lampu-lampu yang kemerlingan, romantisme yang sederhana sekaligus memikat, kau bersikap demikian baik, demikian manis, tapi semua itu hanya berupa hantaman-hantaman keras ketika sampai menyentuh permukaan hatiku yang terlanjur mendingin. Empat tahunan itu nggak singkat ya, bisa buat dua kali lulus program akselerasi, begitupun dengan lulus dari kelelahan untuk menahan dan menunggu. Sekarang kesempatan bertebaran, pertemuan-pertemuan terjadi begitu saja, saya tak lagi mengalami kekhawatiran tinggi, ketakutan, atau luapan perasaan aneh yang saking dahsyatnya membuat saya seolah tak kuat menghadapi segala situasinya lagi. Luapan macam apapun itu sudah tidak terasa lagi, samasekali. Maka mari cukupkan sampai disini. Kalalupun dirimu pernah mengetahuinya, dan menganggapnya angin lalu karena tak memiliki hendak dan kuasa untuk memastikannya lebih jauh, saya akui itu benar adanya, tapi maaf perasaan ini sudah kadung menyerah tanpa diminta, maaf bukan hanya untukmu, tapi juga untuk harapan-harapanku yang kadung lepas tanpa pernah menyentuh ambang perwujudan.

Lalu ada orang lain muncul, seorang baru yang ternyata bukan apa-apa. Ia berkata tapi saya tak berminat mendengarnya. Saya tak bermaksud menghilangkannya dari kisah hidup saya. Bagaimanapun ia pernah menghadirkan masalah dalam tahun ini bagi saya. Tapi kali ini semuanya tak bertilas untuk saya. Masalah itu tak akan menjadi masalah lebih jauh lagi. Ia hanya seorang yang membuat saya mengetahui beberapa jenis perasaan, otoritas, bagaimana sebuah kewajaran, dan titik dimana saya memutuskan untuk berhenti dan berjalan ke arah lain.

Dan yang ketiga, hal ketiga yang saya pelajari di akhir-akhir tahun ini dari seorang shipwright yang saya kenal dari hobi yang sama. Saya juga masih belum mengerti sepenuhnya soal apa yang ada diantara kami, yang jelas saya menaruh setitik kekaguman padanya. Ia orang yang samasekali berbeda dari yang pertama, dan saya pun tak pernah menyangka akan pernah mengenal orang sepertinya. Tapi ia menghadirkan alur yang persis sama dengan yang pertama, meski untuk kali ini, entah karena positivisme saya saja atau apa, saya tak hanya bermain sendiri. Sekali waktu kami bersenang-senang bersama, dan perasaan saya bersemi karenanya, seketika kami bicara soal hal-hal aneh, melakukan hobi dan bekerja bersama sampai larut malam, dan waktu-waktu itu hanya mengalir begitu saja. Satu-dua kali kami direndung masalah, saling terdiam dan semuanya nampak seketika berbeda, kenyamanan di tempat-tempat biasa tak lagi terperi dalam perasaan hanya karenanya. Satu kali saya dibuatnya kecewa, entah ini semacam pisau bermata dua atau apa, tapi kalau kau mau jujur perlahan-lahan dan memberikanku kesempatan yang sama juga, saya juga ingin jujur soal segalanya. Sejujurnya saya tak ingin menyesal di kali kedua, cukup karena saya sudah menemukan, dan jangan katakan ini hanya kekeliruan. Karena tiap kali ada kesempatan yang membuatku entah bagaimana caranya menyadari sebuah tanda, aku berdoa itu benar adanya, dan sesuatu yang cerah di depan sana pun benar adanya.

2012 saya samasekali tak terlibat dalam masalah semacam ini, tapi dalam tahun ini, semuanya menyerang bertubi-tubi. Seolah akselerasi kedua, saya dipaksa mempelajari hal semacam ini dalam waktu yang sangat cepat. Entahlah soal semuanya mungkin ini karena di tahun ini saya resmi 17 tahun haha#dor, dan lagi, meski saya meninggalkan, tak peduli, dan menaruh harapan di yang terakhir, saya hanya ingin menikmati segalanya di hari-hari saya sebaik mungkin.


Change of Paradigm

Saya terdaftar sebagai peserta ujian akhir semester satu jurusan sejarah UGM yang sedang berlangsung, tapi salah besar kalo kalian menyangka sejarah yang dipelajari dan diujikan minggu-minggu ini cuma soal hapalan. Dalam mata kuliah substansional semacam Pengantar Ilmu Sejarah yang materinya dari 1200-2008 sekalipun, kami bukan diminta menghapal, tapi mengerti konsep. Manusiawinya, sulit untuk mengingat tanggal dari semua peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu tersebut secara rinci kecuali anda terlahir dengan kemampuan khusus, oleh karenanya kami diminta untuk mengerti konsep waktu. Kronologisasi dan Periodisasi adalah yang utama. Bahwa setelah peristiwa A ada peristiwa B karena peristiwa A membawa dampak A' yang menyebabkan peristiwa B dan selanjutnya memancing terjadinya pemberontakan B' di daerah C karena daerah C merupakan bekas kekuasaan B". Jadi sejarah itu berkesinambungan dan karenanyalah saling berkaitan. Membaca buku pun bukan hanya mendapatkan informasi di permukaan, tapi juga di dalam, dengan membaca yang tersirat. Bayangkan! Bahkan lama-lama pekerjaan sejarawan semakin mirip detektif.

Kami nantinya berurusan dengan dokumen rahasia, menulis yang belum ditulis, perspektif baru dari sejarah yang selama ini disetir oleh rezim tertentu. Kami membaca tulisan kuno sesuai spesialisasi, meneliti pola pemikiran dan zeitgeist setiap zaman. Kami membaca foto, meneliti keabsahannya dari gaya bangunan dan pakaian yang ada di sana, plang-plang toko dan plat-plat nomor kendaraan. Kami menggunakan surat kabar lama, iklan-iklan awal abad 20 yang diksinya menggelitik, dan menyimpulkan golongan masyarakat apa yang berperan didalamnya. Kami mengecek autentisitas dari sebuah surat dengan melihat gaya tulisannya, capnya, trademarknya, bahkan jenis kertasnya. Kami dibiasakan peka terhadap film, bagaimana bedanya antara film dokumenter dan reka kejadian yang terlihat sama tuanya. Bahkan mengetahui usia, apa yang pernah terjadi di desa tersebut dalam kurun waktu tertentu di sebuah desa hanya dari kompleks pemakaman.

Satu semester ini benar-benar sudah mulai meracuni pola pikir saya, tapi ini menyenangkan dan semoga saja kedepannya semakin menyenangkan.

Tahun 2013 ini kemudian ditutup dengan sebuah perhelatan akbar di sebuah desa di Sleman yang sunyi. Sederhana sih, cuma masak bareng dan nonton tipi, tapi hey, semenjak ngekos nonton tipi itu hal mewah ya~. Meski diawali oleh kemeranaan, akhirnya awesome kok, persis seperti pola 2013 itu sendiri. Yang terpenting yang saya pelajari dari 2013 itu optimisme, akan ada suatu tempat dimana anda akan merasa benar-benar nyaman, dan meski butuh perjuangan besar untuk itu, semua akan indah pada waktunya~~ :3



Bubay 2013, Adieu~ terimakasih atas segalanya!
DIRIMU LUAR BIASA, AWESOME AS ME~ :* #JEDDAR
Kau pintu gerbang termegah yang mengajariku artinya berjuang dan mendapatkan kemenangan. 


MAY 2014 BE AS GREAT AS THIS OR EVEN MORE!~~HAPPY NEW YEAR THROUGH INTERNET EXPLORER~~

#halah pake chrome juga lu