Trending Topics

.

.

Thursday, December 26, 2013

Di Balik Propaganda Hujan

Aku tak suka hujan, berapa kalipun ia berusaha merubah persepsi kolot ini. Beberapa hari yang lalu kosku banjir. Tangga di sebelah kamar berubah jadi Niagara yang siap mengalirkan berliter-liter air ke kamarku yang hanya nyaman dalam kondisi kering. Alhasil, baju-baju kotor di ember menjadi amunisi pertama yang kukerahkan untuk pertahanan, aku memerasi mereka silih berganti dan mendapatkan hasil perasanku seember penuh.Tak sekalipun padahal, dalam sejarah hidupku aku pernah menghadapi banjir semacam ini, dan kukira juga tak akan pernah, karena kosku letaknya di lantai dua. Tapi seperti itulah, tetapan fisika selalu jadi omong kosong bila dihadapkan dengan takdir.

Hari itu hujan menjadi momok yang mendekap erat Jogja dan sekitarnya sehari semalam. Berangkat kuliah pun masih dalam keadaan hujan. Aku mendapati sosok rajinnya tak tiba. Seorang teman bilang ia sudah berperjalanan ke rumahnya berkenaan dengan libur seminggu penuh yang segera tiba. Hal itu melgakanku, entah kenapa, karena sebelumnya aku mendengar ia mengajak bersamanya teman baikku yang menurut kabar menjadi salah satu yang ada dalam jangkauannya.

Hari senin, ketika aku memutuskan untuk berkunjung ke rumah Mbahku di South Mountain selama beberapa hari setelah selesai kuliah tambahan pagi ini, ajaibnya aku melihatmu, utuh dengan beberapa hal aneh yang menyertai. Sehari tanpa tanda tanganmu di album presensi kemarin kelas begitu sunyi, atmosfernya tak seriang biasanya. Tak ada burung beo—ini sebutan dari seorang teman, bukan aku— yang meramaikan kelas seperti sebelum-sebelumnya. Ada semacam kehangatan ditengah dingin yang mendera. Aku tak melihat koloni mahluk lain jadi aku menghampiri kalian. Bergurau dan bercakap seperti biasanya, naik ke atas begitu ada koloni lain, menunggu Sang Profesor datang lalu masuk ke kelas. Aku mengambil tempat duduk di depan, di sampingmu tanpa kusengaja karena Profesor sudah ada di depan dan aku agak kikuk berjalan membelakanginya untuk memilih tempat duduk depan di sudut sana. Tapi rasanya berbeda sungguh, berdiskusi kecil denganmu di sela-sela penjelasan beliau yang memaparkan amat banyak hal mencengangkan yang selama ini tersembunyi rapat-rapat bagi semuanya kami.
Namun kesenangan sesaat dan liquid hangat itu jauh dari kata hakiki. Sesaat mendekati akhir penjelasan beliau, kau benar adanya akan berperjalanan dengannya. Aku berlari ke tempat lain, mengumpat takdir yang demikian fluktuatif memainkan irama hidupku. Tak ada yang bisa kusalahkan selain perasaanku sendiri, mungkin inilah kenapa orang banyak yang bunuh diri. Membunuh orang lain akan memberinya masalah baru, meski dengan bunuh diri pun bukan berarti masalahnya usai. Setidaknya mungkin ia berada di alam yang sama sekali berbeda, jauh dari masalah-masalahnya, kesakitannya, penderitaannya, orang-orang yang menyakitinya, tak peduli penderitaan yang akan dia hadapi justru penderitaan abadi.

Tapi itu terlalu konyol, aku mau belajar disini, master dan doktor di Eropa, membangun villa di pegunungan, membahagiakan dan membuat orang tuaku bangga, jadi mengapa aku harus mati konyol hanya karena seorang konyol di sana?

Aku menghampiri seorang teman yang akan berperjalanan denganku, mengajaknya ke perpustakaan dan disana aku bertemu kalian lagi. Aku rasa semuanya hampir serba salah. Kau menyebut namanya berkali-kali, ia teman baikku. Apa yang sebenarnya kau atau siapapun maksudkan dari semua ini. Aku ingin mengabaikanmu, mengabaikan kesesakkan ini tapi teramat sulit ketika kau dengan ekspresi konyol yang biasa memulai sebuah kontak komunikasi, tak ada yang bisa kulakukan lagi. Akhir kisah kalian pergi, diiringi hujan yang masih menderai dan percakapan-percakapan manis. Aku menunggu pesan dari teman yang membawa bukuku, menunggu kepastian yang membawa aku bisa melupakan perasaan kuso ini.

Aku tak pernah memimpikan kisah sepicisan ini akan menimpaku, turut mengambil beberapa plot di kisah hidupku. Ini terlalu sinetron, kau tahu? Dan di sinetron hasilnya hanya ada dua, kau mendekatinya karena sebuah sebab konvensional tanpa maksud apa-apa, selain daripada untuk mengecek responku, memastikan perkiraanku kalau selama ini spekulasiku benar kalau pengaruhmu memang sudah mencuci otakku, lalu happy ending. Sial, ini terlalu tidak mungkin. Sinetron macam apa yang terakhir kutonton sampai otakku sebegini terpengaruhnya. Atau jika tidak, ini semacam bukan sinetron, tapi film layar lebar. Aku hanya pintu yang membawamu kembali bernostalgia, kau ingin pindah, maju dan melaju jadi kau pilih untuk meninggalkanku di titik ini dan mengejarnya, lalu tara~ SAD ENDING. Entahlah, aku tak tahu. Aku berdoa agar Tuhan memberiku yang terbaik. Dikala semuanya sudah berbahagia dengan dunia baru mereka, lebih-dari-teman-mendekati-pasangan-mereka, dan masuk ke dalam fase mengenalkan pada orang tua, lalu orang tua saling menitipkan untuk saling menjaga di perantauan, aku masih berjudi dadu.

Kau, ini sialan sekali, sungguh! Aku tak pernah merasakan dentuman seperti dahulu di dadaku ketika melihat atau berada di dekatmu, tapi kenapa hati ini sedemikian kacau ketika kau menjemput langkah ke arah lain? Rasanya mungkin ada sesuatu yang salah dengan radarku, ia tak pernah sekalipun menemukan yang tepat kuinginkan dan menginginkanku yang dalam ringannya kusukai dan menyukaiku. Ayam-ayam yang kumakan pun aku sukai tanpa pernah kutahu mereka menyukaiku atau tidak, begitupun dengan makanan favoritku yang lain. Seorang sohibku di Little Netherland sana berandai dia mengenal si konyol—yang entah kenapa— ia juluki biduan dangdut itu. Ia menyemangatiku untuk kembali pada diriku yang optimis seperti sediakala. Meski pada kenyataannya aku memilih pesimis, memilih untuk menyewa toko kecil supaya ketika aku merugi, kerugian yang kuderita tak sampai membuatku harus menggadaikan nyawa di tali gantungan, melupakan master dan doktor di Eropa, dan villa manisku di pegunungan. Aku sayang hidupku, aku sayang semua orang yang menyayangiku dan kehidupan ini seberapapun ia mengombang-ambingkanku sebegini tak pastinya.

“Kalo lu pacaran wan, pasti bikin heboh.”

Oh, manisnya, aku bahkan tak bisa membayangkannya. Entahlah. Mungkin karena aku tak bisa membagi konsentrasiku. Jika aku melakukan hal seperti itu, kuliahku akan terganggu. Oleh karenanyalah Tuhan tak memberiku kesempatan itu sampai aku bisa lebih baik dalam memecah konsentrasi. Tapi tak ada yang tak mungkin, toh, pada akirnya aku bisa naik sepeda kan ?

Sekalipun semua kisahku yang semacam ini akan mengalami akhir yang tak menyenangkan, aku akan menulis sebuah roman akan mereka. Dan menikmati secangkir kopi di balkon villa pegununganku dengan seekor kucing di pangkuan dan perpustakaan pribadi dengan koleksi banyak. Sesekali aku akan berkunjung ke rumah orang tuaku di akhir pekan, bernostalgia akan masa kecil dan cinta pertamaku yang telah beranak-pinak di suatu tempat, dan makan masakan ibuku sepuasnya. Minggu depannya, aku akan mengadakan penelitian di Belanda, menulis sejarah dan roman-roman lebih banyak lagi. Persis Shrek yang memagari rawanya tinggi-tinggi.
Aku cinta kehidupanku, aku ingin hidup bahagia, aku berprasangka baik terhadapmu, jadi tolong, ramahlah kepadaku~

Oh, betapa menulis hal konyol seperti ini membuatku merasa lebih baik :3

24/12/13


No comments:

Post a Comment