Trending Topics

.

.
Showing posts with label Stories. Show all posts
Showing posts with label Stories. Show all posts

Tuesday, December 01, 2015

IPK

Belum lama ini saya liat video di yutup, isinya kisah horror seorang pengejar IPK. Dari momen-momen kayak gini, saya percaya kalo hidup itu ada yang ngatur. Belakangan ini, paradigma semacam ini lagi melanda saya juga, dan ternyata masih saling sambung sampai saya lihat video tadi. Mungkin jadi semacam kasus yang cluenya lagi loading satu persatu. Kalo liat pandangan umum di medsos, rasanya, perbedaan paling mencolok dari kuliah dan sekolah adalah diinginkan dan tidak terlalu diinginkannya sebuah nilai. Kalo di sekolah, orang tua dipanggil pas bagi rapot. Yang dilihat apa? Nilai. Bahkan di film Sang Pemimpi, ada cerita kalo tempat duduk orang tua pas bagi raport disesuaikan sama peringkat anaknya. Intinya, what makes them proud are grades, bukan yang lain. Atlet sekolah yang kebanyakan dispen, juara setinggi apapun, dianggap cuma modal otot gak modal otak.

Keadaan berbalik ketika masuk kuliah. Entah gimana ceritanya, nilai gak terlalu menghibur. Apa karena luasnya dunia kampus atau labilnya usia setengah remaja setengah dewasa, prestasi lain diluar IPK dianggap lebih precious. Kalo di sekolah, kita tahu banget lah gengsinya anak sekolah swasta di lomba-lomba akademis kaya apa dibanding anak-anak yang nyambi jualan dan nilainya pas-pasan. Apakah ada semacam pembalikan, momen balas dendam, karma, atau apa, yang jelas cobaan bagi para pengejar nilai, derajat kalian turun.

Waktu SD, elit kali balap-balapan nilai sama temen. Pas SMP guru BK bilang boleh pacaran kalo nilainya jadi tambah bagus, dan seterusnya. Tapi hanya dalam satu dua tahun, indikator ini gak berlaku lagi. Ada segala macam sukses diperkuliahan. Ada sukses bisnis, sukses pimnas, sukses organisasi, sukses politis, sukses pacaran, dan masih banyak lagi. Sukses akademik cuma sukses kecil, nyempil tak terlihat diantara yang lain.

Yang kerap kali disandingkan sebagai tandingan sang nilai kognitif adalah softskill. Softskill itu semacam kualitas diri, kecakapan tak tertulis, tapi does meaningful in real life. Contoh softskill misalnya leadership, self-management,  kemampuan problem solving dan lain sebagainya. Dua hal ini kerap dianggap tak bisa berjalan beriringan, jadi ketika IPK kamu super, softskill kamu jelek, dan sebaliknya ketika softskill kamu bagus, pasti IPKnya gak bagus-bagus amat. Asumsi ini nyata tumbuh subur di masyarakat, dan menurut saya, ini mengerikan.

Ceritanya gini, saya anak 19 tahun yang masih sangat tidak dewasa, sedang kebingungan perihal ini. Saya tumbuh dengan anggapan bahwa berpassion adalah impian saya. Hidup dengan menekuni sebuah kesenangan adalah target masa depan saya. Oleh karena itu, saya meninggalkan hidup dalam usaha mengejar ranking 1 selepas SD. Saya sadar, kesempurnaan yang bisa saya usahakan mencapai puncaknya ketika itu. Nilai UN SD saya menegaskan bahwa kebodohan saya dalam hal hitung-hitungan sudah terdeteksi cukup parah. Matematika di SMP dan SMA semakin sulit, dan saya akan segera masuk ke SMP yang menyatukan saya dengan mantan-mantan rival di berbagai lomba ketika SD. Para rival yang banyak mengalahkan saya dengan menyedihkan. Ketika itu saya pikir, saya berhenti mengejar ranking 1.

Kekalahan itu pahit, dan saya sudah lama belajar tentang hal ini. Saking pahitnya, saya agak parno sama kekalahan. Akibat keparnoan ini, saya tidak terlalu kompetitif. Premis lain ada pada kesungguhan dan fokus. Saya sadar kalau fokus itu penting dalam sebuah lomba calistung ketika kelas 3 SD, konsen saya buyar karena asyik memandangi sebuah penggaris baru, dan tarra, saya tidak lolos seleksi kecamatan. Ketika SMP, ibu saya melarang saya masuk OSIS karena khawatir sekolah saya akan terganggu. Seolah mengamini hal itu, saya setuju tanpa banyak advokasi karena pada dasarnya saya memang sulit merasa nyaman dengan hal baru. Meski begitu, saya mengasosiasikan seorang pengejar nilai dengan kesempurnaan di segala bidang. Saya pikir saya berbeda, saya tidak seperti itu, karena saya tidak ingin menguasai segala bidang.

Semenjak SMP, saya menanti-nanti pelajaran favorit saya. Saya tentu ambisius dan berusaha keras di dalamnya, karena saya suka. Bagi saya, kalah di bidang lain tidaklah memalukan, tapi ia jadi pahit ketika terjadi di bidang yang saya sukai. Tapi diantara dorongan yang ada, dorongan dari rasa suka dan kesenangan memiliki spesialisasi lah yang saya nikmati. Pola seperti itulah yang terjadi sampai saat ini.

Rasa syukur saya sangat besar ketika diterima di jurusan yang saya geluti sekarang. Tidak ada penyesalan atau keraguan sedikitpun ketika itu. Tiap semester rasanya seperti berperjalanan jauh. Kisah demi kisah terbuka dalam alur yang total, tidak terputus-putus sebagaimana ketika di sekolah dulu. Bagian paling menyenangkannya, sejarah tak hanya jadi pemanis 40 menit di penghujung minggu dan sering kosong, tapi whole week, 24 SKS!
Berdasarkan kisah indah itu, otomatis yang ada adalah euforia dan euforia. Di penghujung semester pertama, nilai saya keluar belakangan. Ketika teman-teman SMA cerita soal IPK, saya hanya terdiam. Perasaan saya iri mendengar kata 3,7; 3,6;3,8. Saya tidak berharap banyak mengingat bagaimana mindblow mengacaukan kerangka rapuh yang telah saya bangun sejak SD dan menggantinya dengan yang baru. Sementara itu, kerangka barunya sangat asing, sulit dimengerti, bergerak sangat cepat dan banyak menuntut. Saya hanya berpikir bahwa saya telah sangat terhibur oleh prosesnya, mengapa saya harus serakah dan menuntut semua hal kepada saya? Apapun nilainya, yang penting saya menjadi lebih baik dari yang lalu, yang penting saya tahu apa yang sebelumnya tak saya tahu.

Di luar dugaan, IPK pertama saya cukup menghibur. Ketika sudah begini, hadiah tambahan ini dan hadiah yang sesungguhnya bergabung menjadi candu bagi saya. Antusiasme demi antusiasme terus mewarnai semester-semester selanjutnya. Semester yang paling saya nikmati, semester tiga, mencatatkan rekor tertinggi. Menurut saya ini bukti lain bahwa ‘perasaan menikmati’ dan hasil berjalan beriringan. Rasanya seperti saya telah menemukan apa yang selama ini saya cari-cari. Entah kesombongan dari mana, tapi menurut saya waktu itu, ketika mengerjakan tugas, saya menemukan diri saya bekerja dengan passion sebagaimana yang saya impikan sejak dahulu.

Di atas langit masih ada langit, dan selama kita masih hidup, semakin tinggi kita, yang kita rasakan adalah semakin panasnya matahari, bukan semakin sejuknya surga. Saya percaya kalimat itu. Mungkin ini alasan mengapa sombong itu dilarang. Di balik perasaan menyenangkan ketika dagu perlahan naik, literally or exactly, ada hati hati lain yang terluka, ada penyesalan di masa depan ketika kita terpaksa harus menelan kesombongan kita sendiri dengan kegagalan lain. Saya pikir selama ini saya hanya senang, tapi mungkin secara tak sengaja saya telah menjadi sombong. Mungkin orang-orang lain ada yang terluka oleh kesombongan itu. Maka beginilah manusia ini akhirnya terpukul lagi. Memang sih, orang lain diciptakan bukan hanya untuk mendukung, tapi juga menantang. Orang lain yang berbeda raga, jiwa, dan riwayat dengan kita sangat mungkin tidak mengerti apa yang kita percaya, sangat mungkin menganggap salah apa yang kita yakini benar. Namun demikianpun saya tahu, sulit untuk bisa menerima, dan semacam perasaan terpukul pasti ada.

“Gimana sih caranya biar IPK tinggi?”

Buat saya itu bukan pujian. Jawaban yang saya berikan pun akan terdengar sangat naif jika hanya “Suka”. Persoalan passion dan menikmati itu sangat pribadi, jadi orang lain tidak akan mengerti. Jadi itu tak terlalu menghibur.

Di sisi lain, ketidakbecusan saya dalam berbagai hal memang menyebalkan. Dalam sebuah agenda yang menuntut pergerakan, apa gunanya siput diantara rombongan kepiting? Saya sulit mengikuti, saya tidak mengerti banyak hal, dan saya tak terlalu berguna. Saya sulit berkomunikasi dengan orang, terutama merasa nyaman dengan komunikasi itu. Saya juga sulit melakukan hal-hal yang tidak biasa saya kerjakan. Terbukti sekali kan, kalau softskill saya lemah? Kejadian ini seolah mengamini teori IPK tinggi = lemah softskill. Teman kerja saya juga sempat marah dan bilang kalau saya harus kerja sebelum lulus supaya saya tahu bahwa dunia luar itu bukan soal akademik. Otomatis saya terpukul sama kata-kata itu. Di saat-saat itu saya kehilangan kepercayaan. Jangan-jangan benar kalau selama ini saya bersenang-senang dalam wacana. Bahwa apa yang saya percayai betul-betul naif dan saya hanyalah seorang pengejar nilai.

Saat kepercayaan saya kembali, saya membenahi masa lalu saya dalam sudut pandang yang sebelumnya. Saya seorang pecandu, bukan pengejar. Nilai itu hadiah. Tapi memang betul bahwa ada prioritas tinggi yang saya letakkan pada persoalan akademik. Betul juga bahwa saya seorang introvert yang takut dunia luas. Bahwa buat saya kenyamanan nomor satu dan sulit untuk tidak bergantung pada hal itu. Saya telah lama belajar artinya fokus. Saya telah belajar bahwa orang-orang punya potensi yang sama untuk berkembang di bidangnya masing-masing, dan sesuatu yang diasah secara kontinyu dalam waktu lama akan membuahkan hasil. Waktu masih kecil, sayamenangis hanya dengan mengupas bawang, tapi sekarang saya bisa mengupas dan mengiris semangkuk bawang tanpa air mata sedikitpun. Saya tak tahu apa-apa soal eksekusi acara, teknis pelaksanaan, dan berkomunikasi dengan banyak orang karena saya tak terbiasa dengan itu. Saya tak punya pengalaman yang mengajari saya soal itu. Begitulah proses bekerja. Kita belajar dari pengalaman, dan dari sanalah kita semakin baik. Rangkaian pengalaman akan membentuk spesialisasi, dan apabila kita selalu memilih berdasarkan kata hati, itulah passion. Mungkin terdengar seperti iklan rokok, tapi seperti itulah saya bekerja.

Sedikit banyak, apa yang terjadi belakangan menakuti saya. Saya khawatir bagaimana dunia akan menampilkan wajahnya pada saya selepas lulus BA nanti. Apakah akan ada yang memberi saya pekerjaan, apakah saya akan tertelan oleh idealisme iklan rokok yang saya pegang, atau apakah kenyataan selalu semengerikan yang diceritakan teman saya, semua itu semakin dipikir semakin menciutkan diri. Saya juga tak punya banyak rencana. Tapi pilihan terakhir tetap akan saya jatuhkan pada kebiasaan lama saya, berusaha untuk waktu dekat, pelan-pelan saja, jangan lupa menikmatinya, dan mungkin dengan sedikit tambahan: belajar terbuka.

Mungkin buat kalian, tulisan ini hanya pembelaan seorang pengejar IPK, tapi bagi saya bukan. Saya tidak akan memberikan apa saja untuk nilai, tapi betul jika bagi saya, urusan akademik, urusan dalam bidang yang saya sukai ini adalah prioritas. Saya bukan orang yang skipping class karena kelelahan oleh banyak organisasi. Saya tidak ambil banyak, tapi kalau saya ikut kegiatanInd ekstra, cuma diri saya yang bisa dikorbankan karena itu pilihan saya. Lelah itu risiko tapi semuanya harus berjalan karena tanggung jawab itu nilainya tinggi.


Monday, August 10, 2015

Sisa Perjalanan



Teman-teman, hati selalu punya ruang. Anak muda seharusnya memang progresif, mengingat fungsi tubuh sedang dalam kondisi terprima. Pada masa-masa ini para atlet mendapatkan medali terbanyaknya, dan seorang yang duduk di kelas dalam gedung berpendingin ruangan mendengar ceramah professor yang mengaku intelektual ini patutnya berkarya. Orang lain sesama pemuda telah sampai di tanah-tanah asing, telah mengukir nama yang harum dalam kejuaraan-kejuaraan besar, dan telah membuat orang terdekat kenyang oleh rasa bangga, tapi apalah diri ini. Seorang yang belum menemukan diri menghasilkan suatu yang berharga. Seorang penghabis waktu dan biaya, tidak produktif luar biasa.

Diantara tugas-tugas wajib, kesenangan hati selalu jadi prioritasnya. Kali ini, setelah ia melakukan perjalanan ini, nampaknya paham yang terlalu SMA itu telah terlalu usang untuk tantangan di dunia barunya. Ia beranjak ke semester tua, masih dengan tangan hampa kecuali deretan nilai di transkrip. Waktunya hanya berputar di orang-orang sekitar, hobi, dan ketidak disiplinannya. Dasar anak manja.
Antara panitia dan calon peserta tak pernah ada komunikasi apapun, bahkan dalam bentuk kontak batin sekalipun. Birokrasi di tanah berisi ratusan juta orang ini sering kali terlalu panjang dan berbelit. Sementara itu waktu adalah makhluk paling konsisten di muka bumi. Kalau menurutmu deadlinenya terlalu singkat, itu cuma self excuse para pecundang. Kau bukan seorang pengambil kesempatan.

Sebetulnya Tuhan Maha Pemurah. Bahkan di dalam duniaNya yang orang bilang kejam ini, setiap manusia akan berkembang sesedikit apapun usaha yang ia lakukan. Minimal manusia tahu caranya menyuapkan makanan ke mulutnya, maka makanan-makanan itu akan sampai pada sel-sel yang terus berlipat ganda. Tubuh berubah dan tantangan dengan tanpa disadari juga bertambah. Dengan kekuatan lebih, seorang anak berusia 7 tahun harus berjalan kaki ketika ibunya hanya sanggup menggendong adiknya yang berusia 3 tahun. Apakah itu tantangan? Rasanya terlalu sederhana untuk menyebut keterpaksaan untuk berjalan kaki dalam lelah selagi si ibu tak sanggup menggendong dua anak sebagai tantangan. Akan tetapi lama kelamaan, anak 7 tahun itu akan jadi seorang kakak yang bukan hanya kuat, tapi paham posisinya, mengerti arti pengorbanannya, dan menyayangi adiknya. 

Dalam kesempatan lain, untuk menjadi murid yang pandai, anak 7 tahun itu harus mengambil kesempatan memperhatikan apa yang di ajarkan guru di setiap kelas tanpa melewatkan sedikitpun. Pun untuk masuk tim sepak bola anak kabupaten, ia harus rajin berlatih sebelum audisi dilakukan. Ada lebih banyak usaha yang dituntut kesempatan-kesempatan semacam itu. Masalah yang ditimbulkan jika kalian tidak mengikutinya pun tidak akan besar. Nilai sekolah kalian akan tetap bagus meskipun kalian tak ikut lomba-lomba ke luar. Dan kalian akan tetap naik kelas sekalipun duduk di tengah, dan kadang luput dari penjelasan guru di depan kelas selama kalian rajin masuk dan mengerjakan tugas. Tapi ketika ada orang-orang lain yang mengambilnya, jangan harap mereka akan dengan murah hati setia menunggu kalian sampai saat terakhir. Mereka akan melesat, jauh, sampai tak terlihat lagi. 

Dunia yang kecil tak akan berubah terlalu banyak. Teman akan tetap baik, keluarga akan selalu ada dan membanjiri diri dengan kasih sayang. Tapi di dunia yang lebih besar, akan ada banyak orang yang kontradiktif denganmu. Ada mereka yang konsisten dengan sikap diri yang tak kau sukai. Ada banyak kekalahan dibalik satu dua kemenangan maha manis yang menggetirkan hati. Di kali pertama kedua mencoba, rasanya dunia seperti meninggalkanmu sendirian. Ketika tak bisa mengatasi, kita seringkali akan berlari dan sembunyi. Dunia tak akan melihat kita lagi sebelum kita bisa tersenyum dan beramah hati. Selamanya mereka akan mengingat kita sebagai orang-orang yang ditimpa bayangannya sendiri. 

Soal semua itu, aku baru merasakannya kali ini. Selama ini zona nyaman telah membuat cahaya luar terasa sangat menyakitkan. Segalanya asing, keras, dan membuat diri tak nyaman. Namun dibalik keputus asaan, dengan segala kuasanya Tuhan datang dengan pertolongan. Dunia akan indah tanpa didoa. Di ujung jalan kita akan sampai pada rasa syukur yang meluap. Dunia tidak sekejam yang kita kira. 

Di perjalanan itu, ada sisa yang manis. Sejengkal dunia telah masuk ke pengembaraanku lagi. Mungkin akan butuh waktu lama sampai jengkal demi jengkal merengkuh seluruhnya dalam dekapan, tapi biarlah ini menjadi proses yang baik. Aku terlambat memulai memang, tapi ada angin kontemplasi yang kubawa dari sini. Untuk menerjunkan diri ke dunia yang luas, aku butuh lebih banyak berlatih. Berhadapan dengan orang-orang baru memang terlalu membuat langkah seringkali terasa salah, dan aku masih sulit mengatasi ini. 

Takdir adalah skenario Tuhan yang rahasia. Dalam setiap hela nafas, tindak tanduk, dan keputusan, tak pernah ada yang pasti tahu apa yang akan didapatkannya. Tesis hanya buah pikir khas metodologi Eropa. Nyatanya masih banyak hal tak bisa di rumuskan. Masih terlalu banyak anomali dalam serangkaian dalil seorang ilmuwan. Manusia begitu kecil. 

Dalam tiap kesempatan aku tak tahu akan bertemu siapa. Seringkali diri ini ingin seluas-luasnya membuka hati. Tapi perasaan dengan segala spekulasi anehnya kerap kali mengambil kendali. Diam, melewatkan banyak hal, merasa salah tanpa meluruskannya, dan aku pun kehilangan banyak hal. Di perjalanan kali ini aku punya banyak hal untuk dikatakan setelah aku sampai di rumah dan merenung. Sayang tak sekata pun sampai padamu di waktu kemarin.

Adakah aku harus seperti mereka? Sayang sekali, sepertinya itu sangat bukan diriku. Aku bukan siapa-siapa. Apa pantasku untuk banyak-banyak angkat bicara. Mungkin diri ini terlalu banyak berkomentar termasuk pada diri sendiri daripada bertindak. Tapi mengertilah, tolong, meski tidak mungkin. Aku ingin tanya beberapa hal, memulai percakapan kecil, dan bertemu serta berpisah dengan wajar denganmu, tapi aku hanya seorang pemula. Mungkin ada banyak tindakku yang berbeda arti di depanmu, tapi maksudku tak pernah buruk. Aku senang hati mengenalmu, hanya saja sulit untuk menafsirkannya dengan benar. 



Selamat memulai hidup yang biasa lagi. Aku harap kita bisa bertemu lagi, dengan suasana yang mungkin lebih baik, nanti.



Monday, July 27, 2015

Selamat Ospek

 Nikmati aja, yg jadi favorit saya di saat seperti ini kebersamaan keluarga akan teruji~

Sekali lagi, selamat ospek, semoga menyenangkan~


Sunday, March 15, 2015

MENULIS




Konon, sebagaimana yang dikatakan semua mahasiswa sepuh di jurusanku, Pram, sang kiri, sang Indonesia tunggal yang berkali-kali dikandidatkan jadi peraih nobel sastra itu, dalam suatu situasi yang entah bagaimana, dalam sadar atau mabuknya, pernah berkata yang kira kira maknanya, seorang akan hilang jika tidak menulis. Beberapa bulan terakhir, di sisa lowong satu buku batas maksimal kuota pinjam di perpus fakultas, kerap kali kuisikan novel Pram. Dan benar, dirinya, dalam sosok seorang aneh bernama Minke, dengan pergaulan dan segala diskusinya dengan teman-teman dan guru-guru kehidupannya: Nyai Ontorosoh, Komer, Jean Marais, dan dirinya sendiri, menyajikan epik yang sesekali berkesimpulan bahwa seseorang akan bisa bersisa di tengah arus perputaran zaman hanya dengan menulis. 

Semacam sebuah pembaruan besar, karena sebelumnya, Descartes mengatakan hanya perlu berpikir untuk ada. Dengan campur tangan zaman, kemajuan ini itu dan perubahan segala macam, berabad setelahnya, Pram bilang harus menulis. Barangkali berabad lagi harus membuat film. 

Maka dari itu, sebelum semakin rumit prasyarat sekedar pelepasan ganjalan batin ini, aku ingin mencukupkan diri malam ini dengan menulis. Semasa penuh tekanan di SMA, menulis adalah obat hati. Sederhananya, mungkin sekedar dalam bentuk yang orang bilang diary. Tak tahulah apa kata itu berhubungan lebih dekat dengan kegiatan harian atau susu-persusuan. Yang jelas begitulah yang kukenal selama ini. Tapi tulisan harian yang secara tulus berusaha meringankan beban hati, mendokumentasikan juga menggali tanya dan gundah tak terjawab, merekam situasi-situasi lokal yang sejaman akan sangat berharga, jauh daripada sekedar curahan hati yang biasa dibayangkan tertulis dalam sebuah diary. Dulunya kupikir ini bentuk baru. Akulah sang revolusioner dalam diary-mendiary. Tapi tulisan Minke, Max Tollenaar,  yang dia kirim ke kantor Nijman, yang bercerita baik soal Nyai, Robert, maupun Truno, tak lain juga pengamatan dan refleksinya terhadap kejadian di kesehariannya kan?

Sekarang, ketika otak dan segala perangkat alat gerak ini bisa fokus difungsikan hanya untuk membaca, berpikir, dan menulis, luput perhatianku pada obat hati yang selalu setia itu. Jika dalam tekanan sedemikian rupa untuk mengerjakan tugas ini itu yang tak kumengerti dan kukehendaki samasekali waktu itu aku bisa selalu sempat untuk menumpahkan kegelisahan dalam tulisan, mengapa tidak untuk masa-masa indah ini? Barangkali segala yang berubah membuat struktur dalam kehidupan, berkenaan soal kesenangan dan penghiburan juga berubah. Ini yang aku takutkan selalu dari sesuatu yang berubah. Aku harus mengerti dan menaklukannya lagi. 

Pandanganku sekilas menyapu koleksi buku-buku yang kupuja semasa SMA. Ketika oasis begitu kering soal baca-membaca yang topiknya kusukai. Tapi buku-buku itu kini berjajar di rak tanpa menjadi lebih istimewa dari yang lain. Tak ada buku penuh angka kecuali statistik dalam pemaparan sejarah ekonomi. Semua bukuku hampir soshum. Ladang subur, mahligai perak, istana yang kuimpi dalam perjuangan di ambang batas kesanggupan kala itu. Mengapa saat ini mereka perlu terstratifikasi?

Ada yang menyenangkan serupa novel, ketika aku sedang suka. Tapi kadang kala novel pun punya tuturan-tuturan membosankan yang menggelayuti kelopak mata dengan bidadari. Buku berat berada jauh di ujung, pada sudut yang hampir tak tersentuh. Berupa pemanis dan buah dari ambisi lapar mata di tanggal muda, dengan harapan, tanpa jajan, di tanggal tua aku bisa bahagia dan cukup dengan makan buku itu. Aku beruntung, Cuma dikehendaki membaca, berpikir dan menulis, tapi ternyata dalam dunia yang sebegini damai, hobiku itu juga terpilah-pilah. Paling, lebih dan biasa, meski masih soal suka.

Kuharap aku makin pandai meluangkan waktu, lagi pandai pula mengatur uang. Dua kemampuan manajerial yang belum lagi kumiliki detik ini. Dengan sedikit kegiatan saja, tubuh ini rasanya begitu lelah sampai bergerak pada pola-pola yang tak seperti selama ini kumengerti. Aku kira seperti selama ini, aku belum pernah bisa memecah konsentrasi. Tapi kuharap kedepannya semakin bisa. Aku punya banyak ingin yang membutuhkannya. 

Kuharap bisa menulis lebih banyak lagi, meski hanya diary, hanya refleksi atas kehidupan sehari-hari. Aku butuh menyelami pedalaman diriku sendiri.


10 Maret 2015

Friday, February 20, 2015

Jauh dari Rumah



Rumah bagi saya hari ini adalah segalanya. Pernah dengar ungkapan ‘sesuatu akan terasa berharga ketika berada jauh dari kita’? Mungkin bisa dikira itu yang terjadi, tapi untuk kasus saya, saya telah lama menyadarinya.

Ketika SD, saya banyak main. Terutama di kelas-kelas tua masa itu, hampir setiap pulang sekolah dan di hari libur, saya selalu mangkir dari rumah. Waktu itu baru pertama kali saya tahu soal dunia yang begitu luas diluar rumah, yang ternyata cukup menyenangkan dan bisa dijelajah bersama teman-teman. Di masa-masa itu untuk pertama kalinya saya bepergian secara mandiri, hanya bersama teman-teman saja, tapi kami berpetualang ke setiap sudut kota. Kami menelusuri lorong-lorong kecil perkampungan kumuh, berjalan kaki berkeliling kompleks elit, mencoba semua makanan yang harus dicoba meski tukangnya harus diburu sedemikian hingga: susu raos, baso chuanki, dan sate seribu tiga tusuk. Itu juga masa dimana saya tahu hampir semua bekal yang saya butuh tahu untuk menjadi tour guide paket eksplor Cikarang ketika SMP. Saya tahu dimana orang jual manik-manik dan renda nun jauh di jantung pasar yang bau pesing; saya tahu sisi pasar mana yang jual beras dan yang jual ikan; saya tahu jalan tikus tercepat menuju satu-satunya toko buku di tempat kami; dan saya orang yang bergerak dibalik kunjungan massal ke perpustakaan kabupaten di kalangan teman smp saya yang para anak kota itu. Semua tahu dan pengetahuan itu didapat tak lain dari tour guide yang jauh lebih berpengalaman yang memandu saya dalam petualangan semasa SD. Teman-teman saya yang sehari-hari memang main di pasar, bersepeda keliling penjuru kota, akrab dengan fasilitas publik macam perpustakaan yang dari luar nampak horror itu dan hapal tempat dimana kita bisa menemukan jajanan-jajanan legendaris.

Tapi ajaibnya, entah mengapa, jiwa petualang saya hanya liar di masa itu. Di masa dimana saya sering dilarang bepergian oleh ibu saya. Mungkin karena terlalu sering, mungkin juga karena petualangan itu mengharuskan saya menyebrang dari mulai jalan raya sampai jalur kereta, terutama setelah saya sempat kecelakaan di kelas lima. Seringkali saya tak terima, menangis minta dibolehkan keluar. Tapi sekarang, di hari dimana saya telah beribu kilometer jauhnya berada di luar rumah, saya lebih ingin berada di dalamnya.
Sudah akan menjelang dua tahun saya berada di kota ini, tinggal sementara demi studi. Sungguh syukur saya sangat mencintai studi saya, jadi bersusah hati demikian rupa pun tertahankan karenanya. Jika tidak, tapi jangan sampai ya Allah, mungkin akan sangat lain ceritanya. Demikianpun saya memprioritaskan apa yang saya pelajari disini, keadaan tak selalu baik. Satu-satunya pelipur lara ketika gamang melanda dari penjuru arah semasa jauh dari keluarga adalah para teman seperjuangan. Namun teman adalah teman, mereka datang silih berganti, menghibur lara lagi berurusan sendiri-sendiri, tak selalu termiliki. 

Saya cinta segalanya soal rumah, dan sadar betul akan itu, mungkin sejak SMP. Ketika itu, saya mungkin masih haus soal dunia luar, memperjuangkan banyak hal di luar dan sedikit menganulir kenyamanan rumah di sisi hati sampai saya menyadarinya di SMA, bahwa pasca dua tahun ini, jauh atau dekat rantau memanggil dan kemungkinan besar saya tak lagi tinggal sepanjang hari di rumah ini. Rasanya pilu, bak dikejar-kejar waktu.
Saya cinta bangunan ini dan segala isinya, saya rindu. 

Ini baru lain kota lain provinsi, ada kalanya saya bermimpi soal studi di lain negeri. Namun sanggupkan jika adanya seperti ini? Bukan hanya dalam jarak kilometer, zona waktu pun berjam-jam bedanya. Ah, kenapa dunia ini begitu luas.

Tapi bagaimanapun adanya, saya tetap bermimpi, karena itu juga yang diinginkan orang tua saya, kobar api abadi dalam obor semangat saya. Sungguh murah hati mereka membebaskan pilihan saya, mengorbankan gamang dan mempercayakan masa depan di tangan saya sendiri. Saya harus mempertanggungjawabkannya. Pegangan saya, ada Allah yang Maha Pengasih yang senantiasa mengasihi kami dengan segala rahmatNya dan menjaga keluarga saya selagi saya jauh dari mereka.

Saya sanggup. Karena sejauh apapun saya pergi, saya menanti satu hal yang pasti indahnya: pulang ke rumah.

20 Februari 2015

Monday, February 16, 2015

first day of 4th semester

There were not only one or two person asked me why I entering this major even since before I start everything. Some of them just ask with those kind of expression, but some other constantly suggest me to think twice, and a few, saying words which, ah, I don't know, it's kinda hurt me. But those all are just about their words, and not about what their saying at all. I never put any attention on them. I love what I do now, and they just can't feel the same way.

Every semester is a big adventure with it's own challenge, and every class I take bring surprises. It's more fun than watching TV or scrolling FB's home, although all of them, essentially come with the same way: we pay our attention on them and we never know what will they bring to us. History is just not about all of periods you've memorized on high school, it's about new and new facts and story everywhere: lectures, books. Every historian work on one case and their thesis which will be shared to us is the treasure. We never know, never think, but it's just proven has happened in a period of time. Then we got some curiosity, burn it to a question, find the answer, and start to make our own story.

Someday when I start my real life, I wish for a life that always be full of this kind of happiness from those kind of thing. Amin.


Sunday, January 04, 2015

2015: Resolusi vs Kontemplasi

2015: Resolusi VS Kontemplasi

Di hari-hari pertama 2015 ini saya sering ditanya, gak sama meme, gak sama manusia: Resolusi yang belum tercapai di 2014 apa? Terus saya jawab: Gak ada.

Mungkin terdengar sedikit sombong. Seolah manusia ini selalu mampu menjemput apa yang sudah ditargetkannya. Tapi lain dari sana, maksud saya sebenarnya terletak di sisi yang 180 derajat berbeda darinya. Saya hampir tak pernah beresolusi, atau paling tidak sudah meninggalkan kebiasaan ini sangat lama.

Dari dulu, pikiran saya seolah disetting untuk tak terbiasa melihat kedepan. Pernah suatu ketika di hari-hari chuunibyou saya, saya meniru-niru kebiasaan hatsumoude akibat kebanyakan lihat manga shojo produk majalah komik dan baca Kira-kira. Waktu itu, sekitar SMP awal, seolah keren, melihat matahari terbit dan mengharap sesuatu pada bergantinya waktu. Sebenarnya bukan harapan yang tinggi akan keajaiban, lebih kepada merasa telah menjadi suatu bagian dari literatur-literatur mellow yang telah saya baca tadi. Haha

Makin tua, orang biasanya makin realistis, dan begitupun saya. Tapi mengingat bagaimana saya pernah berada dalam chuunibyou, pernah berada dalam masa yang amat mengagung-agungkan mimpi dan harapan (sebagaimana anime-anime shojo yang saya tonton) bahkan ketika teman-teman sebaya saya kebanyakan pun belum mengalaminya, kini saya melompat jauh menjadi seorang tua yang penggerutu, bukan lagi remaja yang matanya berlinang-linang saking antusiasnya terhadap mimpi dan harapan.

Sebenarnya, punya mimpi, atau apa itu namanya, karena sekarang definisinya seperti sudah berubah di mata saya, bukan hal yang salah. Di dunia ini ada berbagai jenis orang. Ada yang hidup dalam angan-angan tanpa pernah menapak ke tanah (sebagaimana yang saya pernah lakukan dulu), ada yang hidup dengan visi dan misi yang memetakan jalan hidupnya seolah dirinya seorang rennaisans sejati yang percaya bahwa manusia bisa membaca dunia dan tak ada yang namanya keruntuhan kepercayaan ini di era pemikiran abad 19-20, dan ada juga yang tak melakukan keduanya, seperti saya sekarang.

Persisnya, pemikiran semacam ini mungkin merasuki saya ketika SMA. Waktu pertama masuk, alam pikiran saya masih dikuasai oleh khayal-khayal luar biasa: lanjut menulis novel, punya ekskul yang keren, buat blog dan punya fans (?), bahkan mengenal seseorang yang mungkin akan merubah hidup saya dan membawa keindahan yang lebih dan lebih kedalamnya. Ah, shojo sekali! Tapi apa yang terjadi? Saya menjadi keren tanpa melakukan hal yang ada dalam bayangan saya sebelumnya, yang saya kira merupakan satu-satunya jalan untuk menjadi diri yang keren sebagaimana yang saya selalu bayangkan sebelum memulai kehidupan yang baru itu. Ibarat kata mimpi jadi Aurora, saya malah jadi Jean de Arc. Saya tak bertemu siapapun yang membuat hidup saya lebih indah (dalam konteks yang saya tuju), pangeran berkuda putih atau apa, melainkan berada di kelas yang seluruhnya perempuan, dan bersebelahan dengan kelas penyamun, gudang lelaki yang di jam istirahat, jam kosong, maupun setelah bel pulang sekolah sama saja: jadi warnet dadakan. Ohman -_-

Menjelang tahun kedua saya malah masuk IPA, dan disini saya jadi Jean de Arc. Kehidupan chuunibyo alay ala Aurora mengapung jauh di angkasa. Tiap hari saya bertarung dengan PR sains yang kian menggila, 2 bulan sekali bertaruh nyawa di medan UTS, dan 4 bulan sekali menerima eksekusi di padang UAS. Di masa-masa sulit ini, ketika di waktu luang pun saya tak lagi ingat main, melainkan justru menikmati membaca bacaan-bacaan yang tak saya dapatkan di kelas IPA, saya lupa pada cita-cita gemerlapan. Seketika dalam pikiran saya, dunia tak terkonsep untuk bergerak dengan cara kerja seperti itu. Apa iya, hanya dengan bercita-cita, bermimpi indah dan tertidur untuk seribu tahun, seorang pangeran berkuda putih akan benar-benar menyelamatkanmu dengan bertaruh nyawa dalam segala lapis bahaya? MENGHADANG BAHAYA UNTUK MENYELAMATKANMU SEMENTARA KAU TIDUR DENGAN NYENYAKNYA?! Dongeng, man. Kita tidak hidup dalam dongeng.

Demikian pun jadinya jika kita bermimpi sekolah sampai ke luar negeri kalau setiap hari kerjanya hanya merangkai khayalan.

Effort, Struggle, atau entah apa, tapi poin semacam itu hilang dari konsep diatas. Oleh karenanya saya memulai untuk berdiri dengan konsep baru.

Sebenarnya ini bukan konsep yang saya persiapkan, melainkan tumbuh seiring dengan waktu dan pengalaman. Ketika sekarang, tugas-tugas saya semuanya menyenangkan: membaca, membuat review, menyatakan pendapat, merangkai kisah, bercerita, mendengarkan cerita dosen yang luar biasa, membuka cakrawala-demi cakrawala yang saya tak tahu dan selalu antusias terhadapnya, pun membutuhkan tak sedikit energi dan masih membuat saya lelah, betapa hebatnya kekuatan di masa lalu itu. Kekuatan ketika saya lelah atas segala macam hantaman atas ketidak mampuan, tapi saya betul-betul menganggap hal-hal sebagaimana yang saya lakukan sekarang seratus persen mata air surgawi: ringan, menyenangkan, menyegarkan, membebaskan diri dari segala beban, dan tentu tanpa energi samasekali.

Ketika berada dalam waktu yang sulit, impian Aurora seolah sangat mahal dan tak tersentuh oleh tangan hina yang direndung kemalangan ini. Setitikpun saya tak berani untuk bermimpi memenangkan diri atas kemalangan ini dan seketika berada diatas. Semua orang berusaha, bahkan mereka yang tak malang pun berusaha, apalah arti harapan semacam itu bagi orang seperti saya. Akhirnya saya mengambil jalan tengah. Apapun akan saya lakukan untuk bisa lepas dari sini, mengakhiri kemalangan ini, dan apapun yang terjadi setelahnya, itu urusan nanti, yang penting saya lepas dulu dari sini. Dan benar, tujuan itu yang mengantarkan saya pada diri saya yang sekarang.
See, bukan lagi angan-angan tapi target, dan lain impian jangka panjang, ini jangkanya sangat pendek.

Pandangan yang menyelamatkan saya ini yang saya lakukan sampai sekarang.

Kalau angan-angan menyenangkan hati tanpa arti dan kalau resolusi demikian menuntut diri, tujuan terserah pada kita. Sebenarnya agar tak terlalu terlihat bertekanan, saya akan menjelaskan definisinya. Tujuan ini lebih kepada melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan untuk saat ini, memilih setiap pilihan hidup dengan tenang, dan konsekuen. Karena kemudian saya percaya kalau dalam hidup ini segalanya seimbang. Kemalangan dan keberuntungan adalah sisi kanan dan kiri dari sama dengan. Ketika masuk IPA buat saya adalah kemalangan, saya justru memiliki kemampuan untuk menikmati membaca sedemikian hebat, dan memiliki etos sedemikian tinggi untuk bangkit dan segera beranjak dari tempat itu. Jujur, sampai saat ini, ketika apa yang saya lakukan telah lebih menyenangkan, saya belum pernah mencapai titik sehebat itu lagi. Kalau kita menyesali apa yang kita dapati hari ini, ketika kita di hari yang lalu memilih pilihan yang lain dari ini dan tak akan sampai pada keadaan yang seperti ini pun, siapa yang jamin kalau itu akan lebih indah. Mungkin point terakhirnya adalah, ya, tentu: bersyukur.

Bahkan saya bersyukur saya pernah masuk IPA, karena jika tidak, bukan mungkin saya akan berada di tempat ini, hari ini. Dan hari-hari menyenangkan yang saya alami kemudian membuat saya semakin menyadarinya.

Jadi bagi orang yang lebih suka hidup dalam aturannya sendiri ini, daripada beresolusi, akan jauh lebih menyenangkan berkontemplasi.

Resolusi bagi banyak orang juga artinya baik sih. Menuntut diri kan juga berarti membawa diri untuk cepat-cepat melangkah pada kemajuan. Tapi yang saya tidak begitu suka, di dalamnya sering kali ada kata target. Well, kata-kata ini sangat penuh tekanan dan tuntutan meskipun pengertiannya lagi-lagi kembali kepada individu masing-masing.

Buat apa menuntut diri sendiri ketika orang lain telah ada untuk menuntut banyak dari kita?Berikanlah diri ini ruang untuk sedikit bebas berkembang, bagaimanapun yang ia inginkan. Yang terpenting adalah berusaha dengan baik dan bakal menjadi sebuah kejutan ketika kita melihat kebelakang, ada sebuah jarak besar yang telah kita buat dengan ini, tanpa tuntutan, tanpa tekanan!


Tahun lalu, saya juga menulis hal serupa, Cuma ringkasan akhir tahun dan doa untuk tahun kedepannya, tanpa menyebutkan suatu resolusi yang spesifik, tapi hari ini, bagaimanapun saya tetap beranjak dari diri saya yang tahun lalu.

Tahun ini, dari tahun kedua saya naik ke tahun ketiga, dan lantas, punya ade angkatan. Bukan sesuatu yang terlalu luar biasa sih, tapi ya, siwaramudya yang membuka awal semester ini, yang telah masak-masak kami rangkai sejak awal semester sebelumnya, jadi catatan luar biasa di tahun ini. Kalo buat anak sejarah, ini momen penting lah. Angkatan jadi satunya ya disini. Setelah momen ini, bakal terbentuk sebuah kesatuan dan tereliminasi beberapa yang tak sejalan. Selain itu, momen ini juga membawa dua bendera besar yang masing-masing bertuliskan tanggung jawab dan menjadi dewasa. Dua kata yang berjuta-juta kali diucapkan orang, berkali-kali pula diucapkan oleh kakak angkatan yang kami mintai saran. Lucunya, disini nggak semua yang kita kira nggak ada artinya itu nggak ada artinya, dan yang kita kira berarti itu betul betul berarti.

Di tahun ini, saya juga resmi telah menembus 4 penjuru jogja sebagai pembonceng. Mulai dari bolak-balik survey Kaliurang di awal tahun, ngebolang motoran ke Gunung Kidul semester lalu, ke Magelang, dan ke Pantai Depok semester ini. Hebat banget ya, dan poin terhebatnya adalah sebagai pembonceng. Sabar banget yang pada pernah saya bonceng haha. Lagian, salahin Jogja yang angkutan umumnya gak pro-rakyat, yang bukan habitat sempurna bagi angkot-mania seperti saya.

Ini juga tahun tanpa kelas sang profesor. Omaigad, awalnya kuliah begitu hampa sampai-sampai kuliah umumnya diserbu massa. Tapi ya, nanti juga ketemu lagi, lagipula sebagai DPA yang membawahi saya, kami punya jadwal wajib menghadap beliau tiap semesternya. Haha~ Tapi tahun ini saya pernah berbicara langsung (Baca: sedikit lewat mas Uji) sama Prof. Adrian Vickers saudara saudara~ Eouh, bangga banget gitu doang juga -_- // Biarin. Secara, Adrian Vickers, dan dia pernah presentasi dengan tema yang sama di Oxford, terus ketika itu di UGM, di ruang multimedia yang biasanya kami pake kuliah. Saya nanya, terus dijawab, dengan sangat keren, sekeren presentasinya tentang sejarah komoditi kerang mutiara di Indonesia Timur waktu itu yang 100% pake bahasa Indonesia. Aih~ *blush* #dor
Bahagianya, tahun ini juga saya ada beberapa kemajuan soal bahasa. Meski kelas bahasa Inggris justru ada di semester satu, itu bukan apa apa kalo yang dipelajari masih sama kaya yang di kursus-kursus sejak jaman dahulu kala: conversation, grammar, dan kawan-kawan. Tapi semester genap dibuka dengan BAHASA INGGRIS TERAPAN. Ulala, berasa sejarah IUP. Waktu itu kami baru lulus semester satu dengan raihan berupa buku Ricklefs yang bahkan belum sampai tamat dibaca. Banyak diantara kami yang masih kaget sama tuntutan membaca dan baru hanya menamatkan Pengantar Ilmu Sejarah-nya pak Kunto. Tapi di mata kuliah ini kami disuruh baca jurnal-jurnal yang full english. Omaigaad, baca bahasa Indonesia aja masih mikir bolak balik.

Meski dipenuhi tuntutan tugas yang setiap minggu pasti ada dan kuliah yang tanpa subtittle, akhirnya, kami berhasil juga, dan sedikit-sedikit mulai terbiasa sama bahasa yang katanya internasional ini. Gak Cuma bahasa inggris terapan, matkul historiografi pun mewarisi sebundel materi yang harus kami baca dan isinya dari mulai bahasa indonesia konvensional, ejaan 60-an, ejaan 40-an, sampai bahasa inggris juga saudara saudara. Pokoknya mabok deh. Tapi kalo nggak ada semester dua, mungkin membaca belom lagi jadi senikmat sekarang hari ini. Tresno jalaran seko kulino. Bisa karena biasa. Meski awalnya menyiksa, akhir-akhirnya manis juga. #halah

Di semester tiga hadir BAHASA BELANDA TIGA. Meneer vakum ngajar, jadi diganti dosen lain, tiga, yang gaya ngajarnya luar biasa, luar biasa nggak nyante. Awalnya mabok. Yang biasanya cuma ngartiin yang kalo nggak bisa dibantu, ini jadi menebak struktur kalimat, vokus ke gramatika, dan lain sebagainya. Kamus saya yang males dibuka pas semester satu dua, ini langsung jadi keriting. Baik tugas maupun dikelas, semuanya jadi kesempatan mikir keras. Baca dan ngartiin digilir dengan disiplin, dan kalo nggak bisa berakhir dengan panas dingin. Tapi berkahnya, baru di semester ini saya yah, ngerti rengrengannya bahasa belanda lah. Paling nggak, semester ini saya samasekali nggak pernah ngerjain tugas maupun ulangan pake google translate *yeay*. Meski dalam beberapa kesempatan, makin tua teks, makin jumpalitan juga pikiran saya, tapi ya, jujur jujur jujuur banget, baru kali ini saya ngerti bahasa belanda.

Dan sumpah, matkul semester ini tuh hampir semuanya exiting. Yang awalnya nyante, akhirnya bikin senewen semua. Bayangkan, PPS, saudara-saudara. Sebelum UTS kerjaan kita Cuma jalan-jalan, Arsip Pakualaman, Arsip Kraton, Arsip Daerah. Motoran bareng sama dosennya juga, coba liat-liat arsip, dan dikasih tau kalo mau ngakses caranya gimana, dan setelah UTS, kita jalan-jalan lagi, tapi SENDIRI. Seminggu setelah UTS, kita bawa tema plus judul ke hadapan dosen pengampu matkul dan teman-teman. Ketika itu saya bawa judul apa? Yap, mi instan, dan mau dibawa kemana? Mau dibuat ngeliat rekonsiliasi Indonesia Jepang gara-gara pabrikan mi instan awal-awal semuanya hasil patungan sama perusahaan Jepang. Tapi saya masih bloon. Sejak kapan politik luar negeri Indonesia Bebas Aktif? Sejak kapan Indonesia masuk PBB, keluar, dan bahkan masuk lagi? Apakah dengan itu, ajang maaf-maafan Indonesia dengan Jepang baru terjadi ketika muncul pabrik mi instan? Bagaimana dengan tol? Omaigad, saya terlalu berpikiran pendek.

Alhasil, setelah konsul dan konsul, saya dapet pencerahan. Mi instan bukan bukti rekonsiliasi, tapi sebuah budaya konsumsi baru yang meroket dalam waktu kurang dari dua dasawarsa, merangsek nasi langsung di urutan kedua. Masalah inilah yang jadi sumber dari segala sumber masalah bagi PPS saya. Nyari iklan di koran Jogja Library Center malioboro ketika ongkos trans dan kopata sama sama 4000 jauh dekat *hiks* dan jajanan malioboro mahal-mahal. Nyari statistik di BPS yang perjalanannya dari kampus memakan waktu satu jam motoran, ga ada angkutan umum, dan saya gak tau akan jadi apa kalo nggak punya barengan. Nyari statistik di perpus pusat dalam kondisi meriang, dan nulis pula dalam kondisi meriang. Untung nyokap bokap sekeluarga nengokin ditengah-tengah keadaan genting. Saya dikerokin, diberobatin lagi, sembuh, dan kembali bisa menulis. Dan hasilnya 40an halaman, masterpiece tulisan sejarah bermetode (meskipun seancur-ancurnya metode sejarah) pertama saya lahir 1 Januari kemarin. Terharu luar biasa men! Ini pencapaian terbesar tahun ini.

Tahun yang jadi tahun politik ini juga membawa saya mengenal dunia baru bernama politik. Baru minor banget sih, ranah HMJ coy. Tapi yang namanya politik, tetap kejam. Ada sebuah cerita besar dibalik musyawarah besar tahun ini, dan itu cukup mengejutkan buat saya yang belom pernah berkecimpung di politik mana-mana, termasuk politik osis jaman sekolah ini. Tapi untunglah semua beres, dan kami masih menjadi kami yang sediakala.

Di kosan, gak ada banyak perubahan selain poster-poster yang mulai ngelotok bersamaan dengan cat yang mengelupas. Saya gak pindah kos, masih disini. Sebenernya mau aja kalo keadaan memungkinkan. Tapi mengingat ekonomismenya, dan kebutuhan untuk beradaptasi kembali di lingkungan yang baru, saya memilih untuk bertahan.  Meski sudah cukup betah di kos, dan sekarang salah seorang besties saya, si Dancho-nya TJ menetap di kota yang sama dan sering main kesini. Entah kenapa, selain kehidupan di kampus, ini masih mimpi, dan saya baru bangun ketika pulang lagi ke Cikarang.

Yah, namanya juga rumah men, 15 tahun lebih saya disana~

Akhir kata, saya bahagia tahun 2014 ini telah membawa banyak hal bagi saya. Kenikmatan membaca, matkul abad 16 dan 17-18 yang luar biasa exiting, sedikit-sedikit mulai mengerti Belanda, masterpiece PPS apapun nanti nilainya, kesempatan exploring banyak sudut Jogja dari sama bocah kelas sampe sama nyokap bokap adek kemaren, dan masih banyak lagi.

Semoga tahun 2015 bisa menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dari sebelumnya.

Oya, Indonesia juga jangan mau kalah di free trade ASEAN yaaa~ XD