Trending Topics

.

.

Saturday, March 17, 2012

Be Careful With Your Wish for




Judul               : Eiffel Tolong!
Penulis             : Clio Freya
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : Cetakan Kedua, April 2009
Tebal Buku       : 352 halaman

Fay Regina Wiranata, seorang gadis biasa-biasa saja yang selalu berfikiran jikalau hidupnya terlalu biasa untuknya. Tinggal di rumah besar dengan hanya berkawan Mbok Nah-pembantu sekaligus pengasuhnya sejak kecil- karena sepasang-sepasangnya orang tua yang dimilikinya sibuk berlawat ke berbagai kota dan negara. Tuntutan profesi memang, dan Fay mengerti betul akan hal itu. Tetapi terkadang, Fay merasa Tuhan begitu kejam untuk menempatkan gadis semacam dirinya dalam kehidupan sedatar dan sesepi ini, sampai ia berucap tentang sepatah doa; “Aku harap hidupku tidak sedatar ini.”
Dan gejolak abnormal pun mulai menggulingkan eksistensi riak tenang dalam aliran hidupnya…
Menghabiskan dua minggu liburan musim panas di Paris, siapa yang tidak dibuat girang oleh hal itu? Begitupun Fay tentunya. Dengan antusias ia sudah mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari bersama sahabat-sahabatnya Lisa, Cici, dan Dea. Bayangan akan Eiffel, Louvre, Champ de Elysees, Orsay, dan lainnya sudah membuatnya antusias sejak masih di rumahnya. Menurut jadwalnya, di Paris Fay akan home stay, mengikuti kursus bahasa Prancis selama 2 minggu lalu dilanjut dengan tur selama 3 hari. Tapi apa yang ia bayangkan ternyata tak sejalan dengan kenyataan dalam novel ini.
Sesampainya di Paris, bukannya menjalani jadwalnya dengan lancar dan menyenangkan, Fay malah terjebak dalam konspirasi bisnis dan militer otokratis berlabel-kan COU yang di jalankan Andrew McGallahan. Andrew sendiri merupakan sosok pria mengerikan yang menghalalkan berbagai cara demi menjamin kelancaran bisnisnya. Dianggap mirip dengan keponakan dari pesaingnya-Alfred Whitman-  yakni Sheena, yang merupakan seorang gadis Highclass asal Malaysia, Fay diculik dan dipaksa untuk menjadi Sheena demi bisa menyusup ke kediaman Alfred. Tentu atas kepentingan Andrew yang ingin mencari tahu informasi mengenai pesaingnya tersebut. Sejak saat itulah, roda kehidupan Fay membalik ke arah yang 180% berbeda dengan arahnya yang sediakala.
Fay yang tak suka beolah raga dipaksa lari setiap sore memutari kediaman Andrew yang luasnya minta ampun, belum lagi latihan fisik lainnya yang juga lumayan berat. Fay yang tak kenal bersolek dipaksa membiasakan diri berdandan chic ala Sheena. Selama dua minggu itu Fay juga di paksa mempelajari seluk beluk Sheena sehingga, voila, di akhir minggu keduanya ia benar benar menjadi fotokopi Sheena.
Tapi bukan berarti novel ini hanya berisikan penyiksaan lahir batin terhadap Fay saja. Tetap lah, sebagaimana teenlit lainnya, terselip kisah cinta disini. Tepat di tengah cerita, muncul tokoh baru bernama Kent yang tak lain adalah keponakan dari sang raja COU. Kent awalnya diutus Andrew untuk turut menyiksa Fay, tapi perlahan mereka malah terjebak dalam sekilas summer love yang rumit. Fay mendadak terpukau oleh sosok Kent yang sebenarnya, jauh dibalik pribadi yang ia tunjukkan di awal-awal pertemuan mereka, ternyata Kent sosok yang baik dan lembut. Pianis tersebut akhirnya mampu membuat Fay luluh dan akhirnya bersedia mengarungi kisah singkat mereka meski tak henti diintai bahaya. Dan soal pelanggaran atau hal-hal lain yang berjalan tidak sesuai dengan keinginannya, Andrew tidak segan untuk bermain dengan kekerasan bahkan sampai menyangkut nyawa.
Selain itu, ada Reno yang Fay temui di tempat kursusnya. Pria yang sempat mencuri perhatiannya, namun selanjutnya lebih Fay anggap sebagai kakaknya. Reno yang dipercaya Fay, entah kenapa malah tak menyetujui hubungannya dengan Kent, dan sepertinya ini dikarenakan ada sesuatu diantara mereka.
Di akhir masa dua minggunya disiksa di kediaman Andrew, Fay akhirnya diterjunkan sebagai Sheena kedalam misinya. Semua hal yang dilaluinya selama dua minggu pun tak sia-sia karena di awal misinya, semua hal bisa ia lewati dengan sempurna, namun semuanya itu mengantarkannya kepada akhir yang tak terduga.
Ada yang dapat saya simpulkan dari novel ini, ada amanat yang saya dapat, yakni “Be careful with your wish for” atau “Berhati-hatilah dengan harapanmu”. Seperti yang dialami Fay dalam novel ini, yang menjadi akar sesungguhnya dari segala permasalahan yang hidup disini. Terkadang, dikarenakan ritme kehidupan yang membosankan dan hampir sudah kita hafal, kita jadi sering membayangkan hal-hal aneh yang kita pikir bisa lebih menyenangkan dibanding apa yang kita punya sekarang. Padahal sesungguhnya belum tentu. Tak sepatutnya kita berlaku begitu, karena segala hal yang ada pada kita saat ini, seberapapun membosankannya seharusnya kita syukuri.Meski itu hanya merupakan angan-angan di dalam hati, tetap saja yang namanya ucapan adalah doa. Dan penyesalan di akhir cerita tidak akan memberikan perlindungan apa-apa.
Novel ini memang hanya menceritakan dua minggu perjuangan Fay melalui nasib buruknya di Paris, tapi dengan membacanya, kita seolah dibawa untuk menjalani hidup sebagai seorang Fay. Yang saya kagum juga, ternyata sang penulis, Clio Freya ini mampu betul menceritakan pengal demi penggal kisah dalam novel ini secara mendetail. Sehingga pembaca bisa merasa seperti menonton film action langsung saat membaca bagian action-nya. Organisasi dan sistem bisnis di COU juga bisa dijabarkannya dengan baik sehingga pembaca tak perlu memutar otak untuk dapat mencerna maknanya. Tak seperti novel bertemakan spy lainnya, novel ini bukan novel yang berat untuk dibaca sehingga saya rasa cocok untuk berbagai lapisan usia.
Kisah romantis yang terjadi antara Fay dan Kent pun mampu diselipkan dengan sangat cantik. Tanpa mengganggu maksud dari cerita yang sesungguhnya. Yang jelas, debaran keras jantung pasti tak akan luput kita rasakan saat membacanya. Tapi untuk genre teenlit yang umumnya membahas masalah ringan seputar kehidupan remaja, novel ini tak cukup banyak meletakan intrik dan problema mengenai hubungan si tokoh dengan lawan mainnya seperti novel-novel teenlit pada umumnya. Beberapa kesalahan ketik juga saya temui disaat membaca novel ini. Dan yang terakhir, desain sampul yang kurang mewakili isi novelnya yang sesungguhnya luar biasa juga menjadi kendala. Bagaimanapun, orang pasti menilai buku dari sampulnya dulu, tak perduli peribahasa menghimbau untuk tidak berlaku demikian.
Jika anda menginginkan novel romantis yang bertemakan segar, dan memancing adrenalin untuk ikut bermain, saya rasa novel ini cocok untuk anda. Meski yang menjadi daya tarik sesungguhnya bagi saya ketika memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini adalah kata “Eiffel” yang tersemat pada judulnya, novel ini benar-benar tak mengecewakan sesuai dengan harapan saya. Novel ini juga cocok bagi anda yang menyukai kejutan, karena sesungguhnya novel ini dipenuhi oleh hal itu. Novel-novel lain yang berkepala-judulkan Eiffel mungkin hanya melulu menceritakan tentang kisah cinta tanpa selingan lain kecuali konflik yang mengundang derai air mata. Meski yang seperti itu juga bagus, ada kalanya novel seperti yang ditulis oleh kak Clio Freya ini kita butuhkan sebagai penyegaran.



No comments:

Post a Comment