Trending Topics

.

.

Saturday, July 27, 2013

Kau dan Aku, Aku-Kamu, Saya dan Anda, Gue sama Lo.

Siang tadi, saya mendapati pembicaraan yang cukup menarik mengenai kata sapaan bersama salah seorang sobat saya. Dia, memiliki seorang teman. Cukup akrab sampai mereka saling memanggil dalam kesempatan tak langsung dengan sapaan yang terdengar istimewa, dan dari sanalah ide ini menguar. Tapi jujur, dari hati terdalam, demi arloji melelehnya Salvador Dali, saya tak bermaksud menyinggung hati dan perasaanmu, andai kata dikau yang saya maksud membacanya.

Untuk menyapa anda sekalian, saya pernah menggunakan beberapa jenis sapaan. Yang pertama, kala saya masih luar biasa melankolis di SMP dulu, masa-masanya saya berkutat dengan lembaran merah muda yang kini menggulung lusuh penuh tanda tanya, memudar warnanya. Kala itu saya lebih senang menggunakan kata Kau dan Aku. Baik ‘Kau’ yang dimaksud itu Anda para pembaca, atau ‘Dia yang di Sana’. Entah kenapa. Sulit dipaparkan karena memang tak sistematik. Yang jelas, dalam suasana yang melambung-lambung, membahagiakan, membuat saya kecanduan banyak hal bahkan perasaan-perasaan menyakitkan sekalipun, ‘Kau dan Aku’ sangat cocok. Kesannya jauh tinggi, tak menapak ke tanah, atau tepatnya lupa daratan, tapi sekaligus anggun, penuh kecantikan bahasa, serta kepiawaian mimpi dalam andil merangkai kata. Sebagaimana novel terjemahan yang bukan lagi murni hasil racikan penulisnya, kata Kau dan Aku yang hampir selalu digunakan dalam novel terjemahan itu melukiskan sesuatu yang keren, tak pasaran, penuh ketinggian, sekaligus jauh dan imajiner. Pantas digunakan untuk seuntai prosa penuh perumpamaan, majas, dan pengagungan untuk lari dari kenyataan.

Yang berikutnya, Aku-Kamu. Ini sapaan yang paling tidak saya suka dalam tulis menulis. Entahlah, kesannya pasaran, yang kata anak muda sekarang ‘Mainstream’. Sapaan ini biasanya hanya saya gunakan untuk membangun sebuah obrolan tanpa passion dengan seseorang yang baru saya kenal. Well, Betawisme yang acap kali saya temui di lingkungan saya membuat ‘Gue sama Lo’ menjadi sapaan paling nyaman, merakyat, dan akrab tanpa jarak. ‘Aku-Kamu’ hanya basa-basi. Atribut kesan pertama yang mujarab dalam membuat calon kenalan kita akhirnya mengetahui tabiat asli kita secara perlahan, tak lebih dahulu menjatuhkan pada kita kesan buruk, dan akhirnya menerima kita sebagai manusia bar-bar yang ternyata tak terlalu buruk dijadikan teman.

Saya bilang tadi sapaan ini pasaran, ada yang mau protes? Oke, biar saya jelaskan. Orang baru berkenalan menggunakannya, orang pacaran juga memakainya meski mungkin hanya dalam versi yang benar-benar standar, karena dalam versi lanjutannya mereka akan saling memanggil dengan panggilan kesayangan khas dari setiap pasangan. Ada ‘Gajah’—eits jangan salah, ini bukan hinaan— yang merupakan panggilan sayang Chairil Anwar untuk istrinya. Ada pula yang lumayan umum seperti ‘Darling’, ‘Honey’—omigot—, ‘Sweety’ dan lain sebagainya yang sepertinya  sudah sangat ketinggalan zaman. Ada juga ‘Hime’ atau nama dengan embel-embel ‘-chan’ di anime. Ada juga ‘Dear’ dan ‘Baby’ yang terdengar masih bisa didengar dengan cukup normal di zaman ini. Tak ketinggalan Gaya Alay Asli Indonesia Seratus Persen Dahsy*t yang yaah, contohnya satu cukup, jika kebanyakan mungkin post ini tak pernah selesai. Miris, pendramatisiran kata ‘Baby’ menjadi Beybi, lalu mengalami hiperbolaisasi dan bermetamorfosa jadi Beiybih, untuk penyingkatan karena sms dihitung per-karakter jadi Beb, dan ketika sms tak lagi dihitung per-karakter, sapaan tersebut pun berakhir miris jadi ‘Beiiibbbbbhhhhhhhhh’ bahkan dengan lebih banyak lagi hurup ‘b’ dan ‘h’ didalamnya.

Yang jelas, FTV menggunakan ‘Aku-Kamu’, sinetron pun sama. Kalau itu film layar lebar, bergantung pada temanya, tapi setiap yang berhubungan dengan lika-liku romantika anak muda pasti juga menggunakannya. Di lagu? Aah, Band yang asal tenar makin banyak dewasa ini. Terkadang saya bingung dengan nada-nada berbau melayu yang mereka kemas dalam dinamika musik barat. Mungkin dikiranya itu kontemporer, tapi entah saya yang salah atau bagaimana, sensor seni di pojok otak saya belum menerimanya menjadi sebuah karya yang indah. Belum lagi lagu yang temanya cinta-cintaan melulu, dan hanya itu. Saya lama nian tak mendengar tema lain selain cinta-cintaan semenjak acara tangga lagu dan pemutaran video klip ‘Yeyeye Lalalala’ membabi buta menguasai jagad televisi. Sejak dulu, sesumbaran sok intelek dan sok berseni saya tentang lirik dan irama lagu-lagu sekarang sudah lumayan pernah didengar banyak orang. Saya bilang, sesuai dengan unek-unek dalam hati saya, kata-kata mereka samasekali nggak puitis. Ada istilah yang saya ciptakan yang namanya ‘lompat bahasa’, yakni ketika dalam suatu lagu, demi mencapai kesepakatan jumlah suku kata dengan nadanya, digunakanlah sapaan ‘Kau’, ‘-mu’, dan ‘Kamu’ yang jelas-jelas, telinga pun sudah mampu memvisualisasikan tanpa bantuan mata, kalau ada sebentangan jarak yang bila dirunut-telusuri akan sangat jomplang diantara kata-kata tersebut. ‘Kau’ dan ‘Dirimu’ mungkin masih memiliki kesan yang setara, tapi ‘Kau dan Kamu’ meski artinya kurang lebih hanya sama, tetap jauh berbeda. Kecuali dalam sebuah sinetron, tokoh tritagonis seorang anak manja yang kadang terlihat lebih ke memiliki kurang secara intelektual, bertemu dengan seorang sastrawan angkatan Balai Pustaka dalam lorong dimensi antar waktu.

Lanjut ke ‘Saya dan Anda’ sapaan yang paling sering saya gunakan dalam tulisan sekarang-sekarang ini. Pengalaman getir—tidak pahit, tapi cukup getir— yang saya rasakan soal lembaran merah muda dalam buku yang memuat kisah hidup saya, cukup membuat saya menyadari bahwa sebenarnya saya telah jatuh dari awan-awan surgawi yang melambungkan saya itu sejak lama. Sakitnya pun tak terkira, dan baru terasa akhir-akhir ini. Mungkin otot saya ada yang mencuat, keriting, terjepit, atau paling buruk, putus. Ah, semoga tidak. Yang jelas, pengalaman tidak baik yang awalnya manis luar biasa ini cukup membuat saya jera dan secara tanpa sengaja, tak lagi pernah berhasil membuka lembaran berwarna merah muda lagi.Tapi hidup tak untuk lepas dari cinta, kini apa yang dinamakan cinta itu beralih ke bentuk abstrak dari sesuatu yang nyata, yang melahirkan kritisme serta gugahan untuk bertanggung jawab atas masa depannya. Cinta kepada sesuatu yang mengakari rentetan kronik yang pernah ditulis di tanah ini, Indonesia. Sebuah panggilan sarat hormat dari negara saya, rumah saya.

Lembaran merah muda itu membuat apa yang biasanya mempontang-pantingkan perasaan orang, justru menebalkan perasaan saya. Saya tak pernah merasa peka ketika direndung hal yang satu itu. Yang ada justru menggila, melupakan rasa dan mendewakan sensasi, tak ubah orang kecanduan narkoba yang rela menyuntiki dirinya demi kenikmatan yang menyedotnya seperti jarum suntik gajah menyedot darahnya, padahal disuntik saja itu sudah sakit.

Kini saya jauh lebih realistis. Saya mendewakan kenyataan, berubah sekian banyak persen dalam beberapa tahun saja, ketika saya putuskan semuanya sudah berakhir dan luka ini tak sepantasnya diperdalam. Dalam kasus percintaan dengan masa depan banyak orang ini, juga ada rasa sakitnya. Cinta, tak pernah lepas dari yang semacam itu. Tapi rasa sakit itu membuat kian hari tekad saya semakin tak terbelokkan. Dan masa depan saya akhirnya tertambat pada dermaga penuh impian, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Ilmu Sejarah, di universitas yang namanya diambil dari sang Patih maha terkenal sepanjang masa, pengujar sumpah Palapa. Boleh dicek, saudara sekalian, ketika orang kita tanyai siapa patih Majapahit yang mengujar sumpah yang dijadikan nama satelit itu, pasti mereka jawab dengan mudah Gadjah Mada. Lalu berikutnya kita tanya siapa rajanya ketika itu? Tak sedemikian yakin saya akan ada yang menjawab Hayam Wuruk. Bahkan popularitas sang raja terkalahkan oleh patih-nya. “Hayam? Hayam naon? Goreng hayam, Ce’…”#dor

Kerealistisan itu yang membuat saya pada akhirnya mendaratkan obsesi pada hal yang berbau kewarganegaraan, kenegaraan, kesejarahan, dan yang lainnya. Dekat dengan tiga poros; sosial, politik, dan budaya, kadang-kadang hukum. Saya tertarik atas kelemahan negara ini yang kemudian justru seperti ditindas oleh warganya sendiri. Bukan main, tak sedikit orang yang menjelekkan Indonesia, dimatanya, orang tuanya, tetangganya, bahkan siapapun yang ditemuinya di manapun, di luar negeri sekalipun. Tak masalah jikalau ia adalah mantan pejabat bersih yang dituduh korupsi dan diganjar 12 tahun bui plus denda ratusan juta dan sudah putus asa akan hukum negara yang mengkhianati kesucian moralnya. Lain itu, saya sanggup terima. Tapi jika hal tersebut diujar oleh seorang anak ingusan karena dia menaruh obsesi hampir penuh gila pada seorang idola di negara nun jauh yang bahkan letaknya di sebelah mana Indonesia pun dia tak tahu sementara dia masih menghujat negerinya dengan bahasa Indonesia itu sendiri. Memalukan Bung. Mahluk macam itu harus diberi penataran P4 plus wajib militer tiga bulan.

Rentetan kasus yang memancing keprihatinan, simpati yang kian tercambuk dan membara, dan hasrat untuk selalu menulis membuat saya menjatuhkan pilihan pada sapaan lain ‘Saya dan Anda’-lah yang saya rasa paling pas hingga kini. Sapaan ini sangat diplomatis dan demokratis, memandang semua individu dan golongan dalam sebuah meja debat dengan derajat yang sama dan penghormatan yang pantas. Tak ada kata pasaran, terlalu anggun, atau barbar didalamnya, kecuali acap kali terkesan melampaui batas ke-baku-an tulisan seorang remaja tujuh belas tahun pada umumnya. Tapi saya bisa buktikan kok, andai kata anda sekalian tak malas membaca demikian bertele-telenya tulisan saya, mendalami maksud apa yang saya rangkai disana, saya selalu mengutamakan pembaca dan menempatkan mereka sebagai ‘Anda’ yang tak begitu saya segani, dan saya bukanlah ‘Saya’nya seorang perendah dari ‘Anda’. Soal strata, seprti yang saya katakan tadi, semua sama, dengan penghormatan pantas, pas.

Selain itu, golongan kata yang berada pada kolom tangga yang sama dengan ‘Saya dan Anda’ cukup untuk ukuran kebutuhan akumulasi dan manipulasi kata saya yang samasekali nggak terlihat intelek tapi secara ego kerap mentele-telekan sebuah kalimat demi rima, keindahan, dan implisitisme. Ia tak terlalu agung seperti ‘Aku dan Kau’ tak pula terlalu pasaran semacam ‘Aku-Kamu’, tapi tak se-barbar ‘Gue sama Lo’. Tengah, stagnan, dinamis, tenang, ah, sempurna. Dengan sapaan ini saya bisa menggombal, berkisah, sampai mengkritisi. Hah, hanya itu, yang jelas saya cinta yang satu ini, ‘Saya dan Anda’ memang yang terbaik.

‘Gue sama Lo’ yang terakhir. Atau dalam bahasa Betawi dengan dialek Kampung Pulo-Jagawana, lebih lumrah ‘Gua dan Lu’. Ini adalah kata terlarang ketika saya kecil. Di mana dibesarkan dalam atmosfer budaya Jawa Tengah yang mendayu-dayu membuat kata-kata tersebut menjadi terdengar sangat barbar, liar, dan tak beradab. Orang tua saya pun memblacklist-nya, dan setelahnya, jika keceplosan mengujarnya saya akan ditatar dengan nasihat dalam format omelan yang efeknya biasanya cukup membuat saya yang cengeng ini mewek.

Tapi atas nama maha dahsyat efek urbanisasi, lama kelamaan terjadi asimilasi yang damai antara suku pendatang dan yang didatangi. Kata-kata tersebut pun kian deras kami dengar, serupa dengan istilah lain seperti, ‘pangkeng=lemari’, ‘jaro=pagar bambu’, ‘sasak=jembatan’ dan yang lainnya. Kini sapaan itu bahkan sudah sangat akrab bagi orang tua kami. Kadang kala dalam sebuah gurauan atau malah kecaman saya menggunakan sapaan ini terhadap adik saya. Untuk ke teman, ini adalah sapaan yang paling friendly menurut saya. Ketika Anda adalah ‘Lo’ dan Saya adalah ‘Gue’, tak ada jarak lagi mengudara. Berkawanlah kita, karib, lekat, dan intim.




   Sekian, teruntuk Dikau, bagi Kamu, untuk Anda, dan buat Lo! 

No comments:

Post a Comment