Trending Topics

.

.
Showing posts with label Heroes. Show all posts
Showing posts with label Heroes. Show all posts

Sunday, September 21, 2014

Meeting a Profesor



Mindblowing, itu kesan luar biasa yang beliau tinggalkan di kelas pertama kami. Bayangkan, dua belas tahun kami belajar di sebuah lembaga pendidikan konvensional bernama sekolah, berusaha menaklukan kurikulum yang berubah sesering pergantian kabinet presiden lewat segala ujiannya yang membuat kami kian tabah sekaligus kian licik kian kami tua,  tapi di hari itu segala apa yang kami peroleh darinya runtuh. Sejarah Indonesia, yang pahit manis dan luar biasa romantis dengan nasionalismenya teryata hanyalah skenario pelengkap syarat eksis sebuah institusi bernama negara. Luar biasa.

Seketika pijakan kami hilang, atau setidaknya bagi saya pribadi. Sebuah nyala api yang ternyata semi semu bernama nasionalisme itu salah satu alasan kuat saya masuk ke jurusan ini lho, tapi baru di pertemuan pertama ia disegerakan untuk padam. Soekarno hanya manusia biasa yang condong ke Jepang dan menghimbau para lelaki untuk jadi romusha, tapi divermak disana sini namanya demi menjadi ikon bapak bangsa yang sempurna. Soekarno yang dikhianati oleh orde baru seolah hanya mengalami let’s say, karma, atas hal sewarna yang pernah ia lakukan pada Sjahrir. Soeharto adalah murid terbaik Soekarno, regenerasinya yang paling sempurna. Dan Golkar saudara-saudara, pertama kali dibentuk atas prakarsa Soekarno.

Itu baru sedikit, sedikit sekali diantara banyak betul hal, kenyataan baru yang luar biasa, yang mampu menawan hati untuk terdiam barang beberapa detik, menengok kebelakang, dan mendapati semuanya, masa lalu, sejarah dalam sudut pandang saya selama ini berangsur layu. Sementara untuk menumbuhkan yang baru, saya masih belum menemukan pijakan hingga saat ini. Sekarang, jika saya ditanyai alasan saya mengapa masuk jurusan ini dahulu, saya sudah kehilangannya, tapi jika saya ditanyai apa alasan saya untuk tetap bertahan di jurusan ini kedepannya, salah satu yang utama adalah untuk menemukan pijakan itu kembali. Karena di kelas pertama itu, di hari dimana saya ditegur karena secara tanpa sadar memainkan tombol ballpoint, beliau bilang kalau nanti kita akan menemukan cara untuk mencintai negeri ini dengan pandangan baru yang tidak lagi naif. 

Semester berikutnya, di kelas-kelas lain, pertanyaan-pertanyaan senada terus bermunculan. Alasan seperti masuk sejarah karena punya hapalan yang bagus atau nilai sejarah di raport yang memukau tak lagi bisa diandalkan. Kami bukan menghapal, tapi mempelajari hal yang luar biasa baru. Rasanya tak ubah belajar menggunakan kacamata yang berikutnya akan kita gunakan seumur hidup apapun yang kita lihat kedepannya. 

Ditengah perjuangan menemukan bukan hanya hasil dari yang dipelajari tapi juga diri sendiri ini, saya kembali bertemu orang-orang hebat. Suatu hari juga di kelas sang profesor, kami pernah membahas perbedaan pendidikan sejarah dan ilmu sejarah. Diskusi waktu itu berlangsung sangat seru, karena bagaimanapun pokok bahasannya adalah hal yang amat dekat dengan kami, yang baru beberapa bulan lalu kami tinggalkan, dan yang selama belasan tahun telah tertanam dan membentuk fondasi pemikiran kami soal sejarah. Sejarah sebagai ilmu bukan sebuah kajian normatif yang menggunakan sejarah untuk mengatakan suatu hal salah atau benar, sangat bertolak belakang dengan apa yang kami pelajari di sekolah. Ketika itu, seorang teman saya menyeletuk soal jika memang seperti itu, betapa institusi yang mengajarkan sejarah pendidikan telah mengajarkan banyak kebohongan. Tapi beliau menyanggah dengan jawaban yang sama sekali tak saya kira. Institusi keguruan memang bergerak dibawah pemerintah formal, kurikulum juga menjadi satu bagian dari kekuasaan orang-orang atas mengenai visi mereka dalam membentuk negara, tapi diluar sistem dan atmosfer yang demikian, kita sebagai pribadi yang telah bertahun-tahun menikmati masa-masa sekolah pasti pernah memiliki guru-guru sejarah yang luar biasa, yang bisa jadi merupakan salah satu alasan kuat kami berada disini. Buat saya pribadi, hal ini luar biasa betul. Istilahnya, mata pelajaran yang pertama kali membuat saya menikmati proses belajar disamping proses bermain di sekolah adalah mata pelajaran semacam ini. Sesi dimana sejarah atau pengetahuan umum lainnya diajarkan adalah sesi amat menyenangkan, ringan, dan bagi saya cukup menghibur dan mengundang banyak sekali kekaguman. Ia tak pernah menuntut saya untuk melakukan hal yang tidak saya sukai semacam menghitung atau menyalin, melainkan cukup mendengar berbagai cerita luar biasa, menjawab kuis kuis menantang, dan bercerita.  Sungguh sebuah waktu pembalasan dendam yang sempurna ketika terlalu banyak hitung-hitungan telah menyiksa saya. Dan dibalik saat-saat menyenangkan semacam ini, ada beberapa orang hebat. Guru-guru sederhana yang saya kagumi hingga saat ini. 

Di kelas beliau yang mindblowing ini, saya seolah dibawa kembali kepada euforia kuis semasa SD dulu. Adrenalinnya mirip, suasananya sama-sama tegang tapi menyenangkan. Kata profesor sebelumnya hanya pernah saya temui di film-film di televisi. Kalaupun dalam dunia nyata, ia pastilah rektor-rektor universitas yang sekali dua kali pernah saya dengar namanya, tapi wujud dan tuturnya tak terbayang sama sekali. Ketika saya mengikuti sebuah program sehari sit-in di IPB, saya merasakan diajar beberapa dosen. Salah seorang dosen yang ahli hewan dan genetika memang saya akui mengajar dengan sangat menarik. Pembawaannya membuat saya yang tak tahu menahu soal hal semacam itu jadi cukup terbawa dan tertarik, tapi tidak dengan dua dosen lainnya. Ketika itu saya bertanya-tanya kalau nanti saya bukan cuma sit-in melainkan sebetul-betulnya kuliah, dosen seperti apa yang bakal saya alami kelasnya, sembari berdoa semoga saya akan bertemu orang orang seperti dosen genetika ketika itu. Dan luar biasanya, doa itu terkabul.

Kali pertama beliau masuk di kelas kami adalah pertama kalinya saya melihat seorang profesor, dan kalau kalian suudzon bahwa belajar sejarah mengundang kantuk, tarik kembali semua itu. Mindblowingnya luar biasa. Satu hal yang nggak akan pernah saya bisa lupa. Mendengar penjelasan beliau rasanya seperti dilayangkan kesana kemari, dan kesadaran sepenuhnya baru akan kembali ketika beliau memutusnya dengan menanyakan tanggapan atau pertanyaan kepada siapapun diantara kami. 

Semua itu belum termasuk soal tulisan beliau, yang sebetulnya adalah alasan mengapa saya menulis tulisan ini sekarang. Mata kuliah babon semester ini mengajukan skripsi kecil sebagai syarat lulus, syarat tersebut harus mulai kami kerjakan selepas mid-semester, dan saya belum tahu mau menulis apa. Mungkin dalam alam pikiran saya sudah 4-5 kali memutar pendirian mengganti topik, padahal sudah saya cicil mencari tema-tema menarik sejak liburan. Dalam masa-masa pencarian tema itu saya terus mengalami banyak renungan baik soal posibilitas, spasial mana yang harus saya jadikan sampel, sampai kadang saya kehilangan apa makna penelitian sejarah itu sendiri. Kunjungan ke dinas arsip kemarin tak terlalu banyak membantu selain membuat saya tahu kalau karena mereka kedinasan, mereka jadi lebih banyak menangani arsip pemerintah yang kering dan kurang asik diajak nyeleneh sebagaimana tema-tema sosial yang kecil. 

Beruntung ditengah kebimbangan itu saya menemukan tulisan beliau soal sejarah sosial Jakarta. Rasanya semangat yang sempat hampir padam oleh tiupan angin di sana sini memijar kembali. Sejarah kembali pada wujudnya yang ramah, kembali menjadi kacamata yang bisa digunakan untuk melihat apapun. Pengertian soal ‘segala hal bisa ditulis’ itu akhirnya kembali. 

Apapun yang saya tulis, saya pasti menulis hal sepele yang menyenangkan untuk saya pribadi. Doakan saja, semoga diantara kesepeleannya, ia bisa memiliki landasan metode yang cukup kuat sehingga bisa dikategorikan ke dalam yang tak terlalu menyedihkan. Bagaimanapun ini bagian dari proses belajar, dan saya beruntung memiliki kesempatan ini. 

Meeting a profesor, hal yang baru pertama kali saya lakukan dalam hidup saya, dan itu super! Dengan kesempatan ini, saya membuktikan, bahwa gelar akademis memang bukan hal sembarangan. Nggak semua doktor bisa jadi guru besar, tapi bukan hanya karena hal itu gelar tersebut jadi hebat. Saya nggak tahu lah, tapi jelas orang-orang semacam itu punya kekuatan tertentu. Tuhan, suatu hari nanti, saya punya mimpi untuk bisa berdiri di mimbar-mimbar kelas dengan kekuatan semacam itu. Kebahagiaan yang luar biasa kalau saya melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan untuk saya ke lebih banyak orang.


Yuanita Wahyu Pratiwi
21 September 2014

Monday, November 18, 2013

Masihlah Kisah Cinta yang Sama

Guyes, sekali lagi hidup ini membuat saya terpana sekaligus senyum-senyum sendiri. Banyak sekali misteri yang ada di dalamnya, terkadang apa yang sebenarnya misteri itu meliputi hal-hal sederhana yang banyak tak kita sadari. Tapi inilah kenyataannya, sadar atau tidak, dengan campur tangan kita atau bukan, kehidupan adalah sebuah mekanisme ajaib yang nyata.



Suatu ketika di salah satu kelas, saya pernah di troll oleh seorang teman baru saya. Dia yang ketika itu duduk di sebelah saya bertanya saya suka sejarah apa. Saya bilang, saya suka Kolonialisme Barat, apapun yang kaitannya sama ekspansi kekuasaan Barat kesini deh, terutama sejarah Jakarta. Lalu dia melanjutkan, "Ayo coba kolonialisme sama imperialisme bedanya apa?" Dan disanalah saya kalah. Entah kenapa saya bisa kehilangan poin waktu itu. Bagaimana mungkin saya jatuh oleh pertanyaan yang demikian mendasar. Oke saya memang habis merehatkan otak saya untuk beberapa bulan, tapi saya pernah baca beberapa buku menarik, dan sepantasnya saya tak melupakan substansinya. Tapi sudahlah, tuan yang pernah menjatuhkan saya. Sekarang saya sudah lebih banyak membaca. Saya mungkin speechles soal sejarah militer dan persenjataan, tapi saya janji nggak akan kalah soal sejarah kolonial lagi. Saya angkat topi soal knowledgemu yang luar biasa, dan itu tantangan yang luar biasa juga buat saya.

Tadi di kelas paling istimewa sesemester, Pengantar Sejarah Indonesia, nostalgia tiba-tiba menculik saya untuk secara ragawi tidak lenyap dari kursi paling depan yang segaris lurus dengan meja dosen, tapi lenyap secara konsentrasi karena seketika layar proyektor menampilkan judul presentasi, saya kembali ke hari-hari Rabu semasa kelas satu SMP, sekitar jam 10, setelah olahraga yang disambung istirahat; kelas sejarah Bu Nanik Purwati.

Beliau sempat kami juluki Bu Rocker karena suaranya yang khas sekali. Jikalau sudah berurusan dengan sampah dan kedisiplinan di dalam kelas Beliau amat garang. Entah kenapa, saya yang sebenarnya amat urakan, sebodoan, dan susah sekali untuk bisa terikat baik dengan aturan ini kebanyakan justru memiliki guru-guru favorit semacam ini ya? Saya juga kurang tahu sampai sekarang. Yang saya mengerti cuma galak atau tidak itu bukan soal asal saya sudah lebih dulu suka. Dan saya cinta sekali dengan pembawaan beliau.

Professor kami bilang, apa yang diajarkan di sekolah selama ini, yang bahannya mengacu pada Sejarah Nasional Indonesia yang tak lepas dari pesanan politis ORBA, sejarahnya punya banyak kesalahan. Aru Palaka sang Kaisar Sulawesi di cap pengkhianat sebagai konsekuensi dari mengangkat Hasanuddin sebagai pahlawan. Simpelnya, beliau katakan sebagai "Gagalnya Historiografi Indonesia" yang terkenal itu. Sebagai antitesis, ketika diskusi selepas kuliah ini salah seorang teman saya mengeluarkan steatment yang cukup keras, "Berarti Institusi Keguruan itu penuh kebohongan dong Pak."

Tapi Professor tak lantas mengiyakan. Dan itu jawaban yang cukup melegakan. Katanya, "Kita nggak bisa bilang demikian, Mas. Memang mereka mempelajari apa yang akan mereka ajarkan di sekolah, tapi saya yakin anda-anda sekalian disini pasti memiliki guru sejarah yang hebat. Saya pun punya guru sejarah yang hebat."

So, Pak, I got it. Sejarah yang diajarkan di sekolah memang bukan sejarah kritis. Orang-orang diatas, para penyusun kurikulum misal, memang memiliki kewajiban untuk tidak mewarisi semakin jauh sebuah langkah yang salah. Memang tak ada sejarah yang objektif, tapi subjektif pun, objektifitas tetap adalah hal yang paling diusahakan seorang sejarawan. Beberapa guru mengajar bak menggunakan tutorial untuk memasang sekrup demi sekrup di sebuah mainan rakitan, tapi guru-guru spesial berimprovisasi dan menginspirasi. Membangun dalam mindset murid-muridnya lebih dari sekedar tujuan melainkan impian. Guru-guru seperti itulah yang beliau maksud saya rasa.


Di buku teks, saya tak menemukan nama Afonso de Albererquerque, tapi Bu Nanik memanggilnya berulang ulang hingga ia terngiang sampai sekarang di benak saya, bersama bayangan seorang Portugis berbaju merah. Di buku tak ada Dr. Nomensen yang Zending, atau Franciscus Xaverius yang Missionaris itu, saya baru menemukannya di buku lain beberapa tahun kemudian, tapi nama itu bisa demikian awet bercokol dalam benak saya. Dan masih banyak nama-nama lain yang berperan dalam dua kali empat puluh lima menit panggung sandiwara beliau yang membentangkan cakrawala sejarah yang demikian luas dari Perang Salib hingga Napoleon kalah dan tercetus Konverensi London. 

buku ajaib ini masih saya bawa sampe Jogja~

Buku tulis tipis saya ini hanya tilas yang terlihat, karena selebihnya Beliau telah melukis dengan indah di benak saya sehingga ketika saya membuka buku tipis ini di hari ini, ketika 5 tahun sudah berlalu sejak Beliau membawakan kisah ini di kelas, buku ini adalah jendela yang menyajikan dunia dengan segala warna-warninya yang indah dan perjalanannya yang menakjubkan dari masa ke masa. Mungkin tilas ajaib ini akan tetap saya bawa ketika suatu saat nanti saya ke Leiden.



ini foto catatan saya pas SMP~

Lima tahun setelah untuk pertama kalinya saya mendengar kisah ini, tadi dosen saya menerangkannya lagi. Bahasannya hampir sama, hanya berbeda di beberapa aspek partikuler saja. Dan ketika itu, perasaan saya berada di dua dimensi waktu berbeda, di sebuah kelas berlabel 7.6 disamping seorang bocah gila Fisika bernama Nurina Nidya, atau di ruang G.302 gedung Zoetmoelder FIB UGM, di sebelah seorang pelawak intelek yang expert Sejarah Jawa. 

Saya tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum, bagaimanapun saya merasakan indahya jatuh cinta lagi, entah untuk yang berapa kali sejak saya pertama kali jatuh cinta pada mata pelajaran ini di kelas tiga SD dulu. Saya pernah berada pada situasi dimana saya merasa sangat tidak menikmati kelas, mati-matian menahan kantuk, memutar otak demi memasukkan materi yang samasekali tidak ramah, dan menjadi salah satu dari yang terbuang, orang-orang yang eksistensinya samasekali tidak berarti, orang-orang di garis tepi yang hanya bisa memancing keluar emosi guru. Setelah masa-masa berat itu, indah sekali rasanya jatuh cinta lagi, menemukan diri saya diterima dan bahagia. Terimakasih atas hidup yang penuh berkat ini Tuhan, apapun yang saya lakukan tak akan pernah melukiskan syukur yang semestinya.


Kadang saya tak sabar untuk mengetahui misteri apa lagi dalam hidup ini yang akan terbongkar dan memancing keluar selengkung senyum saya. Tapi ketika dorongan untuk itu muncul, saya mulai menahan diri. Menyiram api-api gejolak yang mulai muncul dengan air embun pagi hari, dan meyakinkan diri bahwa tak perlu sedemikian buru-buru. Saya hanya perlu menikmati alurnya dan menemukan saya menjadi orang yang bahagia nantinya, jauh lebih bahagia dari sekarang.


18 November 2013

Friday, November 15, 2013

Jeanne de Arc di Hetalia The Beautiful World Episode 15



Well, beberapa minggu yang lalu saya dapat tugas dari matkul favorit saya yakni Pengantar Ilmu Sejarah. Ketika itu, tugas kami adalah untuk mencari contoh suatu aspek sebagai kekuatan sejarah yang tercermin dalam sebuah peristiwa sejarah. Aspeknya macem-macem, ada umur, golongan, etnis, sex, ekonomi, budaya, dan masih banyak lagi. Kebetulan yang saya dapet waktu itu Budaya, padahal berhubung saya baru saja membaca "Perang Cina dan Runtuhnya Negara Jawa"-nya Remmelink, saya pengennya sih etnis. Soalnya, isu rasisme itu terdengar lebih sensitif.

Seorang teman saya yang mendapat tema sex kemudian langsung menemukan tugasnya beberapa detik saja setelah dia mendapatkan takdirnya. Dengan berapi-api, ia mempresentasikan penjelasan mengenai poligami King Henry VIII yang melatar belakangi terbentuknya gereja Anglican untuk pertama kalinya karena Gereja Katolik tak mengizinkan poligami. Sejak itu, King Henry benar-benar memutus hubungan dengan Gereja Katolik dan memimpin sendiri gereja di Inggris dengan nama Gereja Anglican. Bahkan sampai sekarang pun, ratu Elizabeth II jugalah masih pemimpin gereja Inggris.

Hal itu kemudian membuat saya makin buntu. Budaya itu luasnya luar biasa, dari bahasa, makanan, sampai korupsi itu semuanya budaya. Saya betul-betul nggak punya pegangan sampai saya membaca sedikit penjelasan di buku Pengantar Ilmu Sejarahnya Kuntowijoyo mengenai periodisasi historiografi Eropa yang lebih didasarkan pada kebudayaan dari pada politiknya. Setelah mengorek berkas lama di komputer saya menemukan Episode ini dan lantas semakin terinspirasi. Satu dua literatur pendukung kemudian menuntun saya untuk mulai bekerja dengan bahasan Zaman Kristen Awal yang saya kaitkan dengan Sang Perawan, alias La Pucelle, Jeanne de Arc.

Saya menggunakan sudut pandang film Joan of Arc yang mengisahkan bahwa Jeanne adalah seorang yang tumbuh di lingkungan religius menjadi seorang dengan religiusitas tinggi. Ia yang banyak dikatakan mendapat bisikan Tuhan lewat mimpi untuk menyelamatkan negerinya hingga kemudian bisa menang Orleans, menggulingkan pemerintahan sebelumnya yang bobrok dan mengangkat Raja baru bagi Prancis, lebih karena ketika ia masih kecil, desanya pernah diserbu pasukan Burgundy dan kakak yang amat disayanginya gugur dalam peristiwa itu karena melindunginya. Hal itu memicu tumbuh dendam amat besar dalam diri Jeanne. Selain itu, religiusitasnya kemudian juga dimaknai sebagai pemikiran over control terhadap dirinya sendiri hingga kemudian ia tak bisa membedakan mana yang ambisi pribadinya, mana yang keinginan Tuhan. 

Dalam sejarah, mestinya memang tak ada Pahlawan atau Pemberontak yang sedianya hanya merupakan orang-orang yang dijadikan simbol dan berderajat sesuai dengan dari sudut mana ia dipandang. Yang ada hanya orang-orang besar yang menjadi ikon dalam sebuah peristiwa yang meletup, lengkap dengan hitam putih yang ia punya. Tanpa mahkota atau borgol, melainkan keseluruhan latar belakangnya, apa yang ia bawa, miliki dan persembahkan kemudian. Sehingga ditengah ketidak mampuan lepas dari subjektivitas pun,  objektivitas masih merupakan hal yang diusahakan.

Lepas dari siapa itu Jeanne de Arc dan mengapa namanya demikian besar, ia telah lahir dan tumbuh pada zaman yang sulit. Zaman itulah yang kemudian menempanya menjadi seorang dengan pribadi sedemikian kuat. Pada akhirnya, seorang religius seperti Jeanne pun harus mati atas tuduhan sebagai pagan oleh Inggris yang sebenarnya justru pagan. Hal ini sangat mungkin mengingat pada zaman kristen awal, isu paganisme dan penyihir atau bahkan segala bentuk keuatan lain selain gereja ditentang keberadaannya. Kekuasaan gereja adalah mutlak, setidak masuk akal apapun itu, seotoriter apapun itu. Karena Jeanne sang Perawan pun, akhirnya harus mati dibakar atas tuduhan Bid'ah yang tak dilakukannya. 

Di Hetalia sendiri, Jeanne adalah satu-satunya manusia yang benar-benar dicintai France saya rasa. Yang jadi masalah dari Pairing super Angst ini adalah immortalitas mereka yang berbeda. Kalau France bisa menyaksikan pembakaran Jeanne tanggal 30 Mei 1431 dan kembalinya seorang mirip Jeanne di harinya yang sekarang bernama Lisa dengan sepasang mata yang sama, Jeanne hanyalah manusia biasa yang umumnya hidup tak sampai satu abad lamanya. Terlebih lagi ia yang harus mati muda dalam ambisinya. Tak ada setitikpun celah yang mengizinkan mereka berdua untuk bersama. Sampai kapanpun.

Dan ini kata-kata France yang membuat episode ini semakin spesial buat saya. 





To all People that get tossed about by history,
I always hope they'll be reborn into a normal life, fall in love, and end up living happily somewhere.
When I saw you, I thought God does wonderful things.
Be happy this time. It seems like my wish has already come true.


Akhir kisah, tugas itu pun dapat saya kerjakan dengan bahagia dan lancar prosesnya. Presentasi saya pun mulus meski sepertinya terlampau partikuler menjelaskannya. Tapi saya rasa cukup lah. Lagipula saya mengerjakan tugas ini dengan sangat senang hati. Itu nilai sempurna pertama saya, meski masih dari saya sendiri.


Yuanita Wahyu Pratiwi
15-11-2013

Saturday, March 02, 2013

Mengecap Esensi Nasionalisme di Pelosok Bumi Merah Putih

Posting 17 Agustusan yang, yaah, amat sangat telat. Sebenarnya saya menunggu kesempatan dimana saya bisa menyisipkan foto-foto yang sudah saya ambil ke dalam posting ini, tapi sampai sekarang nyatanya saya belum sempat memindahkan foto-foto tersebut. Yah, daripada tertunda semakin lama, lebih baik saya post saat ini juga. Enjoy~

Oke, sesuai dengan judul, mari kita bersama buka forum doktrinisasi ini#halah, maksud saya jajak pendapat ini dengan saling mengucapkan…

“SELAMAT HUT REPUBLIK INDONESIA YANG KE 67!!”*tebar confetti*


Gimana nih, HUT RI kalian? Serukah? Ramekah? Membangkitkan nasionalisme kah? Atau malah boring nan sepi gara-gara pada puasa ya? Aduuh… jangan kalah sama puasa dong! Bukan berarti kita harus menanggalkan puasa untuk Independence Day kita tercinta ini, melainkan tetap berusaha memaknainya ditengah segala keterbatasan ruang gerak yang ada. Toh, tanggal 17 Agustus pertama yang bermakna sungguh tinggi buat negeri kita juga jatuh di bulan Ramadhan kan? Nah, seharusnya ini menjadi kesempatan buat kita untuk merasakan, bagaimana sebenarnya rasanya memperjuangkan detik-detik kemerdekaan ditengah deraan haus dan lapar.

Mirisnya, untuk generasi sekarang, 17 Agustus bak tidak memiliki kepentingan apapun lagi. Mungkin sebagian memang masih ingat kalau ini hari kemerdekaan kita, tapi hanya do nothing dan berpikiran begini: Kita sudah merdeka, mau diapakan lagi. Mereka yang demikian sesungguhnya tak menyadari arti penting dari sebuah peringatan. Padahal secara mendasar, peringatan justru merupakan satu-satunya dimensi penghubung antara masa kini dan masa lalu.

Yah, untuk kalian yang berideologi seperti apa yang saya kemukakan tadi, coba dipikirkan ulang, apa ideologi yang kalian pilih untuk lakukan ini adalah yang benar? Tentunya bukan ‘kan?

Setidaknya saya beruntung, beberapa tahun belakangan seorang sahabat saya, bokap saya, seorang guru saya disekolah dan beberapa pelajaran favorit saya menyadarkan saya mengenai seberapa teguhnya tugu nasionalisme seharusnya. Tapi tugu yang hampir roboh itu hanya bisa ditegakkan oleh kekuatan bahu-membahu dan semangat gotong royong dari seluruh rakyat negeri ini. Sayangnya lagi, kekuatan tersebut hanya berlaku kala rakyat itu demikian mencintai negerinya, dan untuk menemui mereka yang berideologikan demikian, sulitnya tak ubah menangkap teri di air berlumpur.

Mereka, yang banyak menyadarkan saya tadi, begitu banyak memberi tahu saya dan menjadi tempat bagi saya untuk bertukar pikiran soal cinta terhadap negeri ini. Mereka membangun kesadaran pada diri saya dan menumbuhkannya dengan subur, kesadaran jikalau sedianya memang telah begitu banyak yang negara ini berikan untuk warganya dan adalah tugas utama seorang warga negara untuk meresponnya kembali, berterimakasih dan melakukan yang terbaik untuknya.

Saya cinta negeri ini, dan saya sadar cinta ini jauh lebih menyejukkan jiwa saya dibanding cinta soal pengalaman pribadi saya yang cukup mengecewakan. Meski masih menduduki peringkat setelah kepada Tuhan dan orang tua saya tentunya. Dan buat pribadi saya sendiri, peringatan tujuh belas agustus tahun ini agak berbeda, atau sangat berbeda mungkin.

Sejak beberapa tahun terakhir, bulan Agustus bertepatan dengan bulan Ramadhan, dan ini tak bisa dipungkiri meminimalisir kemeriahan. Bahkan saya hampir jatuh rindu kepada semarak lomba-lomba dan segala macam parade yang biasanya amat mudah ditemui. Di kali pertama tujuh belas Agustus Ramadhan, mungkin masyarakat banyak yang masih semangat dan optimis dalam menyongsongnya sehingga mereka masih menyemarakannya di malam hari, tapi kian kemari, semangat itu kian memudar.

Lingkungan tempat tinggal saya didominasi oleh dua jenis kelompok masyarakat. Kelompok pribumi yang kebanyakan berada di usia yang tidak produktif lagi, dan kaum pendatang yang sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaan mereka. Anak-anaknya terlalu awam karena tak tahu apa-apa sedangkan para pemudanya begitu acuh soal urusan semacam ini. Inilah kiranya yang membuat saya prihatin soal hari kemerdekaan. Bagaimana mungkin, hari yang sedianya amat sangat mahal ini, hari yang kita beli dengan milyaran kepala, lautan darah dan air mata, serta begitu banyak pengorbanan lainnya selama berabad-abad lamanya kini teronggok tak berharga, teracuhkan begitu saja.

Kian kemari, jarang juga saya dapati rumah-rumah yang memasang bendera. Padahal dulunya? Jangankan rumah, sepeda pun dihias sedemikian rupa dengan berbagai aksesori merah putih kala sudah dekat dengan hari H. Sekarang, liputan di TV banyak yang menyoroti tukang bendera pinggir jalan yang mengeluhkan dagangannya yang tak laku. Padahal, di Amerika saja, yang kemerdekaannya sudah berusia ratusan tahun, the 4th July masih diperingati dengan sangat meriah. Tak hanya oleh warga tua, tapi semua lapisan usia. The 4th July dirayakan bukan hanya di kawasan perumahan, pemerintahan, atau kedutaan-kedutaan besar Amerika di berbagai negara, tapi juga berbagai tempat hiburan, mall, restoran, dan bahkan bar. Tempat-tempat itu menyebar diskon, menyelenggarakan acara besar-besaran, dan berbagai jenis perayaan meriah lainnya. Mereka beranggapan the 4th July bukan lagi hanya sebagai hari libur nasional, atau sekedar peringatan tanpa makna, melainkan momen sekali setahun yang maha penting, yang membuat mereka bersatu diatas segala kemajemukan yang mereka miliki, dan berbangga hati sebagai seorang Amerika.

Jika membandingkannya dengan kondisi di negara kita, agaknya sulit bagi kita untuk melampauinya. Toh di usia negara kita yang masih muda saja, 17 Agustus sudah sedemikian sepinya. Selain upacara sakral di istana negara, apa kita punya agenda khusus lainnya?
Untuk saya sekeluarga, tahun ini kami berkesempatan mengecap 17 Agustus dengan rasa yang agak berbeda. Karena kebetulan sudah dekat dengan lebaran, jadi kami sudah berada di kampung halaman pada hari itu, tepatnya di tanah kelahiran bokap saya, Salatiga, Jawa Tengah. Saya sudah banyak cerita di blog ini soal Salatiga dan kekaguman saya yang luar biasa terhadapnya. Terhadap lansekap alamnya yang memukau, tradisinya, juga untuk yang kali ini, atmosfer nasionalismenya yang ternyata masih amat begitu kental.

Seminggu terakhir puasa, saya sudah mendapati diri saya sampai di kediaman Mbah saya di Salatiga. Disana, tinggal pula seorang sepupu saya yang duduk di kelas satu SMP. Di tempat saya di Cikarang, sekolah sudah diliburkan sesuai dengan kalender pendidikan dan semua kegiatan telah ditiadakan, termasuk Upacara 17 Agustus yang tak dilaksanakan di sekolah seperti sebagaimana harusnya. Tapi disini, semua itu tidak ada.
Di minggu terakhir bulan Ramadhan, kegiatan belajar-mengajar memang telah ditiadakan karena sudah masuk waktunya liburan, tapi mencengangkannya, meski sedang berpuasa sepupu saya yang bersekolah disana tetap datang pagi ke sekolah setiap harinya, lengkap dengan seragam berupa setelan kemeja putih lengan panjang dengan rok sepan selutut dengan warna serupa. Saya tanyai hendak kemana, dan dengan ringan ia menjawab “Latihan upacara Mbak, nggo pitulasan (buat 17 Agustusan).”

Siiiinggg…

Angin dingin serasa lewat lubang telinga saya tanpa permisi. Serius, saya merinding ketika itu. Bayangkan saja, jangankan untuk latihan upacara dalam kondisi berpuasa, untuk mencapai sekolahnya yang terletak di pinggir jalan raya sana saja, medan yang harus dilalui sudah sedemikian sulit dan jarak tempuhnya luar biasa, dan ada satu lagi, jalan kaki.
Pertama, melewati jalan setapak pinggir kali batu yang aliran airnya kering sehingga batu-batu cadas yang besar besar itu siap menghancurkan tubuh dengan sekali hantaman ketika kita lengah sedikit saja dan terjatuh. Melewati jembatan titian yang terbuat hanya dari anyaman bambu selebar 40 cm, licin, dan luar biasa tinggi jaraknya dari dasar kali. Selepas itu, menyebrangi kebun-kebun sayuran warga, ladang kosong yang ditumbuhi penuh rumput gajah setinggi-tinggi orang bule, jalan pematang dari tanah yang licin dan berundak-undak, dan seperti yang saya bilang tadi, jaraknya yang luar biasa. Sebenarnya ada jalan lain yang medannya tak sesulit itu, tapi jaraknya berkali-kali lipat lebih jauh, dan untuk menghemat waktu agar tetap bisa datang pagi, sepupu saya dan kawan-kawannya lebih memilih jalan yang seperti ini. Selesai medan yang berat itu, bukan lantas mereka sampai, mereka harus melewati lagi jalan utama kampung yang panjangnya kurang lebih satu kilometer lagi, lengkap dengan tanjakan dan turunan yang cukup ekstrim tentunya. Tapi kerennya, dengan ringan mereka melewati itu setiap pagi, dalam kondisi berpuasa, hanya sekedar untuk latihan upacara. Dan konyolnya juga, bukan hanya para petugasnya, tapi juga tim obade dan sekedar peserta yang sebenarnya tanpa harus datang latihan pun mereka tetap bisa mengikuti upacara dengan baik.
Alasan mereka sebenarnya cukup sederhana. Latihan upacara bukan hanya soal mencapai kesempurnaan pada penyelenggaraannya di hari H nanti, tapi juga soal berkumpul dengan teman-teman, memperjuangkan keberhasilan mereka bersama-sama, dan menggenggam peranan sebagai seorang siswa yang juga sedang mengabdi pada negara.

Kata yang terlintas di pikiran saya hanya satu; “kereen…” Saya jadi bertanya-tanya apa masih ada siswa seperti mereka di kawasan tempat tinggal saya sana, siswa yang dengan rajinnya, datang ke sekolah tanpa ada ancaman alfa jika tidak hadir hanya untuk latihan upacara. Siswa-siswa di daerah tempat tinggal saya justru seperti pemburu hari libur dan mendadak menjadi zombi ketika menemui hari liburnya, malas bangun dari tempat tidur, menghabiskan waktu untuk bergumul dengan jejaring sosial atau game online kesayangan sepanjang hari tanpa peduli ada apa sebenarnya dibalik hari libur yang mereka nikmati.

Seminggu yang membuat saya tercengang itu akhirnya sudah sampai pada ujungnya, yeah, ujung yang ditunggu-tunggu sama sepupu saya dan kebanyakan orang lain disini. Sore tanggal 16 Agustus, bertepatan dengan rapat golongan muda yang diadakan di gedung bakteriologi Universitas Indonesia 67 tahun yang lalu, bapak saya mengecat ulang rumah Mbah saya berhubung memang karena catnya sudah agak pudar dan ada dua momen besar yang akan datang dalam waktu dekat yakni tujuh belasan dan lebaran tentunya. Dan pekerjaan yang terlihat mudah tapi sebenarnya kuasa membuat tangan anda luar biasa pegal itu berlangsung hingga larut malam. Yaah… bokap saya memang workaholic, atau katanya apabila ditunda besok, yang ada malah berantakan, apalagi ketika anak-anak kecil yang banyak ditemui disini telah mencapai kebangkitan dari tidur nyenyak mereka#bah. Akhirnya, saya pun menemani bokap sambil fb-an hingga larut malam. Tepat ketika pergantian hari pukul 00.00 lewat sedikit, saya menulis sebuah testimoni, ungkapan selamat saya untuk negeri yang tengah mengulang sejarah hebatnya ini. Saya mungkin tak sanggup jadi orang-orang hebat yang berdiri tegap dibalik sejarah kesuksesan disandangnya jubah kemerdekaan oleh negara ini, tapi inilah cara saya berusaha menjadi nasionalis di hari-hari sekarang, saya harap ini pun ada harganya.

Pukul tiga pagi kami dibangunkan untuk Sahur setelah belum genap tiga jam memejamkan mata. Akan tetapi, alih-alih meneruskan berpetualang di alam mimpi seperti biasanya, bokap saya justru mengajak saya untuk ikut dengannya dini hari itu. Selepas sholat subuh di Langgar, bokap saya menyandang jaket dan lantas mengajak saya untuk ikut dengannya keluar rumah, menembus pekatnya kabut dan udara yang luar biasa dinginnya, dan tak lupa adek saya juga ternyata memaksa untuk ikut.

Jika hari sudah siang, mungkin saya nggak akan sanggup menempuh perjalanan yang sedemikian melelahkannya. Jalan desa yang kami telusuri, atau daki tepatnya, memiliki kemiringan yang luar biasa ekstrem. Bokap saya yang mantan pribumi masih bisa bertahan dengan cara jalan dan stamina yang biasa, tapi buat seorang akrofobia, penderita asma, dan non pribumi yang biasanya hidup ditengah terik matahari di dataran rendah dengan tanah datar tak berkontur macam saya, cara jalan biasa sudah jauh dari angan. Jarak yang terpaut antara bokap saya yang menggendong adek saya dan saya pagi itu terpaut cukup jauh. Beberapa kali, saya memaksakan diri tapi tetap lebih sering berhentinya. Semakin keatas, angin yang berhembus semakin kencang dan dingin. Sinar matahari belum nampak berkasnya, meski langit yang sebelumnya pekat telah sedikit demi sedikit beralih menerang. Bintang-bintang masih ada dalam posisinya dan bulan yang berpendar lembut masih setia menunggu pengganti kedudukannya yang sedang dalam perjalanan kemari. Pepohonan di jauh sana menyamarkan keberadaan mereka dalam hitam yang pekat tak tersentuh cahaya, dan belum ada orang lain yang kulihat mendaki gunung sepagi kami sejauh ini.

Dari tempat saya bertahan dalam kelimbungan, bapak saya terlihat menyetop langkahnya. Ia kemudian melangkah berbelok di sebelah sebuah pohon cemara yang sangat tinggi. Dari jarak yang cukup jauh, saya mendengar suaranya dengan jelas “Segini aja cukup.” Tak berapa lama, semangat saya kembali berkobar mendapati garis finish yang sudah ada di depan mata meski jelas sudah pada kenyataannya saya kalah. Tapi ayolah, dengan kualifikasi serendah saya dibanding Beliau, andai kata saya berhasil mendahului beliau, itu berarti bahkan saya lebih dari sekedar menang.

Seretan kaki terakhir saya akhirnya berhasil membawa saya pada pohon cemara tempat bokap saya berbelok tadi, dan diujung  pandangan saya pada setapak jalan yang saya hadapi terbentang tak terlalu jauh dari hadapan saya, saya lihat beliau berdiri di semacam tepian tebing. Ketika itu, matahari sudah berjarak jauh lebih tinggi daripada tadi meski kian kencangnya angin yang berhembus tetap menahan suhu disini untuk tidak mengalami kenaikan sedikitpun. Beberapa kali saya sempat bersin akibat alergi dingin saya yang tak mampu berkompromi dengan kondisi cuaca seperti ini, tapi semua itu terkesampingkan dengan segera ketika saya mendapati apa yang sedang dipantengi oleh bokap dan adek saya dihadapan mereka adalah apa yang luar biasa keren dan belum pernah saya lihat sebelumnya. Yak, matahari pertama di usia Indonesia yang ke 67 ini yang terbit dari balik gunung Merbabu di jauh sana, yang menyiramkan keemasan cahayanya ke semua yang ada dihadapannya dengan sama rata, membuat seketika lembah di bawah tebing tempat kaki-kaki kami berpijak berkilauan oleh siraman cahaya keemasan yang memukau. Permukaan gunung yang berrelief membuat padanya terpeta pola-pola cantik, desir angin, nyanyian serangga malam yang kian memelan, kicau burung dan derit gesekan bebatangan pohon di hutan menciptakan melodi selaras orkestra alam yang mengiringi pertunjukan spektakuler ini dengan sangat imbang dan sempurna. Untuk kali ini, tanpa sebuah rencanapun, tanpa ekspektasi atau dugaan apapun, tanpa ambisi atas perfeksionisme sebuah even, saya menikmati salah satu even paling sempurna sepanjang hidup saya hingga kini, dan kenyataan bahwa ini adalah matahari pertama di 17 Agustus, hari yang spesial untuk saya dan negara saya, membuat entah kata apa lagi yang pantas mendeskripsikannya selain sempurna.

Dari ketinggian saya ketika itu, saya bisa melihat jelas jalan yang saya telusuri, ladang sayuran keluarga mbah saya, rumah beliau, jalan desa yang tak kenal kata datar dan lurus sampai ke sekolah sepupu saya dan jalan raya, bahkan kerlingan lampu di kota Salatiga dan birunya Rawa Pening yang mengintip dari balik perbukitan disekitarnya. Semua itu bisa saya lihat jelas meski hanya dengan ukuran kecil. Dan ternyata ada banyak keindahan lain yang tak saya sadari selama ini, kehidupan pedesaan yang ternyata memiliki sinergi yang luar biasa kuat dengan alam, masyarakat yang awam soal pengaruh luar dan globalisasi ini hidup dengan amat damai, para mantan veteran dan saksi mata perjuangan bangsa disini mewariskan semangat nasionalis dan partriotik mereka pada anak cucunya sehingga terciptalah harmoni ideal yang amat sempurna soal sinergi dari unsur-unsur penyokong utama kehidupan yakni Agama, alam, dan bangsa. Masyarakat desa ini adalah satu, satu kesatuan masyarakat, satu adat, satu paham, dan menjadi satu dibawah naungan alam yang mereka jaga dan lestarikan, dengan nyala api semangat kebangsaan yang besar dan tak kunjung padam.

Sebagai kelanjutan dari latihan upacara yang dilakukan oleh sepupu saya dan kawan-kawannya seminggu belakangan ini, masih dari tempat yang sama, saya melihat kerumunan berseragam yang terlihat sangat kecil itu berjalan menyusuri medan perang mereka yang biasanya, bahkan ketika matahari belum tinggi untuk menyongsong hasil dari kerja keras mereka selama ini, mempersembahkan yang terbaik yang mereka bisa untuk negeri ini. Selepas upacara, makam pahlawan setempat di desa ini ramai dikunjungi oleh entah berapa kelompok berseragam yang membaur dalam satu almamater hari itu saja, almamater sebagai generasi penerus sebuah bangsa yang besar, bangsa Indonesia. Mereka berziarah, berdoa untuk mereka, dan mengadopsi semangat mereka dalam hati dan jiwa mereka masing-masing. Sungguh merupakan sebuah esensi, nasionalisme yang esensi, yang bahkan mungkin tak lagi dimiliki para petinggi yang tak malu jadi parasit untuk negeri ini di atas sana.

Saya ingat, seseorang yang menjadi salah satu dari anak-anak itu dua puluh tahunan yang lalu pernah bercerita kepada saya. Dulu, waktu Pak Harto masih jadi presiden, ada yang namanya AMD, atau ABRI Masuk Desa. Ketika itu, ABRI memang memegang peranan penting dan sangat dekat dengan masyarakat, mereka membangun jalan-jalan desa dan infrastruktur lainnya termasuk untuk desa ini. Waktu itu, kebetulan rumah mbahku yang merupakan sesepuh kampung dijadikan semacam base camp. Hebatnya adalah, ketika itu ABRI dan warga benar-benar tanpa jarak, saling bahu-membahu membangun desa yang dulu bahkan belum dialiri listrik ini. Bokap saya juga cerita, suatu ketika, salah seorang petinggi ABRI datang mengontrol kesana, dan beliau adalah M. Yusuf, salah satu dari ketiga orang yang menyampaikan Super Semar ke Soeharto, dan kerennya bokap pernah jadi salah satu dari bocah SD yang nonton parade kendaraannya beliau, dan melihat beliau secara langsung sambil ngibar-ngibar bendera kecil di pinggir jalan. Itu keren, man. Seenggaknya bokap saya pernah melihat salah seorang penghuni tetap buku sejarah. Haah…

Tapi ada yang jauh lebih keren. Apa? Yakni kesinambungan dari nasionalisme itu sendiri. Ternyata nggak ada bedanya nasionalisme mereka sekarang dan dua puluh tahunan lalu. Pijar-pijar kecintaan terhadap bangsa sendiri itu benar-benar dipupuk, dan inilah hasilnya. Ah, andaikata seluruh anak negeri bisa tumbuh dalam atmosfer seperti ini, pasti keadaan Indonesia tak akan sampai semiris sekarang. Oleh karenanya, saya sebagai salah satu yang pernah menyaksikan pemaparan salah satu nasionalisme ternyata ini, tak rela apabila sentuhan asing apapun mengusik keindahan harmoni ini. Jika dalam dua puluh tahun, nasionalisme bisa mengakar dengan subur disini, maka harus juga untuk dua puluh tahun dua puluh tahun yang akan datang. Anda juga setuju ‘kan?

Dan inilah, tempat ajaib yang menjadi latar dari dari serangkaian penuturan panjang lebar saya diatas.
Pagi mendung, ketika saya mengunjunginya di hari yang lain.


Tuesday, February 19, 2013

Pidato: Membangun Karakter Bangsa dengan Rasa Bangga

Naskah pidato kedua di SMA :D yang sebenarnya dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan ujian praktik. Awalnya saya sempet frustasi, gak ada ide. Sempet mau buat pidato basi yang diambil dari potongan postingan sumpah pemuda tahun lalu di blog ini, tapi gak jadi. Dan akhirnya saya malah inget soal Olimpiade Pancasila waktu itu, dan yah, pas sesi debat, saya dapet kasus soal sampai sejauh mana Pancasila masih menjiwai kehidupan berbangsa negara ini, dan apa yang saya ocehkan waktu itu saya kira cukup untuk dijabarkan menjadi sebuah pidato yang well done lah untuk kelas ujian praktik SMA, haha...

Ini postingan papperwork yang kian lama tak saya update lagi, abis tugas saya jarang yang seru sih -_- kan males juga kalo laporan praktikum fisika dipost disini haha :D

yasudah, ini salah satu pidato tersukses saya lho, dan yeah, saya rasa saya cukup suka berbicara di depan banyak orang :D Semoga bisa memberi inspirasi anda untuk berpidato dan tentunya semakin mencintai negeri ini XDDD




Membangun Karakter Bangsa dengan Rasa Bangga

Assalamualaikum wr.wb.

Yang terhormat Bapak Kepala Sekolah,

juga Dewan Guru dan Staf TU yang saya hormati,
dan teman-teman sekalian yang berbahagia.
Sebelumnya marilah kita haturkan sebanyak banyaknya rasa syukur dan terima kasih kepada Allah SWT, karena hanya oleh rahmat dan hidayah-Nya sajalah pada kesempatan yang berbahagia ini kita bisa berkumpul disini. Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan pidato yang berjudul Membangun Karakter Bangsa dengan Rasa Bangga.

Hadirin yang saya hormati, izinkan saya untuk mengajukan satu pertanyaan. Apa yang Anda sekalian pikirkan tentang Indonesia? Negara Korup? Banjir? Macet? Kesenjangan sosial? Pembangunan yang tidak merata? Ya, itu semua memang benar adanya dan tak dapat kita pungkiri keberadaannya. Namun, apakah semua itu yang ingin diwujudkan oleh pahlawan-pahlawan yang berusaha keras memerdekakan negara ini dulu? Tentunya bukan.

Hadirin yang saya banggakan, kondisi yang sekarang kita temui ada pada negara kita samasekali bukan ciri yang sedianya melekat. Pahlawan-pahlawan di era pra kemerdekaan dulu memberikan kesediaannya, kecintaannya, harta dan nyawanya bukan untuk membeli sebuah negara korup yang terombang-ambing dan secara konsisten terus mengalami kemunduruan. Apa yang mereka pertaruhkan adalah masa depan yang cerah di tengah atmosfer kemerdekaan dimana Indonesia yang mereka impikan bisa tumbuh jaya dengan gotong royong, Pancasila, dan ke-Bhinneka Tunggal Ika-annya.

Hadirin sekalian, ada banyak yang menghambat kita menjadi bangsa yang maju. Dan salah satunya adalah karena kian hilangnya ketiga hal yang tadi saya sebutkan dari bumi Indonesia. Hadirin, Indonesia bukanlah negara Liberal yang mendewakan kebebasan, tetapi bukan pula tirani komunis yang justru menyamarkan kata kebebasan dibalik kata persatuan. Jadi sekeras apapun kita berusaha, kita tak akan pernah mampu maju dengan cara komunis atau liberal. Kita hanya mampu maju di jalan kita, ideologi kita, pondasi terdasar negara kita, Pancasila.

Hadirin yang berbahagia, Pancasila samasekali bukan sekedar pemikiran idealis tokoh bangsa, bukan pula ide yang dicontek dari bangsa lain, melainkan nilai-nilai yang digali dari akar-akar budaya kita sendiri. Pancasila yang sedianya merupakan identitas kita merupakan salah satu hal pokok yang bisa dijadikan tolak ukur mengenai seberapa melencengnya negara kita dari kiblatnya. Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Apa kebebasan memeluk agama sudah terjamin di negara ini? Sudah, tapi ironisnya degradasi moral berbanding lurus terhadapnya. Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradap. Apa pemerintah yang korup dan semena-mena kepada yang diperintahnya masih memiliki sisi kemanusiaan? Ketika Hak Asasi Manusia masih memiliki banyak pendustaan, apa kita masih berkiblatkan kepada sila kedua? Ketiga, Persatuan Indonesia. Ketika dengan mudahnya satu etnis dengan yang lain diadu domba, apa kita masih bisa dibilang memiliki persatuan? Ketika kebanyakan dari kita memilih untuk apatis terhadap kehancuran negara dan bersikap sedemikian individualis, apa kita masih bisa dianggap berorientasikan penuh terhadap sila ini? Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Demokrasi memang sudah berjalan, iornisnya politik uang justru berlari. Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Ketika yang miskin dipaksa berurusan dengan birokrasi yang berbelit-belit sementara yang ber-uang memiliki jalan yang terbentang sedemikian lebar, apa keadilan sosial masih berbicara banyak? Secara konseptual Pancasila memang masih diakui, tapi secara lebih dalamnya, apa Pancasila masih menjiwai bangsa ini? Kita semua tahu jawabannya.

Hadirin yang saya hormati, kemunduran ini tak sepantasnya membuat kita semakin pesimis. Bagaimanapun, memang begini keadaannya dan adalah tugas kita untuk tidak membiarkan semuanya bergeser semakin buruk kedepannya. Oleh karenanya, Hadirin sekalian, izinkan saya untuk mengajukan sebuah konsep sederhana untuk meringankan tugas kita. Samasekali bukan hal rumit, atau proyek yang membutuhkan alokasi dana besar, melainkan hanya sebuah kata sederhana; bangga. Karena hanya dari rasa bangga itu akan timbul rasa cinta dan jika sudah cinta, apapun akan kita lakukan tanpa diminta. Apalagi yang diimpikan sebuah negara selain rakyat yang mencintai dan bangga terhadapnya? Tidak ada lagi. Jika sudah bangga, kita akan mengabdi pada negara tanpa diminta. Jika sudah bangga kita tidak akan mendustai identitas sendiri dan mendewakan bangsa lain. Jika sudah bangga kita tak akan jadi pengkhianat. Jika sudah bangga, tanpa dimintapun kita akan dengan senang hati menggunakan produk dalam negeri. Jika rakyatnya sudah bangga terhadapnya, maka hanya tinggal menunggu waktu bagi sebuah negara untuk maju dan berjaya.

Memang sulit rasanya membangun rasa bangga terhadap sebuah negara berkembang yang korup dan kian waktu kian terbelakang. Tapi coba kita ingat-ingat apa yang selama ini telah negara berikan kepada kita? Sadari bahwa kita sangat beruntung lahir di sebuah negara dengan budaya seplural ini, negara dengan alam subur dan sinar matahari yang tercurah sepanjang tahun. Ingatlah bahwa silsilah keluarga kita berakar disini dan bahwa negeri ini bukan sekedar bumi yang kita pijaki. Ingatlah bahwa ada banyak hal di negeri ini yang tak akan kita dapati dimanapun. Kenanglah bahwa Indonesia pernah memiliki kejayaan yang diperhitungkan di dunia dan kejayaan itu tak boleh hanya tinggal di era Majapahit atau Sriwijaya saja, melainkan harus kita ulang secepatnya.

Sebagai generasi penerus, kita dihadapkan dengan tanggung jawab yang luar biasa besar mengenai memudarnya karakter bangsa dan degradasi moral yang kian parah. Tapi percayalah bahwa kita bisa membawa Indonesia kepada keadaan yang lebih baik kedepannya. Dan meski berat, kita hanya perlu memulainya dengan satu kata; Bangga. Maka saudara-saudara sekalian, mari kita mulai untuk menanamkan rasa bangga itu, hingga suatu hari kita akan benar-benar bisa mewujudkan Indonesia menjadi rumah yang nyaman bagi kita semua dan yang patut diperhitungkan keberadaannya di dunia Internasional.

Kiranya hanya demikian yang dapat saya sampaikan. Saya mohon maaf apabila ada perkataan saya yang salah dan tidak berkenan di hati kawan-kawan semua. Terima kasih atas kesediaan teman-teman untuk menyimak hingga akhir.

Wassalamualaikum wr.wb.

Tuesday, December 04, 2012

Soegija; Sejarah dan Kemanusiaan, bukan Propaganda Katolik






“Kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul, dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya. Semua merupakan satu keluarga besar.”

Beberapa minggu yang lalu, saya menghabiskan sore di rumah teman untuk membuat gambar yang di hari berikutnya akan kami serahkan sebagai seserahan simbolis kepada pihak sebuah universitas yang kebetulan kami lawati. Tapi beruntung, saya segera pulang tak lama setelah adzan maghrib kala itu, karena sesampainya dirumah saya mendapati banyak hal menyenangkan; sepotong rainbow cake  dan film berbau perjuangan rakyat Indonesia semasa kolonialisme. Apa lagi yang lebih sempurna dari ini?

Oke, saya akui, saya bukan seorang movie freak yang siap sedia mengantri di loket bioskop untuk menikmati setiap film terhangat yang baru rilis. Kebanyakan film layar lebar yang saya tonton malah baru sampai di hadapan saya begitu sudah turun kelas dan tayang di televisi. Bukan seorang apresiator yang baik? Ya, maaf kalau begitu. Tapi di kepala saya film bioskop terlanjur identik dengan mereka yang mainstream dan lumrah jadi tontonan manusia seusia saya, ringan-ringan saja, temanya umum, dan saya jujur tidak suka yang semacam itu. Saya lebih seperti semacam seorang pengagum jarak jauh, yang tetap mengapresiasi penuh karya berkualitas anak bangsa meski tanpa berkontribusi apa-apa#plakk. Setidaknya, menulis review semacam ini, salah satu yang bisa dilakukan oleh hanya seorang saya untuk mendukung kemajuan industri film Indonesia. Kita bisa mempersembahkan yang berkualitas, saya percaya itu.

Kembali kepada film perjuangan dan sepotong rainbow cake tadi. Waktu itu awal November, dekat-dekat dengan hari pahlawan, dan mungkin karena itu juga sebuah stasiun televisi nasional menayangkan film tentang seorang pahlawan nasional. Pahlawan nasional itu adalah Monsigneur Albertus Soegijapranata, SJ, seorang uskup pribumi pertama di Hindia Belanda, yang kisahnya diabadikan dalam sebuah film drama epik sejarah Indonesia berjudul “Soegija”.
Atas dasar pengalaman luar biasa yang saya dapat minggu malam itu, saya ingin berbagi sedikit review pada anda sekalian. Sekiranya anda memang belum menonton, atau sedang mencari hal yang bisa membuat anda kuasa menikmati pelajaran sejarah yang hafalannya seabrek dan membelit otak anda, saya merekomendasikan film ini.
***

Sekilas Soegija

Film ini disutradarai oleh seorang sutradara senior—Garin Nugroho—, yang sebelumnya sudah sukses menyutradarai diantaranya Dua Gerbong Satu, Daun di Atas Bantal, dan Cinta dalam Sepotong Roti. Di tangan seorang sutradara kawakan, tentu film yang tayang perdana di Bioskop tanggal 7 Juni 2012 ini sudah diprediksi bakal menjadi sebuah mahakarya yang sukses. Tak tanggung-tanggung biaya oprasional pewujudan film ini pun disinyalir mencapai 1,2 milyar rupiah. Tapi melihat kembali bagaimana apiknya film ini dikemas, biaya sejumlah itu memang dinilai cukup wajar.

Film ini melibatkan berbagai lapisan masyrakat dengan mengambil pemain dari berbagai latar belakang budaya yang beragam. Tak tanggung-tanggung casting pemainnya pun dilakukan langsung di Belanda demi mendapatkan figur-figur yang sesuai untuk memainkan peran sebagai tokoh-tokoh dalam film ini. Film “Soegija” diproduksi dengan format film perjuangan yang menggunakan teknologi modern sehingga sangat nyaman untuk dinikmati, diangkat dari catatan harian seorang Mgr. Soegijapranata SJ, dan mengambil latar Perang Kemerdekaan Indonesia hingga era RIS (Republik Indonesia Serikat) sekitar tahun 1940-1949. Film ini juga menampilkan tokoh-tokoh nasional Indonesia lain seperti Soekarno, Fatmawati, Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sri Paku Alam VIII, Jend. Soedirman, Soeharto, dll. untuk dapat menggambarkan pengalaman nyata seorang Soegija. Film ini banyak menampilkan tokoh-tokoh nyata yang dalam praktiknya difiksikan baik dari pihak Indonesia, Belanda, maupun Jepang—militer maupun sipil— dalam peristiwa-peristiwa keseharian yang direkonstruksi dengan cukup detil.


Sudut Pandang Albertus Soegijapranata sebagai Bingkai Cerita

Film ini berjudulkan nama, tapi bukan sebuah film biografi. Begitulah memang adanya, dan apa boleh dikata, kejeniusan seorang Garin Nugroho-lah yang ada dibalik semua ini. Film ini bukan menerangkan mengenai riwayat kehidupan seorang Romo Soegija tapi lebih kepada bagaimana kisahnya membingkai begitu banyak dan beragam kisah-kisah kecil lain di sekitarnya dengan kapasitasnya sebagai seorang pemuka agama, sekaligus penjujung tinggi misi kemanusiaan yang waktu itu sedang terombang-ambing penuh ketidak pastian.



Mulai dari kisah Lingling (Andrea Reva), yang merupakan seorang gadis kecil etnis Tionghoa Semarang yang ibunya menjadi korban kekejaman Jepang. Bagian kisah ini sedikit memroyeksikan pandangan kita kepada istilah fujinkau, perempuan-perempuan—kebanyakan dari etnis Tionghoa— yang diculik lalu dipekerjakan paksa sebagai pemenuh kebutuhan biologis serdadu-serdadu Jepang yang kerap kali diperlakukan diluar batas kemanusiaan. Beruntunglah kisah ini berakhir melegakan —dengan sedikit suntikan nilai Katolik— Lingling dipertemukan kembali dengan ibunya selepas berdoa untuk itu bersama Mariyem.



Lalu ada juga kisah dua orang pemuda Belanda, yakni Robert (Wouter Zweers) dan Hendrick (Wouter Braaf)—yang membuat seorang teman saya tergila-gila pada film ini, dan jujur sebenarnya saya juga#bah— yang karakternya luar biasa berlawanan. Robert adalah seorang yang ambisius, keras dan bagaimana, ya? Pokoknya abstak lah, hampir setengah physco begitu. Ia selalu berambisi menjadi seorang penakluk dan mesin perang yang hebat namun akhirnya tersentuh setelah menemukan bayi tak berdosa yang mengingatkannya untuk kembali pulang, membuatnya rindu pada ibunya, membuat setidaknya sisi manusiawinya kembali.



Lain halnya dengan Hendrick, seorang dokumentator yang menemukan cintanya ditengah perang. Cinta yang tak kuasa ia miliki juga —karena perang— kepada seorang gadis pribumi, Mariyem (Anissa Hertami). Mariyem sendiri adalah seorang translator yang kerap membaca puisi-puisi buatan serdadu-serdadu Belanda di sebuah usaha percetakan milik kerabatnya yang kerap kali melecehkan martbat perempuan pribumi. Salah satu hal yang akhirnya membuatnya semakin membenci penjajah namun tak bisa ia pungkiri cintanya nyatanya berlabuh pada salah satu dari mereka, meski sebenarnya sosok Hendrick samasekali tak seperti mereka. Wajar saja Mariyem luluh karena sesungguhnya Hendrick adalah sosok soft hearted, 180 derajat berlawanan dengan Robert. Mereka berdua hanya sama-sama terjebak dalam perang, itu saja. Mereka samasekali tak mengharapkan ini, terutama karena inilah, kisah cinta mereka tak bisa saling memiliki. 



Andaikata saya yang menyutradarai film ini*bah* mungkin saya akan lebih menyoroti kisah ini sebagai kacamata sejarahnya. Ya, jadinya mungkin akan lebih seperti Titanic atau Pearl Harbor, romansa di tengah perang begitu hahaha… berhubung saya memang seorang yang lebih menganut aliran yang sentimentil semacam itu. Karena buat saya, dengan begitu kita akan dapat meresapi cerita tanpa perlu berusaha, bahkan tanpa perlu diminta, cara tahu yang jauh lebih nyaman untuk dinikmati.



Kisah yang tak bisa di pisahkan dari film ini jugalah tentang Pak Besut dan microphone-nya. Narasi sejarah yang beliau sampaikan yang sebenarnya merupakan skenario sebuah siaran radio sesungguhnya merupakan sebuah narasi sejarah yang amat menggelora. Mungkin kalau beliau mengisi narasi pengantar pelajaran sejarah di sekolah, tak ada yang bakal mengantuk jadinya. Benar-benar representatif terhadap siaran radio perjuangan yang sebenarnya yang memang dimaksudkan untuk membakar semangat juang gerilyawan-gerilyawan kita.

Selain Pak Besut dan microphone-nya ada juga Soegito dan orkestra mininya yang mengetuk hati seorang Nobuzuki (Suzuki) dengan Bengawan Solo-nya. Juga cerita tentang anak-anak yang terpaksa tumbuh dalam perang, yang justru membawa kesegaran dan tawa kedalam film ini dengan tingkah mereka yang memaksa saya tertawa sampai keluar air mata. Apalagi adegan yang ini; "Prajurit itu kudu iso moco, tusuk A!" wkwk... koplak sumpah!


Bukan Bentuk Kristenisasi

Benar memang kalau beranggapan bahwa film ini diproyeksikan kedalam latar yang berbau Katolik. Dari ceritanya saja, mengisahkan kehidupan di sekitar gereja dengan bingkai cerita berupa kronik seorang Uskup pribumi. Mayoritas tokohnya pun berlandaskan iman yang sama, namun unsur Katolik yang anda temukan dalam film ini tidaklah sekeras espektasi anda ketika melihat teaser-nya tanpa suara yang banyak menampilkan setting-setting altar sekitaran Gereja.

Film ini sebagaimana yang dipaparkan oleh sebuah ungkapan seorang Mgr. Soegijapranata sendiri yang membukanya, adalah mengenai kemanusiaan. Film ini juga tak bermain dengan emosi. Ini bukan semata film yang menyoroti sebuah kisah sebagai kacamata sejarah semacam Titanic yang beraliran Romantis-Sentimental. Kisah semacam Titanic sangat melibatkan emosi karena kita disuguhkan sebuah cerita dimana kita akan sangat mendalami karakter tokoh utamanya. Sedang dalam “Soegija” kita tak diperkenankan mendalami karakter tokoh manapun. Kita hanya sekedar dikenalkan, diperbolehkan untuk sedikit mencicipi tanpa bisa terlampau jauh menikmati. Namun dari sanalah, film ini justru menuntut pengertian kita sendiri untuk mendalami nilai kemanusiaan secara murni.

Kurang lebih, karena itulah saya tidak setuju jika film ini dianggap sebagai Kristenisasi. Karena saya sempat dengar desas-desus film ini hendak di boykot karena mengandung unsur Kristenisasi. Pertama, Kristen, atau Katolik dalam hal ini, adalah salah satu agama yang diakui secara resmi di negara kita. Toh tidak sepantasnya jika film ini harus menuai protes hanya karena mengatasnamakan kaum minoritas. Yang kedua film ini jelas hanya ‘bernuansa’ bukan ‘bernafaskan’ Kristen. Kreator dan orang-orang yang terlibat didalamnya pun banyak yang merupakan budayawan, orang-orang yang umumnya memandang dunia dari sudut pandang mereka yang idealis, bukan mendukung atau bahkan berkiblatkan pada sebuah norma atau ajaran tertentu. Dari pada soal agama, film ini menurut saya lebih mengisahkan segi budaya. Bagaimana dengan anda? Segera simpulkan setelah anda menontonnya.

“Soegija” adalah sebuah kisah yang sudah baik sebagaimana adanya. Sudut pandang yang ditampilkan disini adalah yang menjadi unggulannya. Bagaimana seorang Uskup yang notabene adalah seorang pemuka Agama yang mayoritas dianut justru oleh golongan penjajah ini menghadapi peliknya suasana peperangan. Suasana yang mengharuskan dirinya menjadi teladan, sekaligus jajaran orang-orang yang semestinya pertama berkorban. Suasana yang menempatkannya dalam posisi yang sulit ketika dalam waktu yang sama dia harus membela hak umatnya sekaligus menolong mereka yang membutuhkan pertolongan, tanpa memandang mereka dari sudut manapun sebagaimana yang ia katakan bahwasanya ‘Kemanusiaan adalah Satu’.

***

Penasaran karena ocehan yang saya sampaikan diatas terlalu konyol dan berputar-putar? Tontonlah sendiri hohoho~

sebenarnya saya berniat menampilkan teasernya disini, tapi sayangnya belum bisa karena suatu masalah teknis. Tapi pemaparan saya diatas sudah cukup gamblang tentunya untuk ukuran sebuah review yang tak dilengkapi teaser~

Mungkin di lain kesempatan akan saya lengkapi.

Oh, iya! Adegan favorit saya yang tertayang disini adalah ketika Hendrick ke Hotel Asia dan dia nyanyi Als de Orchideeën Bloien bareng ibu-ibu resepsionis hotel yang nyanyi versi bahasa Indonesianya (Bunga Anggrek) dan ngiringin nyanyiannya Hendrick pakek Kentrung. HUAAHHHH XDD



Dan seperti biasa, sebuah soundtack untuk menutup sebuah review. Kali ini saya berikan salah satu yang sangat spesial untuk anda, cukup romantis kalau menurut saya.


Als de Orchideeën Bloien

Bunga Anggrek

Als de orchideeën bloeien
Denk ik steeds terug aan jou
Dan denk ik aan de zoete tijden
Hoe ik zoveel van je hou
Als de orchideeën bloeien
Ween ik vaak van liefdesmart
Want ik kan niet bij je wezen
g’lijk weleer, mijn lieve schat
Maar nu ben je van een ander
Voorbij is de romantiek
Kom toch terug bij mij weder
Jou vergeten kan ik niet
Als de orchideeën bloeien
dan denk ik terug aan jou
Denk toen aan die zoete tijden
toen je zei: Ik hou van jou

Artinya kurang lebih mengisahkan tentang perpisahan karena cinta yang tak bisa memiliki. Seorang gadis yang merana ditinggal kembali pria yang dicintainya ke negeri asalnya ktika perang usai. Lagu ini klop banget sama ceritanya Hendrick dan Mariyem, terlebih dari sudut pandang seorang awam perfilman seperti saya yang berusaha menikmati cerita ditengah segala keterbatasan kepekaan yang saya punya. Meskipun romansa dalam film ini hanya sekedar selentingan, tetap inilah yang membuat saya jatuh cinta.